PELAKOR Ter-SAVAGE

PELAKOR Ter-SAVAGE
Elena yang Kejam!


__ADS_3

Elena hanya menatap Justin dari atas hingga ke bawah tanpa tersenyum sedikitpun.


"Selamat pagi, Tuan Justin!" Sapa Elena begitu dingin.


Justin masih bingung, namun wajahnya tiba-tiba saja memerah karena menahan emosi melihat Elena menggandeng tangan Rexy dengan begitu mesra.


"Baby, kenapa kamu menggandeng Tuan Rexy?" tanya Justin mengeraskan rahangnya.


Elena tersenyum tipis. "Ah, pria tampan ini, suami saya!" ucapnya berhasil membuat Justin terkejut.


"A-apa maksud kamu?" tanya Justin semakin tidak mengerti.


"Ternyata anda tidak sepintar yang saya bayangkan, Tuan Justin!" ucap Elena tersenyum tipis.


"Elena, jangan bercanda! Apa hubungan kamu dengan dia?" ucap Justin dengan suara yang mulai meninggi.


"Ap kau tidak dengar apa yang di ucapkan Putri saya?" tanya Vazo masih duduk di tempatnya.


Justin mulai paham siapa Elena sebenarnya, ia terdiam menatap wanita cantik itu dengan mata yang berembun.


"Apa ini kamu, Va?" tanya Justin lirih.


"Va? Vania sudah lama meninggal. Aku Elena Sinclair, bukan Vania!" ucap Elena tegas.


Justin terdiam seribu bahasa. Ia tidak tau harus berbuat apa dihadapan wanita cantik ini. Apa lagi melihat tangan lembut itu menggenggam jemari Rexy dengan begitu erat.


Mereka berjalan menuju kursi yang sudah disediakan. Semua orang termasuk Joy ikut terkejut melihat apa yang baru saja terjadi.


Memang benar dugaanku, jika dia adalah wanita ular!. Batin Joy dengan begitu emosi.


Justin masih terdiam tanpa bergerak sedikitpun. Jantungnya terasa berhenti berdetak, nafas yang tiba-tiba saja terasa sesak, kini ia sudah bisa menebak apa yang akan terjadi selanjutnya.


"Silahkan duduk, Tuan Justin. Kita akan memulai rapat pagi ini, karena saya masih ada agenda yang begitu padat dan harus diselesaikan hari ini juga," ucap Rexy tegas.


Justin tersadar, ia segera duduk dan memulai rapat itu. Elena menahan diri untuk tidak merasa iba kepada mantan suami yang begitu ia benci.


Jika bukan karena balas dendam, mungkin ia tidak akan begitu tega melakukan semua ini kepada laki-laki yang pernah mengisi hatinya itu.

__ADS_1


"Perhatian semuanya!" ucap Rexy ketika Justin memberikan ia kesempatan untuk berbicara.


"Seperti yang tuan-tuan ketahui, jika saya memiliki 40 persen saham di perusahaan ini. Tetapi, bukan saya yang memilikinya, tetapi istri saya. Di tambah dengan 10 persen saham tuan Rendi yang baru saja dibeli oleh Elena. Berarti sekarang istri saya memiliki saham sebesar 50 persen di perusahaan ini," ucap Rexy tegas dan membuat Justin tidak bisa berkata-kata lagi.


Semua orang menatap Justin dengan penuh tanda tanya. Apa yang sebenarnya terjadi di sini. Mereka terlihat seperti orang kebingungan di antara sebuah masalah.


"Silahkan, Tuan Justin! Rapat ini sudah bisa dilanjutkan," ucap Rexy.


Para manager dan direktur mulai menjabarkan pengeluaran dan pendapat perusahaan dalam bulan ini.


Hening, tanpa ada sanggahan dari Justin maupun Rexy. Mereka masih sibuk untuk menyelami pikiran masing-masing.


"Ternyata kinerja Tuan Justin cukup baik!" ucap Elena. "Tapi sayangnya anda sudah tidak pantas lagi untuk menjabat sebagai CEO perusahaan ini!" sambungnya menatap Justin.


"Apa maksud kamu, Na?" tanya Justin terkejut.


Begitu juga dengan semua orang yang berada di dalam ruangan itu.


"Maaf, Nyonya. Sebelumnya Tuan Rexy mempertahankan posisi Tuan Justin, kalau boleh tau apa alasan anda mengatakan hal ini?" tanya salah satu pemegang saham.


Joy segera memeriksa ponselnya dan melihat berita terbaru yang sidang menjadi trending topic di semua sosial media.


Nama Justin terseret atas kasus pembunuhan berencana. Mereka yang sedang melihat berita itu terkejut dan menatap Justin dengan penuh amarah.


"Saya setuju dengan usul Nyonya Elena untuk memecat anda sebagai CEO perusahaan ini!" ucap pemegang saham.


"Saya juga setuju! Manusia seperti anda tidak pantas untuk hidup!" ucap investor yang sedari tadi hanya diam menyaksikan drama ini.


Justin semakin terkejut, ia menatap Elena dan Rexy bergantian. Ia telah terjebak dalam permainan mereka yang begitu tersusun dengan sangat rapi.


Ia berdiri menatap Rexy dengan penuh kebencian. Ia yakin Elena sudah diracuni oleh laki-laki itu untuk membalas dendam.


"Saya yakin semua sudah anda rencanakan, Tuan Rexy!" ucap Justin dengan emosi.


Sementara pria tampan itu hanya tersenyum menyeringai, menatap Justin dengan begitu rendah.


"Pembunuh, harus berada di tempat yang pantas!" ucap Rexy dengan tegas.

__ADS_1


Semua orang bergidik melihat ekspresi Rexy yang begitu menakutkan.


"Anda tidak berhak ikut campur salam masalah ini! Anda...," ucap Justin


"Cukup!" Bentak Elena menatap Justin dengan sangat tajam. "Sudah cukup anda menutupi semua ini tanpa ada yang mengetahuinya! Sekarang, pertanggungjawabkan apa yang sudah anda perbuat, Tuan Justin!" ucapnya dengan tegas.


Justin terdiam dengan air mata yang mulai menggenang. Sakit, itu yang ia rasakan saat ini.


"Kenapa? Apa anda merasa tersakiti dan terkhianati?" tanya Elena tertawa miris.


"Na, aku sudah mengakuinya di hadapanmu. Aku sudah mengatakan jika aku menyesal, kenapa kamu...," ucap Justin.


"Cukup, Justin!" ucap Vazo yang tidak tahan untuk memaki laki-laki yang pernah menjadi menantunya ini.


"Apa ayah sudah tau, jika Vania masih ada? Ternyata kalian bersekongkol! Kalian lebih kejam dibandingkan saya!" Teriak Justin dengan amarah yang tidak bisa di kendalikan lagi.


"Kalau ia kenapa? Kau sungguh tega membunuh istrimu sendiri Justin! Kau tau jika dia anak sematawayangku! Kau manusia berhati batu yang hanya memikirkan napsu saja! Semoga semesta mengutukmu, bahkan jika ada kehidupan lain sekali pun!" teriak Vazo berapi-api.


Ia sudah berusaha menahan amarah beberapa hari ini. Namun kini ia sudah tidak bisa mengendalikan diri walaupun harus kehilangan wibawa di hadapan semua orang.


"Tapi itu juga kesalahan kalian yang menjodohkan kami tanpa bertanya kami bersedia atau tidak!" teriak Justin yang berusaha untuk membela diri.


"Tapi tidak dengan membunuhku, Justin!" Bentak Elena dengan nafas yang memburu.


Ia tidak bisa melihat orang lain membentak orang tuanya. Ia berjalan mendekat kearah Justin dan menatap pria tampan yang ada di hadapannya dengan tajam.


"Waktu kamu untuk bermain sudah selesai, Mas. Bagaimana rasanya dikhianati? Bagaimana rasanya melihat orang yang kamu cintai memilih orang lain? Bagaimana rasanya mencintai tanpa di cintai?" Tanya Elena sambil berteriak di hadapan Justin.


"Seru? Atau kamu merasakan kenikmatan yang tiada tara? Tidak, bukan? Apa yang kamu rasakan sekarang, tidak sebanding dengan apa yang aku rasakan selama ini, tidak sebanding dengan apa yang orang tuaku rasakan!" ucap Elena dengan mata yang mulai berkaca-kaca.


Semua orang hanya terdiam menatap drama itu. Justin tidak mampu berkutik membalas satupun perkataan Elena yang memang benar adanya.


"Apa kamu berpikir bisa merasakan apa yang aku rasa dulu?" tanya Elena.


Justin hanya bungkam, lidahnya kelu menatap mata tajam dan wajah sedih Elena.


Brak!!

__ADS_1


__ADS_2