
Elena tersenyum tipis melihat tingkah Justin, ia membolehkan tetapi juga merasa tidak ikhlas jika melihat Elena bersama dengan Justin.
"Mana lagi yang dia sentuh tadi?" tanya Rexy menatap wajah Elena dengan serius.
"Tangan sama lengan saja, Bee!" ucap Elena mengelus lembut kepala pria tampan itu.
Rexy segera meraih tangan Elena dan mengusapnya. "Apa kamu sudah cuci tangan, Sayang?" tanya Rexy menatap Elena serius.
"Sudah, aku sudah cuci tangan, sudah pake hand sanitizer juga," ucap Elena tersenyum.
"Hmm, besok gak boleh dekat-dekat seperti itu lagi! Aku gak suka, Yang!" ucap Rexy merengek.
"Iya, Bee. Ini tidak akan lama. Aku belum mendapatkan bukti keterlibatan perempuan itu!" ucap Elena terkekeh.
"Sepertinya akan sulit, Sayang. Hanya ada dua kemungkinan yang bisa aku pikirkan. Pertama, laki-laki itu memegang bukti dan menyimpannya dengan baik, atau yang kedua, tidak ada bukti sama sekali!" ucap Rexy memberikan hasil analisa.
"Kedua hal itu bisa terjadi, Bee. Hanya saja, dia cukup pintar membaca situasi. Seperti tadi, aku merasa dia mulai curiga ketika aku bertanya tentang perempuan itu," ucapan Elena serius.
"Kita harus menyelesaikan semua ini dengan segera, Sayang. Sebab, ada laporan jika asisten laki-laki itu tengah mencari informasi tentang kamu," ucap Rexy berhasil membuat Elena tersentak.
"Bee, bagaimana kalau aku ketahuan?" tanya Elena cemas.
"Tidak! Selama aku hidup, kamu tidak akan ketahuan, kecuali ada yang berhianat diantara orang-orangku!" ucap Rexy terseyum.
Ia kembali membenamkan wajahnya pada pinggang Elena dan membuat wanita cantik itu kegelian
"Bee, apa kamu tidak bisa mendapatkannya?" tanya Elena sembari mengelus kepala Rexy.
"Aku telah mencoba banyak cara, Sayang. Aku sudah bilang hanya ada dua kemungkinan, kecuali...," ucap Rexy kembali menatap Elena.
"Kecuali apa, Bee? Jangan buat aku penasaran!" ucap Elena mengernyit.
"Kecuali kamu bisa membuatnya mengakui, jika dia yang meminta laki-laki itu untuk membunuhmu dan apa saja keterlibatannya. Sehingga, dengan pengakuan itu kita bisa membuat laporan lengkap di kepolisian, pembunuhan berencana dan kasus lainnya," ucap Rexy serius.
"Jika membuat dia mengaku, mungkin aku bisa. Tetapi trik yang aku punya itu sudah pernah dilakukan, tidak mungkin dia akan kembali percaya," ucap Elena.
"Aku yakin kamu bisa mencari cara lain, Sayang," ucap Rexy tersenyum.
__ADS_1
"Bagaimana kalau gagal?" tanya Elena lirih.
"Usahakan semuanya lancar tanpa hambatan!" ucap Rexy tersenyum.
Elena terdiam, pikirannya berkelana mencari cara untuk mendapatkan sedikit bukti. Bahkan ia tidak sadar jika Rexy sudah menggendongnya menuju kamar.
"Bee!" Pekik Elena ketika Rexy membaringkan tubuh indahnya diatas kasur.
Mengukung wanita cantik itu dengan wajah yang memulai memerah. Jantung Elena berdetak kencang membayangkan bagaimana jika Rexy memasuki dirinya malam ini.
"Bee," ucap Elena lirih ketika Rexy mulai mengecup leher mulusnya.
"Aku tidak bisa menahan diri lagi, Sayang!" ucap Rexy dengan nafas yang memburu.
Ia mulai mengecup leher Elena dengan lembut dan sesekali menjilatnya.
"Mhh, Bee!" ucap Elena mulai terbawa suasana.
Rexy juga mengecup wajah Elena dengan penuh gairah. Sehingga membuat wanita cantik itu mulai terangsang dan menahan tengkuk Rexy agar tidak melepaskannya.
"Sayang, aku sudah tidak tahan! Aku tidak bisa lagi menahan diri!" ucap Rexy menatap Elena dengan mata sayunya.
"Izinkan aku, Sayang. Kita saling memiliki dan kamu hanya untukku!" ucap Rexy terkesan tegas.
Elena hanya mengangguk dan tersenyum. Memasrahkan diri kepada Rexy. Mengikuti pria tampan itu mengarungi surga dunia dan kenikmatan hidup.
kecupan dan belaian terasa begitu mesra, membangkitkan gairaah yang selalu muncul ketika mereka bersama. Melepaskan semua hasrat yang terpendam, meleburkan rasa yang begitu membuncah.
Rexy merasakan kulit hangat Elena tanpa penghalang sedikitpun. Untuk pertama kali, ia akan mencicipi tubuh wanita cantik itu dan melepas keperjakaannya.
"Bee...," Panggil Elena lirih.
"Kenapa, Sayang?" tanya Rexy menatap wajah Elena yang memerah dengan mata sayunya.
Takut, jika Elena kembali menolak ketika ia sudah siap untuk bertempur.
"Pelan-pelan, ya!" Ucap Elena tersenyum.
__ADS_1
Rexy termagu. "Iya, Sayang!" ucapnya kembali mengecup leher Elena.
Rexy bermain dengan lembut, mengikuti nalurinya dan juga arahan dari Elena. Mencoba untuk menembus dinding yang sudah lama tidak terjamah.
Sedikit Rexy merasa begitu kesulitan untuk menembusnya, namun Elena tersenyum dan berbisik jika ia sudah melakukan operasi selaput dara. Sehingga Rexy bisa merasakan bagaimana rasanya memperawani seorang janda.
Senyum pria tampan itu mengembang, walaupun ia menerima Elena dengan keadaan sekarang ini, namun Rexy juga merasa bahagia sebab Elena berusaha untuk menjaga sesuatu yang ditakdirkan menjadi miliknya.
Foreplay yang maksimal membuat Elena dan Rexy merasakan kualitas dari kegiatan penyatuan pertama mereka. Tidak perlu satu atau dua jam, sepasang insan itu sudah melenguh bersama, mencapai puncak syurga dunia.
"Sayang, maafkan aku sudah melebihi batas malam ini," ucap Rexy merasa sedikit bersalah, walaupun di dalam hatinya merasa begitu bahagia.
"Tidak apa, Bee. Aku juga menginginkannya," ucap Elena tersenyum.
Rexy dengan manja memeluk Elena. Berbantalkan lengan wanita cantik itu, ia tersenyum senang dan niat untuk memiliki Elena semakin kokoh.
Sementara wanita cantik itu juga ikut tersenyum, ada perasaan yang berbeda ketika ia menyerahkan diri kepada Rexy walaupun harus melanggar prinsipnya.
"Besok kita fitting baju ya, Sayang!" Ucap Rexy dengan suara seraknya.
"Fitting baju? Jam berapa, Bee?" Tanya Elena tersenyum karena ia paham maksud pembicaraan Rexy.
"Malam saja, besok jadwal ku padat, Sayang," ucap Rexy.
"Iya, Bee. Besok aku juga mau keluar. Berharap bisa langsung bertemu dengan perempuan itu. Aku ingin semuanya selesai dengan cepat," ucap Elena tersenyum.
"Hati-hati! Ajak Clayton kemana pun kamu pergi, Sayang. Aku sudah menunjuk orang untuk mengatur wedding kita. Nanti kamu bisa membicarakan konsep apa yang ingin kamu gunakan," ucap Rexy yang terdengar semakin lirih.
Mata pria tampan itu semakin terasa berat dan mengantuk. Ditambah dengan sapuan tangan Elena yang membelai rambutnya, membuat Rexy tidak dapat menahan rasa kantuk itu lebih lama.
"Iya, Bee. Nanti aku akan temui mereka dan menyerahkan konsep pernikahan kita," ucap Elena.
Hening, tidak lgi terdengar suara Rexy. Ia tersenyum ketika melihat mata indah pria tampan itu terpejam.
Inilah yang paling disukai oleh Elena, menatap Rexy yang tengah tertidur. Terlihat tenang tanpa wajah mesum yang selalu menggoyahkan imannya.
Terima kasih karena kamu sudah memberikan kehidupan baru untukku. Walaupun pada akhirnya tindakanku kali ini membuatmu sedih. Tetapi percayalah Bee, kamu yang terakhir dalam hidupku!. Batin Elena dengan mata yang berkaca-kaca.
__ADS_1
Bahkan tanpa sadar air matanya meleleh dan membentuk sebuah pulau di atas bantal.
Ia memejamkan mata sambil mengusap punggung Rexy hingga ia ikut terlelap, menyusul sang kekasih menuju alam mimpi yang begitu indah.