PELAKOR Ter-SAVAGE

PELAKOR Ter-SAVAGE
Sudah Tidak Sabar


__ADS_3

Ren menemui Clayton yang berada di sebelah kamar inap Elena. Mereka saling terdiam dengan tablet masing-masing dan melihat apa yang tengah terjdi.


Perintah untuk menghancurkan Rendi membuat mereka terkejut dan sekaligus bingung. Walaupun terbilang masuk akal, namun akan sangat sulit berurusan dengan hukum jika apa yang mereka perbuat diketahui oleh pihak kepolisian.


"Bukan hal yang sulit untuk menghabisi mereka. Apalagi tuan Rexy langsung meminta untuk menghabisi laki-laki itu. Berkemungkinan besar kita akan bersih, kecuali pihak yang berwajib mengusut tuntas kasus itu nanti," ucap Ren tanpa mengalihkan tatapannya dari tablet yang ia gunakan.


"Saya rasa mereka lebih baik kita siksa saja dan tinggalkan di pulau itu dan biarkan mereka mati kelaparan," ucap Clayton.


"Jangan bercanda! Sekarang, mayat-mayat itu sedikit sulit untuk mengubur mereka, berkemungkinan pulau itu juga akan di jual kembali oleh tuan," ucap Ren menatap Clayton dengan tajam.


"Itu pilihan yang bagus. Tetapi jangan sampai ada yang tau jika kita mengubur mereka di sana. Jika tidak, tuan Rexy akan terkena masalah!" ucap Clayton.


"Itu sudah aman. Sekarang kita hanya memikirkan bagaimana caranya agar laki-laki itu bisa dihukum mati dan tidak bisa pergi kemana-mana," ucp Ren.


"Bagaimana dengan surat pengalihan saham? Apa kenzo berhasil mendapatkannya?" tanya Clayton.


"Sepertinya tidak. Dia meminta agar Nona yang datang sendiri tanpa pengawalan," ucap Ren.


Clayton membesarkan matanya dan menggeleng. "Itu sangat tidak mungkin!" ucapnya.


"Mungkin saja jika nona menginginkannya, tentu laki-laki itu berada dalam posisi aman dan tidak akan berani berbuat macam-macam kepada Nona. Atau, kita bisa coba cara lain," ucap Ren.


Clayton menggeleng, sudah cukup Elena menghadapi bahaya yang datang silih berganti. Ia tidak akan bisa menahan diri ketika melihat Elena kembali terluka setelah ini.


"Kita akhiri ini semua, Clay. saya sudah lelah menghadap semua sampah-sampah itu!" ucap Ren.


"Tunggu dua hari lagi, Tuan. Saya masih belum terlalu pulih," ucap Clayton.


"Iya, masih ada waktu untuk menghancurkan mereka," ucap Ren tegas.


Mereka kembali berkutat dengan tablet masing-masing. Mengerjakan beberapa misi yang hampir saja selesai.


🍃🍃


"Jika Om tidak ingin menandatangani surat ini, tidak masalah. Kami masih memiliki begitu banyak cara untuk mengakuisisi perusahaan itu," ucap Kenzo tersenyum.


"Terserah dan lakukan apa yang ingin kau lakukan. Aku tidak peduli!" ucap Justin malas.


"Baiklah! Jika itu yang om inginkan. Jangan salahkan aku jika terjadi sesuatu terhadap perusahaan. Tante akan dengan mudah menarik semua saham yang ada di perusahaan. Itu sudah bisa membuat Om bangkrut, bukan?" ucap Kenzo.


Justin menatap jengan bocah yang ada di hadapannya kali ini. Memberikan tawaran yang sama sekali tidak menguntungkan dipihaknya.


"Pulanglah, dan temui tante cantikmu itu! Sampaikan salamku rinduku kepadanya," ucap Justin.


"Apa kau cari mati, ha? Salam rindu, salam rindu, tai ayam!" ucap Kenzo kesal.

__ADS_1


Justin tersenyum tipis. Ia menatap Kenzo yang masih berusaha untuk membujuk dirinya yang jelas tidak akan menandatangani berkas apapun jika itu menyangkut tentang perusahaan.


"Sepertinya kita perlu cara yang sedikit lebih halus ya. Hmm, Tante Tiara sepertinya bisa membantu," ucap Kenzo meraih ponselnya.


Kenapa bocah ini tiba-tiba kenal dengan Mommy? Ah, mereka memang sudah menyiapkan semua ini. Tapi apapun yang terjadi, aku tidak akan mau menyerahkan perusahaan kepada mereka!. Batinnya.


"Sepertinya anda laki-laki yang memiliki prinsip kuat jika menyangkut tentang perusahaan. Tapi sayang, anda sangat bodoh!" ucap Kenzo mengejek.


Justin mengepalkan tangannya, menahan diri untuk tidak menghajar bocah yang ada di hadapannya.


"Kasihan, padahal tante sangat baik, lembut, pengertian, beruntung banget Om Rexy bisa menikahinya besok lusa," ucap Kenzo.


Wajah Justin memerah menahan emosi. Ingin rasanya ia menghajar mulut bocah ini, namun terhalang oleh borgol yang bergelung di tangannya.


"Bagaimana rasanya kehilangan untuk yang ke dua kali dengan orang yang sama?" tanya Kenzo.


Ia tertawa kecil ketika melihat Justin yang sudah gemas ingin menghajar dirinya.


"Lusa, pernikahan mereka akan di gelar dengan begitu mewah dan disiarkan live di televisi, bahkan hingga ke Mexico!" ucap Kenzo tersenyum smirk.


"Dah, aku masih banyak pekerjaan, jika Om tidak mau menandatangani surat ini, tidak masalah. Aku sudah membuat janji dengan tante Tiara," ucapnya berlalu dari hadapan Justin.


Brak!


Hatinya terasa begitu pedih ketika kata-kata Kenzo mulai mengusik pikiran. Membenarkan apa yang dikatakan oleh bocah itu tanpa adanya bantahan.


Ia merasa sangat kecewa dan kehilangan untuk yang kedua kalinya.


Dua hari lagi mereka menikah, kemana curut-curut bodoh ini pergi? Kenapa mereka belum datang?. Batin Justin emosi.


Tak lama petugas datang dan membawanya kembali menuju sel khusus yang sudah ia tempati beberapa hari ini.


Terpisah dari Joy dan yang lain, menghindari sesuatu yang bisa membuatnya bisa mengatur siasat untuk kabur dari penjara.


🍃🍃


Elena mulai mengerjab, hal pertama yang ia lihat adalah wajah khawatir Rexy, tengah menatapnya.


"Maafkan aku!" ucap Elena lirih dengan mata yang berkaca-kaca.


Rexy menggeleng. "Aku yang salah, Sayang. Aku minta maaf," ucap Rexy mengecup tangan Elena dan mengusap kepala wanita cantik itu.


"Kamu pasti lelah, dan aku malah mengajak kamu berdebat," ucap Elena lirih.


"Gak, aku gak lelah, Sayang!" ucap Rexy tersenyum.

__ADS_1


"I love you," ucap Elena tersenyum.


"Love you too, Sayang," ucap Rexy tersenyum.


Para orang tua hanya tersenyum dan menggeleng melihat tingkah pasangan bucin itu.


"Ah iya, aku tadi ke villa, dekorasinya sangat indah! Aku membayangkan ketika kita berjalan dan mengucap sumpah di depan banyak orang," ucap Rexy tersenyum.


"Benarkah?" Ucap Elena berbinar. "Aku inggin melihatnya. Tapi, apa aku kuat jika harus berdiri lama-lama?" ucap Elena lirih.


"Aku sudah mengaturnya. Yang penting sekarang kamu sembuh dulu. Aku tidak ingin mengundur pernikahan kita, undangan sudah tersebar dan dekorasi sudah siap," ucap Rexy.


Elena tersenyum. "Apa semuanya sudah selesai? Tidak ada lagi bahaya?" tanya wanita cantik itu.


"Tidak! Semuanya sudah selesai. Kita sudah bisa tenang, Sayang!" ucap Rexy tersenyum.


"Hah, akhirnya aku bisa hidup tenang dan tidur dengan nyenyak!" ucap Elena tersenyum.


Ia menatap Rexy lekat. "Apapun yang terjadi nanti, jangan sembunyikan apapun dari aku, Bee!" ucap Elena.


"Iya, Maafkan aku yang sulit untuk berterus terang. Aku hanya takut kamu terkejut dan itu berbahaya untuk jantungmu," ucap Rexy.


"Katakan, walaupun itu sulit, Bee!" ucap Elena.


Rexy tersenyum dan mengangguk.


"Peluk!" ucap Elena menggeser badannya.


Meminta Rexy untuk naik dan ikuti berbaring bersama. Sungguh ia sudah sangat merindukan pria tampannya yang manja ini.


Rexy dengan senang hati tanpa penolakan menaiki brankar dan langsung memeluk Elena.


"Aku merindukanmu," ucap Rexy memejamkan matanya.


"Aku juga!" ucap Elena.


"Astaga kalian tidak tau malu!" ucap Angelin kesal.


"Ayah dan Bunda, beristirahatlah. Biar Elena, aku yang menjaga!" ucap Rexy.


"Tidak! Nanti kalian malah berbuat aneh-aneh di sini!" ucap Vazo.


"Jangan hiraukan kami, istirahatlah, Nak!" ucap Khalia menggeleng.


Rexy dan Elena terlelap dengan saling berpelukan. Mengumpulkan tenaga untuk menjalani hari bahagia yang akan begitu melelahkan.

__ADS_1


__ADS_2