PELAKOR Ter-SAVAGE

PELAKOR Ter-SAVAGE
Bocah Prik!


__ADS_3

Wajah Rexy terlihat masam hingga malam menjelang, sebab Justin selalu mengirimi Elena pesan dengan kata-kata manis yang bahkan ia sendiri tidak bisa merangkainya.


Sementara wanita cantik itu malah tertawa hingga terpingkal membacakan pesan cinta dari Justin yang membuatnya sangat geli.


"Rembulan malam, tolong sampaikan rinduku kepada bidadari yang begitu cantik jelita. Rindu yang tak lagi bisa aku ungkapkan dengan kata-kata.


Ingin rasanya aku terbang menembus awan, bahkan mengitari bintang pun aku sanggup untuk mencari keberadaannya," ucap Elena ketika membaca pesan dari Justin.


"Sayang, sudahlah. Aku bosan mendengarnya!" ucap Rexy dengan wajah yang kesal.


"Hahaha, ini lucu, Bee. Dia kesambet apa coba, sampai nulis kata-kata seperti ini. Alay banget!" ucap Elena tertawa hingga wajahnya memerah.


"Terus kamu suka?" tanya Rexy dengan wajah datarnya.


"Aku geli," ucap Elena masih tertawa.


Ia kembali mendapatkan pesan dari Justin yang membuatnya semakin tertawa.


"Hariku sungguh melelahkan, tetapi ketika melihat senyummu, semuanya terasa indah dan aku kembali bersemangat untuk menjalani hidup bahagia bersamamu," ucap Elena semakin tidak bisa mengontrol tawanya.


"Eh, ada lagi. Aku diuduk termenung di belai angin malam dan ditemani bulan yang begitu terang, menunggu hadirmu yang begitu aku sayang. Entah kapan, rindu ini bisa diredakan, obatnya hanya kamu seorang," ucap Elena tertawa hingga suaranya tenggelam.


Rexy yang sudah kesal merebut ponsel itu dan mematikannya. Ia menggendong Elena menuju ranjang dan memeluk wanita cantik itu agar berhenti tertawa.


"Haha. Bee, Aku belum selesai! Dia masih mengirimiku pesan!" ucap Elena yang masih tertawa.


Rexy hanya terdiam dengan wajah masamnya. Bahkan ia membekap mulut Elena, namun tidak mempan, wanita cantik itu masih saja tertawa.


"Kamu gak mau kasih aku kata-kata seperti itu juga?" tanya Elena yang masih tertawa.


"Aku gak bisa!" ucap Rexy ketus.


"Masa sih? Ayo coba dulu," ucap Elena berusaha lepas dari pelukan Rexy.


"Gak mau!" Ucap pria tampan itu semakin ketus.


"Ayolah, Bee. Pria tampanku yang manja. Masa kamu kalah sama Justin, haha," ucap Elena kembali tertawa.


"Gak mau, Sayang. Aku gak bisa!" ucap Rexy gemas melihat Elena yang masih saja tertawa.


"Dih, kamu gak asik. Lepasin dulu, aku mau baca lagi pesannya!" ucap Elena masih mencoba lepas dari pelukan Rexy.


Namun pria tampan itu semakin mengeratkan pelukannya dan membuat Elena pasrah dengan masih tertawa sembari menggoda Rexy.


"Ayolah, Bee. Aku mau di gombalin seperti itu," ucap Elena memencet hidung mancung Rexy.


Rexy mendelik namun otaknya berpikir, mencoba untuk merangkai kata-kata yang bisa membuat Elena tertawa seperti itu.


"Hmm, Sayang tau gak bedanya kamu sama bulan?" tanya Rexy.

__ADS_1


"Gak tau. Emang apa bedanya, Bee?" tanya Elena menahan tawa.


"Kalau bulan itu bersinar di malam hari, kalau kamu gak ada bersinar-sinarnya," ucap Rexy tertawa.


"Dih, dasar kamu ya!" ucap Elena menggelitik pinggang Rexy degan gemas.


"Hahaha. Geli, Yang!" ucap Rexy menggeliat sambil tertawa.


"Dih kamu gak romatis!" ucap Elena mendelik namun masih tertawa.


Tidak romantis! Tidak romantis! Tidak romantis! Tidak romantis!.


Kata-kata itu terngiang di kepala Rexy. Ia bangkit dan menindih Elena dengan wajah kesal.


"Aku tidak apa katamu?" tanya Rexy melotot.


Elena tertawa dan menatap Rexy sambil tersenyum jahil. "Kamu tidak anu...," ucapnya semakin membuat Rexy kesal.


"Anu apa, Yang? Aku lagi kesal ini!" ucap Rexy.


"Kamu tidak kalah romantis dari pada dia," ucap Elena mengelus pipi Rexy.


Ia memilih untuk cari aman sebelum pria tampan itu mengeluarkan taringnya.


"Bohong kamu, Yang. Aku kurang romantis apa lagi coba? Tidur selalu aku peluk, makan aku suapi, tiap saat selalu aku cium, aku gandeng, aku kasih jajan, kurang apa lagi aku Yang!" ucap Rexy protes.


"Hahaha, kamu ga bisa gombalin aku, Bee!" ucap Elena tidak berhenti tertawa.


"Nanti aku belajar dulu!" Ucap Rexy malas.


Ia kembali berbaring dan memeluk Elena. Harga dirinya serasa tercabik hanya karena tidak bisa menggombal.


"Bee, aku ada tebakan," ucap Elena menghadap kearah Rexy.


"Apa?" tanya Rexy malas.


"Bir, bir apa yang bikin bahagia?" tanya Elena antusias.


"Minum bir bisa bikin bahagia, Sayang. Bisa bikin orang mabuk dan menghayal," ucap Rexy mengernyit.


"Ih, Kamu mah gak seru!" ucap Elena mendelik.


"Aih, bir apa dong?" tanya Rexy mencubit pipi Elena.


"Birdua, bersamamu mengajarkanku apa artinya kenyamanan, kesempurnaan, ketertiban, kesopanan, kebersihan, cinta oooo," ucap Elena bernyanyi.


Rexy terkekeh mendengar nyanyian Elena yang melenceng dari lirik aslinya. Beruntung kedua orang tua Rexy sedang berada diluar, sehingga mereka bisa bebas berduaan di dalam kamar.


"Bisa-bisanya lirik lagu kamu ganti seperti itu, Yang," ucap Rexy tertawa.

__ADS_1


"Haha, kamu harus banyak belajar, Bee!" ucap Elena yang mulai lelah tertawa.


"Kenapa kamu mengemaskan seperti ini, Yang? Aku gak kuat menahan diri untuk tidak menciummu!" ucap Rexy mulai mencium Elena.


"Haha. Bee, aku masih engap ini!" ucap Elena berusaha menghindar ketika Rexy mengecup bibirnya.


Pria tampan itu berhenti dan menatap Elena sambil tersenyum dengan begitu manis. Elena salah tingkah ketika melihat wajah Rexy yang sangat tampan saat tersenyum.


"Aku jadi tidak rela kalau kamu senyum kepada orang lain!" ucap Elena mengelus rahang tegas Rexy.


"Sekarang kamu tau 'kan, kenapa aku jarang tersenyum dan ramah kepada orang lain?" ucap Rexy tersenyum.


"Iya, Aku tau, Suamiku yang tampan dan mengemaskan," ucap Elena kembali tertawa, namun berhasil membuat wajah Rexy merona malumalu ktika dipanggil suami oleh Elena.


"Rembulan malam...hhmmpp," ucap Elena yang terhenti ketika Rexy membekap mulutnya.


"Sudah, diam Sayang! Lama-lama aku juga geli mendengarnya!" ucap Rexy kesal.


"Geli banget, Bee. Hahaha," ucap Elena tertawa.


"Astaga, bocah prik!" ucap Rexy membuat Elena terkejut.


"Eh, dari mana kamu dapat kosa kata seperti itu, Bee?" tanya Elena mengernyit namun masih tertawa.


"Dah, jangan dibahas lagi! Ayo tidur, Sayang!" ucap Rexy kembali berbaring dan memeluk Elena.


"Baiklah!" ucap Elena menutup mata, namun ia masih terkekeh geli mengingat pesan Justin.


"Yang, tidur! Atau kamu mau aku buat kelelahan agar bisa tertidur?" tanya Rexy dengan mata yang sudah terpejam.


"Aku tidur, Bee. Aku mengantuk!" ucap Elena membenamkan wajahnya di dada bidang Rexy.


Pria tampan itu hanya tersenyum dan memeluk Elena dengan posesif. Walaupun didalam hatinya masih dikuasai oleh cemburu, namun ia tau jika Elena tidak akan mungkin kembali bersama Justin.


Aku anggap hari ini adalah hiburan terakhir dari dia, Sayang. Setelah ini, jangan harap dia bisa menghiburmu lagi!. Batin Rexy.


Perlahan mereka terlelap dengan begitu nyaman dan damai.


Berbeda dengan Justin yang tengah menunggu balasan pesan dari Elena. Padahal chat itu sudah dibaca, namun tidak ada balasan yang ia terima.


"Apa dia tidak suka dengan Kata-kataku? Padahal aku sudah mempelajarinya dari buku tata cara menyenangkan hati perempuan," ucap Justin bingung sembari membolak-balikan buku itu.


Elena terlihat berbeda dari perempuan yang ia dekati. Mereka senantiasa melempar tubuhnya di atas ranjang, namun Elena berbeda. Wanita cantik itu selalu menolak dirinya, hingga terbesit dalam pikiran Justin.


Ia kurang pandai menaklukkan perempuan kecuali di atas ranjang.


"Mungkin dia sudah tidur," ucap Justin melihat waktu sudah menunjukkan pukul 10 malam.


"Selamat tidur wahai bidadari, semoga kita bisa bertemu di dalam mimpi untuk mengobati rasa rinduku yang sudah tidak tertahan," ucap Justin sambil menulis pesan di ponselnya.

__ADS_1


Terkirim!


Ia memilih untuk beristirahat sembari membayangkan wajah cantik Elena yang sudah memenuhi pikirannya.


__ADS_2