PELAKOR Ter-SAVAGE

PELAKOR Ter-SAVAGE
Ku Kembalikan Dia!


__ADS_3

Di kediaman Justin, sesuatu yang menegangkan mulai menguasai suasana rumah mewah kediaman keluarga Justin. Kabar jika pria tampan itu telah memukul Reema sudah tersebar kepada keluarga mereka.


Bahkan saat ini orang tua Reema juga sudah berada di rumah itu. Menatap Justin dengan tatapan penuh dendam dan amarah yang akan segera meledak.


"Sudah berulang kali saya katakan, jangan menukul Reema! Kau tau dia itu perempuan? Karirnya juga sedang melejit, sementara kau dengan santainya memukul dia! Lihat, seberapa kuat kau memukul anak saya hingga tangan kau patah seperti ini!" Bentak Rendi, Ayah dari Reema.


"Saya tidak pernah memukul putri anda, Tuan!" ucap Justin berusaha untuk tenang.


"Tidak pernah memukul?" Tanya Rendi emosi dan meraih kerah baju Justin. "Wajah Reema penuh dengan lebam seperti itu, kau bilang tidak memukulnya?" Bentak Rendi di depan wajah Justin.


"Jika saya memukul putri anda, dipastikan dia sudah di rawat intensif di rumah sakit, mungkin juga kritis saat ini! Sekarang lihat, apa kalian tau dimana putri kesayangan kalian itu berada? Dimana dia?" Ucap Justin berteriak dan menghempaskan tangan Rendi yang mencengkram lehernya.


"Justin!" Bentak Julio sang ayah.


"Dad, kau tidak tau apa yang terjadi dan kau mempercayai menantumu itu?" Tanya Justin yang sudah emosi.


"Diam kau, jangan lakukan pembelaan apapun lagi! Tindakan kekerasan yang kau lakukan sudah sangat keterlaluan, Justin!" Bentak Rendi menunjuk wajah pria tampan itu.


"Kau mengecewakan Daddy, Justin!" Ucap Julio tegas.


Justin semakin mengeraskan rahangnya. Menggenggam tangan dengan kuat untuk menahan amarah. Sungguh ia tidak ingin menambah cidera lagi, sebab luka saat ini sangat mengganggu semua aktivitasnya.


"Sekarang dimana Reema?" tanya Julio kepada Justin.


"Bukankah dia sudah menemui kalian? Saya berada di rumah sakit sendiri, terkapar pun juga sendiri, berlumuran darah saya masih sendiri! Bahkan sayankoma di rumah sakit pun juga sendiri! Sekarang kalian bertanya dimana dia kepada saya? Apa kalian tidak menggunakan otak bodoh kalian itu?" Teriak Justin.


Bahkan suaranya memenuhi ruangan itu dan membuat pada art disana ketakutan.


"Justin, jaga bicaramu!" Bentak Rendi dengan amarah karena hinaan dari pria tampan itu. "Suami macam apa kau ini, istri...,"


"Bapak macam apa kau yang tidak mengajari anak bagaimana cara menghargai seorang suami!" Potong Justin masih dengan membentak sang mertua.


Semua orang terkejut dengan apa yang dikatakan oleh Justin.


"Tutup mulutmu Justin! Reema adalah tanggung jawabmu sekarang. Bagaimana dia adalah kesalahanmu!" Bentak Julio.


"Kau tak paham bagaimana kelakuan menantumu itu, Dad! Sekarang kau lebih membela dia dibandingkan aku anakmu sendiri!" teriak Justin.


Wajahnya yang tadi masih terlihat pucat kini memerah bahkan urat lehernya juga terlihat begitu jelas.

__ADS_1


"Apapun yang terjadi dengan Reema itu adalah kesalahan kau yang tidak bisa mendidiknya dengan baik!" Ucap Rendi melimpahkan semua tanggung jawab kepada Justin.


Justin tertawa miris. "Memang sekarang tanggung jawab saya untuk mendidik Reema. Tapi saya sadar kenapa dia bisa bersikap seperti itu! Memang buah tak jauh jatuh dari pohonnya," ucap Justin begitu tajam.


PLAK!!


Rendi menampar pipi Justin dengan keras hingga sudut bibirnya mengeluarkan darah.


"Jaga ucapanmu!" Bentak Rendi. "Perusahaan kau tidak akan selamat jika kami tidak membantu! Kau camkan itu!" Sambungnya menunjuk wajah Justin dengan tangan kiri.


"Oh, jadi anda merasa pahlawan sekarang? Hanya saham sebesar 10 persen itu tidak akan berpengaruh bagi perusahaan saya!" Ucap Justin sarkas.


Rendi dan Julio semakin murka, sementara para istri hanya terdiam dan tidak berani untuk menyela ketika mereka tengah berdebat.


"Silahkan tarik kembali saham anda, Tuan. Karena mulai detik ini, saat ini juga saya Justin Andrian memulangkan Reema kepada anda! Saya menceraikannya hari ini juga. Saya akan menarik semua aset Vania yang sudah saya pinjamkan. Tenang saja, harta gono gini akan saya keluarkan untuk putri anda!" Ucap Justin tegas dan lantang.


"Kau!" Rendi menatap Justin degan amarah yang tidak bisa tahan lagi.


Bugh!


Plak!


Bahkan kini ia sudah baku hantam dengan Rendi. Namun laki-laki paruh baya itu kalah karena tendangannya tepat mengenai perutnya.


"Kau boleh memarahi anak saya tapi jangan harap kau bisa memukulnya seperti itu! Cuih!" Bentak Julio kepada Rendi dan juga meludahi laki-laki paruh baya itu.


"Kalian akan menanggung resikonya setelah ini!" Ucap Rendi meringis kesakitan.


Ia keluar dari rumah itu sambil dibantu oleh sang istri. Sementara Justin sudah terkapar lemah di atas lantai dengan nafas yang tercekat dan pelipis yang mulai mengeluarkan darah.


"Dad, bawa Justin ke rumah sakit dulu!" Pekik Mommy Justin.


Dengan bantuan beberapa penjaga rumah, Justin segera dilarikan ke rumah sakit. Kini pria tampan itu sudah tidak sadarkan diri akibat tubuhnya yang terlalu lemah.


"Joy, cari tahu keberadaan Reema sekarang!" Ucap Julio menghubungi Joy melalui ponsel.


"Apa sebenarnya yang terjadi di antara mereka, Dad? Bukankah selama ini mereka baik-baik saja?" Tanya Mommy.


"Aku gak tau, Mom. Pasti ada yang tidak beres. Dari awal aku memang tidak setuju dengan hubungan mereka!" Ucap Julio mengusap rambutnya dengan kasar.

__ADS_1


"Semoga tidak terjadi apapun dengan Justin!" Ucap sang Mommy yang terlihat begitu khawatir.


🍃🍃


Sementara disebuah kamar, suara deesahan memenuhi seisi ruangan itu. Mulai dari ruang tengah hingga kamar mandi tak terlepas dari aktivitas panas mereka.


Melepas hasrat yang begitu menggebu-gebu, menghilangkan semua masalah dan menyelami kenikmatan syurga dunia yang tidak ada yang bisa menandinginya.


"Akh, faster baby!" Pekik seorang laki-laki ketika seorang wanita tengah bergerak aktif di atas tubuhnya .


"As you want, Baby!" Ucapnya dengan nafas yang menderu.


Mereka terus saja bergerak seolah tidak ingin berhenti. Menghiraukan berbagai macam resiko yang akan menimpa di kemudian hari.


Hingga keduanya terkapar di atas sofa yang sudah berantakan. Deru nafas dan keringat masih menemani pergulatan mereka.


"Kamu masih seperti biasanya, Honey. Sangat pandai memuaskanku," ucap laki-laki itu tersenyum.


"Hmm, aku hanya ingin kepuasan malam ini! Tutup mulut busukmu itu dan sekarang kau puaskan aku lagi!" Ucap sang wanita.


Ia kembali memasukan benda pusaka laki-laki yang masih loyo itu ke dalam liang kenikmatan miliknya.


"Ah, honey tunggu sebentar! Aku belum siap!" Pekik laki-laki itu ketika merasakan miliknya yang baru saja mengeluarkan cairan itu kembali masuk.


"Kau lambat sekali! Dasar tidak berguna!" Ucap Wanita itu mengumpat, namun tubuhnya tidak berhenti bergerak dengan kepala yang menengadah.


"Shiit! Kau...," Ucap laki-laki itu membalikkan tubuh sang wanita dengan kasar ketika pisang laras panjangnya mulai terasa kembali mengeras.


"Akh!" Pekik wanita itu ketika hentakan keras mulai menghujam dirinya.


"Ini yang kau inginkan? Akh!" Ucap laki-laki itu semakin mempercepat gerakannya.


Hentakan itu membuat Reema semakin merasa melayang namun perlahan berubah menjadi rasa sakit.


"Tunggu!" Pekik Reema yang merasakan pedih pada inti tubuhnya.


"Tidak ada kata tunggu! Kau yang menginginkannya, Jalaang syalan!" Ucap laki-laki itu tertawa jahat.


Reema hanya pasrah sambil sesekali berusaha untuk menghentikan pergerakan sang kekasih yang sudah seperti orang kesetanan.

__ADS_1


Hingga kegiatan panas itu selesai, mereka berdua terkapar dan langsung terlelap karena kelelahan.


__ADS_2