
Setelah menyelesaikan meeting itu, Rexy segera pergi menuju kantor. Ia melihat ada beberapa panggilan tak terjawab dan Elena dan juga laporan dari orang suruhannya.
"Bangkai Ayam?" tanya Rexy mengernyit ketika membaca laporan.
Ia terkejut setelah membaca laporan yang lain.
"Ren, apa laki-laki semalam sudah kamu dapatkan identitasnya?" Tanya Rexy.
"Sudah, Tuan. Dia hanya orang biasa yang memiliki harta cukup banyak bisa menyewa penjahat untuk membunuh Nona, Tuan," ucap Ren menjelaskan hasil temuannya.
"Kelompok seperti apa yang disewa untuk menyakiti wanitaku?" tanya Rexy mengernyit.
"Sepertinya saya mengenal pimpinan dari mereka, Tuan. Sebab tadi Clayton sudah mengirim laporan kepada saya," ucap Ren tersenyum tipis.
"Apa mereka bodoh?" Ucap Rexy mengernyit.
"Bisa jadi, Tuan. Mungkin hanya tuan Justin yang memiliki kekuatan untuk membunuh nona," ucap Ren.
Rexy memasang wajah datar, ia sangat tidak suka jika ada orang yang berusaha untuk mengganggu ketenangan hidupnya.
"Bereskan semua, Ren. Saya tidak ingin Elena terpikirkan tentang masalah ini, apa lagi dia melarang saya untuk pulang," ucap Rexy kesal.
Mana mungkin ia bisa berjauhan dengaan bidadari cantik itu. Bisa-bisa ia tidak akan tidur semalaman.
"Apa tuan tidak ingin mencoba kepandaian nona terlebih dahulu? Saya rasa ini waktu yang tepat," ucapRenn memberi ide.
"Harusnya memang seperti itu, tetapi saya kembali teringat degan trauma Elena yang belum sembuh. Saya tidak tega," ucap Rexy.
Ren hanya tersenyum melihat tingkah Rexy yang begitu tidak ingin melihat Elena tersakiti kembali.
Bukan hanya nona yang mengalami trauma, anda juga Tuan. Batin Ren.
Mobil terus bergerak menuju perusahaan Rexy. Pria tampan itu mengirimkan Elena pesan untuk jangan takut terhadap apapun dan menyerahkan semua masalah ini kepadanya.
"Bagaimana masalah Justin, Ren?" Tanya Rexy tanpa mengalihkan pandangan dari ponselnya
"Semua berkas sudah masuk, Tuan. Sepertinya pihak kepolisian akan mengumumkan hasilnya siang nanti. Itu berita terbaru yang saya Terima dari humas Polres," ucap Ren.
"Apa Justin melaporkan ulang perempuan itu?" tanya Rexy mengernyit.
"Sepertinya iya, Tuan. Dia juga mengajukan gugatan cerai dan menarik semua aset yang masih menjadi milik Nona Vania," ucap Ren.
"Milik Vania, maksudnya?" Tanya Rexy.
__ADS_1
"Setengah barang dan harta kekayaannya yang dimiliki oleh tuan Justin adalah milik dari Nona Vania, Tuan. Termasuk yang di gunakan oleh Nyonya Reema sekarang," ucap Ren.
Rexy mengeraskan rahangnya. Segitu cintakah Justin kepada calon istrinya. Kalau begitu, kenapa dulu ia membunuh Vania jika kini separuh hidupnya bergantung pada perempuan itu.
"Awasi semuanya, Ren! Biar saya yang menangani perusahaan," ucap Rexy.
"Baik, Tuan!" ucap Ren masih fokus menyetir mobil.
Hingga kendaraan besi beroda empat itu masuk ke basement perusahan dimana parkiran khusus CEO berada di sana.
"Tuan, saham diperusahaan kecil sudah saya alihkan atas nama Nona Elena," ucap Ren membuka pintu untuk Rexy.
"Iya. Persiapkan semua berkas semalam. Jika Justin resmi di tahan kita akan lebih mudah untuk mengakuisisi perusahaan itu," ucap Rexy ketika berada di dalam lift.
"Baik, Tuan. Saya hanya membutuhkan beberapa tanda tangan tuan saja. Selebihnya, sudah selesai dengan rapi," ucap Ren.
"Jika berhasil, 5 persen saham di perusahaan itu boleh kamu ambil, anggap saja bonus dariku," ucap Rexy memasuki ruangannya.
"Terima kasih banyak, Tuan," ucap Ren tersenyum.
"Lanjutkan pekerjaanmu!" ucap Rexy.
Ren berpamitan untuk kembali keruangannya. Rexy menatap sekumpulan berkas-berkas yang harus ia periksa dan ditandatangani.
Aku merindukan ayang. Batinnya.
Tak lama pintu di ketok oleh seseorang. Ia mengatakan jika ada tamu yang ingin bertemu dengannya.
Pria tampan itu langsung mematikan televisi dan menyuruh tamu itu masuk.
"Permisi, Tuan," ucap Justin.
"Oh, anda. Ada apa?" Tanya Rexy hanya melihat Justin sekilas saja dan kembali memeriksa berkas-berkas itu.
"Tuan, kenapa anda membela saya seperti tadi? Bukankah reputasi anda akan dipertaruhkan?" tanya Justin.
"Itu hak saya untuk percaya atau tidak," ucap Rexy terlihat tidak peduli.
"Terima kasih sudah mempercayai saya," ucap Justin.
"Tentu, karena kinerja kamu yang bagus diperusahaan, makanya saya mempertahankan kamu," ucap Rexy.
Hening, Justin tidak tau harus berkata apa lagi. Ia hanya melihat bagaimana Rexy bekerja dengan begitu fokus dan tidak menghiraukan keberadaannya.
__ADS_1
"Apa masih ada yang ingin anda katakan?" Tanya Rexy.
"Maaf sebelumnya, Tuan. Saya ingin bertanya, ada proposal pengajuan kerjasama dari VA Corporation. Itu orang tua dari mendiang istri pertama saya. Perusahaannya tengah mengalami kesulitan, berharap anda mau memberikan beliau sedikit bantuan," ucap Justin.
Rexy terdiam dan melihat kearah rivalnya itu dengan tatapan datar.
"VA Corporation? Anda masih menjalin hubungan baik dengan keluarga mendiang istri?" tanya Rexy tertarik.
Justin mengernyit melihat Rexy yang tertarik dengan pembicaraan kali ini. "Ya, saya masih menjalin hubungan baik dengan mereka," ucapnya.
"Lalu bagaimana dengan mertu anda yang sekarang sekarang? Kenapa kalian tidak akur dan malah saling menyerang?" Tanya Rexy tanpa mengalihkan pandangannya dari berkas itu.
"Anda pasti mengikuti pemberitaannya, Tuan. Jika tidak, mungkin anda akan percaya begitu dengan rumor yang beredar," ucap Justin.
Rexy terdiam dan tersenyum tipis tanpa menatap Justin. Ia sedikit tertarik dengan rival terbesarnya ini.
"Silahkan duduk, Tuan Justin," ucap Rexy beranjak dari kursinya dan berjalan menuju sofa.
Justin mengernyit bingung, namun ia segera duduk di sofa yang berseberangan dengan Rexy.
"Saya cukup tertarik dengan kasus yang anda alami saat ini," ucap Rexy mengeluarkan beberapa minuman kaleng dari kulkas kecil yang ada di sampingnya.
Justin masih terdiam menunggu apa yang akan dibicarakan oleh Rexy selanjutnya.
"Apa anda membutuhkan bantuan, semacam pengacara? Nanti saya carikan yang paling bagus untuk anda," ucap Rexy tersenyum tipis.
"Terima kasih banyak, Tuan. Tetapi saya sudah memiliki tim pengacara tersendiri untuk itu," ucap Justin bingung.
"Ah, saya sedikit tertarik dengan hubungan anda dengan orang tua mendiang istri pertama. Kenapa anda tidak membantunya?" tanya Rexy.
Justin terdiam menatap Rexy dengan penuh tanda tanya. Ia tidak bisa menebak apa yang dimaksud oleh laki-laki yang ada dihadapannya.
"Anda tau bagaimana kondisi perusahaan saya sekarang. Jika anda tidak membantu, mungkin saya sudah menjual semua aset untuk menutup kerugian yang entah datang dari mana. Jika perusahaan baik-baik saja, mungkin semampunya akan saya bantu," ucap Justin.
"Berbanding terbalik dengan mertua anda yang sekarang, ya!" Ucap Rexy.
"Jelas berbeda, Tuan. Tetapi, mengapa anda bisa mengatakan hal seperti itu?" tanya Justin semakin bingung.
"Mungkin jika saya menyetujui untuk melengserkan anda, Sekarang saya sudah bisa memegang penuh kendali atas perusahaan itu. Apa lagi kemarin Bapak Rendi menjual sahamnya dengan begitu rendah kepada saya," ucap Rexy.
Justin terkejut, namun ia sudah menduga jika hal ini akan terjadi.
"Jika saya ingin, dengan harga yang sangat menguntungkan anda bisa saja lengser tanpa bisa membantah apa yang saya ucapkan. Tetapi kinerja anda lebih sangat berarti dari pada saham 10 persen," ucap Rexy
__ADS_1
Justin terdiam, ia tidak tau apakah ini sebuah pujian atau bom atom yang sebenar lagi akan menghujam dirinya.
Aku sangat penasaran dengan reaksi kau ketika polisi datang menjemput dan wajah jelekmu itu terpampang jelas di layar televisi. Di saat itu aku bisa mengusai begitu banyak hal darimu. Tunggu saja waktunya tuan Justin. Batin Rexy sambil tersenyum tipis.