
"Va-Vania?" Panggil Justin lirih.
Seseorang yang berada di dapur terkejut mendengar panggilan itu. Suasana hening membuat suara Justin cukup terdengar di telinga Elena.
Wanita cantik itu memejamkan mata sejenak ketika jantungnya berdetak lebih kencang karena terkejut. Apa lagi ketika mendengar langkah kaki Justin perlahan mendekat.
"Mas?" Panggilan Elena berbalik.
Justin terkesiap menatap Elena. "Su-sudah lama, Baby?" Tanya Justin.
"Baru saja, Mas. Aku mau menghangatkan makanan dulu. Kebetulan tadi aku bertemu dengan asistenmu di depan pintu dan dia memberikan ini kepadaku!" Ucap Elena tersenyum.
Justin masih menatap Elena dengan lekat. Mungkin hanya punggung saja yang sama, begitu pikirnya.
"Sana bersih-bersih dulu, Mas. Kamu harus minum obat kan?" Uca Elena sambil mengeluarkan makanan dari microwave.
"Ah, iya. Aku bersih-bersih dulu!" Ucap Justin yang masih linglung.
Ia segera pergi ke kamar dan duduk di tepi ranjang. Justin termenung, punggung Elena terlihat sama persis seperti ia melihat Vania dulu.
Jantungnya berdetak lebih kencang, membayangkan jika itu benar-benar Vania. Ia pasti akan bersujud dihadapan perempuan itu dan meminta maaf, atas semua perbuatannya selama ini.
Perlahan, Justin memejamkan mata dan menenangkan diri. Menarik napas lebih dalam dan menghembuskannya secara perlahan.
Hingga semua sesak yang ia rasakan mulai terasa tenang, ia segera bergegas untuk membersihkan diri terlebih dahulu.
Sementara Elena memandang makanan yang baru saja ia keluarkan. Wanita cantik itu memejamkan mata sejenak, meyakinkan diri untuk tidak merasa iba, tidak ada belas kasih maupun cinta yang belum usai.
Apapun yang terjadi, aku harus menghancurkanmu, Mas! Aku harus mendapatkan sedikit bukti jika perempuan itu terlibat dalam kasus pembunuhanku!. Batin Elena dengan mata yang tajam.
Sebuah alat rekam suara sudah terpasang di dalam tas Elena. Apapun yang mereka bicarakan nanti akan terekam jelas dan langsung terkirim kepada Rexy.
Ia menyiapkan makanan itu dan membawanya menuju ruang tamu, karena Justin lebih suka makan di sana ketimbang di meja makan.
Elena memakai pakaian yang lebih tertutup dari biasanya, walaupun masih terlihat seksi dan juga menggoda. Sembari menunggu Justin ia melihat ponsel, dan membaca pesan yang di kirim oleh Rexy.
Berupa ancaman agar ia tidak bersikap lebih seperti beberapa waktu yang lalu. Elena hanya tersenyum, hari ini setidaknya ia harus menggali lebih dalam lagi tentang Reema.
Hingga Justin keluar dengan menggunakan baju kaos dan celana pendek. Ia duduk di samping Elena dan tersenyum manis.
"Maaf ya, kamu harus menunggu lama," ucap Justin tersenyum.
__ADS_1
"Tidak masalah, Mas," ucap Elena juga tersenyum.
Justin terdiam, ia tidak tau harus berbuat apa sekarang. Pikiran yang kacau dan tubuh yang terasa sakit membuatnya merasa sangat lelah.
"Kenapa tangan kamu bisa terluka seperti ini, Mas?" tanya Elena lembut.
Justin menghela nafasnya. "Aku bertengkar hebat dengan Reema sepulang dari restoran kemarin," ucap Justin lirih.
Elena terkesiap. "Apa kamu memukulnya?" Pekik wanita cantik itu.
"Tidak, Baby! Dia selalu memancing emosiku, mengungkit semua kesalahan dan masa lalu yang sudah kami sepakati untuk dikubur dalam-dalam," ucap Justin menahan diri.
Elena terdiam, bagaimanapun ia harus mendapatkan celah malam ini untuk memberikan tekanan kepada Justin dan Reema.
"Dia mengungkit semuanya, bahkan juga mengutuk Vania yang sudah tiada. Melimpahkan semua kesalahannya kepadaku dan mengancam akan mengatakan apa yang telah aku perbuat kepada keluarga," Ucap Justin tersenyum kecut.
Elena masih terdiam, ia sepertinya mulai mendapatkan celah untuk menggali informasi tentang Reema.
"Mengutuk Vania? Bagaimana bisa dia mengutuk orang yang sudah tenang, Mas?" Tanya Elena mengernyit.
"Itu yang membuat aku emosi, Na. Jika bukan karena dia yang meminta dn memprovokasiku, aku tidak akan merencanakan semua pembunuhan itu!" ucap Justin.
"Apa tidak ada satupun keluarga yang tau, Mas?" tanya Elena.
"Bagaimana jika suatu saat dia melaporkan kamu demi keuntungannya sendiri?" tanya Elena.
Justin terdiam menatap kosong ke arah sembarangan. "Dia tidak akan bisa melakukan itu, Na. Dia tidak akan bisa mengumpulkan bukti untuk melaporkan aku," ucap Justin lirih.
"Kenapa?" Tanya Elena.
Justin menatap Elena lekat, hatinya mulai merasa tidak yakin untuk berbicara dengan perempuan ini. Ada rasa takut yang perlahan mulai menghampirinya.
"Tidak apa-apa. Setiap orang yang melakukan kesalahan pasti akan berusaha untuk menutupinya," ucap Justin.
Elena hanya tersenyum menatap Justin. Masih dengan pemikiran bagaimana cara untuk mendapatkan sedikit informasi saja dari pria tampan ini.
"Hmm, ayo kita makan dulu, Mas!" ucap Elena.
Justin hanya tersenyum dan mengangguk. Ada perasaan gelisah setelah mendapatkan pertanyaan dari Elena tadi. Bagaimana kalau Reema berhasil mendapatkan satu bukti yang akan mengungkap semuanya.
Walaupun nanti perempuan itu akan ikut terseret, namun Reema adalah perempuan gila dan akan melakukan apapun untuk mendapat apa yang ia inginkan.
__ADS_1
Justin menerima suapan dari Elena. Mengunyah makanan itu sambil termenung. Elena terus memperhatikan setiap gerak gerik Justin dan berharap laki-laki ini memberikan sedikit saja rahasia yang ia butuhkan.
"Apa aku harus menceritakan ini kepada keluargaku, Na?" tanya Justin lirih.
"Masalah yang mana, Mas?" ucap Elena mengernyit.
"Semuanya, aku ingin berpisah dari perempuan itu. Jika berdampak pada perusahaan, aku akan meminta tolong kepada tuan Rexy, agar bisa menanggulangi semuanya terlebih dahulu, itupun jika dia mau. Sebab, dia pemilik saham terbesar setelah aku," ucap Justin terlihat putus asa.
"Mas, Apa tidak ingin mencari investor baru?" tanya Elena.
"Aku sedang berusaha. Jika berhasil, bulan depan sahamku bisa kembali naik dan ada dua investor yang akan bergabung," ucap Justin.
"Apa itu belum cukup untuk membuat perusaan aman?" Tanya Elena.
"Sudah cukup, tetapi semua bisnis tidak sebersih yang kamu pikirkan. Bahkan tuan Rexy menggocang saham perusahaan dan membelinya dengan harga sedikit lebih tinggi dari tawaran perusahaan lain," ucap Justin dengan wajah yang mulai memerah menahan emosi.
Jadi saham itu di dapat dari hasil curang? Astaga, Babee!. Batin Elena.
"Terus kalau Mas dan dia berpisah, apa yang akan terjadi di perusahaan?" tanya Elena.
"Mertuaku akan mengambil kembali sahamnya atau dijual dengan harga yang murah," ucap Justin.
"Kenapa tidak kamu ancam saja mereka, jika perempuan itu terlibat pembunuhan. Bukankah kamu memiliki bukti untuk melaporkannya?" Tanya Elena.
Justin menatap Elena lekat. Ia mulai paham kemana arah pembicaraan Elena sekarang. Sementara perempuan cantik itu juga menatap mata Justin dengan lembut, menutupi rasa ingin tau yang mulai membara.
"Kamu ingin menggantikan posisinya?" Tanya Justin tersenyum.
"Jika ada peluang bagaimana tidak!" Ucap Elena tersenyum nakal.
Justin kembali terdiam, ia mencari topik lain yang tidak terlalu kaku seperti ini. Sebab, sifat Elena yang berubah-ubah membuatnya kesulitan untuk melihat tujuan perempuan cantik ini.
"Kamu memang perempuan yang unik," ucap Justin.
"Unik?" tanya Elena mengernyit.
"Aku mulai sulit menebak kamu, Na. Kamu pandai mencari kesempatan disaat aku lagi kalut!" ucap Justin tersenyum.
Bibir Elena ikut melengkung, ia menatap Justin sambil tersenyum manis. "Tinggalkan dia yang membuatmu terluka. Genggam dia jika disetiap sedihmu masih terselip tawa," ucap Elena menggenggam tangan Justin.
"Ya, kamu benar. Sabarlah beberapa hari ini, aku akan menyelesaikan semuanya!" ucap Justin membalas genggakan tangan Elena.
__ADS_1
Malam itu terasa hangat bagi Justin. Walaupun terselip sedikit kecurigaan pada Elena, namun ia yakin jika perempuan cantik ini tidak akan menikamnya dari belakang.