
Pagi ini, Elena mendapatkan pesan dari Justin, jika pria tampan itu akan pergi menuju Inggris untuk menemui istrinya, Reema. Elena mengernyit, kenapa Justin harus memberitahuka hal ini kepadanya.
Apa dia berusaha untuk menjadikan aku prioritas?. Batin Elena mengernyit.
"Sayang?" Panggil Justin yang baru saja keluar dari kamar mandi.
"Bee? Itu bajunya sudah aku siapkan di atas kasur!" Ucap Elena sambil membalas pesan dari Justin.
Rexy mengernyit dan penasaran, ia berjalan mendekat ke arah Elena, mengintip apa yang tengah dilakukan oleh wanita cantik ini.
"Bee, Justin pamit untuk mengurus istrinya! Mungkin kerjaanku akan lebih mudah setelah ini atau bisa jadi lebih sulit!" Ucap Elena tanpa mengalihkan pandangannya dari ponsel.
Rexy tersenyum, ia berfikir jika Elena akan menyembunyikan hal ini darinya, namun ternyata tidak. Tanpa menjawab, ia memeluk Elena dari belakang dan membuat wanita cantik itu kaget.
"Bee!" Pekik Elena.
Hampir saja ia menjatuhkan ponselnya. Rexy terkekeh dan mengecup bahu Elena yang terbuka.
"Bukankah ini bisa menjadi salah satu cara untuk memberikan dia peringatan, Sayang?" Tanya Rexy terkekeh.
"Maksudnya, Bee?" Tanya Elena tidak mengerti.
"Ayo kita bermain sebentar!" Ucap Rexy melepas pelukannya dan memakai baju yang sudah di siapkan oleh Elena.
"Bermain apa, Bee? Jangan aneh-aneh!" Ucap Elena mengernyit.
"Ayo ikut ke ruanganku Sayang!" Ucap Rexy menggenggam tangan Elena.
"Ngapain? Jangan buat aku penasaran, Bee!" Ucap Elena semakin tidak paham.
"Kamu tidak mengerti sayang?" Tanya Rexy membuka pintu ruang kerjanya.
"Jangan bilang kalau kamu mau mempermainkan perusahaannya?" Tanya Elena terkejut.
"Nah itu kamu tau!" Ucap Rexy.
Ia duduk di atas kursi kebesarannya dan menarik Elena hingga duduk di atas pangkuannya.
"Bee, jangan seperti ini!" Ucap Elena dengan wajah yang merona.
"Ah, sayang. Pikiran kamu ke mana-mana. Aku kehilangan waktu bersamamu kemarin malam, apa kamu tidak mau menggantinya?" Ucap Rexy cemberut.
"Eh, bukan begitu, Bee! Ya sudah aku baik aku diam!" Ucap Elena pasrah.
Padahal aku hanya pergi dua jam lebih sedikit! Huaa, dasar Tuan pencemburu!. Batin Elena mendelik.
Rexy mulai menghidupkan komputernya. Terlihat wajah cantik Vania terpampang jelas di sana.
"Bee?" tanya Elena merasa tidak percaya.
"Hehe, maaf sayang. Aku belum sempat menggantinya!" Ucap Rexy terkekeh.
Apa Rexy sudah menyukaiku sejak lama? Kalau tidak salah, itu foto waktu aku berulang tahun setelah pernikahan!. Batin Elena.
Ia mencoba untuk mengingat Rexy dengan sisa memori yang masih ada di dalam otaknya.
"Bee?" Pekik Elena ketika berhasil menemukan dimana mereka bertemu pertama kali.
"Ya, Sayang?" Ucap Rexy menatap Elena.
"Jadi kamu yang ngikutin aku selama menjadi istrinya Justin?" Tanya Elena curiga.
__ADS_1
"Eh, ketahuan!" Ucap Rexy terkekeh sambil menggaruk tengkuknya.
Elena terdiam, sungguh jika dulu ia bertemu dengan penguntit itu akan ia gigit, pukul dan menendang benda pusakanya. Namun sekarang, ia hanya tau satu hal, jika Rexy tidak menguntitnya, mungkin saat ini mereka tidak akan bisa bersama seperti ini.
Mata Elena berkaca-kaca mengingat hal itu. Rexy tergagap melihat air mata yang menggenang di pelupuk mata Elena.
"Sayang, kenapa menangis?" Tanya Rexy lembut.
"Terima kasih!" Ucap Elena berkaca-kaca.
"Apapun akan aku lakukan untukmu, Sayang!" Ucap Rexy tersenyum.
Elena kembali memeluk Rexy dengan erat. Sungguh ia begitu beruntung bisa bertemu dengan pria ini.
"Sudah, sekarang lebih baik kita bermain!" Ucap Rexy tersenyum.
"Hmm," Elena mengangguk dan melihat cara kerja Rexy.
Ada beberapa kode yang pernah ia pelajari waktu di Korea, digunakan oleh Rexy. Pria tampan itu terlihat sangat serius dalam mengerjakan tugasnya. Elena sama sekali tidak memperhatikan layar monitor, ia malah sibuk memperhatikan Rexy yang begitu tampan jika dalam mode serius seperti ini.
"Nah selesai!" Ucap Rexy melirik Elena yang masih menatap ke arahnya. "Aku tau kalau aku begitu tampan dan memesona, Sayang," Ucap Rexy tersenyum mesum.
Elena terkejut dan langsung mengusap wajah Rexy. "Apaan sih, Bee!" Ucapnya malu dengan wajah yang merona.
"Haha, kerjaanku sudah selesai! Apa kamu tidak memperhatikannya?" Tanya Rexy.
"Apa bisa diulangi?" Tanya Elena cemberut.
"Aih, gak bisa diulang, kasihan mereka pasti kalang kabut menerima serangan kita!" Ucap Rexy semakin tergelak.
"Coba goyang dikit lagi, Bee!" Ucap Elena terkekeh.
"Aih, ternyata kamu mafia juga Sayang!" Ucap Rexy gemas.
"Cepat lacak pelakunya!" Pekik kepala IT di perusahaan Justin.
"Kita tidak bisa melacak nya, Pak. Aksesnya terblokir!" Ucap Salah satu pegawai.
"Pak, kita diserang kembali!" Ucap Pegawai yang lain.
"Harga saham kita semakin merosot, Pak!" Ucap yang lainnya.
"Cepat cari cara untuk menghentikan mereka!" Ucap Kepala IT dengan emosi.
"Baik Pak!" Ucap semua pegawai yang ada di sana.
"Sialan! Siapa yang berani bermain denganku?" Ucap kepala IT perusahaan dengan emosi.
Ia membantu untuk mengendalikan saham agar tidak semakin turun. Ia juga ikut melacak siapa dalang di balik semua ini.
"Hanya ada satu jawaban, siapa yang berani meretas perusahaan sebesar ini!" Ucap Kepala IT mengeraskan rahangnya.
"Siapa, Pak?" tanya Karyawan yang masih fokus dengan layar monitornya.
"Rexy Bramasta, CEO Magenta Corp!" Ucap Kepala IT.
"Apa mungkin dia yang melakukannya pak?" Tanya salah satu karyawan.
"Mungkin saja!" Ucapnya menatap layar monitor.
Tit, tit, tit, tit, tit, tit.
__ADS_1
Sistem keamanan mereka kembali diserang, untung masih bisa diselamatkan sehingga harga saham tidak kembali turun.
Mereka semakin mengamankan sistem perusahaan agar tidak kembali diserang. Sementara, Kepala IT langsung menghubungi Justin yang baru sama tiba di bandara Soetta.
"Tuan, harga saham kita kembali turun! Ada yang meretas perusahaan Tuan, untuk serangan berikutnya bisa kami blok!" Ucapnya.
"Sekarang bagaimana?" Tanya Justin dengan rahang yang mengeras.
Kepala IT terdiam, ia melihat jika harga saham perusahaan menuju stabil kembali.
"Sepertinya ada yang mempermainkan kita, Tuan! Harga saham kembali stabil!" Ucap Kepala IT.
"Perketat penjagaan! Perbaharui sistem dan pelajari semuanya!" UcaP Justin tegas.
"Baik Tuan!" Ucap Kepala IT.
Mereka kembali bekerja dan mempelajari sistem penyerangan yang baru saja terjadi.
Sementara Justin terlihat begitu emosi mendengarkan kabar itu. Ia melangkah menuju pesawat yang sebentar lagi akan melakukan Take Off dan berangkat menuju Inggris.
Ia segera membuka laptop dan melihat apa yang baru saja terjadi. Ia sudah tau siapa pelakunya, namun ia tidak bisa mendapatkan bukti sedikit pun untuk menuntut perbuatan mereka.
"Rexy Bramasta! Terkutuklah kau, Badjingan!" Ucap Justin yang sudah sangat emosi dan memukul dinding pesawat dengan keras.
Ia sudah mempelajari teknik yang digunakan oleh Rexy, namun lagi-lagi ia gagal untuk melacak kerusuhan yang dilakukan oleh pria tampan itu.
🌺🌺
Di dalam ruang kerja, Jantung Rexy dan Elena berdetak kencang karena wanita cantik itu melakukan sebuah kesalahan dan hampir saja membuat mereka ketahuan.
"Aku sudah bilang hati-hati Sayang! Ini hal yang sensitif lo, kalau ketahuan kita bisa dilaporkan sama perusahaannya!" Ucap Rexy menghela nafas.
"Maaf, Bee. Aku gak sengaja!" Ucap Elena terlihat ingin menangis.
"Jangan menangis, tidak apa-apa, Sayang. Namanya juga belajar!" Ucap Rexy memeluk Elena sambil menahan tawanya.
"Hiks, maafin aku, Bee!" Ucap Elena sudah menangis.
"Gak papa Sayang! Semuanya sudah aman!" Ucap Rexy gemas dengan Elena.
"Apa sahamnya sudah kembali?" Tanya Elena lirih.
"Sudah, sekarang sudah kembali, bahkan sedikit membaik dari pada sebelumnya!" Ucap Rexy memperlihatkan grafik saham.
"Kenapa bisa seperti itu? Bukannya saham itu kalau sudah turun langsung anjlok, Bee?" Tanya Elena.
"Bisa stabil lagi sayang, karna profit perusahaan mereka sedang baik!" Ucap Rexy.
"Ah, jangan main-main seperti ini lagi, Bee. Aku gak suka!" Ucap Elena menatap Rexy garang.
"Kamu gak suka atau gak mau lihat banjingan itu menderita?" Tanya Rexy dingin.
"Gak usah mulai, Bee! Pikiran kamu hanya membuat kamu susah sendiri!" Ucap Elena kesal.
mereka hanya terdiam dengan posisi yang masih sama. Elena bahkan tidak menoleh kepada Rexy sedikit pun, ia hanya menatap layar komputer yang terus bergerak menampilkan harga saham yang terus berubah.
Sementara Rexy masih dengan rasa cemburunya. Menatap Elena dengan perasaan takut. Ia takut jika wanita cantik ini kembali mencintai mantan suaminya.
Aku tidak yakin kamu akan kembali kepada laki-laki itu, tetapi tidak menutup kemungkinan juga, jika dia memberikan fakta lebih banyak kepadamu tentang betapa ia mencintai Vania setelah kepergiannya!. Batin Rexy yang susah mulai terusik.
🌺🌺🌺
__ADS_1
TO BE CONTINUE