PELAKOR Ter-SAVAGE

PELAKOR Ter-SAVAGE
Memulai Misi


__ADS_3

"Kenapa kita harus terburu-buru, Clay?" tanya Elena.


"Saya juga tidak tau, Nona. Ini semua direncanakan oleh tuan Ren," ucap Clayton menggendong Elena menaiki helikopter.


"Huh, apa ada sesuatu yang kalian sembunyikan?" tanya Elena menatap Clayton curiga.


"Tidak, Nona. Tuan hanya berpesan, anda masih dalam masa pemulihan. Kepergian tuan pasti akan membuat Anda galau dan tidak tentu arah," ucap Clayton.


Elena memukul pelan dada Clayton sambil mendelik. pikirannya sudah berkelana memikirkan bagaimana keadaan Rexy.


"Clay, ayolah jangan berbohong!" ucap Elena.


"Saya tidak berbohong, Nona. Tuan Rexy memang sedang melakukan perjalanan bisnis," ucap Clayton sambil mendudukkan Elena di atas kursi dan memakaikan headphone di telinga wanita cantik itu.


Elena hanya terdiam dan menghela nafasnya. Kini ia tidak tau akan dibawa kemana, bersama dengan yang lain.


Menaiki helikopter menuju ke suatu tempat, membuatnya semakin yakin jika mereka tengah merahasiakan sesuatu.


Apapun itu, semoga bukan hal yang membahayakan. Bee, hati-hatilah di sana. Aku ingin kamu pulang dengan selamat tanpa kurang satupun!. Batin Elena.


Ia hanya terdiam hingga helikopter mulai terbang. Bahkan sepanjang perjalanan ia tidak mengeluarkan sepatah katapun.


Hingga ia tiba di salah satu pulau terpencil yang sangat sulit untuk di jangkau oleh siapapun dan bahkan tidak ada satu orangpun yang tau.


Kurang lebih seratus pengawal sudah berpencar di pulau kecil itu. Elena akan tinggal di sana untuk beberapa hari, hingga Rexy pulang nanti.


"Ini sangat aneh! Bukankah hari pernikahanku sudah sangat dekat? Kenapa harus berlibur sekarang?" ucap Elena ketika berada di ruang tamu.


Rumah kayu reot dengan ruang bawah tanah yang mewah membuat Elena tidak habis pikir dengan konsep rumah ini.


Apa Rexy membuat rumah ini dalam keadaan gila, depresi atau bagaimana? Aku merasa sangat aneh karena ini!. Batin Elena frustrasi.


Ia menempati kamar bersama Khalia dan Angelin. Ia merasa di manjakan oleh dua perempuan cantik itu.


"Mau makan apa, sayang?" tanya Khalia.


"Apa aja, Bunda. Aku masih bingung!" ucap Elena memijat pelipisnya.


Ia begitu lelah karena berpikir seharian. Rexy yang tiba-tiba dinas ke luar negeri, berlibur ke pulau terpencil seperti ini, rumah bawah tanah yang sangat tidak masuk akal.

__ADS_1


Elena terdiam, ia yakin ini ada sangkut paut dengan kasus Justin saat ini.


Ah! Jika benar ada sangkut pautnya dengan Justin, ini akan jadi sangat rumit. Apa dia berencana untuk melarikan diri?. Batin Elena.


Ia mulai merasa yakin dengan pemikirannya kali ini. Ia hanya pasrah dengan keadaan, menunggu kapan Rexy pulang dan segera menikah.


🍃🍃


Sementara di atas pesawat, Rexy sudah berhasil menghubungi kelompok Yakuza sebelum keberangkatan. Ia mengatakan maksud dan tujuannya sehingga kelompok itu bersedia membantu.


Kini mereka sama-sama pergi menuju Mexico untuk meminta bantuan lainnya, agar bisa menghentikan pergerakan mafia yang akan membebaskan Justin.


"Tuan, Nona sudah berada di tempat yang aman," ucap Fauzi.


"Katakan kepada mereka untuk tetap siaga di sekitar pulau. Jangan sampai mereka kenapa-napa!" ucap Rexy tegas.


"Baik, Tuan!" ucap Fauzi.


Rexy memilih untuk beristirahat karena besok adalah hari yang begitu panjang untuk ia lalui.


Entah masalah apa yang akan timbul, atau bahaya apa yang akan mendatanginya nanti.


Ia berusaha untuk memejamkan mata, namun tidak bisa karena bayangan Elena yang berada dalam bahaya seolah menghantuinya.


Sayang, semoga kamu bisa menjaga diri. Jangan membantah dengan apa yang dilakukan oleh Clayton!. Batinnya.


Pesawat pribadi itu mengudara selama 23 jam menuju Mexico dengan satu kali transit.


Orang dari Yakuza terlihat sudah berdiri menunggu kedatangan Rexy di bandara. Sore itu mereka harus segera menuju ke lokasi dimana pimpinan mafia terbesar berada.


"Selamat sore, Tuan Rexy!" ucap pimpinan Yakuza dengan bahasa Inggris.


"Selamat sore, Tuan! Terima kasih anda sudah repot-repot untuk membantu saya! Sungguh saya merasa sangat tersanjung dan berhutang budi kali ini," ucap Rexy menjabat tangan Koji Nakata


"Jangan sungkan, Tuan Rexy. Saya dengan senang hati untuk membantu anda! Berharap kita bisa menjalin kerja sama dengan baik nantinya!" ucap Koji Nakata.


"Itu bisa kita atur nanti, Tuan. Bukan hal yang sulit untuk bekerja sama, justru saya sudah menjalin kerja sama dengan beberapa mafia, ya sekalian untuk berjaga-jaga juga," ucap Rexy.


"Senang bisa bertemu dengan anda, Tuan. Lebih baik kita segera pergi dan menemui mereka, mengingat anda tidak memiliki banyak waktu di sini," ucap Koji Nakata.

__ADS_1


"Mari, Tuan!" Ucap Rexy.


Mereka segra pergi menuju markas mafia terbesar di sana, beruntung Koji memiliki hubungan yang cukup baik dengan pimpinan mafia itu.


"Tuan, kali ini saya memohon bantuan anda. Sebab ini juga menyangkut keselamatan calon istri saya yang tengah sakit. Saya merasa tidak bisa menghendelnya sediri, sebab mereka melibatkan begitu banyak komplotan mafia," ucap Rexy merendah.


"Jangan seperti itu, Tuan Rexy. Jika sudah menyangkt hal seperti ini kami tidak segan untuk membantu. Anda tenang saja!" Ucap Koji.


"Terima kasih banyak, Tuan!" Ucap Rexy tersenyum tipis.


Tak lama mobil berhenti di sebuah rumah mewah yang dikelilingi begitu banyak pengawal.


Sebelum turun, mereka diperiksa dengan sangat teliti, segala macam senjata tidak boleh dibawa masuk satupun.


"Tuan, apa ini aman? Kita tidak membawa apapun untuk masuk kedalam rumah ini," ucap Fauzi bertanya.


"kita ikuti saja mau mereka!" ucap Rexy.


Susana tegang langsung tercipta ketika memasuki rumah itu. Rexy berusaha untuk tenang dan memperhatikan keadaan sekitar.


"Selamat datang, Tuan!" ucap seorang laki-laki dengan tubuh tegap dan bertato yang hampir memenuhi tubuhnya.


"Terima kasih! Dimana Tuan Barrack?" Tanya Koji tanpa berbasa basi lagi.


"Silahkan tunggu sebentar, Tuan Besar sedang bersama dengan istrinya!" ucap laki-laki itu menunduk dengan wajah sangar dan datar.


Mereka menunggu berbalutkan sunyi, tidak ada yang berani untuk memulai pembicaraan. Semua orang hanya bisa menyelami pikiran masing-masing.


menyusun kata-kata yang sekiranya tidak membuat murka sang penguasa dunia bawah.


Sayang berikan aku kekuatanmu agar semua ini bisa selesai dengan cepat. Agar kita bisa hidup dengan tenang setelah ini. Semoga tuan Barrack mau membantu kita nanti. Batin Rexy menutup matanya.


Merek mash menunggu di sana lebih dari setengah jam lamanya. Hingga seorang pria tua dengan badan kekar namunnya wajah tidak bisa dibohongi.


Mereka segera berdiri dan menunduk hormat kepada laki-laki itu.


Hari ini aku berani merendah hanya untuk kebahagiaan yang akan datang selangkah lagi! Demi keamanan dan kenyamananku di masa depan. Batin Rexy.


"Selamat datang!" suara berat itu terdengar memenuhi ruangan yang tengah hening itu.

__ADS_1


__ADS_2