PELAKOR Ter-SAVAGE

PELAKOR Ter-SAVAGE
Reema vs Elena


__ADS_3

Makan malam yang konon katanya romantis berjalan dengan baik. Hingga Reema melihat jika Elena berjalan menuju toilet. Justin tidak menyadari hal tersebut, hal ini akan menjadi kesempatan untuk Reema agar bisa melabrak perempuan itu.


"Mas, Aku mau ke toilet sebentar!" Ucap Reema tersenyum.


"Ah, iya Hon! Jangan lama-lama!" Ucap Justin tersenyum.


Reema mengecup pipi Justin sebelum meninggalkan sang suami. Ia berjalan dengan anggun dengan membawa tas kesayangannya.


Ceklek!


Pintu kamar mandi terbuka, Elena terkejut namun juga tersenyum senang di dalam hati. Inilah momen yang sangat ia tunggu-tunggu sedari tadi.


Dua perempuan cantik itu sama-sama mencuci tangan dan sedikit merapikan make up. Menambah polesan bibir yang mulai memudar dan melihat hal apa saja yang kurang dari penampilan mereka.


"Bukankah kamu perempuan gatal yang mengecup pipi suami saya tempo hari?" Ucap Reema membuka pembicaraan.


Elena tersenyum tipis, ia menoleh kearah Reema dan menatap perempuan itu dari atas sampai kebawah.


"Hmm, apa anda istri dari tuan Justin Andrian?" Tanya Elena.


"Iya. Anda mengetahui nama suami saya, apa kalian bertemu tanpa sepengetahuan saya?" Tanya Reema berusaha tenang.


"Bagaimana bisa Anda melepas tuan Justin berkeliaran, Nyonya? Ada banyak perempuan yang akan merebutnya dari anda!" Ucap Elena.


"Salah satunya Anda, kan?" Tanya Reema sinis.


"Sayangnya iya. Bukan, lebih tepatnya Tuan Justin yang mulai tergila-gila dengan saya!" Ucap Elena mulai memanas-manasi.


Reema menggertakkan giginya. Ia sangat mudah terpancing mengenai masalah ini. Namun dengan sekuat tenaga ia menahan emosi yang akan meledak sewaktu-waktu.


"Owh, sepertinya selera suamiku sudah menurun. Dan... juga kampungan!" Ucap Reema tersenyum sinis.


"Sepertinya suami anda lebih jeli dan bisa melihat, mana berlian dan mana sampah," Ucap Elena dengan wajah datarnya.


Reema semakin terpancing, secara langsung Elena mengatakan jika ia hanya seonggok sampah yang berada di dekat Justin.


"Dan Justin adalah lalat yang baru saja menemukan sampah baru untuk dihinggapi!" Ucap Reema.


Elena tersenyum sinis. Baru kali ini ada orang yang mengakui dirinya sampah. Namun itu sangat bagus, karena ia bisa memancing emosi wanita itu hingga keluar.


"Ya, sayangnya lalat yang kamu maksud itu berkelana karena kekurangan belaian. Bagaimana tidak, ada yang mau memuaskanku dengan pusakanya yang besar dan gaya yang sangat menantang, aku hanya menerima dengan dada yang terbuka," Ucap Elena.

__ADS_1


Reema molotot mendengarkan ucapan Elena tanpa sensor. Kata-kata yang begitu mulus tanpa terbata, membuat Reema serasa ingin mencabik-cabik Justin dan wanita ini menjadi potongan kecil.


"Jika nanti kamu susah bosan dengan Mas Adi, buang saja. Biar saya yang menampungnya! Lumayan, bisa dipakai kapan pun! Apa lagi, Mas Adi yang...,"


"Tunggu, kau memanggil suamiku dengan sebutan apa?" potong Reema melotot.


"Mas Adi, apa ada yang salah?" Tanya Elena polos.


"Bisa-bisanya kau memberikan panggilan seperti itu kepada suami orang?" Ucap Reema sambil menggertakkan giginya.


"Tentu saja, Mas Adi juga suka degan panggilan dariku!" Ucap Elena semakin menjadi tanpa melihat ekspresi Reema yang sedah semakin murka.


"Kau, jalaang syalan!" Ucap Reema.


Tangannya melayang, hendak memukul Elena. Namun Wanita cantik itu segera menangkis dan menahan tangan Reema agar tidak melukainya.


"Ternyata seperti ini tingkah model Internasional yang terkenal anggun dan slay. Bermain kasar dan suka melabrak orang lain," Ucap Elena sambil tersenyum sinis.


Reema menarik tangannya dengan kasar. Genggam Elena cukup kuat dan meninggalkan bekas merah yang terlihat kontras di kulit putihnya.


"Jangan dekati suami saya, kalau kau tidak ingin terjadi sesuatu!" Ucap Reema mengancam Elena.


"Apa yang akan kau perbuat? Melenyapkanku, seperti kau melenyapkan Vania?" Ucap Elena.


Deg!


Reema melotot dengan wajah yang berangsur pucat.


"Apa kau terkejut, Nyonya? Mas Adi sendiri yang menceritakan kepada saya!" Ucap Elena semakin menjadi.


"Kau!" Reema menunjuk tepat di wajah Elena.


Berharap wanita cantik itu takut, namun salah. Elena semakin berani dan malah semakin mendekatkan tubuhnya kepada Reema. Hingga hils mereka saling bersentuhan satu sama lain


"Apa?" Ucap Elena menantang.


"Jangan pernah macam-macam denganku, atau nasib kau akan kubuat sama dengan Vania!" Ucap Reema tegas.


"Aah, aku takut. Siapapun tolong aku!" Ucap Elena mengolok Reema. Namun wajahnya seketika berubah. "Saya tunggu tindakan yang akan kau lakukan! Asal Justin bisa jatuh ke tanganku, apa pun itu akan saya hadapi!" sambungnya dengan wajah yang tidak kalah menakutkan.


Greb!

__ADS_1


Reema segera mencekik Elena dengan semua tenaga yang ia miliki. Wanita cantik itu terkejut, namun setelah itu ia tersenyum dan menatap Reema dengan santai. Walaupun nafasnya kini tercekat.


Reema termagu melihat senyuman Elena dan berhasil mengalihkan fokusnya. Elena segera memberikan bogeman mentah di pelipis Reema dan membuat wanita itu tersungkur.


"Hah, hah, hah," Elena mengambil nafas sebanyak-banyaknya, meredakan sesak karena genggang Reema yang cukup kuat.


Sementara istri Justin itu tersandar di wastafel sambil memegang pipinya. Tidak berdarah memang, tetapi berhasil membuat matanya sedikit buram.


Elena tersenyum sinis, menatap Reema yang masih menguasai dirinya. Ia akan menunggu reaksi Reema selanjutnya, karena akan berbahaya jika ia kembali menghajar wanita itu.


Mengingat ada CCTV yang sengaja ia pasang di sana, untuk berjaga-jaga jika ia terluka atau bagaimananya nanti.


"Kau ******! Jangan harap kau bisa merebut Justin dariku!" Ucap Reema yang sudah berangsur pulih.


"Apa pun yang saya inginkan, harus saya dapatkan! Bagaimanapun caranya!" Ucap Elena santai sambil memperhatikan kukunya.


"Haha, apa kau tidak takut jika Justin tau kau telah melukaiku?" Ucap Reema tertawa.


"Tidak, justru dia akan mempercayai apa yang saya katakan dibandingkan anda, Nyonya!" Ucap Elena.


"Percaya diri sekali anda!" Ucap Reema tidak percaya dengan ucapan Elena.


"Tentu, karena yang meminta Mas Adi untuk menyusul dan menceraikan anda adalah saya!" Ucap Elena sedikit berbohong.


Reema terdiam, Justin memang ingin menceraikannya asal ia bisa memberikan keturunan untuknya. Tetapi kata cerai tidak akan pernah terjadi, dan dia akan melakukan apapun untuk keutuhan rumah tangganya.


"Jangan mengada-ngada anda wahai jalaang yang tidak tau malu! Suami saya datang itu karena dia merindukankan saya, bukan untuk bercerai! Jika perceraian terjadi antara kami, sekarang saya tidak mungkin ada di sini, makan malam mewah berdua dan sangat mesra. Tentu kau menyaksikannya sedari tadi!" Ucap Reema berusaha untuk memanas-manasi Elena.


"Tentu saja itu tidak akan terjadi selama anda memberikan belahan dada dan kembang telang kepada dia!" Ucap Elena tertawa. "Saya juga bisa, bahkan keperawanan saya sudah dia ambil dengan begitu nikmat!" sambungnya.


Ah, konyol sekali percakapan ini. Tapi seru juga, aku bisa melihat seberapa bodohnya perempuan ini!. Batin Elena tergelak.


Reema tidak tahan lagi dengan semua perkataan Elena yang tidak di sensor sama sekali. Wanita cantik itu mengeluarkan kata-katanya secara gamblang dan membuat Reema merasa sedikit malu, karena apa yang dikatakan oleh Elena adalah suatu kebenaran.


"Kau lihat saja nanti! Yang penting saya sudah memperingatkan anda untuk menjauh dari suami saya!" Ucap Reema keluar dari toilet.


Elena terkekeh dan bergidik. Ia mengeluarkan hand sanitizer untuk membersihkan bekas tangan Reema yang menempel pada kulitnya.


"Cih dasar jala aeng teriak jalaang!" Ucap Elena menggeleng.


Ia mengambil kamera tersembunyi dan segera keluar dari toilet. Memberikan video itu kepada Clayton agar aman dan tidak dicuri oleh orang lain.

__ADS_1


__ADS_2