
"Tadi sudah janji gak marah, 'kan?" tanya pria tampan itu.
Elena tersenyum manis dan mengecup bibir Rexy sekilas. "Aku gak marah, Bee. Hanya tidak sabar saja!".
"Cih!" Justin berdecih melihat mereka yang seperti sengaja bermesraan dihadapannya.
"Kenapa? Kau pernah mengecup pipinya seperti ini juga 'kan?" tanya Rexy kembali mengecup Elena.
"Sudah, Bee! Nanti lanjut di rumah, ya!" ucap Elena tersenyum dan mengusap pipi Rexy.
Ia kembali menatap Justin dengan serius. "Bagaimana, Mas? Jika kamu tidak mau, aku akan menuntut dengan hukuman mati, apa pun caranya nanti!" ucap Elena.
"Aku tidak bisa, Na! Dan aku tidak akan pernah mau membongkarnya!" ucap Justin tegas.
"Ternyata kamu masih mencintai Reema. Memang tidak salah jika kamu memilih jalaang itu sebagai pengganti aku. Goyangannya memang sangat berbahaya!" ucap Elena menggigit bibirnya dan mengacungkan dua jempol.
Justin membulatkan mata. "Apa maksud kamu?" tanya pria tampan itu.
Elena tersenyum. "Apartemen kamu, dan apartemen pacar perempuan itu berada dalam genggamanku! Apa saja yang kalian perbuat aku bisa tau!" ucap Elena santai.
Ia mengeluarkan ponsel dan memutar video Reema bersama dengan selingkuhannya.
Suara Reema yang mendesaah terdengar jelas di telinga Justin. Gerakan yang begitu cepat, membuat wajah pria tampan itu memerah. Entah karena amarah, atau merasa panas karena menginginkannya.
"Ini?" tanya Justin terkejut.
"Sekarang sudah jelas, jika kamu mencintaiku hanya karena nafsu! Aku harap kamu memikirkan tawaranku!" ucap Elena.
Justin hanya terdiam menatap Elena dan Rexy dengan amarah yang membuncah. Namun ia hanya terdiam mengumpati Reema dengan sumpah serapahnya. Mereka terdiam sambil berpikir apa yang akan mereka katakan setelah ini.
"Bagaimana perutmu? Apa ada cidera?" tanya Elena.
"Tiga hari aku gak bisa jalan, bahkan sampai sekarang masih terasa sakit!" ucap Justin.
"Itu belum seberapa sakit dari penderitaanku selama lima tahun ini," ucap Elena dingin.
Justin menghela nafas, ketika pemeriksaan yang ia jalani, petugas polisi pernah memperlihatkan bagaimana kondisi Vania pasca kecelakaan itu.
"Maafkan aku!" ucap Justin lirih.
"Aku memaafkanmu, Mas. Aku tau kondisi kita waktu itu. Tapi aku tidak menyesalinya, karena sekarang aku menemukan seorang laki-laki yang memang benar-benar mencintaiku, walaupun sekarang aku tidak bisa berjalan dengan normal seperti sebelumnya," ucap Elena.
"Apa maksud kamu tidak bisa berjalan?" tanya Justin terkejut.
"Tendangan itu, membuat kakiku semakin cidera. Setidaknya, aku sudah membuat hidupmu tidak lama lagi karena ada kerusakan pada organ dalam kamu!" ucap Elena.
__ADS_1
Justin terdiam, dokter memang mengatakan jika ia tidak bisa menjaga kesehatan, maka itu akan merengut nyawanya. Memar hingga ke organ dalam membuat Justin harus ekstra untuk menjaga diri.
"Kamu sudah banyak berubah sekarang," ucap Justin menatap Elena.
"Tentu, karena aku sudah bertemu dengan orang yang tepat!" ucap Elena tersenyum.
"Apa kamu yakin dia laki-laki yang baik?" tanya Justin sambil tersenyum tipis.
"Sudah sangat jelas! Bahkan sangat yakin! Apa kamu tidak tau, jika Rexy yang menyelamatkanku dari kecelakaan itu?" ucap Elena.
Deg!
Justin terkejut, ia tidak mengetahui fakta ini. Ia menatap Elena dan Rexy tidak percaya.
"Jangan bercanda!" sentak Justin.
"Kenapa harus bercanda. Pasti kamu pernah terfikirkan bagaimana aku bisa bertemu dengan Rexy, itu sangat tidak mungkin jika hanya mengingat bagaimana statusku," ucap Elena tersenyum.
Justin semakin bungkam mendengarkan ucapan Elena. Tidak ada Vania yang lembut, hanya ada Elena yang tegas dan kejam.
"Aku harap kamu tidak memiliki rencana untuk kabur, karena aku sudah mengirim orang untuk mengawasimu?" ucap Elena.
Justin masih terdiam mendengar ucapan Elena.
"Besok mommy Tiara mengajakku untuk bertemu! Aku tidak bisa membayangkan betapa kecewa mantan mertuaku, melihat anak semata wayangnya telah membunuh menantu kesayangan keluarga Andrian!" ucap Elena dengan wajah datar.
"Renungkan kesalahanmu dan terima hukumannya, atau aku tidak akan pernah berpikir untuk mengampunimu!" ucap Elena sebelum keluar dari ruangan.
Justin hanya terdiam menatap kepergian Elena dan Rexy. Melihat tatapan penuh cinta dari Rexy, bisaa dikatakan jika laki-laki itu yang mencintai Elena lebih dulu.
Apa mereka bermain ddi belakangku sebelum kejadian itu?. Batin Justin terkejut.
Jika ia, kalian semua memang badjingan!. sambungnya.
Ia masih berada di sana hingga dua orang polisi masuk dan melanjutkan interogasi tentang siapa saja yang ikut serta dalam pembunuhan berencana itu.
🍃🍃
Di dalam mobil, Elena terdiam namun wajahnya terlihat begitu lega karena berhasil mengatakan hal itu kepada Justin.
Sementara Rexy masih saja cembe karena Elena tidak mengacuhkannya sedari tadi. Ia hanya sibuk berbicara dengan Justin dan membuatnya bersusah payah untuk mencari perhatian.
"Kenapa, Bee?" tanya Elena mengernyit.
"Kamu mengacuhkan aku di sana, padahal aku juga ingin berbicara dengan laki-laki itu," ucap Rexy cemberut.
__ADS_1
"Aih, maafin aku, Sayang!" ucap Elena mengecup pipi Rexy dengan gemas.
"Gak mau!" ucap Rexy semakin cemberut.
"Kenapa gak mau? terus maunya apa?" tanya Elena terkekeh.
"Mau anu," ucap Rexy memperagakannya menggunakan tangan.
"Aih, nanti habis nikah!" ucap Elena mengusap wajah tampan rexy.
"Bagaimana perasaanmu?" tanya Pria tampan itu.
"Sudah lega, Bee. Aku sudah menyampaikannya. Sungguh ini sangat membebaniku, mengingat banyak kasus perempuan itu yang ditolak," ucap Elena.
"Nanti kita usahakan, agar mereka mendapat ganjaran yang setimpal ya!" ucap Rexy mengusap kepala Elena.
Wanita cantik itu tersenyum, dan mengangguk. Rexy segera menjalankan mobil meninggalkan kantor polisi.
"Sayang, kamu beneran mau memaafkan dia, jika seandainya dia mau mengungkap kejahatan perempuan itu?" tanya Rexy.
"Aku sedang mencobanya, Bee. Karena jika dia tidak dipengaruhi mungkin dia tidak akan merencanakan itu semua. Satu tahun setidaknya membuat aku mengenal bagaimana pribadi laki-laki itu," ucap Elena.
Rexy tersenyum dan mengecup tangan Elena berulang kali. "Hati kamu terbuat dari apa, Sayang? Dia sudah membunuhmu, tapi kamu malah berniat untuk memaafkannya," ucap Rexy tersenyum.
"Aku hanya terpikirkan bagaimana dengan Mommy Tiara, Bee. Dia dulu pernah sangat menyayangiku, bahkan bunda sering merasa iri karena perhatian dari Mommy sangat berlebihan untuk," ucap Elena lirih.
"Aku mendapatkan berlian yang terbuang. Mungkin dulu, jika aku tidak mengikutimu, kita tidak akan sampai pada hari ini. Bisa jadi aku akan menjadi laki-laki yang merana karena di tinggal mati," ucap Rexy tersenyum.
"Ah, ternyata super hero itu ada di dunia nyata, dan aku memilikinya satu," ucap Elena tertawa.
Rexy mengusap rambut Elena dengan gemas sambil tersenyum.
"Bee, besok aku mau ketemu sama Mommy Tiara, apa boleh?" tanya Elena menatap Rexy penuh harap.
Satu sisi ia tidak ingin bertemu dengan mantan mertua yang begitu ia sayangi. Namun satu sisi lagi, ia begitu merindukan wanita paruh baya itu.
Walaupun Elena sudah tau, apa yang akan di sampaikan oleh Tiara nanti.
"Boleh, Sayang. Kemana pun kamu pergi, aku akan ikut! Biar semua orang tau, jika Elena hanya milik Rexy!" ucap pria tampan itu terkekeh.
"Kamu sudah mengatakan itu berpuluhan kali, Sayang! Nanti semua orang pasti bakalan tau jika Elena hanya milik Rexy!" ucapnya.
"Pokoknya, ga ada yang boleh rebut kamu dari aku! Entah akan seperti apa jika ada yang berniat untuk merebutmu!" ucap Rexy tegas.
Mereka terkekeh geli, dan merasakan kelegaan setelah Justin berhasil di tangkap. Kini mereka siap mengawal kasus ini hingga tuntas.
__ADS_1
Menikah dan berbulan madu, hidup bahagia dengan mengucap sumpah dan janji pernikahan hanya terhitung hari.