PELAKOR Ter-SAVAGE

PELAKOR Ter-SAVAGE
Va kecilku!


__ADS_3

Elena mulai berbincang dengan sang ibunda. Membicarakan sesuatu yang disukai oleh Khalia dan membuat mereka terlihat sangat akrab dan menjadi pemandangan yang begitu mengharukan bagi Vazo.


Nak, mungkin jika kamu masih hidup, kamu pasti akan seusia dengan gadis itu dan pasti akan terlihat sangat cantik. Ayah masih menunggu kedatanganmu mengunjungi ayah, walaupun hanya dalam mimpi. Batin Vazo.


"Bunda," panggil Elena kepada Khalia dan membuat wanita cantik itu terkejut. "Bolehkan kalau El manggil Bunda?" tanya Elena tersenyum.


"Boleh, Nak. Boleh banget!" ucap Khalia mengusap tangan Elena.


"Bunda, El pernah melihat bunda di lesehan waktu itu. Katanya anak bunda sudah meninggal dan bunda percaya jika Vania masih hidup?" tanya Elena dengan mata yang kembali berembun.


Khalia terkejut mendengar ucapan Elena. Ia menatap manik mata wanita cantik yang ada di hadapannya.


Feelingku tidak mungkin salah. Apa ini kamu nak? Tapi kenapa wajahmu berubah?. Batin Khalia bertanya-tanya.


Semua orang terkejut dengan ucapan Elena. Wanita cantik itu sudah merasa sangat tidak sabar untuk mengakui jika dirinya masih hidup hingga saat ini.


Tangan Khalia menyentuh wajah Elena dengan begitu lembut. Matanya terlihat berkaca-kaca dan berusaha untuk menahan tangis.


"Bunda selalu merasa jika Vania masih hidup. Tapi bunda tidak tau bagaimana harus mencari keberadaannya. Bahkan sekarang banyak orang yang mengatakan bunda sudah gila karena tidak bisa menerima kenyataan itu," ucap Khalia.


"Bagaimana jika anak bunda hadir dengan keadaan yang berbeda dari sebelumnya?" tanya Elena dengan air mata yang siap menetes.


Khalia menjadi yakin jika wanita cantik ini adalah putrinya Vania. "Apapun bentuknya, asal itu Vania. Tidak ada alasan bagi bunda untuk menolaknya, Nak" ucap Khalia dengan air mata yang menetes.


Vazo mencoba untuk menahan diri, ia berusaha mencerna semua yang dikatakan oleh Elena dan kejadian hari ini.


"Jika El bilang, El adalah Vania apa bunda percaya?" ucap Elena dengan air mata yang juga ikut menetes.


Khalia menangis terisak tanpa menjawab pertanyaan Elena. Sementara wanita cantik itu sudah pesimis jika Khalia akan menerima dirinya dengan keadaan seperti ini.


Vazo terkejut dan langsung berdiri menatap Elena dengan rasa tidak percaya. Ia masih menunggu bagaimana respon sang istri.


Khalia perlahan menatap wajah Elena, dan memeluk wanita cantik itu. Isak tangis mengiringi mereka termasuk Angelin yang sudah tidak bisa menahan air matanya.


"Bunda percaya, Nak. Bunda percaya!" ucap Khalia menangis sambil memeluk Elena dengan erat.


"Bunda, Va rindu!" ucap Elena menangis terisak.

__ADS_1


"Bunda juga rindu, Sayang!" ucap Khalia menangis.


Sementara Vazo hanya terdiam manatap dua wanita yang tengah berpelukan itu. Otaknya terasa membeku dan tidak bisa mencerna apa yang tengah terjadi.


Rexy berdiri dan menyentuh pundak Vazo. "Ayah, Elena adalah Vania, putri ayah!" bisiknya membuat Vazo menoleh.


Benarkah? Atau ini hanya akal-akalan mereka saja? Tetapi kenapa Khalia bisa percaya begitu saja?. Batin Vazo makasih terkejut.


"Aku ada bukti yang akurat untuk membuktikan kebenarannya, Yah," ucap Rexy tersenyum.


Vazo memilih untuk duduk dan masih menatap mereka dengan rasa tidak percaya. Mustahil rasanya jika Vania bisa hidup kembali.


"Firasat bunda tidak salah, Nak. Putri kecil bunda masih hidup," ucap Khalia mengusap wajah Elena yang sudah dibanjiri dengan air mata.


"Va, Masih hidup, Bunda. Ini semua berkat Mas Rexy yang sudah menyelamatkan Va dari kecelakaan itu," ucap Elena masih terisak.


"Terima kasih, Tuan telah menyelamatkan anak saya," ucap Khalia kembali memeluk Elena.


Mulut wanita paruh baya itu tak hentinya menyebut kata 'Anakku' sembari tetap memeluk Elena.


"Saya butuh penjelasan dan bukti, jika..., Jika Nona Elena memang anak saya!" ucap Vazo mengalihkan perhatian mereka.


"Bunda, biarkan ayah melihat buktinya terlebih dahulu. Agar ayah dan bunda bisa percaya, jika aku Va kecil kalian," ucap Elena tersenyum.


Rexy menghidupkan televisi, disana sudah ada beberapa vidio dan berkas-berkas penting yang menjadi bukti jika Elena dan Vania itu orang yang sama.


"Maaf saya tidak segera memberitahukan kepulangan Elena kepada Ayah dan bunda, karena kami masih dalam misi pengungkapan kasus kecelakaan itu," ucap Rexy.


Khalia dan Vazo hanya terdiam dan tercengang melihat bagaimana keadaan Elena setelah kecelakaan, pengobatan, operasi wajah dan pemulihan.


Semua orang termasuk Rexy dan beberapa orang pelayan di sana menitikan air mata mengingat perjuangan Elena untuk sembuh.


Vazo menatap Elena dengan air mata yang sudah tidak lagi bisa dibendung.


"Putri Ayah!" ucap Vazo membuat Elena terisak.


Vazo segera memeluk dua wanita kesayangannya. Walaupun ia masih merasa tidak percaya, namun semua bukti sudah menjelaskan fakta yang sebenarnya.

__ADS_1


"Ternyata kamu masih hidup, Nak!" ucap Vazo menangis.


Sungguh ini sebuah keajaiban yang mungkin tidak akan pernah terjadi lagi.


"Kamu lihat, Nak. Betapa mereka mencintai Elena. Ayah harap kamu memang benar-benar ingin membangun keluarga bersamanya. Jangan sampai kamu mengulangi kejadian seperti laki-laki itu lagi," ucap Hinata menepuk pundak Justin.


Rexy hanya mengangguk sembari mengingat semua janji yang pernah ia ucapkan. Semua sumpah yang sudah ia sematkan dan semua harapan yang harus ia kejar.


Hingga tangisan itu mereda, Khalia tidak melepaskan Elena walaupun hanya sebentar saja. Sementara Vazo menatap Rexy dengan penuh tanda tanya.


"Bagaimana anda bisa meninggalkan jejak yang bisa meyakinkan semua orang di lokasi kejadian?" tanya Vazo.


"Tentu saja orang-orang saya yang bekerja, Yah. Bagaimana mereka bisa membuat semua bukti itu menjadi nyata. Membuka mata publik jika Vania sudah tiada. Saya memang salah telah membawa Elena, tetapi saat itu yang terpenting dalam pikiran saya hanya keselamatan dan kesembuhan Elena. Apapun akan saya lakukan asal saya masih bisa melihatnya bernafas," ucap Rexy.


Vazo terdiam dan menatap Elena dengan perasaan lega. "Bagaimana dengan identitasnya saat ini?" tanya Vazo.


"Ayah tidak usah khawatir. Semuanya sudah saya urus. Elena bisa menggunakan identitas Vania atau identitas Elena yang sekarang. Untuk lebih jelasnya nanti kita akan melakukan persidangan," ucap Rexy tersenyum.


Vazo terdiam, ia kembali mengingat ucapan Rexy tadi pagi ketika berada di kantor.


"Apa ini maksud ucapan anda tadi pagi? Apapun yang terjadi nanti kerja sama kita tetap terjalin dan saya memang seorang pengusaha yang berkompeten?" tanya Vazo.


Rexy tersenyum dan mengangguk. Vazo semakin terdiam menatap Elena dan khalia yang masih berpelukan. Ia berulang kali menghela nafas untuk meredakan sesak yang kembali terasa.


"Ayah?" panggil Elena tersenyum.


Vazo membentangkan tangannya agar bisa memeluk Elena. "Ayah di sini, Sayang," ucapnya mengecup kepala sang putri.


"Apa ayah belum percaya?" tanya Elena sendu.


"Ayah percaya, Sayang. Hanya saja ini sangat tidak masuk akal!" ucap Vazo mengelus kepala Elena.


"Va sudah kembali. Apa Ayah menerima Va dengan keadaan seperti ini?" ucap Elena menatap sang ayah.


"Tentu, Sayang. Asal kamu memang Va kecil ayah, bagaimana pun kondisi Va, ayah akan peluk seperti ini terus sampai Va bosan," ucap Vazo tersenyum dengan air mata yang menetes.


"Va merindukan Ayah!" ucap Elena tersenyum dan kembali memeluk Vazo.

__ADS_1


"Ayah juga, Nak!" ucap Vazo kembali memeluk anak dan istrinya.


__ADS_2