
Mobil Elena keluar dari halaman rumah yang dikendarai oleh Milano. Ia berencana akan berkeliling menjajaki area yang biasa dilewati oleh Elena sembari mengawasi keadaan sekitar.
Di iringi satu mobil lainnya, Milano berhenti di beberapa titik seperti supermarket, drive-thru dan pom bensin.
Sementara di rumah, Elena dan Clayton mengamati jalanan melalui CCTV yang sudah lama mereka retas.
Tidak ada tanda-tanda yang mencurigai disekitar mobil dan keadaan terlihat sangat aman tanpa sesuatu yang aneh.
"Nona, coba lihat mobil biru itu," ucap Clayton ketika melihat sesuatu yang janggal.
"Dia datang dari adalah yang berbeda tadi, Clay. Coba kita lihat setelah ini," ucap Elena.
Sebuah mobil biru yang datang dari arah berlawanan dan ikut berhenti ketika mobil Elena berhenti.
"Itu bukan mobil bawahan kamu 'kan?" tanya Elena.
"Bukan, Nona," ucap Clayton tanpa mengalihkan pandangannya dari monitor.
Mobil Elena kembali berjalan. Kaca yang gelap membuat siapa saja tidak bisa melihat apa dan siapa yang ada di dalamnya.
"Nona, mobil ini juga terlihat mencurigakan," ucap Clayton menunjuk sebuah sedan berwarna putih.
"Apa mereka langsung mengeksekusi setelah mengibarkan bendera perang?" Tanya Elena mengernyit.
"Kita belum tau, Nona. Mana mobil yang mereka gunakan kali ini," ucap Clayton.
"Ternyata benar, jika aku akan diikuti oleh mereka," ucap Elena mengeraskan rahangnya.
"Sepertinya begitu, Nona," ucap Clayton.
Ada sekitar dua mobil yang mereka curiga dan sudah ditandai plat nomor yang digunakan. Belum bisa dipastikan ada berapa mobil yang mengikutinya hari ini.
"Apa perempuan itu bodoh? Dia menggunakan cara yang sama untuk membunuhku. Atau mungkin ada hal baru yang akan terjadi," ucap Elena mulai mengeluarkan keringat dingin.
Ia kembali teringat dengan peristiwa yang menimpanya lima tahun silam.
"Nona, Apa anda baik-baik saja?" Tanya Clayton melihat perubahan ekspresi Elena.
"Saya baik! Saya sangat baik!" ucap Elena meyakinkan dirinya.
Sudah cukup kalian membunuhku sekali! Aku Vania tidak akan terbunuh untuk kedua kalinya!. Batin Elena dengan mata yang memerah.
Berusaha untuk melawan trauma yang mulai bangkit dan bayangan kecelakaan yang berusaha untuk menembus alam bawah sadarnya.
"Clay?" panggil Elena ketika mengingat sesuatu.
"Coba kamu cek CCTV kamar yang digunakan oleh perempuan itu tempo hari," ucap Elena.
Clayton segera mengambil laptop dan membuka rekaman CCTV kamar yang ditempati oleh Reema dan juga pacarnya.
"Kita lihat rekaman sehabis mereka berhubungan!" ucap Elena tanpa mengalihkan pandangannya dari layar monitor.
Clayton segera melihat dan memperhatikan setiap gerak-gerik yang dilakukan oleh Reema.
__ADS_1
"Nona, tidak ada percakapan yang serius. Lalu nona Reema pergi dari sana, siang pukul 13.45," ucap Clayton. "Oh, ini dia kembali dengan wajah yang sembab," Sambungnya.
Elena menatap kearah laptop dan melihat apa yang dilakukan oleh Reema dan mendengarkan apa yang dia katakan.
BRAK!!
Mereka terkejut ketika mobil Elena tertabrak dari arah belakang, namun terlihat tidak begitu parah.
Elena melotot ketika mobil biru itu memang langsung kabur setelah tabrakan itu terjadi.
"Ternyata memang mereka, Nona!" ucap Clayton menggertakkan giginya.
"Apa Milano baik-baik saja?" Tanya Elena cemas.
"Sepertinya, dia baik-baik saja!" ucap Clayton melihat Milano yang baru saja keluar dari mobil.
"Ah, syukurlah," ucap Elena menghela nafas lega.
"Nona, anda berada dalam bahaya. Jika seperti ini, pasti mereka merencanakan hal yang besar untuk mencelakai anda," ucap Clayton.
Ia mengambil ponsel dan menghubungi Rexy. Satu panggilan, dua panggilan terlewat begitu saja.
"Katakan kepada Rexy, untuk sementara waktu jangan pulang dulu ke sini, atau mereka akan mengetahui identitasku, dan Justin terlepas dari target kita. Atau bisa juga Rexy akan mendapat masalah," ucap Elena lirih.
"Nona, tuan Rexy tidak akan membiarkan anda berjalan sendiri. Pasti ini semua sudah berada di dalam pikiran, Tuan. Itu sebabnya anda dilatih begitu keras untuk mempersiapkan semuanya!" ucap Clayton tegas.
"Aku tau, Clay. Tapi mereka pasti akan sangat kejam. Kita tidak tau rencana seperti apa yang mereka susun untuk melenyapkanku," ucap Elena.
"Nona, jangan melangkah sendiri dan tidak melibatkan tuan. Walaupun anda mampu, tetapi jangan menghalangi tuan untuk ikut dalam permasalahan anda!" ucap Clayton.
Mereka kembali menatap layar monitor dan melihat tidak ada lagi mobil yang mencurigakan. Bahkan sekarang Milano sudah sampai di persimpangan perumahan mereka.
"Coba lihat video perempuan itu, Clay," ucap Elena.
Mereka fokus kepada rekaman CCTV. Reema baru saja datang dan menangis sesegukan dipelukan laki-laki.
Terdengar beberapa percakapan dan pengaduan yang dikatakan oleh Reema kepada pacarnya.
"Lalu aku harus apa?" tanya laki-laki itu.
"Aku ingin kamu membunuhnya!" ucap Reema tegas.
"Membunuhnya? Tidak sulit bagiku, tetapi ini negara hukum yang cukup sulit untuk melakukan kejahatan," ucap laki-laki itu lagi.
"Tapi aku ingin kamu membunuhnya! Bunuh dia sekarang juga!" pekik Reema sambil menangis dengan kencang.
"Baiklah-baiklah. Aku akan menyewa beberapa orang untuk membunuh perempuan itu. Bagaimana dengan suami kamu? Apa perlu aku bereskan juga?"
"Tidak usah. kamu cukup mencarikan aku pengacara agar bisa menang dalam persidangan nanti," ucap Reema.
Begitulah percakapan antara Reema dan laki-laki yang diduga sebagai selingkuhannya.
"Apa ini bisa kita jadikan bukti?" Ucap Elena dengan mata yang melotot.
__ADS_1
"Bisa, Nona. Tetapi ini bukti untuk kejahatan yang akan terjadi, dan ini tidak bisa kita gunakan untuk bukti kejahatan yang sudah berlalu," ucap Clayton.
"Apa tidak ada pembahasan lagi?" tanya Elena mengernyit.
"Sepertinya tidak, Nona. Nyonya Reema terlelap setelah puas menangis," ucap Clayton melihat sisi lain dari ruangan.
Tidak terlihat laki-laki itu menelfon seseorang atau merencanakan sesuatu yang bisa di dengar. Hanya keheningan yang menemani malam kelabu di apartemen itu.
"Apa langkah selanjutnya yang harus kita ambil, Clay?" Tanya Elena memijat pelipisnya.
"Kita harus berdiskusi dengan tuan Rexy. Karena saya yakin, tuan bisa menyelesaikan ini semua dengaan baik," ucap Clayton.
Elena hanya terdiam sembari berpikir langkah yang harus ia ambil kedepannya.
🍃🍃
"Hanya ada dua pilihan. Anda berhenti dari jabatan CEO atau kami akan menarik saham dari perusahaan ini!" ucap salah satu pemegang saham.
Suasana yang mencekam terjadi di ruang rapat utama kantor Justin. Pria tampan itu sudah berada di sana ketika berhasil memaksakan diri untuk keluar dari rumah sakit lebih cepat.
"Saya bisa memberi bukti, jika saya sama sekali tidak melakukan itu!" ucap Justin dengan tegas.
Rexy hanya terdiam menyaksikan perdebatan mereka, sebab perutnya masih terasa kenyang karena porsi sarapan yang disiapkan oleh Elena sangat banyak.
Justin terlihat mempertahankan harga dirinya di depan para investor dan pemegang saham.
"Kalau anda masih bersikeras untuk bertahan sebagai CEO di perusahaan ini, saya akan menarik semua saham yang saya!" ucap pemegang saham.
Justin terdiam, akan sangat sulit mempertahankan mereka semua dengan hanya berkata-kata saja. Namun ia sudah kehilangan akal walaupun semua bukti sudah ia berikan secara gamblang.
"Saya percaya jika tuan Justin tidak melakukan KDRT," ucap Rexy santai.
"Tuan Rexy, kenapa anda membela tuan Justin. Semua bukti ini bisa saja dibuat-buat oleh dia!" ucap investor.
"Coba anda pikirkan secara logika. Jika melihat kondisi tangan tuan Justin, pasti mata perempuan itu sudah pecah atau minimal tengkoraknya akan retak. Tetapi ciba lihat, luka lebam sedikit saja di sekitaran mata memang berdampak serius, bahkan video yang berbedar bisa memberi penjelasan jika memar itu bukan hasil perbuatan tuan Justin," ucap Rexy.
"Saya tetap tidak percaya, Tuan. Saya mengecam segala bentuk kekerasan dalam rumah tangga!" ucap investor dengan lantang dan di setujui oleh semua orang yang ada di sana.
"Ah, kalian terlalu munafik!" ucap Rexy sarkas.
"Apa maksud anda tuan?" tanya pemegang saham.
"Anda menghakimi orang lain dan merasa diri paling suci, padahal apa yang kalian lakukan diluar sana tidak lebih baik dari perbuatan Tuan Justin," ucap Rexy tersenyum remeh.
"Tuan, anda jangan berputa-putar. Langsung saja pada intinya!" ucap salah satu investor lain.
Rexy hanya tersenyum tipis dan menggeleng. "Yang penting saya mendukung dan percaya jika Tuan Justin tidak melakukan itu," ucap Rexy tegas.
Semua orang yang ada di dalam ruangan itu terdiam. Rexy adalah pemegang saham terbesar di perusahaan. Jika mereka mundur, mkan perusahaan ini akan di ambil alih olehnya.
"Tidak ada berkomentar? Rapat selesai!" ucap Rexy.
Ia segera berdiri dengan penuh kepuasan karena tidak ada satupun investor dan pemegang saham yang mengundurkan diri.
__ADS_1
Justin menghela nafasnya, ia tau lambat laun Rexy akan mengambil alih perusahaan ini, namun selagi mampu, ia akan mempertahankannya hingga titik darah penghabisan.