
Justin begitu panik melihat media yang entah kenapa kembali mengungkit kejadian ini. Ia segera menghubungi Joy untuk meminta bantuan dan meredam semua masalah ini.
"Maaf, Tuan. Berita ini sangat sulit untuk dihentikan, saya sudah mencobanya sedari tadi, semenjak melihat berita itu!" ucap Joy terdengar panik.
"Siapa yang berani bermain seperti ini denganku? Apa dia tidak sadar tengah mengusik siapa?" ucap Justin dengan wajah yang memerah menahan emosi.
Ia memilih untuk ikut memberikan opini dan teori lain agar mereka mengesampingkan berita itu. Namun, pemberitaan semakin dibakar dan sulit untuk di jelaskan.
"Sial! Siapa yaang membuat konspirasi seperti ini? Apa mereka ingin menarik ulur kejadian itu?" Tanya Justin terkejut.
Ia membaca tulisan Clayton dengan fokus dan terkejut dengan isinya. Ia semakin geram ketika di sana tertulis sesuatu yang bisa mengungkit pelaku, namun berhasil membuat orang menjadi ragu tentang kebenarannya.
"Akankah, Vania kembali dalam reinkarnasi atau memang selamat dari kecelakaan?" ucap Justin membaca kalimat terakhir konspirasi itu.
"Tidak ada orang yang tau dengan kejadian ini selain Elena dan Ree... ma," ucap Justin dengan mata yang melotot di kuasai amarah.
"Syalan kau perempuan terkutuk! Mati saja kau di neraka!" pekiknya dengan amarah yang tidak bisa dikendalikan lagi.
Jika saja Reema tidak berada di kantor polisi, mugkin saat ini Justin sudah membunuh perempuan itu dan memutilasinya.
Ia masih memantau semua pergerakan media. Jika bisa, ia akan menutup berita itu dengan cepat.
Justin merasa frustrasi dengan apa yang tengah terjadi. Rahasia yang begitu ia jaga dengan baik, kita berada diambang batas. Semua orang akan membahas tentang ini.
"Tenang Justin! Mereka hanya bisa berasumsi tanpa bukti yang nyata! Mereka tidak akan menemukan sesuatu yang mencurigakan," ucap Justin berusaha untuk tenang.
Namun ia terdiam, bagaimana jika Vania memang benar-benar masih hidup dan datang menemuinya.
"Tidak mungkin, sudah jelas DNA Vania berada di sana. Hasil tes sudah mengatakan jika beberapa potongan tubuh Vania memang ditemukan. Tidak mungkin dia bisa hidup lagi!" ucap Justin bermain dengan pikirannya.
Ia terdiam, hanya ada satu perempuan yang mendekatinya belakangan ini. Tiba-tiba saja datang dan menawarkan diri menjadi teman dekat.
"Apa Elena itu Vania?" ucap Justin menerka.
Tidak mungkin!. Batinnya.
Ia kembali terdiam sembari berpikir untuk menemukan jawaban yang benar.
__ADS_1
"Tidak mudah untuk melakukan operasi plastik dan berganti wajah. Jika dia memang Vania, pasti ada bagian tubuh yang tidak sempurna, karena kecelakaan itu sangat parah! Minimal dia tidak biasa berjalan atau kehilangan anggota tubuhnya," ucap Justin masih berusaha untuk berpikir.
Ia mengingat malam dimana, ia baru saja keluar dari rumah sakit. Justin melihat punggung Elena sangat mirip dengan Vania dalam temaram cahaya.
Matanya melotot kaget, dengan asumsi yang ia timbulkan sendiri.
"Tidak mungkin! Elena bukan Vania! Mereka orang yang berbeda dari segi apa pun. Tidak mungkin, ini sangat tidak mungkin!" ucap Justin menggelengkan kepalanya.
Elena dan Vania, dua nama yang tengah bermain di dalam pikirannya. Menemukan jalan dan titik terang tentang mereka, apakah benar Elena adalah transformasi dari Vania?.
"Aarrgghh!" pekik Justin sembari menjambak rambutnya. "Kenapa dulu aku tidak memperhatikan Vania dengan baik? Aku hanya menghafal punggungnya tanpa sempat untuk memperhatikan mata indah itu," ucap Justin kesal.
Ia duduk di atas sofa sambil melihat dan mengamati pemberitaan. Seperti ada yang mengendalikan, dua arah yang saling berlawanan, ada pro dan kontra.
"Apa aku terlalu kalut dalam kenangan Vania, hingga tidak menyadari bencana besar yang akan menimpaku?. Ah, Shiit! Jika benar, mereka akan tertawa setelah melihat kehancuranku setelah ini. Sebelum terjadi, aku harus menghentikan semuanya!" ucap Justin dengan tatapan mata yang tajam.
Ia kembali menghubungi Joy, untuk mengatakan semua opini dan asumsi yang sudah ia pikirkan.
Malam itu mereka bekerja sama dengan dunia mafia untuk berjaga-jaga agar tidak tertangkap polisi atau ketahuan.
"Dan kalian mengetahui apa yang sudah aku perbuat!" ucapnya berdiri.
Justin terkejut dan menjambak rambutnya dengan kasar. Ini sungguh mustahil jika mereka memang orang yang sama.
Ia kembali duduk dengan tatapan sendu. "Jadi, kedekatan yang sudah dibangun Elena hanya sebuah kepalsuan? Argh! aku tidak bisa membayangkan jika mereka adalah orang yang sama!" ucap Justin.
Prang!!
Ia melempar gelas wine yang ada di atas meja. Pikirannya kalud, jika memang benar, ia ingin memeluk Elena dengan erat dan meminta maaf, meminta agar wanita cantik itu kembali bersamanya.
Namun jika mereka orang yang berbeda, ia akan meminta Elena untuk menjadi istrinya. Apapun pasti ia lakukan untuk membuat wanita cantik itu bahagia.
"Besok aku harus menemui Elena dan menanyakan sesuatu yang mungkin bisa menjadi pentunjuk, apakah pemikiranku benar atau salah," ucap Justin.
Atau ini semua hanya sebuah jebakan? Tapi siapa? Tidak mungkin Elena bekerja sendiri untuk menjebak ku!. Batinnya.
Kini Justin masih memantau semua berita itu sambil memikirkan kemungkinan yang akan terjadi setelah ini.
__ADS_1
Hingga malam berganti pagi, ia tidak terpejan sedikitpun sembari memberikan arahan kepada beberapa orang untuk menjaga tempat dimana bukti kejahatannya ia simpan.
Ia segera bersiap untuk pergi ke kantor. Pagi ini ada rapat pemegang saham rutin yang akan diadakan setiap bulannya.
Dengar wajah dingin, ia berjalan dengan tegap keluar dari apartemen dan segera pergi.
Justin membawa mobil dengan cukup cepat, melihat kondisi jalan yang masih terlihat lengang. Ia memikirkan kejadian semalam tanpa menghiraukan perutnya yang masih kosong.
Hingga pagi ini, semua media masih membicarakan tentang kecelakaan itu, bahkan semakin menjadi. Ia tidak tau harus berbuat apa selain melindungi diri. Sebab, jika ia tertangkap, maka semua orang akan terseret dalam kasus ini.
Tak lama, ia tiba di kantor yang masih terlihat sepi. Justin segera pergi menuju ruangannya tanpa menghiraukan sapaan dari siapapun.
Ia hanya termenung memikir sembari menemukan solusi dari masalah ini. Ia tidak bisa bertindak gegabah, karena bisa jadi ada boom atom yang akan menghujam dirinya.
Hingga Joy dan sekretaris perusahaan datang, Justin segera menuju ruang rapat karena ada beberapa pemegang saham yang sudah hadir di dalam ruangan itu.
"Tuan, saya menemukan pelakunya!" ucap Joy berbisik.
Justin berhenti dan menatap Joy dengan penasaran. "Siapa?".
"Tuan Rendi! Dia yang menyewa beberapa hacker untuk mengangkat berita ini!" ucap Joy.
"Pasti wanita ular itu yang memberitahukannya!" ucap Justin emosi.
"Kita harus membuat mereka bungkam, dan membersihkan semua kekacauan ini dengan segera, Tuan!" ucap Joy.
"Nanti kita urus setelah rapat! Perintahkan beberapa orang untuk berjaga-jaga dan perketat penjagaan!" ucap Justin kembali melangkah memasuki ruang rapat.
Ia melihat ponsel yang berdiring dengan nada dering khas, yang membuatnya terkejut.
Aku sudah kembali!. Batin Rexy membaca sebuah posting dari orang yang begitu ia rindukan.
Apa ini beneran kamu, Va? Kamu masih hidup dan..., dan Elena itu memang kamu!. Batinnya terkejut.
Tanpa Sadar Justin menjatuhkan ponselnya di depan pintu dan membuat semua mata tertuju kepadanya.
Ia memilih untuk segera duduk sebelum menimbulkan banyak pertanyaan yang mulai mendapatkan titik terang.
__ADS_1