PELAKOR Ter-SAVAGE

PELAKOR Ter-SAVAGE
Mulai Terkuak


__ADS_3

Elena mendelik menatap Rexy yang tengah memasang wajah mesumnya. Ia berlalu menuju balkon tanpa menjawab sepatah katapun.


Rexy tersenyum dan segera menyusul Elena. Memeluk wanita cantik itu dari belakang dan meletakkan kepalanya di atas bahu Elena.


"Kamu tahan ya, sampai kita menikah!" ucap wanita cantik itu tersenyum tipis.


"Huh, baiklah! Tapi setelah menikah jangan harap kamu bisa lepas dari aku, Sayang!" ucap Rexy terkekeh.


"Kita lihat nanti saja, Bee. Kamu yang tumbang atau aku," ucap Elena terkekeh.


Rexy tidak heran lagi, sebab Elena lebih berpengalaman dibandingkan dirinya. "Ah, kita lihat nanti, Sayang!" ucapnya.


"Sejuk banget di sini," ucap Elena menggenggam tangan Rexy.


"Udaranya segar, Sayang. Makanya aku memilih untuk membuat villa di sini," ucap Rexy tersenyum. "Kamu suka?".


"Aku suka, Bee. Aku membayangkan kita melakukan itu di atas kursi yang ada di sudut sana," ucap Elena terkekeh.


"Aih, kamu minta aku untuk menahan diri, sementara kamu memancingku, Sayang!" ucap Rexy menggigit bahu Elena dengan gemas.


"Haha, ruang belakang ini tertutup kan, Bee?" tanya Elena masih terkekeh.


"Tertutup, Sayang," ucap Rexy. "Kamu beneran mau mencoba bermain di sana?" Ucap Rexy mengernyit.


"Boleh di coba nanti," ucap Elena terkekeh.


Rexy hanya tersenyum sambil membayangkan bagaimana mereka bermain di sana. Wajahnya merona ketika berhasil membayangkan beberapa gaya yang akan mereka coba, nanti.


"Jangan berpikir macam-macam, Bee. Nanti kamu susah sendiri!" ucap Elena mengecup pipi Rexy dari samping.


"Kamu yang memancingnya, Sayang!" ucap Rexy cemberut.


Ia membalikkan tubuh Elena agar bisa mengadap kearahnya. Rexy menyelipkan rambut Elena ke belakang telinga.


"Kamu cantik banget!" ucap Rexy.


"Aku cantik juga karena operasi, Bee!" ucap Elena tersenyum kecut.


"Tapi kamu memang cantik tanpa operasi, Sayang!" ucap Rexy tersenyum dan mengecup bibir Elena.


Wanita cantik itu hanya bisa menghela napas. Satu sisi ia ingin memiliki wajahnya yang dulu, tetapi resiko yang akan dihadapi lebih besar.


"Apa kamu masih belum bisa menerima keadaan sekarang, Sayang?" tanya Rexy memegang kedua belah pipi Elena dengan lembut.

__ADS_1


Menatap manik mata hitam kecoklatan yang terlihat begitu indah dimatanya.


"Bukan aku belum bisa menerima, Bee. Hanya saja, aku tidak tau ini wajah siapa. Aku merindukan wajahku yang lama," ucap Elena tersenyum tipis.


Rexy tidak menjawab, ia hanya bisa memeluk Elena. Mengalirkan kehangatan dan juga cinta, agar wanita cantik itu bisa merasakan kenyamanan dan aman ketika bersamanya.


"Aku mencintaimu!" ucap Elena tersenyum.


"Aku lebih mencintaimu, sayang!" Ucap Rexy menatap Elena.


"Aku membayangkan, jika suatu hari kita tidak hanya berdua, tetapi bertiga, berempat atau bahkan berlima. Bersama dengan anak-anak kita nanti," ucap Elena dengan wajah yang merona.


Rexy tersenyum. "Aku akan menanti hari itu tiba, Sayang," ucapnya mengecup kening Elena dengan lembut.


Elena memejamkan mata, perlakuan Rexy yang begitu lembut berhasil membuat hatinya luluh. Keyakinan pria tampan itu mampu membuat prinsipnya runtuh.


Ia hanya percaya, jika ada hikmah dibalik semua kejadian. Mereka masih berpelukan dalam waktu yaang cukup lama.


"Aku ngantuk, Bee. Aku ingin tidur sebentar," ucap Elena lirih dengan matanya yang sayu.


"Capek banget ya seharian?" tanya Rexy dengan suara lembutnya.


"Iya. Aku lelah menunggu lama di kantor polisi tadi," ucap Elena tersenyum.


"Ya sudah, ayo kita beristirahat sebentar!" ucap Rexy segera menggendong Elena menuju ranjang.


Ia sudah sangat mengantuk, apalagi belaian Rexy terasa begitu nyaman dan membuat matanya terpejam.


Tidurlah, Sayang! Aku tau menjadi kamu tidak semudah yang dibayangkan. Kamu wanita hebat yang berhasil melewati semua ini. Aku yakin tidak ada yang sia-sia di dunia, semoga kebahagiaan selalu datang dan menyelimuti keluarga kecil kita nanti. Batin Rexy.


Ia menemani Elena sebentar dan menyelimuti wanita cantik itu sebelum pihak WO datang.


Ting!.


Sebuah pesan masuk mengalihkan perhatian Rexy. Ren mengirimkan pesan jika Elena harus lebih berhati-hati untuk bertemu dengan Justin. Sebab Joy sudah mulai mencoba untuk meretas data-data Elena.


Walaupun sistem keamanaan yang mereka pakai sangat bagus, tetapi jika lengah sedikit saja pasti akan kecolongan.


"Awasi dia, Ren. Jangan sampai dia mendapatkan sedikit data Elena. Blokir semua akses yang mencoba untuk masuk!" tulis Rexy membalas pesan itu.


Karena terlalu fokus dengan Justin dan Reema, aku melupakan laki-laki yang pintar ini!. Batinnya dengan wajah datar.


Ia turun dari ranjang dengan hati-hati dan memeriksa semua hal. Ia ingin tidak ada yang mengacau pernikahannya nanti.

__ADS_1


Rexy melakukan semua pemeriksaan dengan tenang dan tidaknya berisik, kecuali bunyi keyboard yang tidak bisa diredam.


Ia bekerja dengan serius, sembari menajamkan telinga dan memperhatikan keadaan sekitar. Berjaga-jaga terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.


Hingga ketukan pintu membuyarkan fokusnya. Rexy berjalan dengan perlahan dan membuka pintu. Ren terlihat berdiri di sana bersama Clayton.


Raut wajah mereka terlihat begitu tegang dan cemas. Rexy mengernyit memperhatikan gerak gerik mereka.


"Ada apa?" Tanya Rexy.


"Tuan, ada media yang kembali membahas tentang kecelakaan Nona," ucap Ren.


"Apa tidak bisa diredam?" tanya Rexy mengernyit.


"Sepertinya mereka sudah menyewa banyak orang untuk membahas tentang ini, Tuan. Kami yang meredam pun sudah kewalahan," ucap Clayton.


"Apa beritanya?" tanya Rexy menutup pintu kamar.


"Mereka mengeluarkan konspirasi jika Nona Vania masih hidup. Sementara saya memang akan mengeluarkan teori itu, tetapi bukan sekarang, Tuan. Namun sudah ada yang menguploadnya terlebih dahulu," ucap Clayton menunduk


"Apa ada yang membahas Elena?" tanya Rexy dengan wajah datarnya.


"Sejauh ini belum, Tuan. Saya rasa hanya ada dua pelaku dan dua kemungkinan," ucap Ren.


"Apa?" tanya Rexy mengernyit.


"Nyonya Reema yang mengungkitnya, atau berita ini hanya sebuah pancingan saja," ucap Ren menatap Rexy dengan matanya yang tegas.


Mereka terdiam memikirkan hal ini. Sesuatu yang terjadi diluar kendali mereka.


Rexy segera menghubungi orang tua Elena. Meminta mereka untuk tidak bersuara dan memilih bungkam terhadap masalah ini.


"Tunggu di ruang bawah. Elena masih tertidur, saya tidak mungkin meninggalkannya sendiri. Terus pantau dan rebut kendali atas pemberitaan itu. Jangan sampai melebar kemana-mana!" ucap Rexy.


"Baik, Tuan!" ucap Ren dan Clayton mengangguk.


Rexy segera masuk ke dalam kamar dan menatap laptop yaang selalu ia bawa kemana-mana. Semua data sudah ia periksa dan dijamin keamanannya.


Kini berita itu sudah mulai memanas. Orang yang semula lupa, ingin mengingat kembali peristiwa yang menyedihkan di tahun itu.


Tidak mungkin Justin yang menyebarkan ini semua, sementara dia sudah menyimpan semua rahasia ini dengan baik!. Batin Rexy bertanya-tanya.


__ADS_1


Haih gais, aku punyaku rekomendasi ini,😚😚😚


cek judul di atas ya gais,,,😚😚😚


__ADS_2