PELAKOR Ter-SAVAGE

PELAKOR Ter-SAVAGE
Berdrama


__ADS_3

Di perusahaan Rexy. Pria tampan itu mendapatkan seorang pengusaha yang ingin menjual sahamnya yang ada di perusahaan lain dengan harga yang sangat rendah.


bertujuan agar saham perusahaan itu bisa turun dan investor yang lain juga ikut menarik saham mereka.


"Kenapa anda menjualnya? Bukankah anda mertua dari tuan Justin?" Tanya Rexy mengernyit bingung.


"Lebih tepatnya mantan mertua. Anak saya sudah diceraikannya, Tuan. Sekarang saya ingin menjual saham itu kepada anda, dan hancurkan laki-laki badjingan itu dengan kekuasaan anda, Tuan," ucap Rendi menatap Rexy dengan kilatan amarah.


"Anda memerintah saya?" Tanya Rexy mengernyit.


Rendi gelagapan. "Bukan seperti itu maksud saya, Tuan. Saya ingin meminta bantuan anda untuk menghancurkan dia!" ucapnya.


"Kenapa anda bisa berpikir kalau saya akan membantu? Saham perusahaan itu sudah 40 persen saya miliki. Kendali perusahaan ada di tangan saya, saham 10 persen anda tidak akan merubah apapun lagi," ucap Rexy tegas.


Rendi hanya terdiam, karena apa yang dikatakan oleh Rexy memang benar adanya.


"Kalau anda ingin menghancurkan tuan Justin hanya karena dendam semata, itu bukan ranah saya! Anda menjual saham tetapi memerintah saya. Otak anda dimana?" ucap Rexy dengan tegas.


Rendi terdiam, ternyata memang benar bagaimana rumor yang beredar tentang Rexy. Pria itu tegas dan perkataannya tajam tanpa di saring terlebih dahulu.


"Tuan Justin itu memiliki kinerja yang bagus. Kalau pun anda ingin menghancurkannya, lakukan sendiri! Kenapa anda harus memerintah saya seperti itu? Bahkan kita baru saja bertemu hari ini! Anda pengusaha tapi otak anda tidak di pakai!" Ucap Rexy semakin tajam.


"Tuan ucapan anda begitu kasar, memang benar apa kata orang, jika anda orang yang tidak memikirkan orang lain akan sakit hati dengan ucapan anda!" ucap Rendi emosi.


"Sekarang anda menyalahkan saya? Anda tidak berpikir untuk menghancurkan orang. Saya tidak memiliki masalah apapun dengan tuan Justin dan anda memerintah saya untuk menjadi sekutu! Sekarang anda mengatai saya seperti itu. Keluarlah! Anda membuang waktu saya saja!" bentak Rexy dengan raut wajah yang sudah emosi.


"Baik, saya akan mencari orang lain yang tidak sombong seperti anda!" ucap Rendi pergi dari ruangan Rexy.


Pria tampan itu memijat pelipisnya. Waktu istirahat berlalu begitu saja, tanpa ia sempat untuk memakan makanan yang sudah disediakan.


"Ren, cek perusahaan dia. Beli saham itu menggunakan uang perusaan kecilku," ucap Rexy.


"Baik, tuan. Ada lagi?" Tanya Ren.

__ADS_1


"Apa mereka sudah berada diruang meeting? Undur lima menit, saya akan makan terlebih dahulu!" ucap Rexy merasakan nyeri pada perutnya.


"Baik, Tuan. Nanti akan saya sampaikan!" ucap Ren.


"Sudah itu saja," ucap Rexy segera menyuap makanannya.


"Baik, Tuan. Kalau begitu saya permisi terlebih dahulu," ucap Ren meninggalkan Rexy.


Pria tampan itu hanya mengangguk dan melanjutkan makannya. Elena tidak bisa dihubungi, dan membuat mood pria tampan itu memburuk. Padahal sedari pagi semua pertemuan berjalan dengan cukup baik, karena kejadian semalam.


Namun saat ini Elena bahkan tidak ada kabar sama sekali. Namun notifikasi dari Clayton mebuat Rexy menjadi cemas.


Ia merasa ingin pulang saat ini juga dan menenangkan sang calon istri. Memeluk dan membisikkan kata-kata cinta, berharap dengan cepat ia bisa mempertemukan Elena dengan orang tuanya kembali.


Ia juga melihat beberapa laporan lain mengenai Reema dan Justin yang membuat Rexy mengernyit.


Ah, jadi ini alasannya. Tapi tidak mungkin jika Justin segitu kejam terhadap istrinya. Bukankah, wajah lebam itu karena tonjokan Elena beberapa waktu lalu?. Batin Rexy mengernyit.


Ia membalas pesan Clayton untuk memperhatikan berita yang akan naik setelah ini. Menjadikan beberapa informasi itu sebagai kompor dan minyak agar bisa membakar berita Reema dan Justin nanti.


🍃🍃


Sore menjelang, Elena terlelap dengan mata yang sembab. Melihat media sosialnya yang lama, menatap wajah orang tuanya yang masih terlihat bahagia dibanggakan waktu mereka bertemu waktu makan malam tempo hari.


Ingin rasanya ia berteriak, jika ia adalah Vania. Namun itu tidak akan membuat siapapun percaya dengan apa yang ia katakan.


Kini hanya sepi yang menemani dirinya. Namun notifikasi ponsel mengalihkan perhatian wanita cantik itu. Clayton mengirimkan sebuah artikel di sana.


Ia terkejut ketika Reema melaporkan Justin atas tindakan kekerasan dalam rumah tangga, dengan membawa hasil visum dari dokter dan juga bukti wajah yang lebam.


"Eh wanita ini gila atau bagaimana? Itu 'kan bekas pukulan aku kemarin. Kenapa dia malah melaporkan tindakan kekerasan?" tanya Elena kepada dirinya sendiri.


Ia menghubungi Rexy beberapa kali, namun tidak ada respon dari pria tampannya itu,

__ADS_1


"Apa aku jadi pahlawan kesiangan saja untuk membela Justin?" Ucap Elena mengernyit.


Ia segera mencuci muka dan meminta Clayton untuk menemuinya di ruang tengah agar bisa membahas tentang hal ini.


Dengan antusias Elena bisa mendapatkan celah untuk semakin menjatuhkan Reema dengan bukti yang ia punya kali ini.


"Apa Rexy sudah bisa di hubungi, Clay?" Tanya Elena ketika melihat Clayton sedang menyalakan televisi untuk melihat berita itu.


"Belum, Nona. Sepertinya tuan sedang meeting. Jadi apa yang harus kita lakukan, Nona? Berita ini sudah mulai panas dan kita hanya tinggal menyiram bensin saja agar apinya semakin berkobar!" ucap Clayton begitu bersemangat.


"Buktinya sudah lengkap kan?" tanya Elena menggeleng melihat tingkah Clayton.


"Sudah, Nona. Kita hanya tingal mengupload dan menaikkan berita itu. Seketika semua orang akan berbalik arah, dari yang mendukung menjadi membenci," ucap Clayton berapi-api.


"Kamu memang terbaik! Apa kita tunggu Rexy pulang dulu dan membicarakan hal ini, atau kita siram dengan bensin terlebih dahulu?" tanya Elena terkekeh.


"Sebaiknya kita tunggu tuan Rexy untuk tindakan selanjutnya, Nona. Tetapi sekarang, usul nona juga bagus," ucap pria tampan itu terkekeh.


Elena tertawa. "Saya yang ingin balas dendam, tapi kamu yang begitu bersemangat, Clay," ucap Elena


"Saya sudah mengikuti anda sejak lama, Nona. Melihat penderitaan anda selama ini, saya juga ingin membuat mereka menderita!" Ucap Clayton tegas.


"Terima kasih," ucap Elena tersenyum.


"Sama-sama, Nona. Untuk langkah pertama saya sudah membuat beberapa akun dengan server luar negeri untuk memanas-manasi situasi," ucap Clayton tertawa.


"Ah, kamu ini ada-ada saja. Ayo kita mulai!" Ucap Elena tertawa.


Mereka mulai mengendalikan berita, Clayton pro terhadap Reema sementara Elena pro terhadap Justin yang mulai melakukan pembelaan terhadap masing-masing pihak.


Mereka terkekeh ketika drama itu mendapatkan atensi dari sebagian netizen. Satu persatu bukti yang entah di dapat dari mana, mulai mereka keluarkan.


"Nona, apa ini tidak terlalu kejam? Mereka menjadi pro dan kotra, dan bingung dengan drama kita," ucap Clayton tertawa.

__ADS_1


"Biarkan saja, Clay. Yang penting kita bakar dulu beritanya," ucap Elena.


Bukan hanya mereka berdua, tetapi Clayton juga sudah memanggil dua orang IT terbaik di perusahaan untuk menaikan komentar dan drama mereka.


__ADS_2