PELAKOR Ter-SAVAGE

PELAKOR Ter-SAVAGE
Makan Malam


__ADS_3

Elena dan Justin berpisah di parkiran mobil. Pria tampan itu langsung pergi dari di sana karena ada beberapa orang yang mulai mengenali penyamarannya.


Elena bernafas lega, karena Justin tidak akan mengikuti kemana dirinya akan pulang.


Semua barang belanjaan sudah aman masuk ke dalam mobil. Elena tersenyum senang ketika melihat pesan dari calon mertua yang menanyakan keberadaannya.


"Kita pulang, Clay! Bunda sudah menunggu di rumah!" ucap Elena antusias.


"Baik, Nona!" ucap Clayton.


Mobil terus melaju dengan sedikit kencang menuju rumah mewah Rexy. Wajah cantik itu terus tersenyum membayangkan ia bisa memeluk sang ibunda yang sudah sangat ia rindukan.


Tak lama mobil berhenti di perkarangan rumah. Ia segera keluar dan disambut oleh Angelin.


"Bunda," sapa Elena tersenyum senang.


"Mereka jadi datang, Nak?" tanya Angelin.


Wajah wanita cantik itu mengernyit ketika melihat barang belanjaan Elena.


"Jadi, Bunda. Aku mau masak untuk nanti malam," ucap Elena tersenyum.


"Ayo bunda bantu, Sayang!" ucap Angelin menggandeng Elena masuk kedalam rumah.


Semua pelayanan sudah berkumpul untuk membantu Elena. Mereka segera mengeksekusi semua bahan sesuai dengan arahan nyonya baru dirumah itu.


"Mau masak apa, Sayang?" tanya Angelin penasaran.


"Aku mau masak rendang, Bunda. Nanti juga bikin gurame goreng tepung, seafood saos padang. Ayam bakar, ayam kecap, nanti juga masak sayur dikit, pake nasi merah, dan makanan manis juga nanti, Bunda," ucap Elena antusias.


"Ayam kecap untuk Rexy, ayam bakar kesukaan ayah, seafood juga kesukaan bunda, rendang dan gurame kesukaan orang tua kamu?" tanya Angelin mencoba untuk menebak.


"Yap, Bunda benar. Semoga saja nanti mereka bisa menerima keadaanku yang sekarang," ucap Elena lirih.


"Nanti Bunda bantu ngomong sama mereka. Mungkin juga orang tua kamu butuh waktu," ucap Angelin.


"Terima kasih, Bunda. Semoga saja mereka mau menerimaku nanti. El sangat merindukan mereka, Bunda," ucap Elena memeluk Angelin.


"Pasti, mungkin nanti akan terkejut melihat kamu tidak seperti dulu. Bukan Vania yang mereka kenal. Perlahan ya, sayang. Bunda yakin pasti mereka akan menerima kamu dengan keadaan seperti ini," ucap Elena tersenyum sambil mengusap kepala Elena dengan lembut.

__ADS_1


"Iya, Bunda," ucap Elena tersenyum.


Elena mengatur semua takaran bahan yang akan digunakan, hingga ke garam pun tidak lupa dari takarannya.


Ia ingin semua masakan itu persis sama dengan rasa masakan yang ia buat, agar orang tuanya bisa mengenali dan mengingat kembali semua hal tentangnya.


Hingga beberapa jam berkutat di dapur, mereka menyelesaikan semua masakan itu. Wajah cantik Elena terlihat begitu puas dengan hasil masakan para pelayan yang persis sama dengan masakannya.


"Biar mereka yang membereskannya, Sayang. Sekarang kamu mandi dan bersih-bersih dulu, sebenar lagi Rexy dan Ayah akan pulang," ucap Angelin tersenyum.


"Iya, Bunda. Terima kasih sudah membantu El hari ini," ucap Elena tersenyum.


"Sama-sama, mereka juga calon besan bunda!" ucap Angelin tersenyum.


Mereka segera membersihkan diri untuk menyambut kepulangan dua pria tampan yang berbeda generasi itu.


🍃🍃


Malam menjelang, Elena terlihat gelisah karena orang tuanya belum juga datang. Sementara waktu makan malam sudah masuk lima menit yang lalu.


"Bee. Apa mereka akan datang? Ucap Elena cemas.


"Iya, Sayang. Mereka pasti akan datang. Kamu yang sabar yah. Fauzi sedang menjemput mereka," ucap Rexy tersenyum dan mengecup kening Elena.


Rexy sebenarnya juga merasakan hal yang sama. Namun ia yakin mereka akan baik-baik saja, karena ada empat buah mobil yang akan mengawal kedatangan calon mertuanya.


Tak lama, mobil-mobil itu masuk ke dalam perkarangan rumah. Elena menggenggam tangan Rexy dengan erat, menepis segala macam pikiran buruk dan berusaha untuk mengendalikan diri.


"Jangan takut, Sayang. Aku di sini," ucap Rexy yang ikut merasa gugup.


Sepasang suami istri itu keluar dari mobil. Air mata Elena mulai menggenang di pelupuk matanya. Vazo memperlakukan khalia dengan sangat hati-hati, mengingat sang istri tengah sakit saat ini.


Elena melihat orang tuanya yang sudah lebih kurus dibanding terakhir kali ia lihat di lesehan beberapa waktu lalu.


"Selamat datang, Tuan Vazo!" ucap Rexy menyambut kedatangan mereka.


"Terima kasih, Tuan Rexy. Saya merasa sangat tersanjung bisa hadir dan memenuhi undangan anda!" ucap Vazo mengulurkan tangan.


Rexy tersenyum dan membalas jabatan tangan itu. Sementara Elena dan khalia saling bertatapan satu sama lain. Ada perasaan yang berbeda mulai memenuhi kosongnya ruang hati setelah kehilangan.

__ADS_1


"Perkenalkan ini calon istri saya!" ucap Rexy membuat Elena tersentak.


"Selamat datang, Tuan dan Nyonya," ucap Elena tersenyum.


Menahan rasa sesak di dalam dadanya. Sakit patah hati, tak sebanding dengan rasa sakit ketika tidak dikenali oleh orang tua.


Khalia masih menatap Elena dengan tatapan yang berbeda. Ia menggenggam erat tangan sang suami untuk mendapatkan sedikit kekuatan agar bisa menatap wanita cantik yang terasa tidak asing baginya itu.


Rexy segera mempersilahkan mereka untuk masuk. Di dalam rumah, Vazo dan Khalia berkenalan dengan orang tua Rexy.


"Lebih baik kita langsung makan saja, Tuan!" ajak Rexy tersenyum.


"Boleh-boleh," ucap Vazo ikut tersenyum.


Dia memiliki dua kepribadian yang berbeda ketika berada di kantor dan di rumah. Dia laki-laki yang hangat jika bersama keluarga. Batin Vazo tersenyum tipis dan mulai mengagumi Rexy.


Mereka segera mengambil tempat masing-masing. Pandangan Khalia masih tidak lepas dari Elena. Walaupun ia mengelak ketika Elena menatap kearahnya, namun sesekali ia masih mencoba untuk mencuri-curi pandang.


"Ini masakan calon istri saya, khusus untuk menyambut kedatangan Tuan dan Nyonya," ucap Rexy tersenyum menatap Elena. Memamerkan betapa ia mencintai gadis yang ada di sampingnya.


"Wah, kami merasa sangat tersanjung, Nyonya, Tuan. Terima kasih banyak," ucap Vazo tersenyum.


Mereka segera memulai makan malam dengan baik. Wajah Vazo dan Khalia berubah ketika suapan pertama masuk kedalam mulutnya.


Makanan itu sama persis dengan ingatannya dulu ketika Elena memasak. Mereka saling berpandangan dengan mata yang mulai berembun. Begitu juga dengan Elena, namun sebisa mungkin ia menahan air mata agar tidak membuat kekacauan malam ini.


"Kenapa, Tuan? Bagaimana dengan masakan menantu kami?" Tanya Hinata.


"Enak, sangat enak!" ucap Vazo tercekat.


"Ah, syukurlah. Elena memang sangat pandai memasak, apapun yang ia buat tidak ada yang terbuang. Bahkan ketika bekerja keluar negeri pun, saya merindukan masakannya," ucap Hinata mencoba untuk memancing.


"Anda memang benar. Saya jadi ingat dengan mendiang putri semata wayang kami. Rasa masakan ini, seolah mengingat kami kembali dengan masakannya," ucap Vazo tersenyum kecut.


"Jika anda mau, anda bisa meminta tolong kepada istri saya untuk memasakkannya. Boleh gak, Yang?" tanya Rexy membuat pikiran Elena teralihkan.


"Iya, Tuan. dengan senang hati saya akan membantunya," ucap Elena tersenyum.


Vazo dan Khalia merasa begitu tersanjung mendengarkan ucapan Elena. Mereka merasa jika Vania berada di sini, makan bersama dengan penuh kehangatan.

__ADS_1


Begitu juga dengan Elena, matanya selalu berembun dan mulia memerah. Ia merasa terharu ketika sang ayah masih menyebut dan mengingat semua tentangnya.


Makan malam itu berjalan dengan baik, dua keluarga itu segera berkumpul di ruang tamu untuk membahas hal apa saja yang bisa dibahas.


__ADS_2