
Dua pria tampan itu terdiam dengan pemikiran masing-masing. Justin berusaha untuk mencerna maksud dari laki-laki yang ada dihadapannya.
Sementara Rexy malah membayangkan Justin didalam konferensi pers mengenakan baju orange dan disaksikan oleh banyak orang.
"Terima kasih atas pujian anda, Tuan. Hanya perusahaan itu yang bisa saya andalkan sekarang," ucap Justin tersenyum kecut.
"Tentu, saya akan memuji siapa saja yang memiliki kinerja bagus dan berkontribusi tinggi untuk perusahaan," ucap Rexy.
Justin hanya tersenyum, ia tidak tau harus mengatakan apa lagi.
"Ah iya, saya teringat waktu istri anda meninggal. Beritanya heboh di mana-mana. Apa tidak diusut kenapa mobil itu bisa masuk ke dalam jurang?" tanya Rexy dengan ekpresi wajah bingung.
Justin terkejut dan termagu mendengarkan pertanyaan dari Rexy
"Maaf jika membuat anda tidak nyaman, Tuan. Saya hanya penasaran," ucap Rexy merasa tidak enak.
"Tidak masalah. Semua ini sudah menjadi keputusan keluarga, karena kejadian itu murni kecelakaan tunggal," ucap Justin berusaha untuk mengendalikan raut wajahnya.
"Apa anda yakin itu murni kecelakaan? Saya merasa ada yang janggal dari kejadian itu. Tapi karena keputusan keluarga seperti itu, saya menjadi bertanya-tanya. Maaf jika membuat anda kembali mengingatnya," ucap Rexy merasa bersalah.
"Ah tidak apa, Tuan. Semoga nanti jika anda dijodohkan, jangan sia-siakan dia. Setidaknya kenali dia terlebih dahulu," ucap Justin sendu.
Rexy melihat ada raut penyesalan pada wajah Justin. Apa dia menyesal atau hanya menarik simpati saja?. Batinnya.
"Padahal, mendiang terkenal begitu baik dan ramah. Saya pernah bertemu beberapa kali semasa hidupnya," ucap Rexy.
Justin menatap pria tampan yang ada di hadapannya dengan tidak percaya. "Bagaimana anda masih mengingatnya, Tuan. Sementara kejadian itu sudah sangat lama," ucapnya bingung.
"Ah, kesan yang di tinggalkan mendiang, membuat saya mengingatnya," ucap Rexy.
Tidak mungkin laki-laki ini mencari tau tentang kecelakaan itu. Tetapi kenapa dia menanyakan tentang hal ini. Batin Justin.
"Untuk proposal VA Corporation, nanti akan saya cek terlebih dahulu. Jika sesuai dan memiliki prospek yang cukup bagus, akan saya diskusikan bersama tim," ucap Rexy mengalihkan pembicaraan ketika melihat Justin mulai berpikir panjang.
"Saya sangat berterima kasih atas bantuan, Tuan. Semenjak mendiang pergi, perusahaan kami memang mengalami berbagai macam masalah," ucap Justin menatap Rexy yang hanya memasang wajah datarnya.
"Nanti akan saya bantu," ucap Rexy.
Dirasa tidak ada yang harus dibicarakan lagi, Justin memilih untuk pergi dari sana dengan membawa tanda tanya besar didalam pikirannya.
Sementara Rexy langsung meminta proposal dari perusahaan orang tua Elena. Apakah benar jika perusahaan itu tengah mengalami masalah.
__ADS_1
"Ren, coba selidiki VA Corporation," ucap Rexy melalui interkom.
Tak lama, sekretaris Justin membawa sebuah berkas yang berisikan proposal dari perusahaan itu.
"Mereka sudah mengirimkan ini sebanyak dua kali, Tuan," ucap sekretaris itu.
Kenapa aku bisa melewatkan hal sepenting ini. Ah, untung laki-laki itu memberitahu. Jika tidak, aku akan merasa bersalah kepada Elena jika sampai perusahaan orang tuanya bangkrut. Batin Rexy.
Ia memeriksa sebentar proposal itu dan menyetujui kerja sama antar mereka.
"Hubungi perusahaan ini dan adakan rapat besok pagi," ucap Rexy.
"Baik, Tuan. Apa ada lagi?" tanya sekretaris itu mengernyit bingung.
"Kosongkan jadwal saya sore ini. Silahkan!" ucap Rexy.
Sekretaris itu langsung keluar dan mengatur kembali jadwal Rexy untuk besok.
Pria tampan itu tersenyum ketika berhasil memancing Justin untuk menyinggung kembali kasus kecelakaan Elena.
Setelah ini, hadapi semua kekesalanku, Justin! Kau yang memulai, kini kau juga yang harus mengakhiri ini semua dengan menerima ganjaran paling berat yang akan kau dapat!. Batin Rexy penuh dendam.
"Saya rasa kita harus segera mempertemukan mereka, Tuan. Sebab kondisi Nyonya Khalia sudah semakin menurun, jangan sampai menyesal jika kita terlambat sedikit saja," ucap Ren.
Kondisi kesehatan ibunda Elena semakin menurun karena terus memikirkan Vania. Ia merasa jika sangat putri masih hidup hingga saat ini, namun tidak ada satu orang pun yang mempercayai firasatnya.
Sementara ayah Elena juga tidak fokus mengurus perusahaan karena memikirkan sang istri yaang semakin terlihat tidak baik-baik saja.
"Udang mereka ke rumah untuk makan malam setelah pertemuan besok," ucap Rexy.
Ia merasa tidak berguna karena selalu menunda untuk bertemu dengan calon mertuanya itu. Kini ia hanya bisa memberikan yang terbaik untuk Elena dan keluarganya.
Tangis Elena adalah kegagalan terbesarku, dan tawa Elena adalah masa depanku. Semoga kamu siap untuk bertemu dengan mereka, Sayang. Batin Rexy.
"Baik, Tuan. Sepertinya anda harus melihat berita karena sebentar lagi pihak kepolisian akan melakukan konferensi pers atas kasus tuan Justin," ucap Ren.
"Hmm. Saya akan pulang sekarang, Ren," ucap Rexy tidak bersemangat.
Ia membawa beberapa berkas yang tertinggal dan mengerjakannya di rumah nanti. Saat ini ia hanya memikirkan tentang Elena, Elena dan Elena.
"Baiklah, Tuan. Nanti akan saya informasikan apapun yang saya dapat," ucap Ren mengantar Rexy keluar.
__ADS_1
"Terima kasih banyak, Ren!" ucap Rexy.
"Sama-sama, Tuan," ucap Ren.
Perlahan mobil itu bergerak meninggalkan perusahaan yang megah itu.
Selama diperjalanan Rexy masih mengerjakan beberapa berkas yang harus ia selesaikan hari ini. Sebab, besok akan banyak agenda yang harus ia laksanakan.
Tak selang berapa lama ia sampai di rumah dan langsung mencari keberadaan Elena yang menunggu kepulangannya di pintu utama.
"Bee!" Pekik Elena ketika Rexy pulang dengan selamat.
Rexy langsung memeluk Elena dan melepaskan semua berkas yang tengah ia pegang.
"Aku di sini, Sayang!" Ucap Rexy.
Air mata Elena langsung menetes, rasa takut yang berusaha untuk ia tekan kini terasa lega karena bertemu dengan Rexy. Ia merasa begitu aman ketika bersama pria tampannya ini.
"Jangan takut lagi, ya. Aku di sini, sayang," ucap Rexy menenangkan Elena.
Wanita cantik itu mengangguk dan mengurai pelukannya. Rexy segera membawa Elena untuk duduk di atas sofa.
"Kamu gak papa 'kan, Sayang?" Tanya Rexy menatap Elena dengan cemas.
"Gak papa, Bee. Justru aku mengkhawatirkanmu," ucap Elena menahan tangisnya.
Rexy kembali memeluk wanita cantik itu. Ia tau jika trauma Elena kembali setelah sekian lama ia berhasil mengendalikannya.
"Aku ada kabar baik, Sayang. Tapi aku tidak tau bagaimana dengamu," ucap Rexy sembari merapikan rambut Elena.
"Apa, Bee?" Tanya wanita cantik itu penasaran.
"Aku berencana mengundang orang tuamu untuk makan malam di sini, atau kita yang pergi ke rumah mereka," ucap Rexy tersenyum.
Deg!.
Elena terkejut mendengar apa yang dikatakan oleh Rexy. Ada rasa bahagia, namun juga bimbang di dalam hatinya. bagaimana nanti jika mereka menolak atau bahkan membencinya.
"Serahkan semuanya kepadaku, Sayang. Kita harus mendekati mereka secara perlahan," ucap Rexy mencoba untuk meyakinkan Elena.
Wanita cantik itu mengangguk dengan air mata yang menetes. Aku begitu beruntung mendapatkan Rexy setelah di sia-siakan oleh orang yang pernah begitu aku cintai. Bagaimana aku tidak luluh, jika kamu selalu berusaha untuk memenuhi apa yang aku butuhkan. Batin Elena begitu terharu.
__ADS_1