PELAKOR Ter-SAVAGE

PELAKOR Ter-SAVAGE
Kebingungan Justin


__ADS_3

Reema segera berjalan keluar untuk menemui Justin. Pelipisnya terlihat memar dan mulai membiru, warna pelangi menjadi satu dalam bekas bogeman mentah Elena.


"Mas?" Panggil Reema sambil menangis.


"Kenapa, Honey?" Tanya Justin terkejut.


"Hiks, ada wanita gila yang memukulku, Mas!" Ucap Reema memeluk Justin.


"Siapa? Katakan kepadaku, siapa yang memukulmu?" Tanya Justin melihat memar dipelipis Reema.


"Hiks, dia masih di kamar mandi!" Ucap Reema mengadu.


Justin segera pergi menuju kamar mandi dan melihat siapa badjingan yang sudah menganiaya sang istri. Rahang tegasnya mengeras karena emosi yang langsung membuncah.


"Kenapa kamu tidak melawannya?" Tanya Justin geram.


"Hiks, aku sudah mencobanya, Mas. Dia tiba-tiba saja memukulku," Ucap Reema sesegukan.


Justin melihat sepasang manusia tengah berdiri di depan pintu kamar mandi perempuan. Reema segera menunjuk Elena yang tengah membelakangi Justin.


"Permisi, apa anda yang memukul istri saya?" Tanya Justin.


Elena terkejut, namun ia tersenyum menatap Clayton yang berdiri di hadapannya sembari menggunakan masker.


Elena berbalik dan tersenyum menatap Justin. Ia tidak ingin mengatakan apa pun selain mengusap leher yang terlihat merah itu.


Deg!.


Ke-kenapa bisa mereka bertemu dan berkelahi seperti ini? Apa Reema terkena pukulan keras dari Elena? Astaga aku harus bagaimana?. Batin Justin terkejut.


"Mas, dia yang memukulku!" Ucap Reema mengadu.


"Benar apa yang dikatakan istri saya, Nona?" Tanya Justin seolah tidak mengenal Elena.


"Istri Tuan yang tiba-tiba saja mencekik saya seperti orang kesurupan!" Ucap Elena memasang wajah kesalnya.


Justin menatap Reema dengan penuh tanda tanya. "Dia mengatakan mau merebutmu dari aku, Mas!" Ucap Reema memeluk lengan Justin.


"Benar, Nona?" Tanya Justin tidak tau harus bersikap seperti apa.

__ADS_1


"Apa tuan akan menyalahkan saya? Saya yang datang ke toilet terlebih dahulu. Sudah jelas jika istri Tuan yang mencari gara-gara dan mengada-ada!" Ucap Elena dengan mata yang berkaca-kaca.


Ia sengaja ingin melihat reaksi Justin yang sudah seperti orang kebingungan mencari cara untuk menghadapi dua perempuan ini.


"Bagaimana pun juga, Nona tidak bisa seenaknya memukul orang sembarangan!" Ucap Justin kepada Elena dengan mengesampingkan rasa tidak teganya.


"Bagaimana tidak saya memukul dia, Tuan. Istri anda mencekik saya, ini lihat!" Ucap Elena memperlihatkan lehernya yang memerah.


Justin terbelalak melihat bekas merah itu di leher Elena. Ia menatap Reema dengan rasa tidak percaya. Ia bingung harus bersikap seperti apa saat ini. Jika ia membela Reema, pasti Elena akan susah untuk didapatkan. Namun jika memilih Elena, pasti Reema akan melakukan sesuatu yang berbahaya untuk gadis ini.


"Jadi siapa yang memulai terlebih dahulu?" Tanya Justin datar.


"Dia!" Ucap Reema menunjuk Elena.


"Cih, lempar tengan sembunyi batu!" Ucap Elena kesal.


Astaga, Nona. bisa-bisanya anda melucu dalam keadaan seperti ini, kata-kata anda terbalik Nona cantik. Yang benar itu lempar kaki sembunyikan mata!. Batin Clayton menggeleng.


"Saya akan melaporkan kejadian ini kepada pihak yang berwenang. Saya pastikan kalian mendekam di penjara!" Ucap Reema mengancam.


"Silahkan! Tetapi saya memiliki CCTV yang akan menjatuhkan anda Nyonya. Dan saya bisa menyerang anda kembali atas pasal pencemaran nama baik!" Ucap Elena tersenyum penuh kemenangan.


"Sudah! Honey, tolong jujur siapa yang memulai terlebih dahulu?" Tanya Justin.


Justin melotot, dari mana perempuan ini mendapatkan informasi yang tidak benar. "Kamu jangan mengada-ngada, Honey. Siapa yang sudah tidur dengan dia? Aku tidak pernah tidur dengan siapapun!" Ucap Justin bingung.


"Jangan mengelak lagi Mas! Aku sudah tau semuanya!" Ucap Reema semakin menangis.


"Anda jangan menuduh sembarangan, Nyonya. Apa anda memiliki bukti atas perkataan anda barusan?" Ucap Elena berusaha untuk menyudutkan Reema.


"Ada di dalam CCTV yang anda katakan tadi! Jangan berbicara sembarangan kalau anda memiliki bukti atas tindak kejahatan anda sendiri!" Ucap Reema.


"Benarkah? Sayangnya saya tidak merekam suara dari vidio yang saya ambil!" Ucap Elena tersenyum tipis.


"Pelakor laknat! Sekali pelakor tetap pelakor! Kau wanita terkutuk tidak tau diri! Pergilah kau ke neraka sana!" Pekik Reema.


Ia hendak menyerang Elena kembali namun Justin menahannya. Reema terus memberontak dan berusaha untuk memukul Elena.


"Sepertinya istri anda kurang pendidikan yang lebih rendah, Tuan. Pendidikan moral pancasila, prilaku dan tata tertib! Cara dia menyelesaikan masalah hanya dengan kekerasan!" Ucap Elena santai.

__ADS_1


Justin tersentak mendengarkan ucapan wanita cantik itu. Terdengar santai namun sangat menohok bagi orang yang mendengar.


Jalaang syalan! Aku tidak bisa bisa berkata-kata lagi, jika pergi maka dia akan menang dan mas Justin akan marah kepadaku!. Batin Reema.


"Hon, Cukup!" Bentak Justin yang sudah merasa sangat malu dihadapan Elena. "Jawab aku, apa yang sebenarnya terjadi?" Tanya Justin yang sudah tidak tau harus berbuat apa.


"Mas, kamu membentak aku?" tanya Reema dengan air mata yang kembali menetes. "Kamu membentak aku karena perempuan ini?" Sambungnya.


"Jangan mengalihkan pembicaraan, jawab saja pertanyaanku!" Ucap Justin menatap Reema dengan tajam.


"Kamu bertanya seolah aku adalah pelakunya. Atau kamu sengaja menyudutkan aku agar kamu bisa terlihat membela dia?" Tanya Reema dengan suara yang mulai lirih.


"Bukan begitu maksudku, kamu berteriak dengan tidak jelas! Bukankah ini akan merusak reputasimu?" Ucap Justin berusaha untuk menahan diri.


"Ada apa ini?" Tanya seorang laki-laki yang tengah menggunakan setelan jas rapi menghampiri mereka.


Elena dan Clayton terkejut dan langsung mengalihkan pandangan agar tidak menatap laki-laki itu. Sementara Justin langsung terlihat sangat tidak senang melihat kehadiran dia di sini.


"Ada keperluan apa anda di sini, Tuan?" Tanya Justin.


"Ini restoran saya! Justru saya yang bertanya, kenapa kalian ribut-ribut di toilet perempuan?" Tanya Rexy dingin.


"Maaf, Tuan. Ada sedikit kesalahpahaman di sini!" Ucap Clayton sedikit membungkuk.


"Selesaikan di luar! Keributan kalian mengganggu pelanggan saya yang lain!" Ucap Rexy tegas.


Justin terdiam dan menatap Rexy dengan tajam. Dia selalu kalah dengan laki-laki ini. Apa pun dan dari segala segi. Bahkan untuk masalah ini ia juga harus kalah karena restoran langganannya adalah milik Rexy, sang rival.


"Ayo kita pulang!" Ucap Justin mengajak Reema.


"Mas, masalahku belum selesai dengan dia!" Ucap Reema berusaha untuk menahan Justin.


"Besok kita selesaikan!" Ucap Justin tidak bisa dibantah lagi.


Ia segera mengajak Reema menuju parkiran mobil. Wanita cantik itu menarik tangannya dengan kasar agar terlepas dari genggaman Justin.


"Mas, kamu apa-apaan sih? kenapa hanya kita pergi keluar? Kenapa jalaang itu tidak keluar juga?" Bentak Reema.


"Hon, dengar! Laki-laki tadi adalah orang yang berkuasa! Lebih baik kamu menghindar dari dia. Biarkan mereka yang menanggung semuanya. Ayo kita pergi!" Ucap Justin menarik Reema untuk masuk kedalam mobil.

__ADS_1


Wanita cantik itu hanya terdiam dan menatap restoran dengan penuh dendam, karena Elena masih berada di dalamnya.


Kau lihat saja, bagaimana pun kau merebut Justin itu tidak akan pernah berhasil!. Batin Reema penuh dendam.


__ADS_2