
"Sebentar lagi kalian akan menikah. Sekarang El ikut ayah pulang, ya!" ucap Vazo menatap Elena.
Wajah Rexy langsung berubah masam ketika mendengar ucapan Vazo.
"Ayah, El biar tidur di sini saja, ya!" ucap Rexy.
Vazo dan Khalia mengernyit melihat tingkah manja laki-laki yang terkenal sadis itu.
"Jangan heran, Besan. Rexy gak bisa tidur kalau tidak memeluk Elena," ucap Angelin menahan senyumnya.
"Apa kalian tidur berama?" tanya Vazo dengan mata yang melotot.
Rexy dan Elena tersentak mendengar suara tegas Vazo.
"I-iya, Ayah!" ucap Elena menunduk.
"Pantas saja kalian ngotot untuk nikah dalam waktu dekat!" ucap Vazo ketus.
"Ayah jangan marah, ya," ucap Elena mengelus tangan Vazo yang mulai keriput itu.
"Ah, pokoknya malam ini El pulang sama Ayah dan bunda ya, kita pulang ke rumah. Kalau Rexy mau ikut boleh, tapi kalian tidur terpisah!" ucap Vazo tegas.
Rexy memasang wajah memelasnya. Dimana pun mereka berada, asal Rexy masih bisa memeluk Elena tidak masalah. Namun kali ini mereka sudah tidak bisa tidur satu kamar lagi. Ini terasa seperti bencana besar dalam hidup Rexy.
"Mau atau tidak? Kalau tidak, besok saja kalian bertemu lagi!" ucap Vazo tegas.
"Mau, Yah. Aku ikut saja," ucap Rexy pasrah.
Vazo tersenyum tipis melihat tingkah Rexy. Jelas terlihat natural tanpa dibuat-buat seperti Justin.
Ia hanya bisa menghela nafas ketika mengetahui jika Justin yang menjadi biang keladi atas pembunuhan putri semata wayangnya.
Malam itu, mereka berbincang banyak hal, mulai dari
bagaimana Elena berjuang untuk sembuh hingga rencana penangkapan Justin dalam waktu dekat.
Hingga malam semakin larut, Vazo berpamitan untuk pulang terlebih dahulu bersama dengan sang istri, Elena dan Rexy.
Dibatas mobil, Khalia masih menggenggam tangan Elena dengan perasaan yang begitu bahagia. Ia merasa sangat sehat dan semua penyakitnya seakan sembuh begitu saja.
"El dengar bunda sering sakit," ucap Elena sendu sambil menggenggam tangan sang ibunda.
"Bunda sudah merasa sembuh, Nak. Bunda merasa lega, karena mulai sekarang tidak ada lagi yang akan mengatakan bunda gila. Kamu sudah ada di sini dan kita kembali bersama," ucap Khalia dengan mata yang berkaca-kaca.
"Bunda, Sekarang El sudah di sini. Bunda jangan sedih lagi, Ya. Bunda cukup fokus untuk sembuh. Apa Bunda tidak mau menggendong cucu nanti?" ucap Elena tersenyum.
Semua orang terkejut dan salah tanggap dengan perkataan Elena. Vazo dan Khalia terkejut, sementara Rexy tersenyum senang dengan wajah yang merona.
__ADS_1
"Kamu hamil?" sentak Vazo.
"Eh, belum ayah!" ucap Elena menggeleng cepat.
"Terus, tadi kenapa kamu bilang sebentar lagi akan punya cucu?" tanya Vazo mengernyit.
"Ayah, Minggu depan aku akan menikah. Ya, tunggu hamil dulu, Kan tadi bilangnya mau menimang cucu," ucap Elena menepuk jidatnya.
Sementara Rexy terdiam dengan wajah yang murung. Sungguh ia sangat menginginkan seorang anak dari Elena.
"Kamu bikin orang jantungan, Sayang!" ucap Vazo menggeleng.
Elena hanya tersenyum geli melihat reaksi semua orang. Hingga mobil berhenti di halaman rumah mewah, namun tidak terlalu besar.
Elena tersenyum melihat rumah yang menjadi saksi betapa ia hidup dengan bahagia sebelum perjodohan itu terlaksana.
"Masih sama seperti dulu," ucap Elena tersenyum.
"Ya, ada beberapa yang sudah ayah renovasi, Sayang. Kecuali kamar kamu, yang dari dulu sampai sekarang masih sama," ucap Vazo mengusap kepala Elena.
"Ayo kita masuk, Yah!" Elena mengajak semua orang untuk masuk.
Nuansa rumah yang terasa asri dengan aroma khas yang begitu dirindukan.
"Selamat datang kembali, Sayang!" ucap Khalia tersenyum dan membentangkan tangannya.
"Terima kasih, Bunda!" ucap Elena tersenyum dan memeluk sang ibunda.
Beruntung sebelum pulang, Vazo sudah mengerahkan beberapa orang untuk membersihkan kamar Elena dan satu kamar tamu untuk Rexy.
"Sekarang lebih baik kita beristirahat, besok saja kita mengobrol lagi," ucap Vazo tersenyum sambil membelai rambut Elena.
"Baiklah, selamat tidur Ayah, Bunda," ucap Elena tersenyum dan mengecup pipi mereka bergantian.
"Selamat tidur juga, Sayang!" ucap Vazo tersenyum.
Sementara Rexy hanya terdiam menatap keluarga kecil itu. Ia tidak ingin tidur di kamar tamu dan terpisah dari Elena.
"Kau!" panggil Vazo. "Kalau di kantor kau memang pengusaha hebat, tapi di rumah saya atasan! Jangan macam-macam!" ucapnya mengancam Rexy.
"Iya, Yah!" ucap Rexy pasrah.
Elena menahan senyum ketika melihat Rexy begitu patuh kepada orang tuanya. Namun ia merasa tidak tega menatap wajah memelas pria tampan itu.
Mereka langsung masuk ke kamar masing-masing untuk beristirahat. Berbeda dengan Rexy, ia malah uring-uringan di dalam kamar tanpa bisa memejamkan matanya.
Hingga waktu sudah menunjukkan pukul 2 dini hari. Namun mata Rexy masih saja terbuka, memerah dan kantong matanya mulai terlihat.
__ADS_1
Ini gak bisa, ini gak bisa!. Batin Rexy frustrasi.
Ia berbaring dan kembali mencoba memejamkan mata. Namun nihil, ada yang terasa kosong di sampingnya, walaupun sudah tersedia bantal guling di sana.
Ia memilih untuk menghubungi Elena yang sudah terlelap karena merasa lelah seharian ini.
"Sayang angkat, Dong!" ucap Rexy kesal.
Pada akhirnya ia memilih untuk keluar dari kamar dengan pelan dan pergi ke kamar Elena yang berada di lantai dua.
Apa pintunya dikunci?. Batin Rexy ragu untuk membuka pintu.
Tangannya menyentuh gagang pintu dengan perlahan, sembari melihat sekelilingnya, apakah aman atau tidak.
Astaga, aku terlihat seperti pencuri. Batin Rexy.
Ceklek!
Pintu terbuka, senyumnya mengembang dengan sempurna. Ia perlahan masuk kedalam kamar dan mengunci pintu.
Rexy berjalan mendekat kearah Elena. Wanita cantik itu sudah terlelap seperti biasa. Namun Rexy tiba-tiba saja merasa kesal.
"Bisa-bisanya kamu tertidur, Sayang. Sementara aku uring-uringan di bawah sendiri!" ucap Rexy sambil naik keatas ranjang.
Elena terbangun dan tersentak karena tidurnya terganggu karena kedatangan seseorang.
"Bee?" panggilnya setengah sadar.
"Aku gak bisa tidur!" ucap Rexy berbaring di samping Elena berbantalkan lengan wanita cantik itu.
"Ha?" ucap Elena bingung.
"Ayo tidur lagi, Sayang. Aku mengantuk!" ucap Rexy perlahan memejamkan matanya.
Elena kembali terlelap walaupun masih merasa bingung. Tak lama Rexy juga tertidur sembari memeluk Elena dengan erat.
Aroma tubuh wanita cantik itu seakan menjadi candu baginya.
Angin malam menemani derus nafas Rexy da Elena yang saling bergemul. Menghangatkan walau hanya saling menyentuh.
Hingga pagi menjelang. Suara gedoran pintu terdengar sangat menganggu tidur nyenyak mereka.
"Rexy, keluar kau!" pekik Vazo.
"Sepertinya ayah memanggil kamu, Bee. sana temui dulu!" ucap Elena kembali tertidur.
"Kenapa aku yang dipanggil? Apa lagi salahku?" Ucap Rexy sambil turun dari ranjang.
__ADS_1
Ia segera membuka pintu dan melihat Vazo sudah memasang wajah datar ketika melihat Rexy memang berada di sana
Astaga. Mereka sangat susah untuk dilarang!. Batin Vazo.