PELAKOR Ter-SAVAGE

PELAKOR Ter-SAVAGE
Duo Asisten


__ADS_3

Berita begitu heboh, bahkan sampai dibicarakan hingga negeri tetangga. Ren mengawasi apa yang tengah terjadi di kantor polisi. Ia sudah mengutus beberapa orang untuk menaikan berita agar semakin panas.


Ia belum mendapatkan kabar apapun dari Rexy, sementara ia juga tidak memiliki kontak Vazo untuk mendapatkan sedikit informasi mengenai Elena.


Sebab, pihak kepolisian belum bisa mengajukan kasus karena data laporan belum lengkap dan membutuhkan Elena berada di sini sebagai pelapor.


Ia mendengar jika Justin harus di rawat hingga besok untuk memastikan jika tidak ada organ dalamnya yang bermasalah.


Tendangan Nona Elena memang sangat berbahaya! Bahkan Tuan Justin yang memiliki sabuk hitam ilmu bela diri pun tidak bisa menahan tendangan itu. Semoga kaki anda baik-baik saja setelah ini, Nona. Batin Ren menghela napasnya.


Ia mendengar keributan terjadi di dalam sel yang berada tak jauh dari sana. Ia berjalan mendekat dan melihat dengan jelas siapa yang tengah berdebat di sana.


"Haha, dasar asisten tidak berguna! Itu saja kau bisa ketahuan. Katanya, kamu tenang saja, semua bukti sudah aman. Cuih! Tai ayam rasa coklat. Mampus kau masuk penjara!" ucap Reema mengolok-olok Joy.


Padahal kini statusnya sudah menjadi tersangka, dan besok akan dipindahkan ke sel tahanan khusus.


Wajah pria tampan itu memerah menahan emosi. Dari pada ia meladeni Reema, lebih baik ia berpikir untuk mencari pengacara hebat untuk membebaskannya dari penjara ini.


"Asisten bodoh!" ucap Reema tertawa.


"Diam kau wanita syalan!" bentak Joy dengan kepala yang berdenyut.


Ren hanya menggeleng menatap mereka berdua. Ia masih berdiri di sana tanpa mengeluarkan suara sedikitpun.


Hingga kehadirannya disadari oleh Joy. Mata tajam mereka saling bertatapan tanpa ada yang mau memutuskannya.


"Heh, kenapa anda di sini, asisten Ren?" Ucap Joy ketus.


Ren tidak menjawab apapun dan berjalan semakin dekat kearah Joy. "Bagaimana rasanya hidup terkurung di sini, Asisten Joy?" ucapnya tersenyum tipis.


Joy berdiri dan bertepuk tangan, ia tertawa sambil mengangguk mendekat kearah Ren.


"Pekerjaan kalian memang mulus dan tidak terdeteksi sedikitpun. Saya menjadi penasaran bagaimana kalian bisa mendapatkan semua bukti untuk melaporkan kami," ucap Joy tersenyum sinis.


"Itu mudah dan kau tidak perlu tau bagaimana caranya," ucap Ren datar.


"Saya yakin jika semua berkas-berkas itu palsu dan tidak bisa dipertanggungjawabkan!" ucap Joy dengan pandangan remeh.


"Nanti kita buktikan semuanya. Jika kasus ini berlanjut, makan bukti itu di anggap sah dan valid!" ucap Ren membuat Joy bungkam.


Ia tidak bodoh, jika sudah dijemput paksa seperti ini, maka bukti sudah di terima dan sudah melalui pemeriksaan penyidik.

__ADS_1


"Sudah mendapatkan Nyonya yang begitu baik, malah kau mendukung wanita itu," ucap Ren tersenyum mengejek.


Joy menahan diri untuk tidak melawan Ren yang sudah pasti akan menang darinya.


"Selamat menikmati kamar baru, Asisten Joy!" ucap Ren tersenyum dan sedikit membungkukkan kepalanya.


"Kau akan mendapat balas atas apa yang sudah kau buat kepadaku!" ucap Joy membuat Ren berhenti melangkah tanpa berbalik.


"Saya tunggu dengan pintu yang terbuka lebar!" ucap Ren hanya menoleh dan tersenyum tipis. "Itu pun jika anda memang sanggup!" sambungnya.


Joy merasa sangat kesal mendengar ucapan Ren. Namun Ia hanya diam dan menahan diri untuk tidak melawan laki-laki yang kini ia akui kehebatannya sebagai asisten.


"Pfftt!" Reema manahan tertawanya menyaksikan bagaimana Ren menjatuhkan Joy.


"Ah, kau laki-laki yang lemah ternyata. Begitu saja sudah menciut!" ucap Reema tergelak.


Joy tidak menjawab, ia memilih duduk di atas lantai, terdiam sambil memikirkan apa yang harus ia lakukan.


Ia tidak tau Justin dimana sekarang. Mengingat kondisi sang atasan tidak baik-baik saja ketika mereka di seret menuju kantor polisi.


"Permisi, Petugas saya bisa meminta tolong?" Teriak Joy yang berhasil menarik perhatian petugas yang tengah berjaga di sel sementara itu.


"Ada apa, Pak?" tanya petugas itu.


"Maaf, Pak. Untuk sementara anda belum diperbolehkan memakai ponsel. Nanti akan saya tanya kepada bagian yang berwenang," ucap Petugas itu langsung pergi berlalu meninggalkan Joy.


"Sudahlah, Tidak ada yang bisa di perbuat saat ini!" ucap Reema.


Wajahnya sudah tidak terlihat cantik lagi, lusuh tanpa lipstik dan bedak yang selalu menutupi keburikannya.


Mereka hanya bisa terdiam, kabur pun akan menambah masalah yang hukuman.


🍃🍃


Sementara di rumah sakit, Elena dan Rexy baru saja terbangun dari tidur mereka. Kini kondisi wanita cantik itu sudah semakin membaik, dan ia juga sudah di pindahkan ke ruang rawat VVIP.


Rexy tersenyum lega menatap wanita yang sebentar lagi akan menjadi istrinya."Jangan memaksakan diri lagi!" ucapnya sambil menggenggam tangan Elena.


Wanita cantik itu tersenyum dan mengangguk. "Apa mereka sudah di tahan, Bee? Tanya Elena dengan suara lirih.


"Sudah, Sayang. Tetapi laki-laki itu dilarikan ke rumah sakit, karena pingsan dalam perjalanan," ucap Rexy tersenyum.

__ADS_1


"Apa kaki aku baik-baik saja, Bee?" tanya Elena yang baru menyadari jika kakinya tidak merasakan apapun.


"Dokter sudah melakukan CT Scan untuk melihat keadaannya. Apa yang kamu rasakan sekarang? Kebas? Ngilu?" tanya Rexy begitu lembut.


"Ti-tidak berasa apa-apa, Bee!" ucap Elena lirih dengan air mata yang menggenang.


"Jangan berpikir macam-macam, Sayang. Kita tunggu hasilnya keluar dulu, mana tau ini efek karena kamu mengeluarkan tenaga yang cukup besar tadi. Waktu latihan tidak pernah sekeras ini, 'kan?" tanya Rexy tersenyum.


Elena menggeleng pelan. Sebelah kakinya yang digunakan untuk menendang Justin tadi tidak merasakan apapun. Ia hanya tidak percaya diri jika bersanding dengan Rexy dalam keadaan tidak bisa berjalan normal.


"Jangan terlalu di pikirkan, Sayang. Nanti kita berobat lagi. Apapun keadaanmu, mau normal atau tidak, aku gak peduli, Sayang. Asalkan kamu sehat dan menemani aku terus," ucap Rexy.


Elena tersenyum kecut. Matanya berkaca-kaca menatap Rexy yang sudah berkaca-kaca.


"Peluk!" ucap Elena merentang tangannya.


Rexy tersenyum dan langsung memeluk wanita cantik itu dan mengecup keningnya.


"Kamu hebat hari ini! Aku bangga, aku sangat bangga melihat kamu bisa melawan dia, Sayang!" ucap Rexy mengusap punggung Elena dengan lembut.


"Semua ini karena kamu dan yang lainnya, Bee. Jika kamu tidak ada di sana, aku mungkin tidak sekuat itu," ucap Elena tersenyum dengan air mata yang menetes.


"Jangan nangis, Sayang! Kamu hebat! Aku yakin, trauma kamu akan sembuh setelah ini," ucap Rexy tersenyum.


"Kamu benar, traumaku perlahan sembuh, walaupun tidak benar-benar sembuh, namun aku sudah bisa mengendalikannya!" ucap Elena menatap Rexy dengan penuh cinta.


"Ah, Aku tidak peduli dengan yang lain, Sayang. Sekarang yang penting kamu sehat dan merasa nyaman bersamaku, merasa aman berada di dekatku. Hanya itu!" ucap Rexy tercekat.


"Aku mencintaimu, Pria tampan ku yang manja!" ucap Elena.


Rexy terkekeh, "Aku juga mencintaimu, Wanita tangguhku!" ucapnya.


Rexy menatap Elena dan mengecup bibir wanita cantik itu dengan lembut.


Cup!


Mereka saling mendambakan satu sama lain, mencintai dengan cara yang masing-masing. Menunjukkan seberapa besar rasa yang hadir, memberikan yang terbaik untuk pasangan.


Kini, manisnya cinta, rasa sayang yang begitu damai, kepercayaan yang saling terjaga, sudah mereka nikmat dengan hati lega.


Tanpa mereka sadar dua pasang orang tua yang baru saja datang terkejut dan terdiam melihat adegan dua satu plus itu.

__ADS_1


Astaga, seperti sebentar lagi aku akan memiliki cucu!. Batin Angelin senang.


__ADS_2