
Dengan nafas lega, mereka segera kembali pulang untuk beristirahat. Elena tersenyum manis sambil menggandeng tangan Rexy. Ia membalas semua sapaan orang dengan ramah.
Berbeda dengan Rexy, wajah dingin dan datarnya masih terpampang tanpa ekpresi. Ia hanya menggeleng ketika melihat respon Elena yang meladeni semua orang.
Hingga mereka masuk ke dalam mobil, Rexy mulai tersenyum dan menatap Elena yang tengah bahagia.
"Bagaimana, Sayang?" tanya Rexy tersenyum.
"Semuanya telah selesai, Bee. Mereka sudah mendapatkan balasan yang setimpal," ucap Elena tersenyum lega.
"Kita sudah bisa tenang sekarang. Ah, kita bisa fokus untuk rencana masa depan dan menyiapkan diri untuk proses bayi tabung," ucap Rexy tersenyum.
"Ah, aku tidak sabar menunggu tahun depan. Semoga saja berhasil, dan kita bisa memiliki bayi kecil yang akan menjadi pelengkap keluarga kita nanti," ucap Elena dengan mata yang berkaca-kaca.
"Aku juga, Sayang!" ucap Rexy memeluk Elena dan mengecup kepala wanita cantik itu.
"Maaf, Tuan dan Nyonya. Sepertinya saya harus menyampaikan sesuatu yang akan membuat istirahat anda, di undur," ucap Clayton.
Elena dan Rexy mengernyit. "Apa, Clay?" tanya wanita cantik itu.
"Saya baru saja mendapat panggilan dari rumah sakit jiwa dimana Nyonya Reema tengah di rawat," ucap Clayton.
"Apa beritanya?" tanya Elena tidak sabar.
"Nyonya Reema, sudah satu minggu ini mengalami demam tinggi. Terakhir, ia sudah di larikan ke rumah sakit dengan kondisi tidak sadarkan diri. Baru saja saya mendapatkan kabar, jika Nyonya Reema sudah menghembuskan nafas terakhirnya," ucap Clayton.
Elena dan Rexy terkejut mendengar informasi yang di sampaikan oleh Clayton.
Mereka ingin merasa senang, namun sangat tidak manusiawi jika harus berbahagia di atas penderitaan orang.
"Aku tidak tau, apakah harus senang atau sedih," ucap Elena lirih.
"Biarkan saja. Lebih baik kita pulang sekarang," ucap Rexy dengan wajah datarnya tidak mau memberi komentar.
Clayton mengangguk, ia segera menambah laju mobil menuju rumah mewah Rexy, disana telah berkumpul semua keluarga yang sudah lebih dulu pulang di bandingkan mereka.
Elena hanya terdiam, ia tidak menyangka jika Reema akan pergi secepat ini menyusul kedua orang tuanya. Walaupun dia adalah dalang di balik semua biang masalah, namun bagaimanapun juga dia seorang manusia yang berhak mendapatkan kebahagiaan.
Tak lama mobil berhenti di halaman rumah mewah Rexy. Mereka segera turun dan masuk ke dalam rumah sembil bergandengan dengan mesra.
"Apa kalian sudah mendengar kabar tentang wanita itu?" tanya Angelin langsung mencerca mereka.
"Sudah, Bunda," ucap Elena lirih.
"Bukankah ini terlalu mendadak?" tanya Angelin menatap curiga ke arah Rexy.
__ADS_1
"Clayton bilang, ini tidak mendadak, Bunda. Dia sakit sudah satu minggu," ucap Elena.
"Ah, malang sekali nasibnya. Hidup dalam niatan dan jalan yang buruk hanya membawa petaka saja bagi mereka," ucap Khalia lirih.
Siang itu, mereka hanya berbincang ringan sembari mengamati berita yang tengah berseliweran melalui televisi.
Hingga Rexy mengajak Elena untuk beristirahat, sebab tubuhnya sudah terasa lelah karena belum sempat untuk berbaring sebentar saja.
Elena mengangguk dan berpamitan kepada semua orang. Mereka segera pergi menuju kamar utama.
Wajah Rexy sudah terlihat lelah, mengurus semua hal agar tetap berjalan dengan semestinya.
"Mau aku pijat, Bee? Kamu terlihat sangat lelah," ucap Elena memeluk Rexy dari belakang.
"Hmm, apa kamu tidak lelah, Yang?" tanya Rexy berbalik dan tersenyum.
"Tidak," ucap Elena.
Mereka saling tersenyum gemas satu sama lain. Rexy mengecup bibir Elena dengan lembut dan sedikit menuntut.
Ia menahan kepala wanita cantik itu untuk memperdalam kecupannya.
"Ayo bermain sebentar!" ucap Rexy tersenyum dan mengusap bibir basah Elena.
Wanita cantik itu tersenyum dan mengangguk. Ia mengikuti langkah Rexy yang tengah menuntunnya menuju ranjang panas, yang menjadi saksi dimana malam pertama sudah mereka cicil sebelum hari pernikahan.
"Aku tidak pernah membayangkan, hari ini akan terjadi, Sayang!" ucap Rexy tersenyum.
"Apalagi aku, Bee. Aku begitu beruntung bisa memiliki kamu," ucap Elena dengan mata yang berkaca-kaca.
Rexy tersenyum dan kembali mengecup bibir Elena dengan panas. Ia merasa begitu bergairaah, ketika tangan lentik itu mulai menjelajahi tubuh kekarnya.
"Shh, Bee!" Desis Elena ketika pria tampan itu mulai menyentuh gundukan kenyal miliknya.
Rexy tanpa rasa sabar, melahap gunung kembar itu secara bergantian. Seolah tidak merasa puas, ia melakukan itu berulang kali setiap hari dan sepanjang malam.
"Sayaanghhh," lenguh Elena dengan dada yang membusung.
Pria tampan itu sangat pandai membuatnya hanyut dalam hasraat yang menggebu-gebu.
Elena tidak mau kalah, ia menyentuh titik sensitif Rexy lebih jauh dengan begitu lembut. Ia sudah menghafal, bagian tubuh mana yang bisa membuat pria tampan ini terangsang lebih jauh.
Foreplay yang begitu indah dan juga penuh hasraat, membuat mereka tidak sabar untuk saling memasuki.
Rexy mengambil ancang-ancang, setelah melepaskan semua penghalang ditubuh mereka.
__ADS_1
Pisang laras panjang yang sudah siap tempur itu terlihat gagah dan membuat Elena selalu terpana tanpa berkedip.
Rexy mulai memasukkan pisang laras panjangnya kedalam lembah kenikmatan milik sang istri. Mereka memejamkan mata ketika merasakan sensasi yang luar biasa mulai menjalar ke seluruh tubuh.
Rexy mulai menggerakkan pinggulnya maju mundur cantik dengan irama yang tidak teratur.
Suara desaahan mereka mulai terdengar, memenuhi seisi kamar yang kedap suara itu.
Seolah tanpa henti, mereka terus berpacu dalam kenikmatan yang membuat keringat membasahi tubuh polos masing-masingnya.
Hingga suara lenguhan terdengar keras ketika Rexy menumpahkan benih premiumnya di dalam rahim Elena. Di iringi pelepasan yang sudah tidak terhitung lagi dari wanita cantik itu.
Rexy merebahkan tubuhnya dengan masih menindih Elena. Nafas mereka masih menderu dengan perasaan lega yang diiringi rasa nikmat.
"Sudah, Bee? apa mau lagi?" tanya Elena sambil mengelus kepala pria tampan itu.
"Sudah dulu, aku ingin beristirahat sebentar," ucap Rexy mengubah posisi tidurnya.
Ia memeluk Elena dengan mata terpejam. Mencari posisi ternyaman di sela-sela dua gundukan besar yang menjadi tempat favoritnya.
"Mau aku masakin apa?" tanya Elena sambil mengecup kening prria tampannya.
"Apa aja, Sayang. Yang penting kamu yang masak, mau telor ceplok aja akan aku makan," ucap Rexy tersenyum.
Elena terkekeh, ia masih mengusap kepala dan punggung Rexy dengan begitu lembut.
Semuanya sudah berakhir, bukan? Ini adalah harapan yang aku inginkan. Mereka lenyap tanpa diketahui siapa yang telah menjadi dalang dari semua ini. Batin Elena.
Ia menatap wajah tenang Rexy yang sudah terlelap. Pria tampan yang selalu ada untuknya, memberikan hal terbaik dan bahkan mempertaruhkan nyawa agar iya bisa bertahan hidup hingga sekarang.
Sepertinya ini akhir dari perjuanganku. Kemenangan sudah kami genggam. Kini aku bisa hidup dengan tenang dan juga bahagia bersama dengan keluarga. Batinnya ikut terlelap dan memejamkan mata.
...**** T A M A T ****...
...Padang, 24 November 2022...
Akhirnya tamat☺☺☺
Terima kasih untuk semua pembaca yang masih bertahan hingga bab terakhir 🥺
Terima kasih banyak karena sudah sabar menunggu Elena berhasil menyelesaikan misinya🥺
Terima kasih untuk semua dukungan yang sudah teman-teman berikan, like, komentar, gift, vote, iklan dan lainnya.
Hanya Tuhan yang bisa membalas semua kebaikan teman-teman semua. Terima kasih ☺☺
__ADS_1
Salam sayang
Author bucin 😚