
"Syalan! Semua orang terbunuh begitu saja? Berapa banyak mereka ada di sana?" bentak seseorang laki-laki sembari memukul dingin ruangan.
"Sepertinya mereka cukup banyak, Tuan. Menurut informasi, Perempuan yang menjadi target juga ikut menembak beberapa orang yang berada di dekatnya. Selain itu, ketua kelompok juga berhasil mereka sandera!" ucap laki-laki yang membawa laporan itu.
"Sialan! Ternyata aku terlalu meremehkan wanita itu. Dia bisa menggunakan senjata dengan baik!" ucap Rendi mengeraskan rahangnya.
"Pantas saja mereka sangat ditakuti, Tuan. Jika kita membawa hampir seratus pasukan, mereka mampu menghabisinya dalam waktu sebentar dengan jumlah yang lebih sedikit," ucap laki-laki itu.
"Ini tidak bisa di biarkan! Kita harus mengatur strategi untuk melenyapkan mereka! Terbang ke Jepang dan hubungi Akiyama untuk membantu kita! Mereka pasti tidak akan mampu berhadapan dengan Yakuza!" ucap Rendi dengan amarah yang menggebu-gebu.
"Baik, Tuan!" ucap Laki-laki itu langsung melaksanakan apa yang di perintahkan oleh Rendi.
Jika bukan karena permintaan Reema untuk menghabisi wanita itu, aku tidak akan berbuat habis- habisan seperti ini. Sekarang Putriku sudah gila karena mereka, Justin dan wanita itu!. Batinnya
Ia menatap foto keluarga kecil yang tersenyum dengan bahagia. Kini tidak lagi senyum dan tawa bahagia dari mereka, hanya kepedihan dan kenangan yang tersisa di sepanjang tarikan nafas.
Aku akan menghancurkan mereka hingga tidak tersisa sedikitpun. Persetan jika harus ketahuan atau tertangkap, yang penting mereka hancur ditanganku!. batinnya.
🍃🍃
Keadaan mulai tenang, Clayton sudah bangun dari pingsannya, sehingga Elena bernafas lega ketika dokter mengatakan jika Clayton hanya mengalami cidera ringan dan akan sembuh dalam waktu dekat.
"Syukurlah kamu baik-baik saja, Clay!" ucap Elena menatap Clayton dengan raut wajah kawatir.
"Nona jangan cemas, nanti saya sudah sembuh dan boleh pulang!" Ucao Clayton tersenyum.
"Tidak! Jangan memaksakan diri lagi, sudah cukup semuanya, Clay. Kamu sudah berkorban begitu banyak untukku!" ucap Elena dengan mata yang berkaca-kaca.
"Saya senang bisa berbuat banyak untuk anda, Nona. Saya merasa begitu bangga dengan apa yang sudah anda lakukan selama ini," ucap Clayton tersenyum.
"Itu juga berkat kalian yang selalu memaksa dan menyemangatiku," ucap Elena tersenyum.
"Anda memang perempuan hebat yang penuh perjuangan. Tidak salah, jika saya menerima tawaran tuan Rexy untuk menjadi pengawal pribadi anda!" ucap Clayton tersenyum.
"Astaga, pria tampanku!" pekik Elena segera mencari ponselnya yang entah berada di mana.
Pesan semalam masih belum ia balas satupun. Dengan jantung yang berdetak kencang, Elena membalas pesan Rexy dengan segera. Tak lupa juga dengan kata-kata manis yang bisa membuat pria tampan itu merona.
Ceklis satu? Apa Rexy masih berada di atas pesawat?. Batinnya merasa cemas.
"Sayang, makan dulu!" ucap Khalia membawakan sarapan untuk mereka yang berada di dalam ruangan itu.
Elena mengangguk dan mengambil satu piring bubur untuk Clayton dan juga untuknya. Ia menyuapi sang asisten pribadi yang sudah melakukan banyak hal hingga saat ini.
"Jangan menolak?" ucap Elena garang.
"Baiklah!" ucap Clayton pasrah.
"Saya juga ingin, Nona!" ucap Ren.
Elena tersenyum, namun ia tidak menolak. Mumpung Rexy tidak ada, jadi sesekali menyupi mereka tidak ada salahnya. Hutang budi pun tidak akan terbayar hanya dengan menyuapi mereka seperti ini. Batinnya.
Hingga makan itu tandas, Elena kembali memeriksa ponselnya. Berharap ada pesan dari Rexy yang memberi kabar jika ia sudah tiba di Indonesia.
__ADS_1
"Kak Ren, apa sudah ada kabar dari Rexy?" Tanya Elena.
"Sudah, Nona. Terakhir, tuan Rexy sedang transit sebentar. Ia menanyakan bagaimana keadaan anda...," ucap Ren.
"Kenapa tidak memberitahu aku?" ucap Elena kesal.
"Maaf, Nona. Semalam saya ingin membangunkan anda, tapi di larang oleh tuan!" ucap Ren tersenyum tipis.
"Kakak menyebalkan!" ucap Elena kesal.
"Tuan Rexy menyampaikan sesuatu. Tuan Rexy mengatakan, 'Jangan nakal, atau kamu tidak akan aku beri ampun!'," ucap Ren.
Elena mengernyit dengan wajah yang merona, karena ia paham maksud dari ucap Rexy.
Kamu kenapa sih, Bee. Dalam kondisi seperti ini masih saja berpikir untuk menaklukkan aku. Coba saja kalau bisa!. Batin Elena
"Bagaimana dengan persiapan pernikahanku, Kak?" tanya Elena.
"Semuanya aman terkendali, Nona. Mereka sudah selesai mengerjakannya, kita hanya tinggal memakai Vila dan melangsungkan pernikahan!" ucap Ren tersenyum tipis.
"Ah, syukurlah!" ucap Elena bernapas lega.
Ia hanya menunggu kepulangan Rexy, menikah dan berbulan madu. Aku kan menghabiskan banyak waktu hanya berduaan dengannya. Ah, melepas penat dan juga semua masalah yang sedang terjadi!. Batin Elena tersenyum senang.
Tak lama Ren berpamitan ketika mendapat perintah dari Rexy untuk menjalankan misi selanjutnya.
Elena tidak merasa curiga sama sekali, ia memilih beristirahat sembari memeluk Khalia yang sudah terlelap di atas brankar.
🍃🍃
"Apa yang harus kita lakukan, Tuan?" tanya Ren.
"Tidak ada, kita hanya memastikan jika tidak ada bahaya yang akan menghantui lagi! Selebihnya, akan aku serahkan kepada Koji Nakata, pimpinan tertinggi Yakuza," ucap Rexy.
"Baik, Tuan! Saya bisa bernafas lega, karena semuanya baik-baik saja. Walaupun ada beberapa pengawal yang terluka tetapi sudah mendapatkan penanganan dengan baik," ucap Ren.
"Baiklah, atur semuanya, Ren. Bagaimana dengan Clayton?" tanya Rexy.
"Dia sudah lebih baik, Tuan. Nona terlihat begitu khawatir, bahkan Nona juga menyuapinya ketika makan," ucap Ren memanasi Rexy.
"Ah, tidak masalah. Mereka memang saling menyayangi satu sama lain!" ucap Rexy.
Ren terkekeh, Rexy tidak pernah cemburu kepada asisten pribadi calon istrinya itu.
"Semoga anda selamat sampai ke tujuan, Tuan. Nona sudah begitu merindukan anda, bahkan foto anda sampai di kecup-kecup dan mengatakan, 'Bee, aku merindukan mu!'," Ucap Ren menahan tawanya.
"Ah, kau jangan mengada-ngada!" Ucap Rexy salah tingkah dan langsung mematikan sambungan itu.
Wajah Ren kembali dingin, ketika mengingat sesuatu yang harus ia kerjakan untuk membereksan satu persatu musuhnya.
Tamatlah riwayat kalian para pecundang!. Batinnya.
🍃🍃
__ADS_1
Kenzo tertawa menatap Justin yang tengah menatapnya dengan tajam.
"Ck, bodoh!" ucap Kenzo.
Justin hanya terdiam tanpa meladeni cemoohan yang keluar dari mulut bocah kecil itu.
"Om, sangat bodoh! Masa melawan anak kecil saja tidak mampu! Dasar lemah!" ucapnya terkekeh.
"Makanya jadi orang jangan jahat! Mampus kan Lo!" sambungnya masih tertawa.
Justin belum di masukkan kedalam ruang isolasi, namun kini berada dalam ruangan interogasi sebab ada yang akan di tanyakan oleh Kenzo.
Pria kecil yang masih berusia 17 tahun inilah yang mengumpulkan semua bukti kejahatan Justin tanpa tersisa satu pun.
"Tante Elena, Ah sekarang cantik banget. Walaupun wajah aslinya jauh lebih cantik, tapi sekarang juga masih tetap cantik. Om Rexy sangat beruntung mendapatkan wanita sebaik dia," ucap Kenzo dengan wajah bahagia.
"Akun tidak sabar jika mereka menikah dua hari lagi, berbulan madu dan melahirkan banyak adik kecil untukku," sambungnya berhasil memancing amarah Justin.
"Apa kau tidak bisa menutup mulut?" bentuknya dengan wajah yang sangat merah.
Apa? Menikah dua hari lagi? Jadi selama ini mereka membohongiku?. Batin Justin terkejut.
"Eh, kok ngamuk?" ucap Kenzo pura-pura terkejut. Namun wajahnya berubah dingin dan terlihat sangat tegas.
"Elena sudah memiliki saham 50 persen di perusahaan. Apa anda tidak ingin memberikan perusahaan itu kepadanya?" tanya Kenzo.
Juara terkejut, ia tidak menyangka jika bocah ini akan bertanya tentang masalah saham.
"Katanya cinta dan sayang, di tanya tentang ini saja sudah tergugu!" ucap Kenzo
Justin masih terdiam tanpa menanggapi perkataan pria kecil itu.
"Ah, ternyata hanya Om Rexy yang benar-benar mencintai tante. Bukan cuma hati, cinta dan pengorbanan yang diberikan. Semua aset bahkan perusahaan sudah menjadi milik tante. Apa Anda tidak tidak mau membuktikan rasa cinta kepada tante saya?" tanya Kenzo dengan tengil.
Justin serasa ingin menjahit mulut anak kecil yang berbicara semaunya ini.
"Ah, om lemah! Pantas saja...," ucap Kenzo
"Diam kau!" bentak Justin membuat Kenzo terkejut.
"Kau, kau sudah membuatku terkejut! Awas ya, nanti akan aku panggilkan tante ke sini!" ucapnya garang
"Petugas! usir anak kecil ini, kepala saya serasa mau pecah mendengar ocehannya!" ucap Justin berteriak, berharap ada petugas yang mendengar.
"Tidak bisa, karena saya akan menjadi saksi kunci atas kejahatan yang anda lakukan!" ucap Kenzo tersenyum smirk.
Justin berusaha untuk mengendalikan diri dengan sangat, agar tidak terpancing dan membuat lebih banyak kesalahan
"Minimal seumur hiduplah ya, atau hukuman mati? Ah, sayangnya tante tidak ingin anda di hukum mati. Apa tante menyayangi anda? Bisa jadi, sih!" ucap Kenzo.
"Bagaimana keadaan Elena?" tanya Justin tertarik.
"Satu pertanyaan satu cek! Atau semua pertanyaan Anda akan saya jawab setelah menandatangani berkas ini!" ucap Kenzo tersenyum.
__ADS_1
Justin membaca berkas itu dan terkejut dengan judul yang ada di sana.
Surat Pengalihan Nama dan Kepemilikan Perusahaan.