
"Clay!" Panggil seseorang membuat pria tampan itu terkejut.
Matanya membola dengan jantung yang berdetak kencang ketika melihat kehadiran Elena di dalam ruangan monitoringnya.
"No-Nona, A-anda bisa berjalan?" tanya Clayton tidak percaya.
"Tiba-tiba saja tadi saya bisa berdiri!" ucap Elena tersenyum dengan mata yang berkaca-kaca.
"Nona, lebih baik anda segera kembali keruangan tadi, di sini sangat berbahaya!" ucap Clayton mengusir Elena.
"Tidak, Clay! Biarkan saya membantu kamu kali ini!" ucap Elena menolak.
"Nona, Anda harta berharga kami. Jangan sampai tuan Rexy memenggal kepala saya karena lalai menjaga Anda!" ucap Clayton memohon.
"Clay...," ucap Elena.
Dor!
Suara tembakan terdengar sangat keras, burung-burung yang ada di sana berhamburan terbang meninggalkan pulau.
"Nona, saya mohon!" ucap Clayton.
Elena menggeleng dan mengambil senjata yang berada di sana.
"Aku tidak ingin menjadi beban kalian lagi!" ucapnya mengambil beberapa peluru dan memeriksa keadaan senjata itu apakah siap pakai atau tidak.
"Nona!" Ucap Clayton memegang tanggan Elena.
"Clay! Mereka sudah dekat! hitung-hitung aku bisa membuktikan kepandaianku, hasil belajarku selama ini," ucap Elena dengan yakin.
"Anda baru saja bisa berjalan, Nona. Jangan sampai...,"
"Clay!" sanggah Elena.
Clayton melepaskan genggaman tangannya dan membiarkan Elena berbuat apapun yang diinginkan. Tak lupa pria tampan itu juga memasangkan rompi antri peluru ke tubuh Elena.
Sabuk khusus untuk meletakkan aminisi dan juga senjata cadangan. Elena yang siap degan menggunakan celana jeans yang tidak terlalu ketat, baju kaos hitam, tak lupa dengan rambut yang di cepol.
"Saya hanya butuh kepercayaan kamu, Clay!" ucap Elena mengangguk.
"Baiklah! Tapi Anda jangan berada jauh dari saya!" ucap Clayton.
"Mereka sudah mulai menyerang, Tuan! Ada sekitar kurang dari seratus orang turun dari kapal itu!" ucap Tegar.
"Bagaimana dengan tuan Ren?" tanya Clayton bersiap.
"Sudah berada tak jauh dari sini!" ucap Tegar.
"Ayo, Clay!" ucap Elena siap memakai earphonenya.
Mereka segera keluar dan melihat kondisi sekitar. Sebab Seratus orang penjaga tidak semuanya berada di depan pulau itu, sangat tidak mungkin jika mereka meninggalkan sisi lain pulau untuk membantu di sisi depan.
"Clay, itu mereka!" ucap Elena ketika melihat dua orang berjalan mendekat dengan penuh was-was.
"Nona, tembakan sudah terdengar. Berkemungkinan mereka sudah bersiap untuk menyerang, berjaga-jaga jika di pulau ini memang ada penghuninya atau tidak," ucap Clayton.
"Jika saya menembak mereka hingga mati, apa akan di penjara?" tanya Elena.
"Jika tidak ada yang tau, maka tidak akan di penjara, Nona!" ucap Clayton tersenyum tipis.
__ADS_1
"Kau ini!" ucap Elena mengendap di balik pohon besar.
Pitcu!
Pitcu!
Dua tembakan langsung membuat dua orang itu tewas di tempat. Elena terkejut, dan memukul bahu Clayton.
"Nona, kendalikan diri anda!" ucap Clayton tegas.
"Baiklah!" ucap Elena diam.
Mereka kembali berjalan dengan perlahan, melihat kondisi sekitar dengan sangat teliti.
Elena melihat beberapa orang mulai berjalan mendekat kearah mereka dengan sangat berhati-hati.
Dor!
Suara tembakan terdengar begitu keras. Mereka langsung berpencar dan menembak ke sembarangan arah memancing para pengawal Elena untuk keluar.
Dor!
Dor!
Baku hantam terjadi jelas di depan mata Elena.
Aku harus bisa. Jangan jadi beban mereka lagi. Setidaknya aku bisa mencoba untuk menyelamatkan diri jika ini kembali terjadi. Batinnya.
Elena mengambil senjatanya dan membidik beberapa orang tepat di kepala mereka.
Satu orang, dua orang, hingga tiga orang tumbang oleh Elena. Baku hantam terjadi, Elena dan Clayton menjadi sasaran tembakan mereka.
Para penyusup itu terdengar berlari mendekat. Namun teriakan demi teriakan ketika mereka tertembak terdengar sangan jelas.
Elena sesekali menoleh dan menembak satu persatu penyusup itu berhasil ia tumbangkan.
"Nona, sepertinya sudah aman, mereka tidak terlihat lagi!" ucap Clayton.
Elena berdiri dan tepat berada di belakangnya ada seorang laki-laki yang menodongkan pistol ke kepala Elena.
"Ternyata kalian di sini! Apa kau wanita yang di cari oleh tuan Justin?" Tanya laki-laki itu.
Clayton segera mengacungkan senjatanya. "Lepaskan, dia!" bentaknya.
"Tidak semudah itu! Kalian sudah membunuh banyak orang-orang saya! Berkorban satu orang sepertinya tidak masalah!" ucapnya.
Elena memberikan kode kepada Clayton untuk tetap tenang dan tidak melawan. Ia harus menunggu laki-laki itu lengah agar ia bisa melawan dan terbebas dan sandraannya.
"Saya tidak tau kalian ada berapa banyak di sini, sepertinya hanya ada beberapa orang saja!" ucapnya.
"Apa tujuan kau datang kesini?" tanya Elena.
"Mencari anda, Nona cantik!" ucapnya tertawa.
"Siapa yang menyuruh kalian?" tanya Elena.
"Itu anda tidak perlu tau, Nona! Saya hanya menjalankan tugas, sekarang ayo ikut saya, sebelum kepala anda saya penggal untuk mengganti upah pekerjaan kami!" ucapnya.
Elena tertawa. "Penggal saja sekarang! Kenapa malah mengobrol di sini?" tanya Elena.
__ADS_1
"Anda terlihat sangat menggairahkan, sangat sayang jika harus...,"
Bugh!
Krak!
Elena langsung berbalik dan menghajar laki-laki itu.
Dor!
Arrgghh!!
Pekik laki-laki itu ketika Clayton menembak betisnya dari jarak dekat. Elena yang berada dekat ikut terciprat darah dan membuatnya terkejut.
"Kau setan!" umpatnya kasar.
"Kau anjink besar yang tidak tau malu!" ucap Clayton menghajarnya dengan membabi buta.
"Biaadab! Bedebah!" ucap Clayton melepaskan semua emosi yang sudah ia pendam.
"Clay sudah!" ucap Elena menahan Clayton agar berhenti menghajar laki-laki itu.
"Sampai kapanpun kalian tidak akan hidup dengan tenang! ucapnya terbatuk-batuk sebelum tidak sadarkan diri.
Elena hanya terdiam, dan termenung. Clayton segera menariknya untuk kembali bersembunyi, karena ada beberapa orang lagi yang berjalan mendekat.
"Apa itu mereka, atau orang-orang yang di bawa oleh Kak Ren?" tanya Elena.
"Itu masih bagian dari mereka, Nona!" ucap Clayton. "Anda begitu hebat!" sambungnya.
"Jangan memujiku!" ucap Elena menepuk bahu Clayton.
"Sepertinya tuan Ren sudah berada di bibir pantai!" ucap Clayton. "Semuanya, keluar dan bereskan mereka!" ucapnya memberi perintah.
Clayton terkejut dan langsung memeluk Elena ketika sebuah boom melayang dengan sangat dekat dengan mereka.
"Nada tidak apa-apa, Nona?" tanya Clayton.
"Harusnya saya yang bertanya, apa kamu baik-baik saja?" ucap Elena memukul Clayton.
"Saya baik dan sehat!" ucap pria tampan itu tersenyum.
Dalam waktu sekejap mereka habis tanpa tersisa karena Ren yang datang membawa begitu banyak pasukan. Pria tampan itu mengetahui keberadaan Elena di balik pohon besar segera mengejarnya.
"Nona, apa anda baik-baik saja?" tanya Ren menatap Elena dengan wajah khawatir.
"Saya baik, sepertinya Clayton terluka karena terkena ledakan boom tadi!" ucap Elena menatap mata sayu pengawal pribadinya.
"Saya baik, Nona! Anda jangan khawatir!" ucap Clayton lirih namun ia berusaha untuk kuat.
Sebuah kayu menghantam punggungnya ketika boom tadi meledak.
"Lebih baik kita segera pergi dari sini!" ucap Ren.
Ia menggendong Elena untuk menaiki helikopter, sementara yang lain langsung menjemput para orang tua di dalam ruangan khusus.
Clayton di papah dan juga seorang pimpinan dari penyusup tadi juga ikut dibawa untuk di sandera dan diinterogasi, siapa yang sudah menyuruh mereka datang ke pulau itu dan menyebabkan kekacauan.
Dua helikopter terbang bersamaan. Ren menghubungi pihak rumah sakit untuk segera mempersiapkan ambulance di depan perusahaan, dimana helikopter akan di turunkan.
__ADS_1