
"Bee, kamu sudah pulang?" tanya Elena mengernyit.
Rexy duduk bergabung dengan Elena dan calon mertuanya.
"Aku mau minta izin selama 3 hari, karena ada pekerjaan di luar negeri yang tidak bisa aku tinggal!" ucap Rexy menunduk.
Ia berusaha untuk menahan diri agar tidak menunjukkan wajah penuh emosi yang malah akan membuat mereka khawatir.
"Ke luar negeri? Bee, ini sudah H-5, kamu mau kemana?" tanya ElenaElena mengernyit.
"Ada yang harus aku urus, Sayang. Ren atau Clayton tidak bisa mewakilkan aku," ucap Rexy menggenggam tangan Elena.
"Apa gak bisa di undur sampai kita menikah? Bagaimana kalau terjadi apa-apa nanti!" ucap Elena memelas.
"Maaf, Sayang. Aku gak bisa, ini juga menyangkut prusahaan dan keluarga nanti," ucap Rexy menatap Elena dengan rasa yang bercampur aduk.
"Janji hanya tiga hari?" tanya Elena lirih.
"Iya, hanya tiga hari! Aku akan kembali sebelum hari pernikahan kita dilangsungkan!" ucap Rexy.
"Baiklah! Hati-hati, berjanjilah untuk pulang tepat waktu," ucap Elena dengan mata yang berkaca-kaca.
Entah mengapa kepergian Rexy hari ini menimbulkan tanda tanya besar baginya dan juga perasaan yang tidak enak.
Begitu juga dengan Vazo, ia memanggil Rexy menuju ruang kerja dan menanyakan apa yang sebenarnya terjadi.
"Ayah, Maafkan aku. Justin merencanakan banyak hal agar dia bisa terbebas dari hukum dan berencana untuk kabur. Itu yang harus Rexy urus, Yah. Jangan sampai nanti pernikahan kami menjadi kacau dan Elena berada dalam bahaya!" ucap Rexy lirih.
"Kenapa masalah ini masih ada? Terus kamu mau kemana?" tanya Vazo.
"Rexy akan pergi ke Jepang dan bertemu dengan Yakuza, aku akan meminta tolong kepada mereka, setelah itu kami akan berangkat menuju Mexico untuk menemui beberapa kelompok mafia terbesar lainnya, dan terakhir aku akan bertemu dengan kelompok yang mendukung Justin," ucap Rexy menerangkan.
"Kenapa bisa seperti ini? Semuanya menjadi sangat rumit dan berantakan! Ayah pikir setelah Justin tertangkap, semuanya akan tenang, tetapi tidak!" ucap Vazo menghela nafasnya.
"Itu sebabnya Justin bisa membunuh Vania dengan sangat rapi dan kejahatannya tidak tercium oleh siapapun," ucap Rexy.
"Apa yang bisa ayah bantu, Nak? Kalian sudah terlalu banyak berusaha selama ini," ucap Vazo menghela nafasnya.
"Ayah cukup merahasiakan ini dari Elena. Aku sudah menyiapkan tempat yang cukup aman untuk bersembunyi. Semuanya, anggap ini liburan agar Elena tidak terlalu memikirkan aku, ajak ayah Hinata dan bundaku juga, Yah!" ucap Rexy.
"Kenapa cobaan kalian seperti ini, sangat berat untuk kalian bisa bersama," ucap Vazo dengan dada yang terasa sesak.
"Gak pap, Yah. Setidaknya, semua kejadian ini bisa membuat kita belajar dan lebih dewasa lagi dalam bersikap," ucap Rexy tersenyum.
"Hati-hati dan jaga dirimu di sama," ucap Vazo menepuk bahu Rexy.
__ADS_1
"Itu pasti, Ayah!" ucap Rexy mengangguk.
Mereka segera keluar dari ruang kerja. Elena masih berada di bawah karena Rexy tidak membawanya ke atas.
Wajah murung dan khawatir tergambar jelas tanpa bisa di sembunyikan oleh Elena. Wanita cantik itu sangat penasaran dengan apa yang dilakukan oleh Rexy di luar negeri.
Pria tampan itu hanya membawa beberapa stel baju menggunakan koper kecil milik Elena.
"Bee?" panggil Elena.
"Ya, Sayang. Aku masukin ini ke mobil dulu, ya!" ucap Rexy tersenyum.
"Nak," panggil Khalia mengusap kepala Elena.
"Aku khawatir, Bunda!" ucap Elena lirih.
Rexy kembali dan tersenyum menatap Elena. "Jangan khawatir, Sayang. Aku pergi cuma sebentar. Nanti aku bakalan kirim kabar terus setiap hari, sampai aku pulang dan kita bertemu kembali," ucapnya merapikan rambut Elena.
Air mata Elena menggenang. Rasa khawatir menyeruak memenuhi hatinya. Ia sangat takut jika Rexy kenapa-napa dan meninggalkan dirinya sendiri.
"Hati-hati di sana! Pulang cepat, hanya tiga hari saja!" ucap Elena mengusap kepala Rexy dengan lembut.
"Iya, Sayang. Jangan nangis ya, aku sudah bilang ke ayah, biar nanti pergi jalan-jalan sama bunda sama ayah juga. Aku sudah siapkan pulau untuk berlibur. Di sana cukup bagus, kamu pasti suka!" ucap Rexy tersenyum.
"Iya, pokoknya hati-hati! Kalau gak pulang, nanti aku nikah sama Clayton!" ucap Elena cemberut.
"Janganlah!" sergah Rexy cepat. ia mencubit hidung Elena dengan gemas. "Hanya aku yang bisa menjadi suami kamu, gak boleh yang lain!" ucapnya mengecup bibir Elena sekilas.
"Hei!" pekik Khalia memukul bahu Rexy.
"Hehe, maaf, Bunda cantik!" ucap Rexy terkekeh.
"Aku antar ke bandara ya!" ucap Elena.
Rexy terdiam dan tersenyum. "Aku langsung pergi pakai mobil kantor, Sayang. Kamu banyak istirahat ya, aku sudah menghubungi dokter Kim untuk jadwal pengobatan kamu," ucapnya.
Elena terlihat kecewa, namun ia tidak bisa berbuat banyak mengingat kondisinya saat ini.
"Baiklah, Hati-hati!" ucap Elena mengecup kening Rexy.
"Iya, Sayang!" ucap Rexy.
Ia segera pergi meninggalkan Elena, bertepatan dengan datangnya Clayton.
"Titip merekan, Clay!" ucap Rexy sebelum masuk ke dalam mobil.
__ADS_1
"Anda percayakan saja kepada saya, Tuan!" ucap Clayton membungkuk.
Rexy mengangguk dengan wajah datar. Ia segera masuk ke dalam mobil dan meninggalkan kediaman Elena dengan cepat. Tak lupa ia juga menghubungi sang ibunda agar mereka tidak khawatir.
Clayton segera masuk ke dalam rumah dan menghadap Elena.
"Hai, kamu tidak bekerja?" tanya Elena mengernyit.
"Saya sedang bekerja, Nona. Selama tuan pergi, saya yang akan menjaga Nona!" ucap Clayton tersenyum tipis.
"Perusahaan bagaimana?" tanya Elena.
"Ada tuan Ren yang menghendelnya, Nona!" ucap Clayton.
Wajah Elena kembali murung, padahal televisi tengah memberitakan tentang status Justin yang sudah berubah menjadi tersangka.
Tidak ada senyum yang menghiasi wajah cantik Elena. Ia hanya menghela nafas beberapa kali, mengingat ia akan menjalani hubungan jarak jauh selama beberapa hari.
"Nona, saya sudah pasangan tiket untuk anda," ucap Clayton.
"Kemana?" tanya Elena mengernyit.
"Sesuai dengan arahan dari tuan Rexy," ucap Clayton.
"Kapan?" tanya Elena tidak tertarik.
"Besok pagi, Nona," ucap Clayton.
"Besok saya harus bertemu dengan seseorang, Clay. Apa saya majukan saja hari ini?" tanya Elena.
"itu terdengar lebih baik, Nona," ucap Clayton.
Elena segera menghubungi Tiara dan mengundang wanita cantik itu ke rumahnya.
Tiara menolak, namun Elena memberikan beberapa alasan hingga akhirnya dengan berat hati Wanita paruh baya itu menyetujuinya.
"Tolong siapkan beberapa orang pengawal untuk berada di dekatku Clay. Aku tidak ingin mengambil resiko yang lebih besar," ucap Elena.
"Baik, Nona!" ucap Clayton segera menghubungi sepuluh penjaga yang sudah berada di sekitar rumah Elena.
"Bunda jika belum sanggup bertemu dengan Mommy, jangan memaksakan diri," ucap Elena lembut.
"Iya, Sayang. Bunda belum bisa dan belum kuat untuk bertemu dengan dia," udal Khalia menghela napasnya.
Sore itu, Elena menunggu di gazebo rumah agar bisa berbincang dengan mantan mertua yang dulu begitu ia sayangi.
__ADS_1