
Rexy baru saja tiba di Indonesia, ia segera pergi menuju rumah sakit untuk melihat kondisi Elena. Sebab, sebelumnya Ren memberi kabar jika Elena terluka.
"Lebih cepat, Fauzi! Kenapa kau sangat lambat!" Bentak Rexy dengan tidak sabar.
"Maaf, Tuan. Jalanan sangat padat dan akan susah untuk berkendara lebih cepat!" ucap Fauzi.
Rexy sudah sangat tidak sabar untuk bertemu dengan Elena. Jika tau seperti ini ia lebih memilih untuk menaiki helikopter menuju ke perusahaan dan langsung pergi ke rumah sakit.
Hampir setengah jam berlalu, Rexy masih saja mengupat di sepanjang jalan. Hingga mobil berhenti di depan loby rumah sakit.
Ia segera berlari menuju lantai paling atas dimana Elena tengah berada. Sebab dari semalam, tidak ada yang mengizinkan wanita cantik itu pulang sebelum keadaannya sudah benar-benar pulih.
BRAK!
Rexy langsung membuka pintu dengan kasar dan melihat Elena masih tertidur dengan nyanyak diatas brankar.
"Kamu sudah pulang?" Tanya Angelin terkejut.
"Iya, Bunda. Apa kalian baik-baik saja?" Tanya Rexy khawatir.
"Baik, kami baik-baik saja!" Ucap Angelin tersenyum dan memeluk sang putra.
Rexy mengangguk dan menatap Elena yang masih terlelap. Ia mendekat dan melihat wajah pucat wanita cantiknya.
"Elena baik-baik saja! Hanya butuh waktu untuk beristirahat agar bisa pulih secepatnya!" ucap Hinata menatap sang putra.
Rexy belum bisa bernafas lega, sebab wajah wanita cantik itu begitu pucat. Dengan perlahan ia menyibak selimut yang tegah menutupi tuubuh elena. Ia meneliti setiap pori-pori wanita cantik itu, apakah ada yang terluka atau tidak.
Tepat ketika ia melihat tangan Elena terdapat luka lebam yang cukup kontras dengan kulit putihnya. Wajah Rexy langsung memerah karena emosi.
Ia meraih ponsel dan menghubungi Koji yang sudah tiba di jepang.
"Habisi mereka tanpa tersisa!" Ucap Rexy dengan tegas dan penuuh dengan amarah.
"Jangan gegabah, Nak!" Ucap Hinata. "Elena baik-baik saja! Clayton menjaganya dengan sangat baik," sambungnya.
"Tidak, Ayah! Mereka harus segera dihancurkan. Jika tidak, kita akan selalu seperti ini dan mereka tidak akan berhenti hingga kita hancur bahka sampai merengut nyawa," ucap Rexy tegas.
__ADS_1
Hinata terdaim, ia sangat mengenal bagaimana sifat Rexy. Putra sematawayangnya itu tidak pernah bertindak gegabah dan selalu memikirkan sesuatu dengan tepat dan bijaksana.
"Jika itu memang menjadi keputusanmu, Ayah harap tidak ada penyesalan dikemudian hari jika sewaktu sasaranmu adalah orang yang salah," ucap Hinata menepuk bahu Rexy.
Pria tampan itu terdiam, emosi memang sangat menguasainnya kali ini. Namun keputusan yang ia ambil juga tidak salah dan sudah ia pikirkan dengan sangat matang selama perjalanan pulang.
"Aku sudah memutuskannya, Yah! Mereka memang harus dimusnahkan agar kita bisa hidup dengan tenang tanpa gangguan yang sangat berbahaya seperti ini lagi," ucap Rexy tanpa mengurangi ketegasanya.
"Jika itu memang keputusan kamu, Ayah hanya bisa mendukung. Ayah yakin kamu sudah memikirkannya dengan baik," ucap Hinata tersenyum.
"Terima kasih, Ayah!" Ucap Rexy tersenyum tipis.
Tanpa mereka sadari, jika elena telah bangun, duduk dan memasang wajah datarnya menatap Rexy yang masih berdebat.
"Sayang?" Panggil Rexy terkejut.
"Masih ingat aku?" Tanya Elena ketus.
Rexy mengernyit. " Aku baru pulang lo, Sayang! Kenapa kamu malah ketus seperti itu?" ucapnya bertanya.
Rexy terdiam. Lidahnya kelu menjawab perkataan Elena.
"Setidaknya kamu bisa mengatakan apa yang terjadi, agar aku bisa mempersiapkan diri walaupun dalam keadaan lumpuh!" ucap Elena lirih.
Sungguh ia merasa begitu kesal dengan Rexy yang tidak mau terbuka jika ada bahaya yang sedang mengelilinginya. Ditambah dengan janji pria tampan itu untuk memberikan ia kabar setiap waktu yang tidak ditepatinya, membuat Elena semakin merasa kesal.
"Aku hanya tidak ingin kamu terluka, Sayang!" Ucap Rexy menatap elena dengan lekat.
Angelin dan Hinata memilih untuk pergi dan membiarkan mereka menyelesaikan masalah tanpa ada campur tangan orang tua.
"Itu alasan klasik, Bee! Siapa saja pasti tidak ingin terluka, tapi firasat mereka bisa mengatakan jika ada bahaya, hanya bisa menuggu kapan waktu itu akan datang. Sementara aku, kamu tau jika aku sedang diincar, kamu tau aku dalam bahaya tapi yang kamu lukan hanya membuat aku bingung memikirkan tingkahmu tanpa mempersiapkan apapun!" ucap Elena dengan suara yang mulai meninggi.
"Aku hanya tidak ingin kamu terluka lagi! Sudah cukup semua penderitaan yang kamu alami selam ini karena ulah mereka! Aku pergi menghentikan semuanya sebelum terjadi dan kamu malah menyalahkan aku karena tidak memberitahukan hal besar ini? Aku tidak habis pikir dengan jalan pikiran kamu Elena!" Ucap Rexy emosi.
Elena terkejut mendengarkan perkataan Rexy. Apalagi pria tampan itu menyebut namanya dengan begitu lantang.
Ia hanya terdiam menahan emosi yang sudah mulai menguasai dirinya. Ia berpaling dan enggan untuk menatap Rexy yang sudah dikuasai oleh amarah.
__ADS_1
"Aku tau tujuan kamu baik, bahkan sangat baik. Tapi aku selalu merasa menjadi beban kamu tanpa bisa berbuat apaun. Untuk apa selama ini aku melatih diri dengan begitu keras hingga akhirnya aku tetap menjadi beban kamu dan yang lain," ucap Elena dengan suara yang tercekat karena air matnya sudah menggenang.
Rexy termagu mendengarkan ucapan Elena. Ia tidak menyangka jika wanita cantik itu akan berpikir hingga sejauh. Menganggap dirinya beban dengan keadaan yang seperti sekarang.
"Aku tidak pernah menganggap kamu beban selama ini! Kenapa kamu sampai berpikiran seperti itu?" Tanya Rexy berusaha untuk mengendalikan emosinya.
"Karena kamu tidak pernah berterus terang kepadaku ketika kamu tau jika ada bahaya yang datang!" ucap Elena dengan suara yang meninggi.
"Elena!" teriak Rexy.
Wanit cantik itu terkejut dengan air mata yang menetes tanpa bisa ia cegah lagi. Jantungnya serasa direemas dengan begitu kuat, mndengarkan suara Rexy yang begitu keras
Rexy juga terkejut ketika ia tanpa sadar berteriak seperti itu kepada Elena.
"Mungkin kamu terlalu lelah! Beristirahatlah terlebih dahulu!" Ucap Elena dengan suara yang tercekat, sembari menghapus air matanya.
Rexy hanya terdiam di tempat., ia masih berusaha untuk mengedalikan diri sambil memejamkan mata dan mengepalkan tangannya.
Ia segera memeluk Elena dan merebahkan diri di atas kasur tanpa mengeluarkan septah katapun.
Elena terisak dengan perasaan yang bercampur aduk. Jantungnya terasa sakit, sesak dan membuatnya sulit untuk bernapas.
"Lepas, Bee!" ucap Elena berusaha untuk memberontak.
Rexy justru semakin mengeratkan pelukannya tanpa berkata apapun. Sementara Elena semakin merasa sesak.
"Bee, lepas dulu!" ucap Elena.
Rexy kembali emosi dan bangkit dari atas brankar. Ia berlalu tanpa mau menatap Elena lagi. Ia merasa sangat marah karena Elena menolak pelukannya.
Padahal dengan sangat terburu-buru ia menyelesaikan semua pekerjaan itu namun hanya penolakan yang ia dapat.
"Bee!" panggil Elena dengan tercekat.
Nafasnya terasa begitu sesak dan jantungnya terasa sangat sakit. Semakin sakit dan sesak ketika Rexy tidak mendengarkan panggilannya.
"Bee, Sakit!" ucap Elena sangat lirih megiringi gebrakan pintu yang tertutup dengan sangat keras.
__ADS_1