PELAKOR Ter-SAVAGE

PELAKOR Ter-SAVAGE
Harta Berharga


__ADS_3

Semua orang terkejut mendengarkan suara pistol yang begitu keras. Rexy langsung terduduk dan mengambil senjata yang ada di bawah tempat tidur. Begitu juga dengan Elena.


"Ada apa, Bee?" tanya Elena bingung dengan badan yang masih lemas.


"Sepertinya ada penyusup, Sayang! Ayo kita turun!" ucap Rexy menggenggam tangan Elena.


Wanita cantik itu menggeleng, ia belum membersihkan badan dari sisa pergulatan panas mereka.


"Aku malu jika harus turun dalam keadaan seperti ini, Bee!" ucap Elena lirih.


Rexy terdiam, ia juga masih mengenakan boxer dan sangat tidak mungkin untuk keluar.


Ia segera mengambil ponsel dan menghubungi Ren untuk bertanya


"Jangan khawatir, Tuan! Mereka sudah kami bereskan! Maaf mengganggu malam pertama anda!" ucap Ren sambil menahan senyum.


"Jangan bercanda!" bentak Rexy dengan wajah yang penuh amarah.


"Sudah saya bereskan, Tuan! Selamat beristirahat!" ucap Ren mematikan sambungan telepon.


Elena bisa bernafas lega dan memilih untuk masuk ke dalam kamar mandi agar bisa membersihkan tubuhnya. Masih tersisa Bathrobe yang bisa ia pakai setelah ini.


"Kenapa duo bunda harus menggusur semua pakaianku? Kalau keadaan seperti ini pasti sudah kalang kabut dan menyelamatkan diri sendiri!" ucap Elena sedikit kesal.


Sementara di luar, Khalia dan Angelin mengetuk pintu kamar pengantin itu dengan sangat kuat. Mereka ketakutan dan memilih untuk pergi ke sini.


"Bunda?" panggil Rexy ketika membuka pintu.


"Bunda sembunyi di sini saja ya, Nak!" ucap Angelin memohon.


"Iya, Boleh! Dimana para ayah, Bun?" tanya Rexy mengernyit.


"Mereka sudah keluar dan melihat apa yang sedang terjadi!" ucap Angelin.


Netra mereka terkejut melihat ranjang yang begitu berantakan dan tidak terlihat indah lagi.


Glek!


Apa mereka baru saja melakukan perang dunia dengan sangat dahsyat?. Batin Angelin.


Astaga, putriku apa masih bisa berjalan setelah pergulatan ini? Aroma khas itu tercium sangat kuat!. Batin Khalia.


"Bunda bisa duduk di sofa, kami belum menyentuhnya sedari tadi!" ucap Rexy menggaruk tengkuk yang tidak gatal.


Mereka segera berjalan menuju sofa dan membelakangi ranjang yang masih berantakan.


Tak lama Elena keluar dengan Bathrobe yang melekat di tubuhnya.

__ADS_1


"Bee, apa sudah aman? Orang tua kita bagaimana?" tanya Elena tanpa memperhatikan sekelilingnya.


"Ayah sedang melihat keadaan di bawah, Sayang. Sementara para bunda sudah aman," ucap Rexy memberikan kode kepada sang istri.


"Bunda?" panggil Elena mengernyit.


"Iya, Sayang?" jawab Khalia tanpa menoleh.


"Ih, kenapa bunda ambil bajuku semua!" rengek Elena.


"Hehe, maaf sayang. Itu sudah bunda bawakan," ucap Khalia terkekeh.


Dengan cemberut, Elena berjalan dan mengambil kopernya. Ia mencari baju yang bisa di gunakan malam ini, agar bisa turun kebawah dan melihat apa yang tengah terjadi.


Begitu juga dengan Rexy, senjata itu tidak lepas dari tangannya bahkan ketika mandi sekalipun.


Elena duduk bersama dengan para bunda dengan tersenyum canggung ketika menyadari sesuatu.


"Apa yang terjadi di bawah, Bunda?" tanya Elena.


"Bunda belum tau, Sayang. Apa ini masih ada sangkut pautnya dengan Justin?" ucap Khalia lirih dengan perasaan sedih.


"El juga tidak tau, Bunda. Aku rasa ini bukan lagi perbuatan Justin. Sebab, semua mafia yang membantunya sudah dihentikan oleh, Mas Rexy," ucap Elena menunduk.


Huft, kapan kalian bisa hidup tenang lagi seperti dulu? Selalu saja ada kejadian seperti ini yang membuat semuanya menjadi rumit. Semoga setelah ini, kebahagiaan akan menghampiri kita tanpa rasa takut, tidak ada lagi ancaman. Bunda selalu menantikan hari itu datang!. Batin Angelin menatap Elena dengan sendu.


Tak lama Rexy keluar dari dalam kamar mandi dan segera memakai pakaian yang sudah disediakan oleh Elena.


"Belum ada, Bee. Ayo kita turun!" ucap Elena.


"Tunggu sebentar, Sayang!" ucap Rexy mengambil ponselnya dan menghubungi Ren sang asisten pribadi.


Senjata itu tidak lepas dari tangannya, begitu juga dengan Elena yang masih duduk manis di hadapan sang bunda.


"Sudah aman, ayo kita turun!" ucap Rexy.


"Itu pistolnya gak bisa di letak dulu, Nak? Bunda ngeri melihatnya!" ucap Angelin bergidik.


"Jaga-jaga, Bunda. Gimana nanti kalau kita turun, tiba-tiba ada yang menghadang, Haaa!" ucap Rexy berbalik dan mengagetkan mereka. "Kita gak siap, bisa tinggal nama, Bun!" sambungnya.


"Astaga! Sepertinya kamu belum bangun!" ucap Angelin memukul lengan Rexy dan membuat pria tampan itu terkekeh.


Mereka berjalan menuruni satu persatu anak tangga. Semua ruangan sudah terlihat terang, bersamaan dengan masuknya para Ayah.


"Semua pengawal sudah memeriksa seluruh tempat. Kebun bunga juga sudah di rambah. Ada empat orang yang tertangkap dan sudah berada di dalam markas," ucap Hinata.


"Empat orang?" ucap Rexy dengan wajah yang penuh dengan amarah.

__ADS_1


Ia menatap sang asisten dengan sangat tajam seolah mencabik harga diri pria tampan itu. Ren hanya terdiam dan menunduk, ia tau jika Rexy pasti akan melakukan sesuatu terhadapnya.


"Ah, untunglah tidak ada korban yang celaka. Apa kita sudah bisa beristirahat kembali?" tanya Elena dengan nafas yang berangsur lega.


"Sepertinya sudah aman. Ayo kita kembali beristirahat! Ayah masih merasa lelah," ucap Hinata menyadari raut wajah Rexy.


Para orang tua kembali ke kamar mereka masing-masing. Sementara Elena tanpa menghiraukan Rexy, ia memilih untuk berjalan menuju dapur.


"Bee, aku lapar. Aku cari makanan dulu!" ucap Elena berlalu.


Kini hanya ada Rexy dan Ren yang ada di ruang tengah itu.


"Bagaimana kau bisa teledor seperti ini, Ren?" ucap Rexy geram.


"Maaf, Tuan," ucap Ren menunduk.


"Urus semuanya sebelum aku tidak bisa mengendalikan diri!" ucap Rexy dengan tegas.


Ia berlalu dari sana dan menyusul Elena yang sudah berada di dapur. Ren hanya terdiam dan menatap langkah kaki Rexy yang sudah menghilang dari balik dinding.


Ia hanya berdiri dan mengambil ponsel, memberikan perintah untuk mengeksekusi para penyusup dengan segera.


Sementara di dapur, Elena menghangatkan beberapa piring makanan. Perutnya terasa begitu lapar dan juga ia membutuhkan energi jika sewaktu Rexy kembali mengajaknya bergelut.


"Sayang?" panggil Rexy mengernyit.


"Aku lapar, ayo makan dulu!" ucap Elena menyajikan makanan yang sudah ia panaskan.


Rexy menatap Elena dengan lekat. Begitu banyak orang yang membahayakanmu, Sayang. Apa aku sanggup untuk menghadapi mereka? Bahkan ketika biang masalah sudah aku selesaikan, masih ada juga bahaya yang datang menghampirimu seperti ini. Batinnya sendu.


Ia berjalan mendekat dan memeluk Elena dengan erat dari belakang. Rasa cinta yang sudah begitu dalam membuatnya merasa sangat takut untuk kehilangan wanita cantik ini.


"Kenapa, Bee?" tanya Elena mengernyit bingung, namun ia tidak menolak pelukan itu.


"Aku mencintaimu," ucap Rexy lirih.


Elena tersenyum dan mengusap pipi Rexy dengan lembut. "Aku juga mencintaimu, suamiku yang tampan dan manja!" ucapnya terkekeh.


"Hmm," Rexy mengecup bahu Elena dan memejamkan matanya sebentar.


Elena berbalik dan memeluk Rexy. Ia ikut merasakan apa yang tengah di rasa oleh sang suami.


"Kita hadapi ini bersama, Bee. Aku akan membantu sebisaku," ucap Elena.


Rexy tidak menjawab, ia hanya mengeratkan pelukannya kepada Elena. Hingga beberapa saat berlalu, Rexy mulai bisa menguasai diri.


"Ayo kita makan!" ucap Elena tersenyum.

__ADS_1


Pria tampan itu ikut tersenyum dan menerima suapan dari Elena.


Jika ditanya apa hartaku yang paling berharga. Dia, wanita cantik ini adalah hartaku yang paling berharga. Dia yang bisa membuatku merasa takut kehilangan untuk pertama kalinya. Dia, dia juga menjadi kelemahanku kali ini. Batin Rexy dengan mata yang berkaca-kaca.


__ADS_2