
Di rumah sakit.
Pagi ini, Justin sudah di perbolehkan keluar dari rumah sakit. Pihak kepolisian sudah bersiap untuk membawanya menuju Kantor polisi untuk dimintai keterangan dan di periksa mengenai kasus pembunuhan ini.
Beberapa orang yang mengenalnya, menatap remeh dan rendah kepada laki-laki itu. Sebab, baru kemarin mereka respect dengan tindakan Justin yang berhasil membela dan melepaskan dirinya dari tindakan kekerasan dalam rumah tangga.
Namun kini, malah hal yang lebih besar terbongkar dengan mudahnya dalam waktu semalam saja.
Wajah dingin Justin terpampang nyata, tanpa tersenyum maupun berbicara kepada para perawat dan dokter yang telah menangani sakitnya.
Mereka hanya menggeleng, dan juga sedikit takut ketika berdekatan dengan Justin. Takut jika sewaktu mereka ikut dibunuh jika melakukan sedikit kesalahan.
Sehingga seorang polisi ikut masuk ketika dokter maupun perawat memeriksa keadaan Justin. Berjaga jika laki-laki itu bertindak dengan kasar.
Kini, dengan tangan yang diborgol, masker dan topi, Justin di kawal hingga keluar dari rumah sakit.
Banyak pasang mata yang menatap jijik ke arahnya seraya mengeluarkan umpatan-umpatan kasar untuk mengutuk laki-laki itu.
"Semoga kau di hukum mati setelah melihat wanita yang kau bunuh itu bahagia bersama laki-laki lain!" ucap orang yang ada di sana.
Justin berhenti dan menatap tajam laki-laki itu.
"Apa? Dasar pembunuh! Bukan kau yang membesarkan, malah kau bunuh anak orang! Pengecut!" umpatnya tanpa berpikir.
Polisi segera menyuruh orang itu diam dan melanjutkan langkah kaki mereka.
"Huuuuu! Pembunuh!" ucap orang bersama-sama di lorong rumah sakit.
Justin menahan amarahnya ketika mendapatkan teriakan itu. Ingin rasanya ia membungkam mereka semua, namun keadaan sangat tidak mungkin.
Bahkan kini, ia dibawa menggunakan kursi roda untuk keluar dari rumah sakit.
"Dasar pembunuh! Mati saja kau sana!" ucap beberapa orang yang berjalan dekat Justin.
Namun pria tampan itu hanya terdiam, menahan diri untuk tidak berbuat sesuatu yang akan menghabiskan tenaga. Sebab, hari ini pihak penyidik akan mencercanya dengan begitu banyak pertanyaan.
Apa kini aku harus menyerah?. Batin Justin.
__ADS_1
Tendangan Elena masih terasa menyakitkan di ulu hatinya. Sehingga ia masih belum bisa bergerak banyak dan harus di bantu oleh petugas untuk menaiki mobil.
"Istri anda sudah divonis 25 tahun penjara, mungkin anda bisa menemaninya di sana, atau bisa jadi lebih lama lagi," ucap petugas yang dari awal tidak menyukai Justin.
Pria tampan itu hanya terdiam tanpa merespon. Jika ia berbicara, masalah akan bertambah dan tidak ada akhirnya nanti.
Iring-iringan mobil polisi mulai bergerak meninggalkan rumah sakit. Justin masih bungkam ketika para petugas mengajaknya berbicara.
"Mungkin sudah sangat malu, makanya tidak mau mengeluarkan sepatah katapun," ucap petugas yang mulai kesal melihat keterdiaman Justin.
Mereka hanya menggeleng, hingga mobil sampai di kantor polisi.
Para wartawan dan media lambe sudah berada di sana. Baru saja mobil datang, mereka sudah berkerumun untuk mendapatkan gambar yang bagus tentang Justin.
Pria tampan itu hanya menghela nafasnya ketika kilatan kamera terlihat dari dalam mobil.
Dengan kawalan yang begitu ketak, Justin keluar dari mobil dan masih menggunakan kursi roda.
"Pembunuh bodoh! Sudah susah menutupi, malah terbong!" teriak beberapa orang yang tidak di kenal.
"Mampus kau tertangkap!" Teriak mereka kembali.
Hingga Justin masuk ke dalam sel yang sudah di isi beberapa orang di dalamnya.
"Untuk sementara anda akan berada di sisi, sebelum kasus anda naik kepada tahap penyidikan!" ucap petugas kembali menggembok jeruji itu.
Justin hanya terdiam sembari menatap beberapa orang yang sudah menempati sel itu.
Mereka menatap Justin dengan sangat benci, karena juga mendengar kabar pembunuhan yang dilakukan oleh pria tampan itu.
"Lihatlah siapa yang datang!" ucap laki-laki bertato dan berbadan besar. Ia berada di sana juga atas kasus pembunuhan.
"Bos besar yang baru saja mendapatkan pujian karena terbukti tidak bersalah melakukan KDRT! Tapi...," ucap Napi lain sambil bertepuk tangan.
"Dia menyimpan rahasia yang sangat besar. Bahkan di bongkar oleh orang yang sudah dibunuh! Bukankah itu sangat hebat?" sambungnya mendekat ke arah Justin.
"Mana yang di bunuh istri sendiri! Padahal sudah dinyatakan meninggal, tapi masih bisa hidup. Bukankah itu sebuah keajaiban dunia yang ke 8. Bahkan sekarang datang untuk membalas dendam. Woah!" ucap Laki-laki bertubuh besar itu.
__ADS_1
"Sungguh mengesankan, mengagumkan dan membuat kami takut!" ucap Anto menatap Justin dengan tajam.
Justin masih terdiam tanpa mau menanggapi ocehan mereka. Ia masih sibuk dengan pikirannya yang masih memikirkan keadaan Elena.
Aku merindukanmu!. Batinnya sambil menghela nafas.
"Hei!" Bentak Anto ketika tidak mendapatkan jawaban dari Justin.
Plak!
Tangan besar dan kekar itu mendarat mulus di pipi Justin dan membuat pria tampan itu terhuyung. Ia menatap Anto dengan mata tajam dan memegang pipinya yang terasa sakit.
"Apa? Kau ingin membunuhku?" tanya Anto menantang.
Justin hanya terdiam sambil menatap tajam kearah Tiga orang laki-laki yang ada di hadapannya.
"Jangan sok suci, kalian juga seor pembunuh!" ucap Justin membuat mereka tertawa.
"Memangnya kenapa kalau kami seorang pembunuh? Yang jelas, kamintidan membunuh istri ataupun orang yang kami cintai!" ucap Yoseph.
"Anto, dia di penjara karena membunuh laki-laki yang mau memperkosa istrinya. Mail, dia membunuh rentenir bodoh!. Dan Fatah, dia membunuh selingkuhan ayahnya demi harga diri sang ibunda!" sambungnya.
Justin tidak menjawab lagi. Ia hanya terdiam sembari menunggu kapan ia akan di panggil untuk pemeriksaan selanjutnya.
Cih, dasar sampaah tidakk berguna! Apapun alasannya tetap saja membunuh!. Batin Justin kesal.
Ia masih berada di atas kursi roda, untuk sementara, agar tidak kesulitan ketika hendak pergi ke toilet. Ia memejamkan mata sambil bersandar pada dinding agar bisa menopaang kepalanya.
Ia berusaha untuk mencari cara agar keluar dari sini dan pindah ke luar negeri, dimana ia bisa hidup aman di sana.
Kemana kalian para badjingan? Kenapa belum ada yang menjemputku?. Batinnya kesal karena mafia yang selama ini ia bayar tidak muncul seorang pun.
Ia ingin tertidur saat ini, pengaruh obat masih menimbulkan efek mengantuk yang sulit untuk ia tahan.
Sementara para narapidana lain malah tertawa hingga terbahak-bahak terkesan tidak mengetahui jika ia baru saja keluar dari rumah sakit dan membutuhkan istirahat.
Tendangan sekuat ini, bahkan membuatku cidera. Apa kaki Elena baik-baik saja? Bukankah dia tidak menguasai ilmu bela diri. Apa laki-laki itu yang mengajarkannya?. Batin Justin bertanya-tanya.
__ADS_1
Ia sibuk dengan semua pemikiran tentang Elena. Hingga ia terlelap dalam kondisi duduk dan kepala yang menengadah.
Tanpa ia sadari dua pasang mata menatapnya penuh iba dan juga kekecewaan yang teramat dalam.