PELAKOR Ter-SAVAGE

PELAKOR Ter-SAVAGE
Hanya Tersisa Satu Misi


__ADS_3

Semua orang sibuk mempersiapkan segala sesuatu yang kurang agar acara pernikahan besok bisa berjalan dengan baik.


Para orang tua mengambil tugasnya masing-masing. Kini Angelin dan Khalia berada di kamar pengantin yang sudah di dekor dengan indah.


Suasana remang-remang yang terasa begit romantis di malam hari. Mereka tersenyum geli ketika mengingat malam pertama yang begitu membekas.


"Ah, besan. Jadi, apa yang akan kita lakukan?" tanya Khalia dengan wajah yang masih merona.


"Hihi, sepertinya kita tidak perlu berbuat apa-apa, besan. Mereka itu pasangan mesum, ketika sudah berada di dalam kamar pasti langsung anu," ucap Angelin dengan wajah yang tak kalah merona.


"Ah, mereka yang menikah, kenapa kita yang merona!" ucap Khalia sambil memengang pipinya yang terasa panas.


"Gak papa, Besan. Mana tau nanti kita bisa ngintip," ucap Angelin terkekeh.


"Haha, jangan atuh. Biarkan mereka berekspresi. Saya penasaran, siapa yang kalah duluan nanti," ucap Khalia.


"Astaga, bener. Elena yang sudah berpengalaman atau Rexy baru anak kemarin sore," ucap Angelin terkekeh.


Mereka tergelak dan meletakkan beberapa aroma terapi di atas nakas dan kamar mandi. Memastikan jika tidak ada sehelai baju pun yang tertinggal di dalam kamar dan hanya menyisakan sehelai lingeri dan celana boxer.


"Setidaknya, semakin bayak usaha mereka, akan semakin terbuka peluang untuk Elena hamil," ucap Khalia.


"Jangan terlalu dipikirkan, Jeng. Kalau rezeki gak akan kemana. Biarkan mereka menghabiskan waktu berdua dulu," ucap Angelin tersenyum.


"Rasanya sudah tidak sabar untuk menggendong cucu, tapi apalah daya. Melihat Elena bisa hidup kembali dengan baik itu sudah sangat membahagiakan," ucap Khalia.


"Iya, Besan. Rasa ingin menggendong cucu itu sudah menggebu-gebu, tapi itu semua bukan kehendak kita. Jadi, hanya bisa pasrah menerima keadaan sekarang, yang penting anak-anak bahagia," ucap Angelin menghela nafas dan tersenyum.


Khalia mengangguk. "Sepertinya sudah cukup. Ayo kita lihat yang lain," ucapnya.


Mereka segera keluar dari kamar pengantin dan menguncinya.


🍃🍃


Elena dan Rexy segera kembali menuju villa, Clayton dengan setia mengantarkan pasangan bucin itu kemanapun mereka pergi, sebelum status suami istri sudah tersandang dengan pasti.


Besok adalah hari terakhirnya menjadi pengawal pribadi Elena, sebelum menjadi CEO di perusahaan Justin.


Elena dengan manja bersandar di dada bidang Rexy. Tangan mereka masih menggenggam satu sama lain, seolah tidak ingin lepas barang sebentar saja.


"Apa semuanya sudah beres, Bee?" tanya Elena yang merasakan sedikit lelah.

__ADS_1


"Sudah, Sayang. Mereka sedang memastikan jika tidak ada yang kurang ketika acara besok," ucap Rexy tersenyum dan mengecup kepala Elena.


"Aku belum menyiapkan kata-kata untuk besok," ucap Elena.


"Apalagi aku, Sayang. Palingan besok aku gak bisa berkata-kata," ucap Rexy terkekeh.


"Kenapa?" tanya Elena tersenyum.


"Aku pasti akan jatuh dan hanyut dalam pesonamu. wanita paling cantik yang berhasil bertahta di hatiku," ucap Rexy.


"Haha, kamu ada-ada saja!" ucap Elena tergelak "Aku sedikit lelah, Bee. Habis ini aku mau istirahat dulu, biar besok dapat tenaga yang cukup," ucap Elena.


"Tidurlah, Sayang. Nanti aku bangunkan kalau sudah sampai," ucap Rexy.


Elena mengangguk dan menutup mata, tak butuh waktu lama ia terlelap karena usapan tangan Rexy cukup membantu.


"Bagaimana dengan laki-laki itu, Clay? Apa Koji sudah membereskannya?" tanya Rexy pelan.


"Sudah, Tuan. Tinggal menunggu beritanya saja. Kalau tidak salah, dini hari mereka bekerja. Satu kali mendayung, dua pulau terlampaui, istrinya juga terjatuh dari tangga!" ucap Clayton.


"Kasihan istrinya. Orang lain yang berbuat, dia juga terkena imbas dari hasil kejahatan. Bagaimana dengan perempuan itu?" Ucap Rexy menggeleng pelan.


"Kondisi mentalnya makin buruk, Tuan. Saya belum mendapatkan berita, apakah dia sudah mendengar kabar mengenai orang tuanya atau belum," ucap Clayton.


Mereka terdiam, perjalanan masih memakan waktu sekitar lima belas menit lagi. Elena sudah benar-benar terlelap tanpa melepaskan genggaman tangannya.


"Apa ada pergerakan yang mencurigakan, Clay?" tanya Rexy.


"Belum Tuan, semua mafia yang bekerja sama dengan laki-laki itu tidak menunjukkan pergerakan mereka sedikitpun. Nanti Saya dan Fauzi akan mengawasinya. Memastikan jika tidak ada pengacau ketika pesta pernikahan berlangsung besok," ucap Clayton.


"Kau mau lima persen saham di perusahaan laki-laki itu, atau tiga persen saham di perusahaanku?" tanya Rexy.


"Biar nanti Nona yang menentukannya, Tuan. Melihat Nona bahagia, saya merasa memiliki 100 persen saham di perusahaan anda," ucap Clayton tersenyum tipis.


"Cih, kau memang pandai untuk mengambil keuntungan!" ucap Rexy menggeleng.


Ia tau jika Elena akan memberikan saham lebih besar dari tawarannya, atau mungkin Clayton akan mendapatkan saham dari kedua perusahaan.


"Anda sudah tau bagaimana saya, Tuan. Apa kita sudah bisa bernafas lega sekarang? Jantung saya bekerja dengan tidak stabil belakang ini," ucap Clayton.


"Sebelum laki-laki itu mendapatkan vonis, kita belum bisa bernafas lega. Saya mendapat kabar, jika mereka menyiapkan 10 orang pengacara untuk membelanya. Apakah benar?" ucap Rexy.

__ADS_1


"Tuan tidak perlu khawatir, saya sudah menyiapkan empat orang pengacara terbaik, saya juga sudah berdiskusi dengan beberapa jaksa yang pernah menangani kasus yang sama. Kita akan menang di persidangan nanti," ucap Clayton.


Rexy mengangguk senang mendengarkan ucapan Clayton. Perlahan mobil memasuki perkarangan Villa.


Rexy langsung menggendong Elena dan membawanya masuk ke dalam kamar yang sudah di persiapkan.


Setelah membaringkan Elena, Rexy segera menghubungi beberapa orang penting yang bisa membantunya ketika di persidangan.


Jika ia bermain uang, semuanya akan sangat mudah, namun ia tidak ingin itu terjadi. Biarkan semuanya mengalir dengan alami, tanpa ada kecurangan.


Setelah selesai ia berbaring dan memeluk Elena dan mengecupnya dengan lembut.


Sementara itu di luar, Vazo mengernyit ketika Rexy tidak kunjung keluar dari dalam kamar Elena.


"Apa mereka tidur bersama lagi?" tanya Vazo.


"Sudahlah, Yah. Biarkan saja mereka, semuanya sudah terlanjur jadi. Kita hanya memastikan jika acara besok aman terkendali," ucap khalia menggeleng pelan.


Vazo hanya mendelik mendengarkan ucapan sangat istri. Mereka masih duduk di ruang tengah sembari menonton televisi. Menyimak berita yang sedang panas untuk di bahas.


"Pemirsa, seorang pengusaha ditemukan tewas gantung diri di kediamannya. Diduga karena depresi atas kasus yang menimpa sang putri, R memilih untuk mengakhiri hidup di rumah pribadinya. Hal yang mengejutkan, Sang istri juga ditemukan tewas setelah terjatuh dari tangga. Rekan kami sudah berada di lokasi kejadian," ucap pembawa acara berita.


Khalia dan Vazo terkejut, ketika mereka mengenal siapa yang tengah menjadi perbincangan malam ini.


"Yah, bukannya mereka Rendi dan Vero, mertua Justin?" ucap Khalia menutup mulutnya tidak percaya.


"Benar, itu mereka! Tapi tidak mungkin jika Rendi memilih untuk bunuh dengan masalah yang seperti ini," ucap Vazo.


"Apa besan mengenal mereka?" tanya Angelin tidak percaya.


"Iya, kami pernah bertemu. Dia mertua mantan suami Elena yang sekarang sedang berkasus," ucap Khalia.


"Astaga, mereka sudah gila sepertinya. Mengakhiri hidup dengan bunuh diri," ucap Angelin.


"Dia hanya memiliki satu anak bukan? Nanti harta yang tersisa akan habis diperebutkan oleh keluarga yang lain. Kasihan anaknya, dalam kondisi terkena penyakit mental, ia harus menerima kenyataan jika tidak ada lagi orang tua yang akan membantunya," ucap Hinata.


"Besan memang benar. Terlepas dari permasalahan, saya merasa iba dengan mereka," ucap Vazo menghela nafasnya.


Tanpa ada yang menyadari, Clayton dan Ren tersenyum tipis mendengar berita itu sudah tersebar.


Satu misi mereka kembali berhasil di selesaikan. Walaupun itu atas perintah Rexy, namun melenyapkan Rendi, juga termasuk ke dalam list pekerjaan mereka.

__ADS_1


Hanya tersisa satu masalah lagi. Setelah itu, aku bisa tenang melihat kebahagiaan Nona dan Tuan di masa depan. Batin Clayton.


__ADS_2