PELAKOR Ter-SAVAGE

PELAKOR Ter-SAVAGE
Tunggu Aku, Baby!


__ADS_3

Dua jam berlalu, Justin sudah melengkapi semua berkas laporan yang ia buat. tanpa sengaja ia menatap Elena yang hanya terdiam sembari menatap ruangan dimana Reema tengah berada.


"Baby, kamu ingin bertemu dengan dia?" tanya Justin mengernyit.


"Hmm? Untuk apa?" Tanya Elena menahan diri.


"Menyampaikan kabar bahagia mungkin. Karena kita akan menikah, atau menertawakan dia atas kemenanganmu yang berhasil mendapatkan cintaku!" ucap Justin berbisik di telinga Elena.


Wanita cantik itu membulatkan mata. Bagaimana bisa kamu berkata seperti itu, Mas? Sementara kalian belum resmi bercerai di pengadilan. Batin Elena.


Ia menatap Justin dengan ragu, namun tidak ada salahnya juga untuk mencoba.


Hajar dulu, mana tau setelah ini dia menjadi gila dan aku menjadi senang. Batin Elena.


"Kamu jangan seperti itu, Mas. Bagaimanapun juga dia pernah memuaskan adik kecilmu hingga muntah berkali-kali," ucap Elena mendelik.


"Haha, ayo kita bertemu dengan dia!" ucap Justin menggandeng tangan Elena.


Mereka meminta izin untuk bertemu dengan Reema sebelum kembali ke apartemen. Beruntung polisi memberikan izin setelah bertanya siapa Elena. Justin hanya menjawab "Dia saudara saya!".


Pintu perlahan terbuka, Justin merangkul pinggang Elena dengan begitu mesra dan membuat Reema melotot kaget melihat siapa yang masuk.


"Bagaimana rencanamu untuk kabur, Sayang?" tanya Justin tersenyum smirk dan membuka maskernya, begitu juga dengan Elena.


"Kalian!" pekik Reema terkejut ketika melihat Elena tengah menggandeng mesra suaminya.


"Aku menang, bukan? Ah, Mas Justin sudah menjadi milikku sekarang," ucap Elena tersenyum tipis.


"Kalian dasar manusia sampah!" umpat Reema dibalik jeruji.


"Kasihan, kamu hanya bisa mengumpat kasar! Makanya jadi manusia jangan terlalu tamak dan kemaruk!" ucap Elena mengolok-olok Reema.


Justin hanya terdiam sambil tersenyum melihat perdebatan mereka.


"Kalian sudah puas menghancurkanku? Puas kalian? Lihat saja apa yang akan saya lakukan setelah ini!" ucap Reema berapi-api.

__ADS_1


"Apa yang bisa Anda lakukan saudari Reema. Lebih baik pikirkan berapa lama anda akan menempati kamar baru ini. Prostitusi, pecandu, pengedar, penggelapan, penipuan, jangan sampai Anda membunuh kami dan mendapat hukuman yang lebih berat!" ucap Elena tertawa.


Reema dan Justin terdiam mendengarkan ucapan Elena.


"Hahaha," Reema tertawa. "Apa kau tidak tau jika laki-laki itu seorang pembunuh!" ucapnya dengan mata yang terlihat tajam.


"Tau!" ucap Elena tersenyum tipis dan membuat Reema terkejut. "Bukankah kau biang keladinya?" ucap Elena terkekeh.


"Dia itu badjingan, kau akan mendapatkan kasus yang sama seperti aku jika kau masih bersama dengan dia!" ucap Reema tertawa jahat.


"Diam kau wanita syalan!" bentak Justin menahan amarah.


"Aku tidak sebodoh dirimu! Jikalau terjadi masalah, akan ada banyak cara untuk menyelesaikannya tanpa harus menghilangkan harga diri!" ucap Elena tersenyum smirk.


Justin terdiam menatap wanita cantik yang ada di sampingnya. Elena begitu bijak dan ia merasa hangat dengan perlakuan wanita cantik ini.


"Yang jelas, kau tidak akan bisa menyaingiku ketika berada diatas ranjang! Mas, aku yakin kamu tidak akan bertemu dengan perempuan yang bisa memuaskanmu selain aku," ucap Reema berbangga diri.


"Ah, tetapi kamu salah. Elena bahkan bisa mengalahkanku hanya dalam dua ronde saja! Benarkan, Baby?" ucap Justin mengecup kepala Elena.


"Jagan seperti itu, nanti ada yang dengar. Jangan sampai mereka merebutku dari kamu, Mas!" ucap Elena mencubit pinggang Justin dengan gemas.


Menunjukkan kepada Reema, jika mereka saling mencintai, sehingga membuat wanita cantik itu semakin muak.


Jika saja jeruji tidak menghalanginya, mungkin ia sudah mencakar mereka berdua. Terserah dengan ganjaran yang akan diterima setelah ini.


"Aku bersumpah akan menghancurkan kalian setelah ini! Akan aku buat kalian sengsara seperti apa yang aku rasakan sekarang!" Ucap Reema tegas dengan wajah yang penuh amarah.


"Mas, aku kasihan melihat dia yang sudah seperti orang gila. Apa kamu tidak ingin mencabut laporannya?" tanya Elena menatap Justin.


Pria tampan itu mengernyit sambil menatap Elena. Mencari maksud dari perkataan wanita cantik yang ada di sampingnya saat ini.


"Kenapa, Baby. Tentu aku tidak akan mencabutnya!" ucap Justin.


Elena tersenyum dan menarik sedikit tubuh Justin agar membelakangi Reema. Ia sedikit berjinjit dan memiringkan wajahnya agar terlihat seperti orang yang sedang berciuman. Namun ia hanya mengecup pipi Justin dan tersenyum.

__ADS_1


"Itu sudah membuktikan jika kamu sudah tidak mencintai dia lagi. Ayo pulang, aku tidak sabar untuk mempersiapkan pernikahan kita. Atau kamu mau membuatku lelah dia atas ranjang?" ucap Elena tersenyum menggoda.


Reema semakin terbakar api cemburu dan kemarahan. "Dasar badjingan! Belum resmi kau bercerai denganku, kau sudah mengatur pernikahan lagi dengan jalaang itu! Terkutuklah kalian berdua!" pekik Reema yang sambil menguncang sel dan membuat petugas masuk kedalam ruangan itu.


Elena dan Justin tersenyum melihat keadaan Reema yang sudah sangat kacau.


Mereka segera keluar dari sana sambil terkekeh. Justin hanya menggeleng melihat tingkah Elena yang terasa diluar nalarnya.


Wanita anggun masih bisa bar-bar juga ternyata. Aku semakin gemas melihat tingkah kamu, Baby. Batin Justin.


Mereka segera pergi dari sana tanpa di kenali oleh siapapun. Sebab petugas memberikan jalan pintas yang tidak akan dikerumuni oleh para wartawan. Karena cukup bahaya jika Elena tersorot oleh media.


"Mas?" panggil Elena.


"Iya, Baby. Apa kamu ingin pergi ke WO untuk merancang pernikahan kita? Atau mau mencoba kasur yang baru aku beli di apartemen?" tanya Justin membuat Elena merona.


"Ah, kamu saja belum resmi bercerai. Gimana mau nikah, dilamar aja belum!" ucap Elena pura-pura kesal.


"Ah, sabar ya. Sebentar lagi aku akan resmi bercerai dengan Reema. Setelah itu aku akan melamarmu dan kita menikah. Aku sudah tidak ingin bermain-main lagi. Sepasang anak sepertinya sangat membahagiakan!" ucap Justin menatap Elena dengan wajah yang merona.


"Umm, kamu begitu manis. Tapi, sudah dua kali kamu gagal dalam rumah tangga, Mas. Aku jadi takut, jika nanti akan gagal kembali" ucap Elena mendrama.


Justin terdiam, ia langsung memeluk Elena dan mengecup kepala wanita cantik itu.


Ada perasaan takut yang mulai menyeruak memenuhi hatinya. Pribadi Elena yang lembut dan berbanding terbalik dengan Reema, membuat ia sangat menginginkan wanita cantik ini.


"Beri aku waktu untuk berbenah diri. Mengendalikan emosi, merendahkan nada bicaraku, bersikap hangat, dan aku akan menjadi sosok suami idamanmu nanti," ucap Justin menggenggam tangan Elena.


Wanita cantik itu terdiam dan cukup tersentuh dengan ucapan Justin. Kini hati pria tampan itu sudah berada di genggamannya.


Semaksimal mungkin aku akan membuat Justin sangat mencintaiku dalam beberapa hari ini. Maafkan aku yang akan menghancurkan semua impianmu, Mas. Sungguh, jika kita berpisah dengan baik dulu, aku tidak akan sekejam ini!. Batin Elena.


"Semuanya akan berubah seiring berjalannya waktu, Mas. Yang penting kamu memiliki niat untuk memperbaiki diri," ucap Elena membalas genggaman tangan Justin dan bersandar di dada bidang pria tampan itu.


"Tunggu aku, Baby!" ucap Justin tersenyum lega.

__ADS_1


Setidaknya ia memiliki sedikit harapan jika Elena tidak menolak dirinya. Ia berjanji di dalam hati untuk memperbaiki diri dan mendapatkan hati Elena dengan utuh.


__ADS_2