
Elena kesulitan untuk menelan air liurnya melihat wajah dingin Rexy.
"Iya, Mas. Bagaimana keadaanmu?" Tanya Elena menahan debaran jantungnya yang semakin kencang.
"Aku baik, Baby. Aku merindukanmu!" ucap Justin.
Elena terkejut, ia serasa ingin mati saja mendengarkan ucapan Justin. Apa lagi melihat wajah Rexy yang mulai memerah.
Habis aku setelah ini. Batin Elena.
"Mas sekarang dimana?" Tanya Elena tidak membalas ungkapan rindu dari Justin.
"Aku ada di rumah. Aku sudah berpisah dengan Reema. Besok surat dari pengadilan akan keluar," ucap Justin.
"Aku turut prihatin mendengar masalah yang tengah kamu hadapi, Mas. Untung kamu memiliki bukti untuk terbebas dari laporan itu," ucap Elena.
Rexy mulai tenang, sebab tidak ada perkataan yang memancing amarahnya. Namun mata tajam itu tetap mengawasi Elena agar tidak melakukan sesuatu yang membuat ia semakin marah.
"Aku pikir tidak akan seperti ini, ternyata lebih rumit lagi. Namun, publik tau jika rumah tanggaku ada permasalahan, sehingga aku tidak harus bersembunyi lagi dari mereka," ucap Justin lirih.
"Kamu yang kuat ya, Mas. Semoga setelah ini hidupmu bisa lebih baik lagi," ucap Elena.
"Aku kuat karena kamu, Na. Kehadiranmu membawa sesuatu yang berbeda dan membuat hidupku kembali berwarna," ucap Justin.
Rexy kembali melotot, ia tidak suka dengan apa yang di katakan oleh Justin. Walaupun itu adalah hal yang benar, dan ia juga merasakannya.
Clayton berusaha untuk menahan tawa ketika melihat Rexy yang sudah terbakar api cemburu. Begitu manis dan mengemaskan, melihat laki-laki yang tidak pernah tersenyum kepada orang lain itu, sekarang ditaklukkan oleh seorang wanita seperti Elena.
Ah, akhirnya saya bisa mencari pembelaan nanti jika membuat tuan Rexy marah. Nona, Anda penyelamatan hidup saya!. Batin Clayton.
"Baguslah kalau aku masih bisa berguna untuk orang lain," ucap Elena.
Ia tersenyum menatap Rexy yang masih memasang wajah datarnya. Ingin rasanya aku cubit pipi kamu, Bee. Gemes banget aku lihat wajah masammu seperti itu. Batin Elena gemas.
"Kapan kamu main ke apartemen lagi? Sepertinya aku membutuhkanmu saat ini." Tanya Justin terdengar lesu.
"Tunggu semuanya tenang dulu ya, Mas. Kamu pasti sedang di buru oleh wartawan dan media. Takutnya aku ikut menjadi sorotan mereka," ucap Elena masih menatap Rexy dan mendelik kesal.
"Ah, benar juga. Tapi aku merindukanmu," ucap Justin terdengar manja.
"Syalan kau setan! Siapa kau berani-beraninya merindukan istriku!" Bentak Rexy di dalam hati agar tidak membuat Justin curiga.
"Sabar ya, beberapa hari lagi kita bertemu," ucap Elena sambil mengelus paha Rexy.
"Ah, baiklah. Kamu sedang apa?" Tanya Justin seolah tidak ingin memutuskan panggilan.
"Aku sedang menonton. Rencana sebentar lagi mau tidur siang. Mas jangan lupa istirahat ya, biar cepat pulih," ucap Elena.
"Iya. Aku akan beristirahat. Kamu juga ya, sampai ketemu bebarapa hari lagi," ucap Justin.
"Iya, Mas. Sampai bertemu," ucap Elena dan mematikan panggil.
"Hmm, nona saya permisi terlebih dahulu. Ada pekerjaan yang harus saya selesaikan," ucap Clayton segera pergi dari hadapan Rexy agar tidak kena semprot oleh atasanya itu.
Elena melotot kearah Clayton, meminta untuk tidak pergi dan duduk di sini menemaninya hingga amarah Rexy bisa teredam.
__ADS_1
Namun pria blasteran itu hanya mengangguk dan pergi tanpa ada persetujuan Elena maupun Rexy.
Tiba-tiba suhu diruangan itu terasa begitu dingin dan mencekam. Elena semakin kesulitan untuk menelan air liur. Takut jika Rexy melakukan sesuatu yang membuatnya bertekuk lutut dihadapan pria tampan itu.
"Be-bee," panggil Elena tersenyum manis dengan masih mengelus paha Rexy.
Sementara pria tampan itu hanya menatap Elena dengan wajah datarnya.
"Hmm, Kamu udah makan siang, Bee? Aku tadi bikin semur ayam kesukaanmu. Ayo kita makan!" Ucap Elena tersenyum.
Ia menggenggam tangan Rexy dan berdiri. Namun pria tampan itu hanya terdiam dan tidak bergerak sama sekali. Jantung Elena mulai berdetak semakin kencang dan tidak beraturan.
"Bee, Ayo sayang. Aku sudah lapar," ucap Elena merengek.
Rexy berdiri dekat dengan Elena. Wanita cantik itu tersenyum dan langsung melangkah. Namun tangan Rexy lebih dulu menangkapnya dan membaringkan Elena diatas sofa.
Wajah Rexy masih terlihat tidak ramah. Mata tajamnya menatap Elena tanpa berkedip.
Glek!.
"Bee, kenapa kamu tampan sekali? Aku gemas melihat wajahmu seperti ini!" ucap Elena menyentuh wajah Rexy dengan lembut.
Melingkarkan tangannya pada leher Rexy dan tersenyum manis. Berharap pria tampan itu bisa luluh dan tidak marah lagi.
"Huh, iki mirindikinmi," ucap Rexy dengan ekspresi yang membuat Elena tertawa.
"Hahah. Bee, gak cocok kamu seperti itu," ucap Elena tertawa.
"Siapa suruh kamu membuat janji seperti itu?" tanya Rexy dengan wajah yang masih terlihat kesal.
Rey langsung merona. "Tidak! Aku tidak cemburu. Aku hanya tidak suka melihat kamu berhubungan dengan dia!" Ucap Rexy salah tingkah.
"Ayo mengaku saja, Bee. Jangan mengelak, aku tau kalau kamu itu cemburu," ucap Elena menaikanturunkan alisnya sambil tersenyum.
"Gak! Aku gak cemburu!" ucap Rexy kekeh.
"Ya sudah. Kalau kamu gak cemburu, aku pergi yah ke apartemen Justin," ucap Elena.
"Gak boleh!" Pekik Rexy dengan wajah yang semakin kesal.
Ia mengecup leher muus Elena hingga berbekas dan tidak melihat tempat.
"Bee, jangan ih!" ucap Elena berusaha menghalangi kegiatan Rexy dengan membekap mulut pria tampan itu.
"Baiklah kamu menang. Aku cemburu, Yang!" ucap Rexy membenamkan wajahnya pada ceruk leher Elena.
Elena terkekeh geli melihat tingkah Rexy yang begitu manja. "Elena hanya milik Rexy sampai kapanpun," ucapnya mengelus tengkuk Rexy dengan lembut.
"Jangan memilih dia, jangan memilih siapapun kecuali aku!" ucap Rexy.
"Iya, Sayang," ucap Elena terkekeh.
Wanita cantik itu melotot ketika melihat orang tua Rexy tengah menatap dan mendengarkan percakapan mereka.
Angelin meletakkan telunjuknya di bibir dan menyuruh Elena diam. Begitu juga dengan Hinata, ayah Rexy. Ia hanya menggeleng melihat tingkah sangat putra yang tidak bisa menjaga image sedikitpun.
__ADS_1
Elena merasa ingin menghilang saat ini juga. Karena posisinya dan Rexy sangat intim dengan wajah yang merona.
"Aku kesal, Yang. Aku gak suka kamu ngobrol sama laki-laki lain!" ucap Rexy masih dengan suara manjanya.
"Bagaimana dengan Clayton? Dia laki-laki lo," ucap Elena.
"Dia gak ada rasa sama kamu, makanya aku gak peduli. Ini laki-laki banci itu, bagaimana kalau kamu direbut? Aku gak akan mau! Aku bisa gila nanti, Yang!" ucap Rexy merengek.
"Haha, dia gak akan mampu, Sayang. Kalau pun mampu aku yang gak mau," ucap Elena terkekeh.
"Pokoknya jangan sampai! Kamu hanya milik aku selamanya!" ucap Rexy mengangkat kepala dan menatap wajah Elena.
Ia hendak mencium sang calon istri, namun sebuah jambakan menghentikan aksinya itu.
"Sudah cukup yah kalian bermesraan di tempat umum!" Ucap Angelin dengan raut wajah kesal.
"Bu-bunda? Ka-kapan datang?" Tanya Rexy terkejut.
"Semenjak Clayton pergi!" ucap Hinata menggeleng.
Rexy dan Elena segera duduk sangat merapikan pakaian mereka. Seperti di sidang, Elena dan Rexy duduk berhadapan dengan Angelin dan Hinata.
"Kalau sudah seperti ini, kapan kalian menikah? Jangan sampai Bunda mendapatkan kabar sebelum kalian menikah," ucap Angelin menatap Rexy dan Elena bergantian.
"Bulan depan kami akan menikah, Bunda. untuk tanggal belum ditentukan karena menunggu kepulangan ayah dan bunda. Serta nanti restu dari orang tua istriku," ucap Rexy.
"Istri-istri. Nikah saja belum. Ah, apa kalian sudah?...," ucap Angelin dengan mata yang melotot.
Elena hanya menunduk menunggu luapan amarah dari calon mertuanya itu.
"Sudah, Bunda. Dan aku bisa melakukannya, jangan tuduh aku homo lagi!" ucap Rexy secara gamblang.
Mereka melotot mendengarkan ucapan Rexy. Elena benar-benar ingin menghilang dari muka bumi saat ini juga.
"Beneran?" Tanya Angelin tidak percaya.
"Iya, Bunda!" ucap Rexy santai.
Elena mencubit pinggang Rexy dengan begitu keras dan membuat mereka terkejut mendengar pekikan pria tampan itu.
"Sakit, Yang!" ucap Rexy mengusap pinggangnya.
"Lagian kamu gak tau malu banget!" ucap Elena kesal.
Angelin dan Hinata hanya menggeleng melihat sepasang sejoli itu.
"Awal bulan depan harus menikah, sisa dua minggu lagi. Bunda tidak mau tau, suka tidak suka, mau tidak mau!" ucap Angelin tegas.
"Iya, Bunda!" ucap Rexy dan Elena berbaren.
"Sekarang kalian tidur terpisah! Awas kalau ketahuan tidur bareng lagi, bunda sunat dua kali kamu!" ucap Angelin.
"Habis dong, Bunda. Gak bisa anu lagi nanti!" ucap Rexy bergidik.
"Makanya jangan macam-macam!" ucap Angelin.
__ADS_1
Astaga kulkas dua pintuku kenapa jadi begini?. Batin Angelin frustrasi.