
Sementara di dalam penjara Justin terkejut ketika mendapatkan kabar jika sidang perdana akan di gelar dengan begitu cepat.
Syalan! Mereka memang sudah merencanakan ini dengan baik. Apa kejaksaan tidak memeriksa semua berkas yang di ajukan?. Mafia anying! sampai sekarang mereka belum juga datang menjemputku!. Batin Justin dengan amarah yang sudah menguasai dirinya.
Seorang petugas datang dan membuka pintu sel yang di huni oleh Rexy.
"Saudara Justin, silahkan ikut kami. Tim pengacara anda sudah datang," ucap Petugas kepolisian
Justin mengangguk. Ia hanya pasrah ketika tangannya kembali di borgol dan dikawal menuju ruangan khusus.
"Apa anda sudah mendapatkan berita kapan sidang anda akan di gelar?" tanya petugas.
"Besok!" ucap Justin datar.
Petugas mengangguk, mereka terus berjalan hingga Justin melewati televisi dan melihat berita tentang pernikahan Elena dan Rexy yang akan berlangsung tepat di hari ia akan menjalani persidangan.
Hatinya terasa di cabik-cabik, sakit tapi tak berdarah. Dadanya terasa sesak dan emosi yang bercampur aduk.
"Ayo jalan! Malah berhenti di sini," ucap petugas menarik Justin untuk kembali berjalan.
Hingga pria tampan itu masuk ke dalam sebuah ruangan yang sudah ada sepuluh orang pengacara ternama untuk membantu meringankan hukumannya.
"Mom?" sapa Justin ketika melihat sang ibunda juga berada di sana.
"Mommy langsung kembali ke sini ketika mendengar berita itu," ucap Tiara berkaca-kaca.
Justin mengangguk, ia melupakan sejenak masalah Elena dan berfokus pada kasus yang tengah menjeratnya kali ini.
Mereka berdiskusi, mencari jalan tengah agar hukuman Justin bisa di ringankan, walaupun mustahil untuk membebaskan pria tampan itu.
🍃🍃
Kini Elena dan Rexy berada di sebuah taman yang begitu luas, pemandangan yang indah dan angin bertiup yang begitu menyejukkan.
Masih ada sedikit waktu untuk melakukan foto prewedding. Elena terkekeh geli ketika Rexy merengek untuk mengajaknya pergi.
"Satu, dua, tiga!" ucap kameramen mengambil foto mereka.
Berbagai macam pose sudah diperagakan. Elena tak habis pikir melihat Rexy yang begitu antusias.
"Sepertinya cukup, Tuan," ucap kameramen dengan wajah berbinar.
__ADS_1
Elena tersenyum mengangguk, ia berdiri sambil membentangkan tangannya. Menghirup udara segar sebanyak-banyaknya. Ia akan merasa sangat sehat jika bisa tinggal di sini.
Rexy datang dan memeluknya dari belakang. "Apa kamu suka?" tanya pria tampan itu.
"Iya, aku suka. Sejuk dan segar!" ucap Elena tersenyum.
"Nanti akan aku buat rumah, atau villa di sini," ucap Rexy tersenyum.
"Ide yang bagus, aku serasa ingin tinggal di sini, Bee!" ucap Elena.
"Untuk weekend, boleh-boleh saja, Sayang. Tapi kalau untuk setiap hari, itu tidak mungkin. Mengingat kantorku berada cukup jauh dari sini," ucap Rexy.
Elena tersenyum, dan menggenggam tangan Justin yang berada di perutnya.
"Aku merasa tidak ingin pulang, Bee. Bolehkah kita berada di sini sebentar lagi?" tanya Elena penuh harap.
"Tentu. Jika kamu mau, kita akan pulang setelah matahari tenggelam," ucap Rexy tersenyum.
"Aku banyak maunya ya, Bee. Ada saja yang aku inginkan, dan kamu tidak pernah menolaknya," ucap Elena tersenyum.
"Apapun untuk kamu, Sayang. Karena siapa lagi yang bisa membahagiakanmu selain aku?" ucap Rexy sombong.
"Ah, aku marasa sangat beruntung bisa bersamamu, Bee. Andai dulu aku masih menolak, mungkin hari ini tidak akan pernah terjadi," ucap Elena lirih.
Tanpa di sadari oleh Elena, beberapa orang tengah bekerja menyusun sedikit dekorasi untuk memberikan wanita cantik itu sedikit surprise.
Rexy mendapatkan kode jika semuanya sudah selesai. Pria tampan itu berdehem dan mengibaskan tangannya untuk mengusir mereka semua.
Ia melepas pelukannya dan memutar tubuh Elena dengan perlahan. Wanita cantik itu terkejut ketika melihat dekorasi sederhana namun begitu indah.
Bunga mawar yang ditabur berbentuk love membuat senyumnya mengembang dengan sempurna.
Rexy menggandeng sang pujaan hati berjalan dengan perlahan menuju taburan bunga mawar itu.
"Sayang, besok adalah hari pernikahan kita, ada satu ritual yang hampir saja aku lewatkan," ucap Rexy tersenyum.
Ia segera berlutut di hadapan Elena dengan masih tersenyum bahagia.
"Aku tidak bisa merangkai kata-kata. Tapi, Sayang, will you merry me?" ucap pria tampan itu sembari menyodorkan cincin berlian yang terlibat begitu indah.
Elena tersenyum senang dengan mata yang berkaca-kaca. Ia menatap wajah Rexy yang begitu tampan ketika tersenyum.
__ADS_1
"Ah, aku terharu. Tapi bagaimana ya, soalnya hatiku sudah di miliki," ucap Elena menahan tawanya.
Rexy membulatkan mata mendengar jawaban Elena. Ini hanya prank, lebih baik aku ikuti sajaa permainannya. Batin pria tampan itu.
"Apa aku terlambat? Siapa laki-laki tampan yang beruntung itu? Pasti dia orang yang begitu baik hati, dan tidak sombong. Makanya kamu memilih dia," ucap Rexy.
"Tidak. Dia bahkan lebih hebat dari itu. Pria tampan bucin yang sudah sangat tidak sabar untuk menikahiku," ucap Elena tertawa.
"Bolehkah aku tau siapa dia? Agar aku bisa mengalahkannya dan merebutmu," ucap Rexy.
"Hahaha," Elena tertawa dengan mata yang berkaca-kaca.
Rexy berdiri dan menggenggam tangan wanita cantik itu. "Will you?" tanya pria tampan itu.
"YES BABEE!" Teriak Elena sambil tertawa lepas. "Ya, aku mau jadi istrimu!" Ucapnya melingkarkan tangan di leher Rexy.
Pria tampan itu terkejut, namun tawa bahagianya tidak bisa di sembunyikan lagi. Ia memeluk pinggang Elena dengan erat.
"You'll be mine!" ucap Rexy menyatukan kening mereka.
Elena hanya tertawa menatap gemas wajah Rexy yang merona. "I love you," ucapnya.
"Love you too, Sayang!" teriak Rexy langsung mengecup bibir Elena dengan lembut.
Dibawah temaran senja, mereka mencurahkan rasa bahagia satu sama lain. Di saksikan oleh beberapa orang yang begitu beruntung bisa melihat adengan romatis yang sangat langka itu.
"Sisakan untuk besok, Bee!" ucap Elena tersenyum setelah pagutan mereka terlepas. Ia mengusap bibir basah Rexy dengan lembut.
"Besok aku tidak akan berhenti, Sayang. aku akan menerkamu hingga kelelahan!" ucap Rexy.
"Ayo kita taruhan, siapa yang akan kalah!" ucap Elena tertawa.
"Aku pastikan kamu akan kalah!" ucap Rexy mencubit hidung Elena.
Ia melepaskan pelukannya dan menyematkan cincin berlian itu di jari manis Elena.
Wanita cantik itu tidak bisa menahan harunya lagi. Air mata itu lolos begitu saja tanpa bisa ia cegah.
"Akhirnya ada yang melamarku," ucap Elena tersenyum sambil menahan tangisnya.
Rexy tersenyum " Akhirnya ada juga perempuan yang aku lamar!" ucapnya.
__ADS_1
Mereka terkekeh dan kembali berpelukan. Semua beban yang selama ini selalu mengikuti, terasa lepas dan lega.
Tuhan, jika boleh aku meminta. Aku hanya ingin hidup bahagia bersama pria tampan ini, membalas semua pengorbanan yang sudah ia lakukan, memberikan yang terbaik untuknya. Jika engkau berkenan, izinkan kami memiliki keturunan untuk melengkapi rasa bahagia ini. Batin Elena dengan air mata yang menetes.