
"Honey bangun!" Ucap Justin membangunkan Reema yang masih terlelap.
Waktu sudah menunjukkan pukul 10 pagi waktu London. Justin sudah terbangun sejak tadi, sementara Reema terlihat sangat lelah dengan wajah yang pucat.
"Honey bangun, sudah siang!" Ucap Justin mengelus pipi Reema.
"Sebentar lagi, Mas. Aku masih lelah!" Ucap Reema lirih.
"Banyak panggilan masuk dari ponselmu sedari tadi! Ayo lihat dulu!" Ucap Justin mengelus kepala Reema.
"Gara-gara kamu, aku gak masuk kerja, Mas! Aku semakin lama di sini!" Keluh Reema dengan suara serak.
Justin terkekeh, ia sangat suka menyiksa Reema dengan kenikmatan. Karena wanita cantik ini tidak akan menolak semua sentuhan darinya sedikitpun.
"Apa kamu tidak senang dengan kehadiranku?" Tanya Justin.
"Senang, Mas," Ucap Reema manja. "Tapi gak gini juga!" Rengeknya.
Justin semakin tertawa melihat tingkah Reema. Ia menggendong sang istri menuju kamar mandi dan meletakkannya di atas bath tube.
"Bersih-bersih dulu, Honey. Ada yang ingin aku bicarakan!" Ucap Justin tersenyum.
"Iya!" Ucap Reema pasrah.
Justin segera keluar dari kamar mandi dan menghubungi Elena. Baru berpisah sebentar, pria tampan ini sudah merasakan rindu yang teramat dengan wanita cantik itu.
Ia kembali teringat dengan perkataan Elena kemarin, sambil menatap wajah cantik yang ada di layar ponselnya, pikiran Justin melayang kemana-mana.
Sepertinya aku memang harus memberikan Reema kesempatan untuk memperbaiki pernikahanku. Jika memang dia tidak ingin, maka semuanya harus aku akhiri dengan segera!. Batin Justin.
"Mas!" Panggil Reema dari kamar mandi.
Justin segera melihat sang istri dan menggendongnya keluar dari sana.
"Kamu harus tanggung jawab, karena kamu, aku gak bisa jalan!" Ucap Reema sambil cemberut.
"Iya, Joy sudah mengatur semua pekerjaanmu hari ini!" Ucap Justin.
Ia memilihkan baju untuk Reema, gaun tidur seksi berwarna merah menjadi pilihannya. Wanita cantik itu mengernyit, ia sudah terlalu lelah melayani Justin yang seolah tengah membalas dendam, karena ia sudah lama tidak mendapat jatah.
"Aku masih lelah, Mas!" Ucap Reema manja.
"Iya, aku tidak akan memintanya lagi. Ada sesuatu hal yang ingin aku bicarakan kepadamu!" Ucap Justin tersenyum.
"Tentang apa?" Tanya Reema bersandar di dada Justin.
"Apa pekerjaanmu sudah senggang?" Tanya Justin.
__ADS_1
"Belum, Mas. Jadwaku masih padat," Ucap Reema manja.
"Bagaimana kalau aku saja yang kerja?" Tanya Justin.
"Maksud kamu?" Tanya Reema menatap mata Justin lekat.
"Sudah dua tahun lebih kita menikah, umurku juga tidak muda lagi. Apa kamu tidak berfikir untuk memberikan aku keturunan?" Tanya Justin santai.
Reema tidak terkejut, suatu saat Justin pasti akan meminta hal ini kepadanya. Namun ia sangat belum siap untuk mengandung, takut jika tubuhnya tidak lagi bagus untuk pekerjaan yang sedang ia dalami saat ini.
Apa lagi sekarang karir Reema tengah menanjak dan ia mulai dilirik oleh agensi atau brand besar dunia.
Justin melihat perubahan wajah Reema yang terlihat sangat keberatan. Namun ia masih ingin melihat reaksi dari sang istri tentang permintaannya.
"Mas, aku, aku belum siap!" Ucap Reema lirih.
"Belum siap yang seperti apa?" Tanya Justin mencoba untuk tidak emosi.
"Karirku sedang menanjak, Mas. Kamu sendiri tau, kalau ini cita-citaku dari dulu!" Ucap Reema memberanikan diri untuk menatap wajah Justin.
"Aku tau, bukankah setelah melahirkan kamu bisa melakukan diet dan kembali menjadi seorang model? Bahkan sekarang model yang tengah hamil juga banyak, kan?" Tanya Justin.
"Tapi aku belum siap, Mas!" Ucap Reema dengan nada bicara yang mulai meninggi.
"Kamu tinggal pilih, hamil atau kita berpisah!" Ucap Justin tegas.
Duar!!
"Aku tidak ingin berdebat! Silahkan pilih, kamu hamil atau kita berpisah! Bagaimanapun juga, aku butuh keturunan untuk mewarisi semua aset yang aku punya!" Ucap Justin tegas menatap Reema dengan lekat.
"Kamu egois, Mas! Bukankah dulu kamu bilang tidak akan pernah menuntut aku tentang anak? Kenapa kamu tiba-tiba saja meminta anak seperti ini?" Tanya Reema dengan emosi.
"Pemikiran seseorang pasti akan selalu berubah. Kini aku membutuhkan seorang keturunan dengan segera!" Ucap Justin dengan wajah yang sudah di penuhi amarah.
Tidak ada lagi wajah dengan senyuman yang manis, tidak ada lagi kelembutan dari pria tampan itu. Hanya ada ketegangan yang memenuhi seisi kamar.
"Aku belum siap, Mas! Kamu jangan egois untuk memenuhi kebutuhan kamu sendiri!" Ucap Reema dengan wajah memerah.
Rasa lemasnya seketika menghilang, tergantikan dengan rasa marah dan juga takut ditinggalkan.
"Sudahlah, jika kamu tidak ingin memberikan aku anak, kita sudahi saja semuanya sampai di sini!" Ucap Justin yang tidak ingin berdebat terlalu lama.
"Mas!" Pekik Reema dengan air mata yang menggenang.
Justin menoleh ke sembarang arah, ia tidak ingin goyah hanya karena air mata seorang wanita.
"Apa hubungan ini hanya sebatas anak saja? Atau kamu masih memikirkan wanita sialan itu? Mas ingat, dia sudah mati, dia sudah mati!" Pekik Reema dengan suara yang melengking.
__ADS_1
"Berhenti menyebut dia! Semua ini tidak ada hubungannya dengan Vania atau siapa pun! Ini adalah murni keinginanku!" Balas Justin dengan suara yang lebih keras.
"Lalu kenapa? Kenapa kamu tiba-tiba meminta anak?" Tanya Reema dengan masih menggunakan nada tinggi.
"Ini hanya keinginanku! Keinginanku, Reema!" Ucap Justin membuat Reema terdiam.
Justin tidak lagi memanggilnya dengan sebutan honey. "Kemana panggilanmu, Mas?" Ucap Reema dengan air mata yang menetes.
Justin terdiam, saking emosinya ia malah menyebut nama Reema yang sudah lama tidak ia panggil. Justin mencoba untuk meredam emosi dan berbicara baik-baik dengan sang istri, apa yang akan menjadi keputusannya saat ini.
"Jadi bagaimana? Apa pilihanmu? Aku tidak ingin berbasa basi lagi!" Tanya Justin dengan nada datar.
Reema terdiam, ia tidak tau harus menjawab seperti apa. Satu sisi ia masih ingin mempertahankan pernikahannya dengan Justin, tetapi satu sisi ia masih belum ingin hamil.
"Aku tidak tau! Aku tidak ingin keduanya terjadi!" Ucap Reema lirih.
"Berpikirlah, sebelum kembali ke Indonesia!" Ucap Justin memakai jaket dan meninggalkan Reema sendiri di dalam kamar.
"Mas! Mas tunggu! Mas, jangan pergi!" Pekik Reema. "Mas! Baiklah aku setuju!" Sambungnya.
Justin berhenti dan terdiam dengan rasa yang tidak percaya. Ia berbalik badan dan menutup kembali pintu kamar.
Menatap wajah lusuh Reema yang sudah dipenuhi air mata. Justin berjalan mendekat ke arah sang istri dengan rasa tidak percaya.
"Coba ulangi lagi? Apa aku salah dengar?" Tanya Justin memastikan.
"Aku, aku mau hamil anak kita, Mas!" Ucap Reema lirih.
"Kamu yakin?" Tanya Justin dengan wajah yang mulai berbinar.
"Ya, Aku yakin! Tetapi beri aku waktu untuk menyelesaikan semua pekerjaanku!" Ucap Reema menatap Justin penuh harap.
"Baiklah," ucap Pria tampan itu mulai tersenyum.
Syalan! Kalau bukan karena harta dan aset, aku belum mau mengandung dalam waktu dekat!. Batin Reema mendongkol.
Justin membuka kembali jaket yang ia pakai dan mendekat ke arah Reema. Ia memeluk wanita cantik itu dengan perasaan bahagia.
"Terima kasih, honey. Aku bahagia mendengar kamu bersedia untuk memberikan aku keturunan, satu saja sudah cukup!" Ucap Justin dengan wajah yang merona.
"Jangan pernah berniat untuk meninggalkan aku, Mas!" Ucap Reema lirih.
"Tidak, honey. Tapi kamu sudah berjanji, dan harus ditepati secepatnya. maksimal akhir tahun kita sudah mendapatkan kabar bahagia!" Ucap Justin.
Aku tidak berjanji, Mas! Aku tidak akan hamil dalam waktu dekat! Kau lihat saja, apa yang bisa aku lakukan selama satu tahun ini!. Batin Reema.
Untunglah, kamu mau menuruti permintaanku. Sementara aku mendekati Elena, setidaknya masih bisa mengikatmu dengan keadaan hamil nanti!. Batin Justin tersenyum.
__ADS_1
🌺🌺🌺
TO BE CONTINUE