PELAKOR Ter-SAVAGE

PELAKOR Ter-SAVAGE
Semakin Panas


__ADS_3

Malam semakin menjelang, temaram senja perlahan tergantikan dengan indahnya cahaya bulan yang dihiasi bintang-bintang.


Namun ada yang terasa kurang bagi Elena, Rexy belum menampakkan batang hidungnya sedari tadi. Ia merasa begitu rindu dengan pria tampan yang manja itu.


Selagi masih menunggu kepulangan Rexy, Elena tetap memantau pemberitaan di televisi dan media sosial. Ia melihat jika opini yang ia timbulkan berdampak begitu besar terhadap pemikiran masyarakat.


Namun ia tetap harus membela Justin agar sang mantan suami bisa terbebas dari jerat hukum. Sebab, jika Justin masuk penjara terlebih dahulu, maka rencananya akan kacau dan tidak asik lagi.


Maka dari itu, Elena akan mengeluarkan bukti jika Justin tidak bersalah dalam hal ini. Namun, ia pasti akan berhadapan dengan boom yang lebih berat lagi setelah ini.


"Clay, coba cari tau apa ada saksi yang melihat pertengkaran mereka. Kita membutuhkan beberapa saksi untuk memperkuat bukti video yang kita miliki," ucap Elena.


"Baik, Nona. Nanti akan saya cari tau. Semoga saja dari pihak laki-laki itu memberikan tanggapan secepatnya," ucap Clayton.


Banyak orang yang menghujat Justin, namun tidak sedikit yang bersimpati kepadanya. Mereka masih berpikir logis, walaupun hasil rekam medis Justin yang telah mengalami operasi beredar dimana-mana.


"Ada yang lebih berbahaya ternyata. Rekam medis bisa tersebar seperti itu? Berita ini sudah semakin panas," ucap Elena mengernyit.


"Saya yang mengirimnya, Nona. Hehe" Ucap Clayton menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Aih, kamu ini ada-ada saja," ucap Elena menggeleng.


"Bukankah kita harus totalitas, Nona?" Tanya Clayton masih tergelak.


"Ah, kamu atur saja asal tidak ketahuan. Suamiku juga belum pulang ini," ucap Elena beberapa kali melihat kearah pintu utama.


Tak lama mobil Rexy memasuki halaman rumah mewah itu. Elena segera berjalan keluar, menyambut kedatangan Rexy dan bertepuk tangan melihat pria tampannya turun dari mobil.


"Bee, kangen!" ucap Elena dengan manja sambil merentangkan tangannya.


"Ah, sayangku! Aku merindukanmu sepanjang hari," ucap Rexy memeluk Elena dan menggendongnya.


"Sudah makan, Bee?" Tanya Elena mengelus pipi Rexy dengan lembut.


"Belum, Sayang. Apa kamu memasak sesuatu?" Tanya Rexy tersenyum.


"Aku belum masak, Bee. Kamu mau makan apa?" Tanya Elena dengan penuh rasa bersalah.


"Apa yang ada saja, Sayang. Jangan terlalu lelah, ya! Aku tau kamu melakukan banyak hal hari ini," ucap Rexy tersenyum dan mengecup bibir Elena dengan lembut.


Elena hanya tersenyum dan memeluk Rexy yang masih menggendongnya. Mereka menuju ruang tengah dimana yang lain masih berada di sana.

__ADS_1


"Bagaimana perkembangannya?" Tanya Rexy dengan tetap menggendong Elena.


"Semua berjalan dengan baik, Tuan. Saya masih mencari celah untuk bertemu dengan tuan Justin agar bisa membebaskannya dari tuntutan ini," ucap Clayton.


"Lanjutkan! Nanti kita makan malam bersama. Saya bersih-bersih dulu," ucap Rexy dengan wajah dinginnya.


"Baik, Tuan. Nona sudah merindukan anda dari tadi siang!" ucap Clayton menahan tawanya.


Sementara Elena melotot kearah pria berdarah campuran itu. Bahkan ia sendiri lupa tentang hasraatnya yang belum tersalurkan sedari tadi.


Rexy tidak bereaksi, namun di dalam hatinya bersorak sorai mendengarkan ucapan Clayton. Ia segera menggendong Elena menuju kamar dan membaringkan wanita cantik itu dengan lembut.


"Benarkah kamu merindukan aku, Sayang?" Tanya Rexy dengan wajah yang mulai merona.


Elena tersenyum dan mengangguk. "Aku merindukanmu sepanjang hari. Kamu terlalu sibuk belakangan ini, Bee," ucapnya cemberut.


"Maafkan aku, Sayang. Semua yang aku lakukan juga untuk kamu. Sabar yah dua atau tiga minggu lagi, aku akan mengambil cuti untuk mengurus pernikahan kita," ucap Rexy mengecup bibir Elena berulang kali.


"Bee, mandi dulu ya. Aku udah lapar banget," ucap Elena menghentikan aktivitas Rexy yang sudah mulai nakal.


"Sebentar saja, Sayang," ucap Rexy mencium leher Elena.


"Apa sakit banget?" tanya Rexy aktivitasnya seketika.


Elena mengangguk, bukan karena tidak ingin, namun ia masih belum memiliki persiapan apapun jika Rexy terlalu sering bermain dengannya sebelum menikah.


Mata mereka saling menatap satu sama lain. Rexy melihat ada kekhawatiran diraut wajah Elena. ia hanya bisa tersenyum dan mencium kening wanita cantik itu dengan lembut.


"Baiklah, aku mandi dulu ya. Habis ini kita makan malam," ucap Rexy tersenyum.


Elena mengangguk. Ia memperhatikan Rexy yang mulai membuka bajunya satu persatu.


"Sayang, apa kamu tidak ingin membantu aku untuk membukanya?" Tanya Rexy genit.


"Tidak, kamu bisa membukanya sendiri," ucap Elena pura-pura tidak melihat.


Namun ia masih berusaha untuk mencuri-curi pandang, ketika Rexy dengan santai membuka celana.


Keringat dingin mulai menyeruak keluar dari pori-pori Elena. Astaga, apa dia sengaja memancingku? Dasar laki-laki mesum, untung masih bisa kutahan. Kalau tidak sudah aku..., hmm..., sudah aku itu.... Batin Elena dengan pikiran sudah kemana-mana.


Ia segera menggeleng dan menyiapkan pakaian untuk Rexy. Menghentikan pikiran nakalnya yang mulai sulit untuk dikendalikan.

__ADS_1


Hingga beberapa saat, Rexy keluar dengn lilitan handuk di pinggangnya. Elena kesulitan untuk menelan ludah ketika melihat tubuh atletis Rexy, walaupun setiap hari selalu ia lihat. Namun malam ini, sepertinya ia sangat membutuhkan sesuatu yang bisa melepas rasa tidak nyaman yang sudah ia tahan.


"Bee, aku sudah ke memilih dekorasi untuk pernikahan kita," ucap Elena memperhatikan Rexy yang tengah mengenakan baju.


"Apa yang kamu pilih, Sayang?" Tanya Rexy sambil tersenyum.


"Privat party, bolehkan?" Tanya Elena.


"Kenapa memilih privat party, Sayang?" Tanya Rexy mengernyit.


Sudah dipastikan ia harus mengundang banyak rekan bisnis dalam acara sakral itu.


"Aku hanya menghindari terjadinya kejahatan, Bee. Kita tidak tau siapa yang akan datang atau penyusup yang akan mencelakai kita," ucap Elena.


Rexy terdiam, apa yang dikatakan oleh Elena ada benarnya juga. Mungkin ia harus membicarakan tentang ini kepada Ren dan orang tuanya juga.


"Ya sudah, kamu atur saja. Nanti aku akan memilih berapa tamu yang akan aku undang," ucap Rexy mengusap rambut Elena.


Mereka segera keluar dan menuju ruang makan. Elena tidak hentinya berbicara tentang apa yang ia lakukan hari ini. Termasuk mengeksekusi dua penguntit yang hampir saja membahayakannya.


"Kamu semakin pintar dan berani, sayang. Aku senang karena perubahan kamu sangat pesat. Semoga trauma itu semakin bisa kamu kendalikan dan perlahan menghilang," ucap Rexy tersenyum.


"Aku berharap, ketika kita menikah nanti tidak ada beban masa lalu yang terbawa sedikitpun," ucap Elena sendu.


"Aku yakin kamu bisa, Sayang. Karena kamu memiliki aku," ucap Rexy mulai sombong.


"Baiklah tuan serba bisa," ucap Elena terkekeh.


Makan malam kali ini terasa sedikit berbeda, suasana menjadi serius karena mereka juga berdiskusi tentang permasalahan yang mulai timbul saat ini.


Rexy berusaha untuk memikirkan cara terbaik agar Elena tidak terseret dalam kasus ini, jika Reema melaporkannya atas tindakan penganiayaan.


"Ini akan sedikit berbahaya, jika Nona tampil keluar, Tuan. Sebab akan banyak orang yang mencari informasi tentang Nona nanti," ucap Clayton.


"Sepertinya jika kasus ini terbongkar dan laki-laki itu tidak terbukti bersalah, maka ini akan menjadi boomerang tersendiri untuk mereka," ucap Rexy santai.


"Betul, Tuan. Kita akan menaikkan berita, hingga mereka tidak memiliki space untuk membuat laporan baru, karena pasti tidak ada publik yang akan percaya lagi," ucap Clayton.


"Aku rasa tidak semudah itu, mereka pasti akan mencari cara lain. Aku yakin, ada begitu banyak cara yang akan mereka gunakan untuk menjatuhkan aku, isu pelakor pun pasti akan naik," ucap Elena.


Semua orang terdiam dengan pemikiran masing-masing sambil menghabiskan makanan mereka hingga tandas.

__ADS_1


__ADS_2