
Elena masih bersandar di dada bidang Rexy sambil memikirkan apa yang harus ia perbuat setelah ini. Terkadang semua yang direncanakan tidak berjalan dengan baik dan juga tidak bisa bertindak sesuka hati.
"Bee, apa ini saatnya untuk kita mengungkit semua kebohongan ini?" Tanya Elena.
"Apa kamu ingin segera menyelesaikannya, Sayang?" tanya Rexy dengan lembut.
"Iya, aku merasa lelah dengan harus berpura-pura. Apa lagi besok aku akan bertemu dengan Justin. Aku tidak bisa melakukannya lagi, Bee!" ucap Elena lirih.
"Kenapa?" tanya Rexy tersenyum.
"Aku merasa bersalah kepadamu. Padahal kamu sudah memiliki bukti yang valid, hanya tinggal menyerahkan itu semua kepada pihak kepolisian. Aku malah memilih untuk bermain dengan dia," ucap Elena.
"Tidak masalah bagi aku, Sayang. Aku hanya ingin kamu sembuh dari trauma dan bisa melawannya dengan sangat baik. Jika harus terlibat dengan mereka lagi, aku masih memiliki kekuatan untuk melindungimu semampuku. Sekarang, semua keputusan berada di tangan kamu, Sayang!" ucap Rexy mengelus kepala Elena dengan lembut.
Wanita cantik itu hanya terdiam. Pikirannya sibuk berkelana memikirkan apa yang harus ia perbuat setelah ini. Jangan sampai keputusannya merugikan banyak pihak, apalagi mempertaruhkan nama baik Rexy.
"Perempuan itu sudah di tahan karena hasil tes urine yang positif, tapi kita belum bisa memastikan berapa lama dia akan dipenjara. Sangat tidak mungkin dia akan mendapat hukuman mati," ucap Elena.
"Sementara Justin, jika dia memiliki pengacara yang hebat, maksimal hanya mendapatkan seumur hidup atau 15 tahun penjara. Aku rasa itu tidak sebanding dengan apa yang aku alami selama ini. Tetapi akku merasa semuanya sudah lebih dari cukup untuk memberi efek jera kepada mereka," sambungnya.
Rexy tersenyum. Ia tau jika Elena perempuan yang sangat pintar. Apapun yang dilakukan penuh dengan perhitungan, walaupun masih ada rasa takut di dalam dirinya.
"Aku ikut apa yang menjadi keputusanmu, Sayang. Jika kamu ingin, kita bisa mengakhiri ini semua dan memasukkan laporannya besok. Atau kamu ingin mengadakan sedikit drama untuk membuka identitasmu, aku akan mengaturnya!" ucap Rexy tersenyum.
"Ah, drama lagi. Aku lelah, Bee. Aku ingin hidup tenang bersama kamu, menikmati kopi di setiap pagi. Mengganggumu dan berkeringat bersama," ucap Elena terkekeh.
"Jadi, bagaimana? Apa besok kita masukkan laporan?" tanya Rexy tertawa.
"Boleh! Aku ingin pernikahan kita tenang dan berjalan dengan baik. Aku berharap kamu tidak mengundang orang yang terlalu banyak untuk datang," ucap Elena.
"Tidak, aku tidak mengundang banyak orang, Sayang!" ucap Rexy gelagapan.
"Ah, syukurlah. Kalau banyak nanti aku kelelahan, gak baik untuk kesehatan. Kamu juga puasa dulu, sampai tenagaku pulih lagi," ucap Elena tersenyum sambil merebahkan kepalanya di atas paha Rexy.
Pria tampan itu menelan ludahnya. Ia segera tersenyum menatap Elena, agar tidak aalah tingkah.
__ADS_1
"Hmm, agak sedikit banyak, Sayang. Nanti aku kurangi, ya" ucap Rexy tersenyum.
Elena tertawa melihat Rexy yang salah tingkah. "Apa kita akan tidur di sini?" tanya Elena menatap sepi tempat itu.
"Sepertinya ia, di luar terlihat akan hujan. Lebih baik kita tidur di sini saja. Aku sudah mengatakannya kepada ayah," ucap Rexy.
Saat mereka sedang berbincang, Clayton keluar dengan tergesa-gesa, memanggil Rexy sebab ada suatu penemuan yang membuatnya terkejut.
Tanpa menunggu lama, mereka segera kembali menuju ruang kerja Rexy dan melihat apa yang di temukan oleh Clayton.
"Kami menemukan orang yang menyebarkan berita itu, Tuan. Mereka menyewa hacker luar negeri untuk melakukan ini semua," ucap Clayton.
"Siapa?" tanya Rexy.
"Orang tua nyonya Reema, Tuan Rendi," ucap Clayton
"Bagaimana dia bisa membuat berita ini? Apa dia tau jika Elena masih hidup?" tanya Rexy.
"Saya kurang tau, Tuan. Sepertinya mereka merasa terusik dan meretas perangkat saya, Tuan! Mohon tenang sebentar!" ucap Clayton.
Mereka terkejut, namun tidak ada yang bersuara. Clayton dengan fokus menghadang semua serangan yang masuk melalui perangkatnya.
"Bee, sepertinya kita harus menyelesaikan ini semua, sebelum hal lain terjadi!" ucap Elena berbisik.
Rexy mengangguk dan masih tetap menunggu Clayton sembari membantu pria tampan itu.
Hingga hampir satu jam lamanya ia menahan serangan dan memperbaiki sistem yang ada, Clayton berhasil melindungi semua data yang ia punya.
"Ah, syukurlah!" ucap Elena yang terlihat pucat.
"Sayang, kamu lebih baik beristirahat. Ini sudah larut!" ucap Rexy khawatir.
"Aku takut sendiri, Bee. Aku di sini saja," ucap Elena tersenyum.
Rexy terdiam sambil mempersiapkan semua berkas laporan Justin yang selalu ia bawa kemana-mana.
__ADS_1
"Besok buat laporannya, Clay. Laporan atas nama Vania Abigail. Besok akan kita proses dengan cepat," ucap Rexy tegas.
"Baik, Tuan," ucap Ren mengangguk.
Jantung Elena berdetak kencang, ia merasa takut jika terjadi sesuatu yang tidak di inginkan setelah semua ini terjadi.
Ia terlihat semakin pucat dengan tangan yang mulai gemetaran. Rexy menyadari itu dan langsung memeluk Elena dengan erat.
"Lupakan semua rasa, Sayang. Kamu harus menjadi wanita yang kejam jika sesuatu terjadi kepadamu! Kamu harus bisa menghadapi mereka semua. Aku, Clayton, Ren dan yang lain selalu ada untuk kamu," ucap Rexy tegas.
Elena berkaca-kaca, hatinya menolak untuk berbuat lebih jauh. Tetapi selangkah lagi, ia sudah menyelesaikan semua misi dengan baik dan mengungkap kebenaran yang selama ini tertutupi.
"Sayang?" panggil Rexy ketika tidak mendapatkan jawaban dari Elena.
"Iya, Bee. Temani aku terus!" ucap Elena mengeratkan pelukannya kepada Rexy.
"Aku bersama kamu, Sayang! Besok ada rapat pemegang saham di kantor laki-laki itu, kamu harus datang dan membongkar ini semua!" ucap Rexy dengan tegas sambil menatap mata Elena dengan sangat yakin.
"Iya, aku ikut!" ucap Elena mengangguk.
Ren dan Clayton tersenyum tipis melihat Elena. Wanita cantik yang memiliki kelembutan hati namun sekarang dipaksa menjadi seorang yang tegas dan kejam untuk mendapatkan keadilan.
Malam itu, Elena bertekad akan melaporkan Justin ke kantor polisi atas tuduhan pembunuhan berencana.
Rexy tersenyum senang, melihat Elena yang mulai bisa mengendalikan diri dari traumanya.
Aku tau kamu wanita yang kuat, Sayang. Kamu wanita yang begitu spesial, hadir dan mengisi hatiku hingga titik terdalam. Aku tidak bisa membayangkan jika tiba-tiba saja kamu pergi dariku. Batin Rexy menatap Elena dengan sendu.
Ia mengambil sesuatu yang sangat berharga bagi Elena. Barang yang sudah ia simpan sedari dulu semenjak kecelakaan itu.
"Ponsel siapa ini, Bee?" tanya Elena.
"Itu ponsel kamu, Sayang. Semua data yang ada di ponsel lama kamu sudah aku salin ke sana. Mana tau kamu ingin membuka media sosial Vania dan membuat sesuatu yang menggemparkan?" tanya Rexy tersenyum.
"Sesuatu yang menggemparkan?" tanya Elena sambil tersenyum jahat. "Besok pagi saja, Bee!" ucapnya.
__ADS_1
"Baiklah, ayok kita beristirahat!" ucap Rexy.
Mereka segera beristirahat setelah merasa semuanya aman terkendali. Malam terakhir dimana Justin menghirup udara bebas sebelum