PELAKOR Ter-SAVAGE

PELAKOR Ter-SAVAGE
Hukuman


__ADS_3

Sore hari, ketika Rexy dan Elena tengah bersantai di balkon kamar mereka. Tiba-tiba saja Ren datang dengan membawa beberapa berkas yang berisikan informasi penting, sesuai dengan permintaan Rexy tadi.


Mereka segera masuk kedalam ruang kerja untuk membicarakan tentang hal ini. Begitu juga dengan Elena, ia mengernyit bingung ketika Rexy mengajak dirinya.


"Apa yang sudah kamu dapat, Ren?" Tanya Rexy.


"Tuan dan Nona akan bahagia mendengarkan berita ini," ucap Ren sambil tersenyum tipis.


"Ada apa, Bee?" Tanya Elena mengernyit bingung.


"Lanjutkan, Ren!" Ucap Rexy tersenyum kearah Elena.


"Saya sudah menghubungi komplotan itu, Tuan. Memang benar jika mereka mendapat tugas dari seseorang untuk membunuh Nona," ucap Ren.


"Apa kamu mengenal mereka?" Tanya Elena terkejut.


"Tentu, Nona. Memang mereka salah satu komplotan terkejam dan tidak pandang bulu untuk menerima pekerjaan. Beruntung saya masih mengenal ketua dari komplotan itu, sehingga rencana mereka masih bisa saya hentikan," ucap Ren.


"Terus gimana?" tanya Elena.


"Anda sudah bisa tenang jika harus keluar rumah, tanpa rasa takut lagi," ucap Ren mengangguk.


"Beneran, Bee?" tanya Elena tidak percaya.


Rexy mengernyit dan menatap Elena dengan intens, sehingga membuat wanita cantik itu bernafas lega.


"Ah, aku gak sabar untuk cari gara-gara dengan perempuan gatal itu nanti," ucap Elena bersemangat.


Rexy dan Ren hanya saling pandang, lalu menggeleng melihat tingkah Elena. Bisa-bisanya wanita cantik ini ingin mencari gara-gara dengan orang lain.


"Sayang, masalah dia sudah banyak, jangan di tambah lagi," ucap Rexy.


"Gak papa, biar sekalian dia mumet mikirin hidup," ucap Elena mendelik.


"Kamu mau nambah masalah apa lagi sih, Yang?" tanya Rexy.


"Gak nambah masalah, Bee. Hanya main-main saja, biar makin komplit sekalian," ucap Elena terkekeh.


Rexy hanya bisa menggaruk jidatnya melihat tingkah Elena yang tidak tanggung-tanggung untuk mengganggu orang.

__ADS_1


"Tetapi anda harus berhati-hati, Nona. Sepertinya perempuan itu mencari orang lain untuk mencelakai anda. Sekarang saya belum mendapatkan informasi lanjutan tentang hal ini," ucap Ren membuat Elena langsung terdiam.


Astaga, baru saja aku senang. Malah ada lagi yang lain. Batin Elena kesal.


"Ini berkas untuk melaporkan tuan Justin, Nona. Di sini sudah lengkap, anda tinggal mengajukan berkas ini kepada pihak kepolisian," ucap Ren.


Elena mengambil berkas yang membuatnya sangat penasaran. Membaca lembar perlembar kertas itu yang berhasil membuat dadanya terasa sesak.


Begitu kejam kamu, Mas. Bahkan penjara pun tidak akan cukup untuk menghukummu. Batin Elena dengan air mata yang menggenang.


Ia melihat beberapa rekam medis waktu dilarikan ke rumah sakit setelah kecelakaan itu. Luka bakar, tulang yang retak dan tubuhnya hampir tidak berbentuk.


Sangat sakit! Itu yang dirasakan oleh Elena. Ia mengusap beberapa foto yang akan dijadikan sebagai alat bukti.


"Jangan dipaksa kalau kamu gak kuat, Sayang," ucap Rexy menutup foto-foto itu dengan tangannya.


"Aku mau lihat, Bee. Aku ingin tau, bagaimana perjuangan kamu untuk menyelamatkan aku dulu," ucap Elena dengan air mata yang menetes.


"Sayang," ucap Rexy lirih dan langsung memeluk Elena dengan erat.


Isak tangis wanita cantik itu mulai terdengar. Perjuangan mereka akan selesai sebentar lagi. Hidup bahagia sudah terpampang di depan mata.


"Apa pun akan aku lakukan untukmu, Sayang," ucap Rexy.


Tanpa terasa air mata pria tampan itu juga ikut menetes. Sungguh ia tidak akan kuat jika harus mengingat kenangan pahit itu lagi.


Ren ikut tersentuh, karena ia menjadi saksi bisu bagaimana perjuangan mereka selama ini. Apa lagi Elena yang harus merasakan sakit pada setiap pengobatannya.


"Semuanya akan berakhir, Sayang. Penderitaanmu akan terbayar lunas setelah ini," ucap Rexy lirih.


Elena tersenyum sambil mengusap air matanya. Hati yang lembut begitu tersiksa dengan semua rencana balas dendam yang sudah ia rencanakan jauh-jauh hari.


Namun, tega ataupun tidak, ia harus melakukannya agar Justin mendapatkan hukuman dan rasa jera.


"Berapa lama hukumannya?" Tanya Elena.


"Ini termasuk dalam tindakan pembunuhan berencana. Maksimal hukuman mati, dan paling sedikit 20 tahun penjara, Nona," ucap Ren.


Pasti tante Tiara akan sangat terpukul jika Justin harus dihukum mati. Tapi, jika melihat kondisi bunda saat ini, rasanya belum sepadan jika Justin hanya di hukum seumur hidup. Batin Elena.

__ADS_1


Rexy menatap Elena dengan berbagai pemikiran. Jangan sampai kamu merasa iba kepada laki-laki itu, Sayang. Atau aku tidak akan bisa menahan diri lagi untuk membuat dia semakin sengsara. Batinnya merasa sangat tidak suka jika Elena masih memikirkan Justin.


"Bagaimana dengan perempuan itu, Kak?" tanya Elena.


"Anda akan bahagia mendengar kabar ini, Nona. Hanya saja saya tidak bisa memastikan apakah dia akan dihukum sesuai dengan tuntutan atau tidak," ucap Ren sambil membuka berkas-berkas kejahatan Reema.


"Maksudnya?" Tanya Elena mengernyit.


"Wanita itu melakukan banyak tindakan kejahatan. Asusila, narkoba dan juga ikut dalam pembunuhan berencana," ucap Ren.


Elena tidak terkejut lagi, karena ia sudah tau tentang hal itu. "Apa ada yang lain, Kak?" tanya Elena mengernyit.


Kasus itu tidak cukup untuk menahan Elena di sana dalam waktu yang lama, walaupun itu termasuk kasus yang sangat berat.


"Nona tenang saja, ada beberapa kasus lagi yang akan terkuak nanti. Kita lihat dulu bagaimana laporan dari tuan Justin, dan kita akan melengkapinya," ucap Ren tersenyum tipis.


"Ah, aku ingin dia dihukum seberat-beratnya. Kalau bisa dikebiri sekalian!" ucap Elena kesal ketika kembali mengingat gerakan Reema yang begitu ganas.


Rexy kesulitan untuk menelan air liurnya mendengar kata kebiri. Kamu memang lembut, Sayang. Tapi kalau sudah emosi main kebiri saja! Jangan sampai kamu melakukan itu kepadaku, baru dua kali merasakan, masa sudah dikebiri. Batinnya bergidik.


Elena menatap wajah Rexy yang termenung dan jakun yang terlihat naik turun. "Kamu kenapa?" tanya Elena mengernyit.


"Hmm? Ah, gak papa, Sayang. Kamu cantik, baik dan juga tegas!" Ucap Rexy tersenyum manis dan mengacungkan jempolnya.


Ren dan Elena menatap pria tampan itu dengan bingung.


"Kamu aneh, Bee!" ucap Elena menggeleng.


Mereka masih membicarakan bagaimana agar Reema dan Justin mendapat hukuman yang sangat berat. Mengungkit semua kejahatan yang telah mereka lakukan agar bisa membuat tuntutan dengan sangat berat.


"Tadi saya sudah menghubungi perusahaan VA Corporation. Mereka menyetujuinya dan akan datang besok pagi, Tuan," ucap Ren.


"VA Corporation? Bukannya itu perusahaan keluargaku, Bee?" tanya Elena mengernyit.


"Iya, Sayang. Besok kamu bersiap, jika ayah menyetujui undangan kita. Bisa jadi besok kamu bisa membuka identitasmu kepada mereka," ucap Rexy mengelus punggung Elena.


Elena tersenyum dengan air mata yang menggenang. Sungguh ia merasa menjadi ratu bersama Rexy, setelah dibuang seperti sampah oleh Justin.


Aku sudah tidak sabar untuk menyelesaikan ini semua. Semoga bisa berjalan dengan baik tanpa ada kendala dan drama aneh lain. Waktuku tersisa dua minggu untuk membuat Justin patah hati dan hancur, sehancur-hancurnya. Batin Elena.

__ADS_1


__ADS_2