
Rexy mengantar Elena pulang, sebab ada pekerjaan yang harus ia selesaikan di perusahaan. Ren tidak bisa mewakilkan begitu saja, sehingga ia harus turun tangan sendiri.
"Cepat pulang nanti, ya!" ucap Elena memakaikan dasi kepada Rexy.
"Iya, Sayang. Mungkin aku pulang agak sorean, kalau ada apa-apa segera telfon aku!" ucap Rexy mengecup bibir Elena sekilas.
"Iya, aku mau duduk di bawah saja, Bee. Biar gak susah nanti!" ucap Elena.
Rexy tersenyum dan mengangguk, ia segera menggendong Elena menuju ruang keluarga, dimana ayah dan bunda sedang berada di sana.
"Mau ke kantor, Nak?" tanya Khalia melihat Rexy yang sudah rapi.
"Iya, Bunda. Nanti sore aku usahakan pulang cepat," ucap Rexy mendudukkan Elena di atas sofa.
"Hati-hati nanti pulangnya!" ucap Khalia tersenyum.
Rexy bergegas pergi setelah berpamitan kepada calon mertuanya.
Elena merebahkan kepalanya di pangkuan Khalia dengan manja. "Bunda?" panggilnya.
"Iya, Sayang? Kamu butuh sesuatu?" tanya Khalia tersenyum.
Elena menggeleng. "Mommy Tiara ingin bertemu denganku besok, Bunda," ucap Elena.
"Tiara mantan mertua kamu?" tanya Khalia mengernyit.
"Mau apa dia, Nak?" tanya Vazo.
"Aku gak tau, Yah. Mungkin mau ngomongin masalah anaknya," ucap Elena cuek.
"Kamu setuju?" tanya Khalia.
"Iya, Bunda. Aku penasaran apa yang dikatakan sama Mommy. Walaupun sebenarnya aku tidak ingin berurusan dengan mereka lagi, tapi Mommy Tiara gak pernah jahat sama aku," ucap Elena.
Khalia hanya terdiam dan mengusap kepala Elena dengan lembut.
"Kamu benar, Sayang. Bagaimana pun juga, dia pernah begitu menyanyangimu seperti anak sendiri. Bunda hanya berpesan, jika Mommy Tiara memintamu untuk mencabut laporan atau bagaimana tentang putranya, jangan goyah. Kamu sudah sampai ke tahap ini untuk menuntut hakmu," ucap Khalia.
__ADS_1
"Bunda benar, Sayang. Jangan sampai goyah nanti, jika Tiara meminta kamu untuk melepaskan Justin. Bagaimana pun juga kesalahan seorang anak, orang tua pasti akan punya cara tersendiri untuk membuat dia jera dan juga membelanya," ucap Vazo.
"Tekadku sudah bulat, Ayah, Bunda. Siapapun yang meminta aku untuk membebaskan Justin aku tidak akan mau, walau bunda sekalipun. Aku hanya bisa memaafkan dia, tapi tidak untuk mencabut laporan!" ucap Elena tegas.
Khalia dan Vazo tersenyum. Anak gadisnya memang memiliki hati yang begitu lembut dan mudah memaafkan orang lain.
"Ada beberapa asetku atas nama Vania yang masih di pakai oleh Justin, tapi bukan milik laki-laki itu. Aku berencana mau mengambilnya, Bunda," ucap Elena.
"Aset apa, Sayang?" tanya Khalia.
"Rumah yang di tempati oleh Justin sekarang itu adalah mahar pernikahanku. Dan, di dalam rumah itu aku menyimpan bnyak perhiasan, ada emas 24 karag 15 batang masing-masingnya dua ratus gram, cincin berlian 5, satu set perhiasan berlian juga ada, safir, sama beberapa sertifikat tanah yang aku beli sepanjang komplek itu," ucap Elena mengingat asetnya yang ada di sana.
Glek!
Vazo dan Khalia kesulitan menelan air liurnya mendengar begitu banyak harta benda yang di miliki oleh Elena.
Satu tahun menikah, Elena mampu memanfaatkan harta yang dibelikan oleh Justin. Beberapa perhiasan merupakan hadiah pernikahan mereka.
"Pasti sudah di ambil, Sayang!" ucap Khalia.
Elena menggeleng. "Aku sudah menyimpannya di tempat yang aman, Bunda. Lumayan buat bangun rumah nanti untuk cucu bunda," ucap Elena terkekeh.
"Jangan terbebani masalah anak ya, Sayang. Sebab, jika kamu banyak stres, tertekan, justru itu yang membuat makin sulit untuk hamil," ucap Khalia tersenyum.
"El, hanya berserah diri saja, Bunda. Jika diberi kepercayaan, aku sangat bersyukur, tapi jika tidak masih banyak waktu untuk mencobanya, mana tau nanti bisa dapat. Asalkan Rexy, ayah dan bunda masih terus ada di samping aku," ucap Elena tersenyum.
"Itu pasti, selama bunda dan ayah masih hidup, kita akan terus sama-sama. Mengganti masa yang terlewatkan selama lima tahun ini," ucap Khalia tersenyum.
Vazo memilih untuk duduk di bawah dan merasakan pijatan lembut dari tangan Elena. Ia sudah lama tidak merasakan sapuan lembut dari tangan sang putri.
Mereka menghabiskan waktu bersama, bercerita banyak hal terutama bagaimana Elena bisa berganti wajah dan keajaiban yang didapatkannya.
🍃🍃
Rexy datang dengan raut wajah emosi menuju markas. Ia berbohong jika ada pekerjaan di kantor, tetapi ada sesuatu yang tidak beres mulai tercium oleh mereka.
Kini, Ren dan Clayton juga ikut berkumpul di sana. Mereka dengan wajah serius berdiskusi tentang sesuatu yang akan menambah masalah setelah ini.
__ADS_1
"Apa kamu tidak bisa menghubungi mereka?" tanya Rexy.
"Tidak, Tuan. Mereka menutup diri. Kini jalan satu-satunya kita datang kesana dan menghentikan pergerakan mereka sebelum semuanya kacau!" ucap Fauzi.
"Badjingan!" umpat Rexy dengan kasar.
Justin menyiapkan hal besar jika sewaktu dia tertangkap atas kasus ini. Ia menyewa beberapa kelompok mafia kelas atas untuk tuk menjemputnya di penjara nanti.
"Ternyata dia hanya menunggu waktu! Pantas saja dia begitu tenang tadi!" ucap Rexy dengan emosi.
"Tuan, lebih baik kita segera bergegas, sebelum terjadi sesuatu yang tidak di inginkan! Sebab, jika sudah keluar dari negara ini makan peraturan akan berubah! Atau dia akan menjadi buronan dunia," ucap Ren.
"Saya takut, jika mereka menyentuh Nona Elena, Tuan. Apa lagi dengan kondisi yang sedang tidak baik, Nona akan kesulitan untuk menyelamatkan diri," ucap Clayton.
"Kenapa mereka tiba-tiba saja tidak bisa di hubungi? Bukankah selama ini kita masih menjalin hubungan baik dengan mereka?" tanya Rexy.
"Saya rasa, ini dampak dari pemecatan dan proses akuisisi perusahaan Justin. Sebab, mereka mendapatkan asupan dana dari Justin dalam jumlah banyak setiap tahunnya!" ucap Ren.
Rexy terdiam. Ia tidak bisa menjangkau hal ini, sebab jika Justin sudah membayar mereka selama lima tahun, akan susah untuk berkhianat.
"Utus orang untuk menemui mereka! Aku tidak ingin ada masalah baru yang muncul lagi! Ini sudah H-5 Aku menikah, tolong urus semuanya Ren!" ucap Rexy kesal.
"Saya sudah mengirim orang ke sana dan menyampaikan maksud, tetapi mereka seolah enggan untuk menanggapinya," ucap Ren.
"Apa yang harus kita perbuat. Saya tidak mungkin meninggalkan Elena dengan keadaan seperti itu!" ucap Rexy.
"Biar saya yang pergi, Tuan!" ucap Clayton.
"Saya juga ikut!" ucap Fauzi.
Rexy terdiam, resiko untuk datang kesana sangat berat dan tidak mungkin ia membiarkan mereka untuk mengambilnya.
"Kita akan pergi ke sana, Bawa Elena dan keluargaku ke tempat yang aman, jika sewaktu mereka merencanakan hal yang buruk!" ucap Rexy.
"Tuan!" Seru Ren tidak setuju.
"Clayton kamu tinggal di sini, tolong jaga Elena. Fauzi kau ikut saya, Ren kau awasi sekitar dengan sangat teliti!" ucap Rexy.
__ADS_1
Tidak ada yang menyela jika Rexy sudah berkata tegas seperti itu. Mereka hanya terdiam dan menjalankan perintah dari pria tampan itu.
Rexy segera kembali pulang dan memberitahukan kepada Elena tentang rencana kerja keluar negeri selama tiga hari kedepan.