
Elena merasakan getaran dihatinya, teringat jika Rexy belum memberikan ia kabar sedari kemarin. Gelisah dan tidak tenang, mulai melanda hati.
Bahkan Clayton pun juga tidak mendapatkan informasi dari Fauzi yang pergi bersama dengan Rexy.
"Bunda, aku takut terjadi sesuatu kepada Mas Rexy," ucap Elena lirih.
"Kamu percaya saja kepada Rexy, Nak! Dia tidak pernah mengecewakan, Bunda!" ucap Angelin mengusap kepala Elena.
"Kepergiannya membuat El tidak bisa tenang, Bunda. El takut jika terjadi apa-apa dengan, Mas Rexy. Sementara pernikahan kami hanya tinggal beberapa hari lagi. Kalau tau seperti ini, bagus juga keputusan kemarin untuk mengundurnya!" ucap Elena lirih.
Angelin terdiam, ia juga tidak bisa berkata banyak agar Elena tidak mengetahui apa yang sedang dikerjakan oleh Rexy.
"El merasa ada sesuatu yang sedang ditutupi. Semoga bukan hal yang berbahaya," ucap Elena lirih.
"Tidak ada hal yang berbahaya, Sayang. Walaupun bunda juga bingung, tapi anggap saja sekarang kita menghabiskan waktu sebelum kamu melepas masa lajang," ucap Angelin.
"Aku bukan lajang lagi, Bunda. Malah sudah jadi janda," ucap Elena tersenyum.
"Haha, anggap saja begitu. Ah, iya katanya tadi kamu bertemu dengan mantan mertuamu, bagaimana?" tanya Angelin.
"Tidak apa-apa, Bunda. Mommy, hanya ingin memberikan beberapa berkas milikku, lebih tepatnya milik Vania," ucap Elena tersenyum.
"Dia tidak meminta kamu untuk mencabut laporan?" tanya Angelin.
"Tidak, Aku sudah mengatakannya lebih dulu, sebelum Mommy berbicara," ucap Elena.
"Kamu memaafkan Justin begitu saja, atas apa yang sudah dilakukannya kepadamu?" ucap Angelin mengernyit.
"Aku tidak ingin kebencianku menjadi penyakit hati. Biarkan mereka menerima akibat dari apa yang sudah diperbuat. Aku hanya butuh waktu untuk melupakan semua ini dan memulai hidup baru ketika harus berdampingan dengan mereka," ucap Elena.
Angelin tersenyum. "Terbuat dari apa hati kamu, Nak? Kamu masih bisa memaafkan orang yang telah membunuhmu," ucapnya sambil mengelus kepala Elena dengan lembut.
Khalia tersenyum di balik pintu, Elena mendapatkan mertua yang begitu baik, menerima putrinya dengan segala kekurangan.
Ia merasa lebih lega jika harus melepas Elena, jika umurnya nanti tidak lama lagi.
Bunda sudah merasa tenang, sekarang apapun akan bunda lakukan untuk Va kecil bunda. Hanya bisa memanfaatkan waktu yang tersisa untuk mengganti semua kesakitan yang sudah kita alami. Batin Khalia dengan mata yang berkaca-kaca.
Ia segera masuk sambil membawa makan malam Elena. Semenjak datang ke sini, wanita cantik itu tidak memakan apapun, bahkan ketika malam sudah sangat larut.
"Makan dulu, Sayang! Bunda sudah membuatkan sup ayam kesukaanmu," ucap Khalia tersenyum.
"El belum mau makan, Bunda," ucapnya lirih.
"Hai, sayang. Katanya mau sembuh. Kamu belum makan malam, minum obatnya ga boleh telat, Sayang!" ucap Khalia tersenyum.
"Makan dulu, Nak. Biar cepat pulih, kamu butuh tenaga banyak untuk resepsi nanti!" ucap Angelin.
__ADS_1
Elena hanya pasrah jika dua bidadari itu sudah berbicara. Ia tidak akan berani untuk menentang sedikitpun.
Ia menghabiskan makan malamnya sambil mendengarkan Khalia dan Angelin bercerita banyak hal.
🍃🍃
"Ada urusan apa kalian mencari saya?" Ucap Barrack dalam bahasa Inggris.
"Ya, kami membutuhkan bantuanmu!" ucap Koji
"Kau tidak pandai berbasa-basi sedikit!" ucap Barrack ketus.
"Kami tidak punya banyak waktu! Kenalkan ini teman baik saya, Rexy. Dia mengalami begitu banyak hal yang membuat hidup istrinya hancur!" ucap Koji.
Rexy mengangguk menatap tegas kepada Barrack.
"Kau tau saya tidak semudah itu untuk membantu orang lain!" ucap Barrack ketus.
"Cih! Saya jauh-jauh datang, seperti ini sambutan kau!" ucap Koji.
Barrack tersenyum tipis. Ia menatap Rexy dengan lekat, entah apa yang akan ia lakukan nanti.
"Kau ingin bantuan apa?" tanya Barrack.
Rexy terkejut, ia langsung mengangguk dan menatap Barrack masih dengan tatapan tegas tanpa rasa takut.
Ia menatap Barrack dan melihat bagaimana ekpresi dari pria paruh baya itu.
"Saya takut, dia akan membahayakan keluarga, terutama calon istri saya, sebab kami akan menikah empat hari lagi!" ucap Rexy.
"Jadi, kau minta saya untuk menghentikan mereka?" tanya Barrack.
"Kurang lebih seperti itu, Tuan. Sudah cukup penderitaan yang sudah di jalani oleh dia. Saya tidak ingin dia kenapa-kenapa lagi," ucap Rexy.
Barrack mengangguk. "Apa sudah ada data dari kelompok yang membantu mereka?" ucap Barrack.
"Ada beberapa, Tuan. Mungkin masih ada lagi. Tapi kami kesulitan untuk melacak mereka!" ucap Rexy lirih.
Fauzi memperlihatkan sebuah kertas yang berisikan beberapa nama komplotan mafia yang akan membantu Justin.
"Tolong panggil mereka kemari!" ucap Barrack kepada pengawalnya.
"Baik, Tuan!" ucap pengawal itu berlalu.
"Hanya itu?" tanya Barrack.
"Iya, hanya itu, Tuan. Saya hanya ingin calon istri saya hidup dengan baik. Sudah cukup lima tahun ini dia merasa begitu tersiksa," ucap Rexy tegas.
__ADS_1
"Kau meminta tolong, tapi berbicara tegas seolah memerintahku!" ucap Barrack mengernyit.
Rexy menatap Barrack tanpa melunakkan pandangannya. Mata tajam mereka saling bertemu satu sama lain.
Ruangan itu terasa sangat mencekam. Tidak ada orang yang berani menatap Barrack seperti Rexy.
"Kau memang laki-laki yang berani! Bahkan kau tidak peduli dengan bahaya yang kau hadapi di depan mata!" ucap Barrack.
"Anda mempunyai istri, pasti kita memiliki perasaan yang sama untuk itu!" ucap Rexy.
"Kau yakin hanya itu saja?" tanya Barrack.
"Tentu, Tuan! Berharap anda bisa membantu saya!" ucap Rexy.
"Kapan kau akan menikah?" tanya Barrack.
"Empat hari lagi, tuan!" ucap Rexy menyodorkan undangan. "Jika anda memiliki waktu, saya akan sangat tersanjung jika anda datang ke sana!" sambungnya.
Fauzi dan Koji terkejut melihat Rexy yang langsung menyodorkan undangan digital melalui ponselnya.
"Haha, kau sangat tidak pandai berbasa-basi! Kau menikah empat hari lagi, tapi kau masih di sini? Pulanglah! Nanti akan saya urus!" ucap Barrack tertawa.
Rexy membulatkan mata. Apa ini benar? Dia menyetujuinya dengan begitu mudah? Sayang, ini keberuntunganmu!. Batinnya.
"Kau langsung menyetujuinya? Huh, dasar badjingan!" umpat Koji kesal.
"Kau syalan! Beraninya memakiku! Mati saja kau sana!" Bentak Barrack.
Fauzi dan Rexy terkejut mendengar suara yang menggelegar itu. Mereka terdiam, namun pandangan mata tajam Rexy tidak melunak sedikitpun. Ia masih menatap Koji dan Barrack dengan bingung.
Mereka hanya saling berpandangan satu sama lain. Hingga Barrack melengos dan kembali menatap Rexy.
"Pulanglah! Temui istri kau! Dia pasti sudah sangat takut sekarang!" ucap Barrack.
Rexy menatap pria tua itu dengan tidak percaya. Lidahnya kelu, tidak tau harus berkata apa.
"Hei, kenapa kau terdiam?" Bantak Barrack.
"Maaf, Tuan. Saya hanya terkejut! Terima kasih atas bantuan anda," ucap sedikit menunduk.
"Baru kau mau menunduk! Tadi saja dengan tagas kau memandangku seolah menantang!" ucap Barrack ketus.
"Saya tidak pernah takut berbicara kepada siapapun, maaf jika anda merasa tertantang oleh saya! Sungguh saya tidak ada maksud apa-apa," ucap Rexy kembali menatap Barrack dengan tatapan mata tajamnya.
Barrack tersenyum tipis. Rexy memiliki nyali yang sangat besar untuk berhadapan dengannya.
Dia persis seperti mendiang putraku!. Batin Barrack.
__ADS_1