PELAKOR Ter-SAVAGE

PELAKOR Ter-SAVAGE
Kekecewaan Justin


__ADS_3

Rexy merenggangkan pelukannya dan menatap Elena dengan penuh cinta. Ia tersenyum manis dan langsung mengecup bibir merah cery yang begitu menggoda.


Cup!


Semua orang terkejut dan berteriak gemas melihat pengantin yang sangat romantis itu.


"Huwa, aku juga ingin dikecup," ucap salah satu tamu.


"Betapa beruntungnya gadis itu," ucap tamu yang lain.


"Kenapa bukan aku yang berada di sana?" jerit mereka iri.


Sorak sorai mulai terdengar di dalam ruangan. Mereka ikut merasakan kebahagiaan dan ketulusan yang terpancar dari kedua mempelai.


"Manis sekali pasangan kita hari ini," ucap MC tersenyum. "Selamat kita ucapkan kepada Tuan dan Nyonya Rexy. Semoga pernikahannya bisa bertahan dalam menghadapi badai didalam rumah tangga dan awet sampai kakek nenek," sambungnya.


Elena dan Rexy berjalan sambil melambaikan tangan, menyapa para tamu yang hadir pada acara pernikahan mereka. Tidak banyak, hanya ada 150 undangan, mengingat kondisi yang belum memungkinkan.


Rasa lega menghampiri mereka, begitu juga dengan keluarga dan para pengawal.


Takjub, itulah kata yang bisa di ucapkan untuk mengadakan pesta pernikahan ini.


Angelin dan Khalia berpelukan karena kini sudah menjadi keluarga. Air mata bahagia tidak bisa lagi di sembunyikan.


"Akhirnya mereka menikah ya, Besan," ucap Angelin mengusap punggung Khalia.


"Iy, Besan. Akhirnya kita tidak perlu risau lagi untuk membiarkan mereka tidur dalam satu kamar," ucap Khalia terkekeh.


"Astaga, bener banget!" ucap Angelin ikut terkekeh.


Vazo terdiam dengan air mata yang tak hentinya mengalir. Senyum bahagia Elena selalu terpancar di wajah cantik itu. Ia tidak pernah melihat sang putri tersenyum begitu bahagia tanpa ada beban sama sekali.


Berbahagialah, Sayang. Semoga Rexy bisa membuatmu bahagia, tidak seperti ayah yang justru menghancurkan masa depanmu. Batin Vazo dengan perasaan yang bercampur aduk.


Ia bertepuk tangan sambil tersenyum ketika Rexy mulai berjalan menggandeng tangan Elena dengan mesra. Senyum bahagia yang selalu terpancar membuat orang lain juga merasakan betapa bahagianya mereka hari ini.

__ADS_1


🍃🍃


Seorang pria terdiam dan temagu ketika melihat siaran televisi yang menampilkan acara pernikahan Elena dan Rexy secara langsung. Telinganya terasa panas mendengar kata-kata yang begitu indah keluar dari mulut sang pujaan hati.


Harusnya aku yang ada di sana dan bukan dia!.


Tangannya mengepal, ia merasa di bohongi dan juga kecewa. Ia sudah mengakui semua kesalahannya dan Elena juga sudah memaafkan apa yang terjadi dimasa lalu.


Kenapa kamu lebih memilih dia, Na? Dia bukan orang baik. Bahkan dia lebih kejam dari pada aku. Batin Justin emosi.


Jantungnya seolah berhenti berdetak. Tanpa terasa, genangan air mata mulai berkumpul di pelupuk matanya.


"Bukankah mereka sangat cocok dan serasi, tampan dan juga cantik," ucap petugas kepolisian yang berada di dekat Justin.


"Iya, benar. Kata-kata mereka sungguh menyentuh hati. Sangat terlihat jika mereka memang saling mencintai, bukan hanya sekedar pernikahan bisnis saja," ucapan petugas lainnya.


Justin mengeraskan rahang. Ia sangat tidak suka dengan ucapan para petugas yang seolah tengah menyindir dirinya.


Sidang akan dimulai sebentar lagi, ia sudah memakai kemeja putih dan celana hitam. Ia juga sedang menunggu di dalam ruangan khusus bersama dengan pengacara dan juga Joy.


Namun semuanya sudah terjadi, ia tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Bahkan untuk sekedar bertemu dengan Khalia, ia tidak akan sanggup.


"Silahkan ibu dan bapak, sidang akan dimulai sebentar lagi," ucap petugas.


Mereka segera masuk kedalam ruang sidang. Justin dengan wajah datar dan terlihat begitu kecewa, mengikuti persidangan dangan emosi yang tidak bisa ia kendalikan.


Perdebatan dan adu argumentasi terjadi di dalam ruangan itu. Justin dan Joy menjawab pertanyaan hakim dengan berbelit-belit, ditambah dengan suasana hati pria tampan itu sedang tidak baik-baik saja.


Sehingga hakim memutuskan untuk melakukan skorsing dan meminta Justin untuk mengatakan yang sebenarnya-benarnya. Mengatur emosi dan fokus dalam persidangan.


Tiara begitu kesal dengan tingkah Justin, begitu juga dengan beberapa orang pengacara, karena mereka kesulitan untuk melakukan pembelaan dengan jawaban berbelit dari pria tampan itu.


"Nak, katakanlah yang sebenarnya! Jangan seperti ini! Kamu juga menyulitkan pengacara kita," ucap Tiara.


"Apa Mom tidak melihat televisi atau berita? Elena menikah hari ini, Mom. Dia menikah setelah menjebloskan aku kedalam penjara. Dia bahkan tersenyum begitu cantik di sana seolah mengejek aku yang tengah tersiksa di sini! Tolong mengertilah keadaanku!" ucap Justin sedikit membentak.

__ADS_1


Tiara hanya terdia. dan memejamkan mata. Bukan hanya Justin yang merasa kecewa tetapi ia juga.


Pria tampan itu terdiam dan memilih duduk dikursi yang ada di sudut ruangan.


Sungguh, ia merasa sangat kecewa kepada Elena. Wanita yang sudah ia cintai begitu dalam. Wanita yang membuatnya mampu untuk berubah menjadi lebih baik.


Ternyata itu semua hanya iming-iming dan hiburan sebelum kamu menjebakku. Aku tidak akan pernah rela jika kamu di sentuh oleh laki-laki itu!. Batin Justin.


Ia memejamkan mata sambil memijat pelipisnya. Kepala yang terasa berdenyut dan hati yang terasa sakit, membuat ia tidak ingin mengatakan apapun.


Sakit. Itulah yang dirasakan oleh Justin. Mereka dengan tidak memiliki hati, tega melangsungkan pernikahan dihari, dimana ia juga melakukan sidang pertama.


Tanpa terasa air matanya menetes tanpa bisa di cegah. Dengan tangan yang di borgol, Justin memilih untuk pergi ke kamar mandi, ia tidak ingin terlihat lemah dimata mereka.


Apa aku pantas menerima semua ini? Kanapa kamu begitu tega, Na? Bahkan aku sudah memberikan sebagian hartaku kepadamu, aku juga telah memberikan kepingan hati yang tersisa, tetapi kenapa kamu masih memilih dia? Laki-laki itu tidak sebaik yang kamu pikirkan, Na!. batin Justin begitu kecewa.


Untuk sesaat ia melepaskan tangisnya di dalam kamar mandi. Ia merasa sangat sulit untuk menerima kenyataan jika Elena benar-benar sudah di miliki oleh rival terbesar yang tidak bisa ia kalahkan hingga saat ini.


Hingga persidangan kembali dimulai, Justin melihat seseorang yang sangat ia kenal tengah tersenyum menatap kepadanya.


Kenapa dia ada di sini?. Batin Justin mengernyit.


Clayton melambaikan tangan dan tersenyum penuh kemenangan melihat mata Justin yang sedikit sembab dan memerah.


Ternyata dia masih bisa menangis. Batin Clayton sambil mengangguk kepada Justin.


Setelah pengucapan janji dan sumpah pernikahan, ia sengaja berpamitan untuk pergi menghadiri sidang hari ini.


Walaupun ia tidak perlu berada di sini, namun harus. Agar ia masih bisa mengawasi jalannya persidangan dan meminimalisir kecurangan yang bisa saja terjadi.


Justin semakin mengepalkan tangan. Senyuman Clayton seolah mengejek keadaannya saat ini.


Mereka memang badjingan! Mereka meracuni Elena untuk melakukan ini semua. Aku yakin, laki-laki keparaat itu sudah mencuci otak dan hati lembut wanitaku!. Batin Justin.


Ia kembali duduk di kursi sidang dengan mood yang semakin memburuk. Hakim hanya menggeleng melihat tingkah Justin yang tidak memiliki etika sama sekali. Padahal sidang dilakukan secara terbuka dan juga live di beberapa stasiun televisi.

__ADS_1


Clayton pun juga ikut jengah melihat tingkah Justin yang tidak bisa bekerja sama. Bukankah dulu Nyonya sudah mengatakan kepadanya untuk mengaku? Ah, sekarang Justin malah semakin berbelit dan tidak jelas. Batinnya menghela nafas.


__ADS_2