PELAKOR Ter-SAVAGE

PELAKOR Ter-SAVAGE
Baku Hantam


__ADS_3

Sudah tiga hari Elena berada di rumah sakit, kini ia diperbolehkan pulang karena kondisinya yang sudah lebih baik.


Namun, kakinya masih tidak bisa merasakan apa pun. Hanya terasa menebal dan tidak peka terhadap sentuhan.


Ia merasa bahagia, namun juga kecewa dengan keadaan. Disaat ia sudah bisa melawan, ia pun juga ikut tumbang setelahnya.


Kini Elena hanya bisa pasrah dengan keadaan, jika sewaktu ia sudah tidak bisa berjalan dengan normal kembali.


Rexy menatap wajah murung Elena yang membuat hatinya sakit. Wanita cantik itu memang tidak mengatakan apa yang menjadi keluh kesahnya, namun ia tau persis apa yang membuat Elena murung.


"Sayang?" panggil Rexy lembut.


Saat ini mereka berada di rumah Elena, di kamar wanita cantik itu.


"Hmm?" sahut Elena sambil menghela nafasnya.


"Suntuk ya? Mau jalan-jalan?" tanya Rexy dan mengecup kening Elena.


"Aku gak bisa jalan, Bee! Gimna mau jalan-jalan!" ucap Elena lirih.


Jleb!


Justin salah merangkai kata-kata. "Kita kembali ke Korea saja kalau gitu, biar kamu bisa berobat!" ucap Rexy menatap Elena dengan serius.


Elena hanya terdiam tanpa bersuara. Jika harus kembali ke sana, ia sudah tidak bisa menahan rasa sakit itu lagi.


Air mata Elena berlinang membayangkan semua rasa sakit yang sudah ia tahan. Mengingat semua perjuangan berat agar ia bisa sembuh.


Rexy segera memeluk Elena dan menenangkannya. Memberi rasa nyaman dan juga kepercayaan diri, jika mereka akan tetap bersama dalam kondisi apapun.


"Mau makan sesuatu?" tanya Rexy.


Elena menggeleng. "Aku ingin bertemu Justin. Apa boleh?" tanya Elena lirih.


Rexy menahan diri untuk tidak cemburu. Permintaan Elena yang satu ini sangat tidak ia sukai.


"Ada yang ingin aku sampaikan kepadanya," ucap Elena sedikit takut.


"Nanti sore kita ke sana!" ucap Rexy mengalah.


Cemburu memang tidak bisa ia tahan, namun satu sisi ia bisa menunjukkan kepada laki-laki itu, jika Elena memang miliknya.


Tak lama Elena terlelap di dalam pelukan Rexy yang selalu menawarkan kenyamanan di dalam hati wanita cantik itu.


🍃🍃

__ADS_1


"Aarrgghh! Lepas! Lepaskan! Saya tidak gila! Kenapa kalian memperlakukan saya seperti ini?" Bentak Reema memberontak saat petugas memakaikannya baju khusus.


Sebab, dari semalam Reema berteriak, melakukan hal-hal yang melukai dirinya dan orang lain. Bukan tanpa penanganan, perawat pun sudah ada yang terluka.


Terlebih lagi, saat ini Reema masih dalam tahap rehabilitasi narkoba yang ia konsumsi. Sakau berat dan gangguan mental yang serius membuat Reema tidak bisa mengontrol dirinya sendiri.


"Lepas!" ucap Reema masih berusaha untuk memberontak.


"Tenanglah, Nyonya! Itu hanya membuat Anda lelah,!" ucap petugas menggeleng melihat keadaan Reema sekarang.


"Lepaskan Saya! Kalian tidak tau kalau sebentar lagi saya akan tampil di Paris Fashion Week? Kalian bisa saya tuntut atas perlakuan ini!" Teriak Reema.


"Iya, nanti anda akan pergi kesana setelah sembuh!" ucap mereka berlalu meninggalkan Reema sendirian di ruang isolasi itu.


"Saya tidak gila! Kalian yang gila! Lepaskan!" ucapnya berusaha untuk melepaskan baju itu.


Namun sulit, ia masih memberontak dan berteriak, sehingga dokter memberikannya obat penenang agar tidak memancing pasien yang lain untuk ikut berteriak.


"Kasihan, padahal karirnya baru saja berada di puncak. Sekarang malah tersandung kasus yang lebih berat lagi. Kabarnya dia juga ikut andil dalam kasus pembunuhan berencana yang dilakukan oleh suaminya!" ucap Petugas itu bergunjing.


"Iya, memang susah kalau karir sudah berada di atas. Beginilah jadinya orang yang hanya bisa menjual apem dan mengangkang untuk mendapatkan apa yang dia mau!" ucap petugas lain.


"Bersyukurlah kita berada di kalangan menengah dan serba kecukupan. Tidak memiliki hasraat untuk berada di puncak ekonomi. Cukup seperti ini saja, asal hidup tenang!" ucap petugas itu.


"Sudahlah, ayo kita tinggal dulu! Di ruangan ujung masih ada pasien lagi," ucap petugas lain.


Lain halnya dengan Justin. Walaupun masih merasakan sakit pada perutnya, ia sudah lelah berhadapan dengan empat orang laki-laki yang berada satu sel dengannya.


Walaupun ia memegang sabuk hitam salah satu ilmu bela diri, tidak membuatnya bisa menaklukkan mereka dengan begitu saja.


Sebab, mereka menganggapnya sebagai pembunuh rendahan yang pantas untuk di tindas.


"Hei kau! Ambilkan saya air sana!" ucap Anto memerintah.


Padahal, air hanya berjarak tak sampai satu meter darinya. Justin terdiam dan tidak menghiraukan perintah itu.


Mereka hanya berdua di dalam sel, sementara yang lain sedang bertemu dengan keluarga di ruang kunjungan.


"Apa kau tidak dengar?" Bentak Anto dengan wajah sangarnya.


"Kau jangan macam-macam! Dua kawan kau tidak ada di sini!" ucap Justin dengan suara beratnya yang cukup membuat Anto bergetar takut.


Laki-laki berbadan besar itu mendekat dan memegang bahu Justin. Mendorongnya dengan cukup kuat, namun pria tampan itu tidak bergeming dan hanya menatap Anto dengan tajam.


"Kau pikir saya takut jika sendiri?" tanya Anto tertawa mengejek.

__ADS_1


"Jadi kau berani?" tanya Justin berdiri dan menantang.


Tubuh yang jauh berbeda namun Justin terlihat sedikit lebih tinggi dari Anto. Mata tajam dan wajah garang Justin tidak bisa membuat Anto terdiam.


"Badan kurus kau begini, apa yang bisa kau lakukan, ha?" ucap Anto meremehkan.


Justin terdiam. Ia mengepalkan tangan dengan erat hingga semua urat nadinya terlihat.


Brak!!


Justin menendang Anto persis seperti Elena menendang dirinya. Sebab, beberapa hari ini ia sudah mempelajari gerakan Elena dengan teori yang ia miliki.


Anto terjengkang dan tubuhnya membentur dinding. Mereka terkejut satu sama lain.


Justin tidak percaya jika tendangan itu sangat kuat dan bisa menumbangkan laki-laki yang memiliki badan besar.


Pantas saja perutku begitu sakit, ternyata tendangan ini menghabiskan begitu banyak tenaga. Batinnya tidak percaya.


Sementara Anto juga terkejut karena Justin ternyata memiliki kepandaian ilmu bela diri. perutnya terasa sangat sakit dan terbatuk-batuk akibat tendangan Justin.


Siial! Bagaimana ini?. Batin Anto panik.


Sebab ia tidak melihat satupun petugas yang berada di sana. Apa lagi ketika melihat Justin berjalan mendekat kearahnya. Ia sangat tidak siap karena rasa sakit itu mulai menjalar.


Justin dengan kejam menginjak jari laki-laki itu dan sedikit memutarnya.


"Aarrgghh!" Pekik Anto kesakitan.


"Ternyata kalau kau sendiri, tidak lebih dari seorang pengecut!" ucap Justin remeh.


"Lepaskan!" bentar Anto dengan sisa-sisa tenaganya.


"Beberapa hari ini kalian sudah menindas saya! Sekarang saya sudah pulih! Jika kau berani mengadu, kau akan mendapatkan yang lebih parah dari ini!" ucap Justin tegas.


Bugh!


Ia melayangkan satu pukulan tepat mengenai wajah Anto dan membuatnya langsung tidak sadarkan diri.


Justin kembali duduk di tempatnya sambil berpikir apa yang akan ia lakukan setelah ini.


Tak lama satu persatu tahanan kembali masuk dan terkejut melihat Anto yang terbaring tidak sadarkan diri di atas lantai.


Justin kembali melanjutkan aksinya dan membuat Yoseph ketakutan melihat bagaimana kejamnya Justin.


Ia mencari kesempatan ketika petugas lengah dan menghajar mereka. Kini Justin tidak lagi di tindas dan menjadi orang yang berkuasa di sel itu.

__ADS_1


Jika tidak seperti ini, aku akan babak belur setiap hari di hajar oleh mereka. Setidaknya aku bisa lebih tenang tanpa harus membuang tenaga lebih besar. Batin Justin lega.


__ADS_2