PELAKOR Ter-SAVAGE

PELAKOR Ter-SAVAGE
Memaafkan


__ADS_3

Elena kini berada di sebuah cafe, dimana ia sudah membuat janji sore ini dengan Tiara. Ia menatap wanita paruh baya yang tengah duduk seorang diri, berada tak jauh dari meja yang sudah ia pesan


"Aku tidak tega melihatnya, Clay. Mommy persis seperti Bunda waktu aku temui di cafe waktu itu," ucap Elena lirih.


"Nona. Saya tau, jika anda merasa tidak tega, tapi anda juga harus ingat ketika Nyonya Khalia sakit karena kehilangan anda!" ucap Clayton.


"Ya, saya tau, Clay. Untuk sesaat aku harus menjadi kejam dan tidak memiliki hati, agar tidak ada yang berani berbuat kurang ajar kepadaku," ucap Elena.


"Saya sangat suka jika anda berkata dan bertindak tegas terhadap sesuatu!" ucap Clayton tersenyum tipis.


"Kamu bisa tolong panggilkan Mommy Tiara, Clay? Kita ngobrol di sini saja. Akan sedikit sulit jika aku berpindah-pindah," ucap Elena.


"Baik, Nona!" ucap Clayton segera menuju ke meja dimana Tiara berada.


Elena menatap interaksi mereka, Tiara terlihat kebingungan, sebab wajah Elena tidak sama dengan Vania seingatnya dulu.


"Anda jangan sembarangan! Saya bukan bertemu dengan dia!" ucap Tiara mengernyit.


"Nyonya, itu Nona Vania mantan menantu anda," ucap Clayton.


Tiara mengernyit dan kembali menatap Elena yang melambaikan tangan sambil tersenyum.


"Kenapa wajahnya berbeda?" tanya Tiara mengernyit.


"Nanti anda akan tau, Nyonya!" ucap Clayton.


Tiara akhirnya menurut setelah Clayton berhasil meyakinkannya, ia pergi menuju meja Elena yang berada di sudut ruangan. Ia menatap lekat wajah wanita cantik yang ada di sana.


Apakah itu benar Vania? Kenapa wajahnya sangat berbeda dan..., lumpuh?. Batin Tiara.


Ia duduk di hadapan Elena dan di temani oleh Clayton.


"Apa kabar, Mommy?" tanya Elena tersenyum.


"Benar kamu Vania?" tanya Tiara bingung.


Elena hanya tersenyum dan mengangguk. "Lima tahun sudah merubah banyak hal. Sekarang aku Elena, Mom. Bukan Vania lagi," ucapnya tersenyum.


"Saya tidak mengerti," ucap Tiara menggeleng.


Elena menghela nafasnya, ia tidak tau harus menyampaikan bagaimana kepada Tiara. "Kecelakaan itu membuat wajahku rusak, Mom.


Beruntung ada orang baik yang memperbolehkan aku memakai wajahnya!" ucap Elena membuat Tiara terkejut.


Mata wanita paruh baya itu berkaca-kaca mendengarkan ucapan Elena.


"Aku sudah menahan diri untuk tidak membahasnya, Mom. Tapi Mommy tidak percaya kepadaku!" ucap Elena.


"Bagaimana kabarmu, Nak?" tanya Tiara menggenggam tangan Elena.

__ADS_1


"Aku baik, Mom. Aku sangat baik. Mommy apa kabar?" tanya Elena tersenyum.


Ia merasa sedikit risih ketika tangannya di pegang oleh orang lain.


"Mommy baik, Nak," ucap Tiara menunduk.


Mereka terdiam dan saling menyelami pikiran masing-masing. Elena menarik tangan dan meraih minuman yang ada di depannya.


Menghindari kontak fisik dengan orang lain. Agar membuatnya tetap tenang dan tidak merasa ketakutan.


"Tentang Justin, Mommy minta maaf kepada kamu. Sungguh, jika Mommy tau, mungkin masih bisa di cegah, Nak!" ucap Tiara dengan mata yang berkaca-kaca.


"Ini bukan salah Mommy. Ini memang salah Mas Justin yang begitu bodoh!" ucap Elena membuat Tiara terkejut.


Pasalnya, Vania yang ia kenal sangat lembut dan berbicara dengan tutur bahasa yang baik.


Mungkin ini emosi yang terpendam. Aku tidak tau lingkungan apa yang sudah meracuninya hingga berkata seperti tadi. Batin Tiara.


"Aku tidak bisa lama, Mom. Apa ada hal penting yang membuat Mommy ingin bertemu denganku?" tanya Elena.


"Mommy merindukanmu, Nak!" ucap Tiara dengan air mata yang mulai menetes.


Elena terdiam, ia tidak ingin berbasa-basi lagi dengan Tiara. Takut, jika hatinya melunak jika melihat tatapan mantan mertuanya itu.


"Mommy, Aku tidak punya waktu banyak. Aku datang ke sini hanya karena memandang Mommy dulu pernah begitu menyayangiku. Jika di tanya aku rindu atau tidak, tentu sangat rindu. Tapi perih hatiku masih belum bisa terobati, walaupun Mas Justin di hukum mati!" ucap Elena terdengar tegas.


"Maaf jika kata-kataku menyakiti, Mommy. Tapi rasa sakit yang di alami bunda tidak akan pernah sebanding. Aku harap Mommy paham," ucap Elena.


Ia mengeluarkan beberapa berkas penting dari dalam tasnya.


"Mommy sudah tebak dari awal, jika kamu tidak ingin berurusan apapun lagi dengan keluarga Mommy. Tapi, terima kasih karena kamu bersedia untuk menemui Mommy hari ini," ucap Tiara dengan suara yang bergetar.


Elena memejamkan mata dan menoleh ke kiri. Ia tidak ingin merasa iba dengan Tiara, takut jika nanti ia meminta untuk mencabut laporan dan membebaskan Justin.


"Ini ada beberapa berkas yang sengaja Mommy simpan. Berniat jika sewaktu akan menyumbangkan sebagian ke panti asuhan, sebab bunda kamu tidak ingin menerima semua ini," ucap Tiara menatap Elena.


Wanita cantik itu terdiam. semua berkas itu sangat ia butuhkan, namun ia tidak bisa menebak apa yang di maksud oleh wanita paruh baya itu.


"Mommy, tidak akan meminta untuk kamu mencabut laporan Justin. Terima kasih, karena kamu memberitahu Mommy, apa yang sudah dilakukannya. Tapi, sebagai orang tua, Mommy akan berusaha bagaimana agar Justin bisa bebas dari tuntutan nanti!" ucap Tiara.


Elena hanya terdiam mendengarkan ucapan Tiara. Ia tidak tau harus berbuat apa kali ini.


"Bagaimana pun keadaanmu, Mommy selalu menyayangi Vania sama seperti dulu. Jangan benci Mommy, karena kamu tetap putri Mommy, Nak!" ucap Tiara dengan air mata yang mengalir.


Elena tak kuasa mendengarkan ucapan sang mantan ibu mertua. Air matanya ikut menetes karena ucapan Tiara terasa begitu tulus.


"Aku tidak pernah membenci, Mommy. Tapi sakit hatiku kepada Mas Justin, membuat aku belum siap untuk menerima semua keadaan seperti seolah tidak terjadi apa-apa," ucap Elena berusaha menahan tangisnya.


"Dengan kamu mau menemui Mommy, itu sudah lebih dari cukup, Nak!" ucap Tiara menghapus air matanya.

__ADS_1


Sungguh ia begitu menyayangi Vania, berharap hubungan mereka bisa kembali seperti dulu, seperti sebelum kecelakaan itu terjadi.


"Maafkan aku. Apapun yang Mommy lakukan, aku pasti akan berbuat lebih agar Mas Justin mendapat hukuman yang sangat berat!" ucap Elena tegas.


"Tidak masalah, karena itu hak kamu. Tapi Mommy akan berbuat banyak untuk membebaskan Justin!" ucap Tiara.


"Semoga Mommy sehat terus. Temani Daddy sampai kakek nenek," ucap Elena.


"Iya, Nak. Kamu juga sehat terus, ya. Semoga kamu menemukan laki-laki yang begitu menyayangimu nanti," ucap Tiara.


Ia menatap Clayton yang masih terdiam sedari tadi. "Jaga anak Mommy, ya! Dia wanita yang sangat baik, jangan sia-siakan dia. Mungkin kamu sudah mendengar berita, jangan mengulangi kesalahan anak saya yang bodoh itu! Tolong bahagiakan dia ya, Nak!" ucap Tiara tersenyum sambil mengusap lengan Clayton.


"Maaf, Nyonya. Saya bukan suami Elena. Saya adik angkatnya! Tapi apa yang Nyonya katakan tadi pasti saya lakukan dengan sangat baik!" ucap Clayton dengar nada yang begitu datar.


"Ah, maaf. Saya pikir kamu suami Elena," ucap Tiara menghela nafas.


"Tentu saja bukan, mungkin dalam beberapa hari lagi, Nyonya akan mendengar berita bahagia dari kakak saya!" ucap Clayton mengangguk.


"Siapapun nanti yang mendampingi kamu, semoga kamu bahagia bersama dengan dia, Nak," ucap Tiara menggenggam tangan Elena dengan lembut.


Terlihat jelas betapa Tiara sangat menyayangi Elena. "Maafkan Mommy dan Daddy, jika selama kami menjadi mertua kamu, belum memberikan yang terbaik!" ucapnya tersenyum.


"Mommy jangan seperti ini, maafkan aku karena belum bisa berdamai dengan keadaan," ucap Elena membalas genggaman tangan itu.


"Terima kasih karena Mommy masih peduli kepadaku, Ayah dan bunda berpesan, jika keadaan sudah membaik, mainlah ke rumah, lupakan semua tentang apa yang terjadi. Karena sungguh, Mommy dan Daddy tidak terlibat sama sekali dengan kejadian ini!" sambungnya dengan mata yang kembali berkaca-kaca.


Tiara menangis terisak di sana. Ia tidak menyangka jika Elena memiliki hati yang begitu mudah memaafkan orang lain.


"Terbuat dari apa hati kamu, Nak?" tanya Tiara menangis tersedu.


"Aku hanya tidak ingin menghakimi orang yang tidak bersalah, Mom. Aku harap Mommy mengerti dengan keadaanku!" ucap Elena tersenyum.


Tiara mengangguk, ia berusaha untuk mengendalikan diri agar air mata itu tidak kembali mengalir.


"Va, maksud Mommy, Elena. Kamu pakai kursi roda?" tanya Tiara.


Elena tersenyum. "Sebelumnya, Aku sudah bisa berjalan, Mom. Ini karena aku menendang Mas Justin terlalu keras beberapa hari yang lalu," ucapnya tersenyum.


Tiara tersentak. "Jadi, Justin masuk rumah sakit karena kamu?" ucapnya tidak percaya.


"Iya, Mom. El sudah tidak bisa menahan diri lagi," ucap Elena tersenyum.


Tiara bungkam. Pantas saja Justin sampai di rawat dan mendapatkan luka memar yang cukup serius bahkan merusak fungsi beberapa organ dalamnya. Batin Tiara.


"Sekarang, kakiku mati rasa, Mom. Setelah menikah nanti, aku akan pergi berobat!" ucap Elena tersenyum.


"Semoga kamu cepat sembuh, Nak," ucap Tiara tersenyum.


"Aku akan berusaha, Mom. Walaupun kecil kemungkinan untuk sembuh," ucap Elena.

__ADS_1


Mereka berbincang sebentar, hingga Elena harus pamit dengan segera karena mereka akan berangkat menuju tempat yang sudah di siapkan.


__ADS_2