
Di dalam Restoran, Elena, Rexy dan Ren menatap kepergian suami istri itu dengan perasaan yang berbeda. Elena merasa senang, karena berhasil mengusik ketenangan Reema dengan elegan.
Walaupun ia tidak mendapatkan perhatian dari Justin secara mencolok, tetapi Elena bisa melihat bagaimana ekspresi pria tampan itu ketika mendapatkan situasi seperti tadi.
Wajah bingung dan takut untuk kehilangan salah satu diantara mereka, membuat Elena tersenyum. Ia merasa misi malam ini cukup bagus. Walaupun ada boom yang dipastikan akan meledak sebentar lagi kepadanya
Ia menoleh kepada Rexy. Benar saja, pria tampan itu tengah menatapnya dengan intens. Elena menjadi gugup melihat tatapan Rexy yang terasa menusuk dan sangat tajam.
Glek! Serem banget kalau lagi marah! Siapapun tolong aku!. Batin Elena bergidik.
Ia hanya menunduk sambil berjalan pelan mendekat kearah pria tampan itu agar Rexy tidak melihat bekas merah di lehernya.
"Bee?" Panggil Elena lirih sambil meraih tangan Rexy.
"Sudah kenyang?" Tanya Pria tampan itu dengan dingin.
"Su-sudah," Ucap Elena sedikit takut.
"Ikut keruanganku sekarang!" Ucap Rexy tegas.
Sungguh ia begitu cemburu melihat tatapan Justin kepada Elena. Walaupun ia percaya jika wanitanya tidak akan berhianat. Namun rasa kesal itu masih saja membalut hati yang tengah membara saat ini.
Elena berjalan dibelakang Rexy, ia menatap Ren dan Clayton untuk meminta tolong, namun dua pria tampan itu hanya tersenyum sambil melambaikan tangan.
"Semangat, Nona!" Ucap Clayton berbisik.
"Sayang?" Panggil Rexy dengan suara rendahnya.
Seolah mengatakan, aku tidak bisa menunggu lagi! terlambat sedikit, aku tidak bisa menahan diri lagi untuk menerkam kaamu, Sayang!. Elena segera berjalan dengan cepat menyusul Rexy yang sudah berada di depan pintu ruangannya.
Rexy mengunci pintu setelah mereka memasuki ruangan itu dan menatap Elena dengan tajam. Bukan tidak tau, tetapi ia mendengar ucapan Elena, jika Reema telah mencekik wanita kesayangannya ini.
Rexy berdiri dihadapan Elena dengan wajah yang belum bersahabat. Sementara wanita cantik itu tidak berani mengangkat wajahnya sedikitpun, menghindari tatapan Rexy.
"Angkat kepalamu!" Ucap Rexy tegas.
Elena memejamkan mata, dan mengangkat wajahnya secara perlahan, dan mulai menatap Rexy dengan berani.
Mata mereka bertemu dan beradu pandang. Rexy menahan gemas melihat wajah Elena dengan mata yang menatap begitu lembut itu. Ia benar-benar cemburu saat ini, namun mau bagaimana lagi, ia sudah menyetujui rencana Elena sedari awal.
"Bee, jangan marah ya!" Ucap Elena dengan mata yang berkaca-kaca. "Lagian aku tidak melakukan apapun dengan dia!" sambungnya sambil menggenggan tangan Rexy.
Pria tampan itu masih terdiam menatap Elena. Menikmati indahnya paras wanita cantik itu dengan rasa kagum.
"Kamu ingat hukuman dariku?" Tanya Rexy dingin.
__ADS_1
Elena mengangguk. "Jangan ditambah lagi!" Ucapnya memohon.
"Sudah selesai, kan? Ayo pulang!" Ucap Rexy kembali membuka pintu sambil menggenggam tangan Elena.
"Bee, jangan tambah lagi ya?" Rengek Elena menahan langkah Rexy.
"Tergantung sikap kamu nanti, Sayang!" Ucap Rexy tegas.
Elena cemberut, dan mengikuti langkah kaki Rexy. "Bee, aku mau bungkus makanan boleh?" Tanya Elena lirih.
Rexy berhenti dan membuat Elena membentur punggungnya. Ia mengernyit, kenapa Elena tiba-tiba meminta hal itu, sementara menu di rumah juga tak kalah enak.
"Mau minta resep makanan!" Ucap Elena menyatukan dua telunjuknya.
"Nanti aku berikan kalau kita sudah menikah!" Ucap Rexy mengernyit.
"Sekarang bagaimana?" Tanya Elena cemberut.
"Boleh! Tapi harus menembak sepuluh bidikan tanpa meleset!" Ucap Rexy tegas.
"Bee, jangan gitu!" Rengek Elena dengan manja.
Rexy tidak membalas ucapan Elena, ia tau jika wanita cantik ini hanya mencari alibi untuk mencairkan amarahnya. Mereka segera berjalan menuju parkiran khusus restoran.
Rexy menatap leher Elena yang tidak terlalu memerah. Ia menghembuskan nafas kesal, sembari mengambil salep khusus memar yang selalu ia sediakan di dalam mobil.
"Gak sakit, Bee. Mungkin dia lebih kesakitan karena aku tonjok," ucap Elena menggeleng cepat dan tersenyum.
Rexy mengoleskan salep itu di leher Elena dengan lembut. Sembari memejamkan mata, Elena merasakan sapuan tangan Rexy membelai lehernya dan sedikit mengusap titik sensitif yang berada tak jauh dari bekas cekikan itu.
"Bee, sudah!" Ucap Elena ketika merasakan tangan Rexy yang mulai berkeliaran dengan nakal.
Pria tampan itu menahan senyumnya ketika melihat wajah Elena yang mulai merona. Rexy masih memasang wajah datar dan mengemudikan mobil menuju pulang.
Elena memegang pipnya yang terasa panas. Walaupun sering melakukan kontak fisik dengan Rexy, tetapi melihat wajah pria tampan itu dari dekat membuatnya takut khilaf dan kehilangan kontrol diri.
Ah, Lama-lama aku tidak akan bisa mengendalikan diri jika berada dekat dengan kamu, Bee. Sabar ya, aku harus mendapatkan bukti kejahatan wanita itu agar mereka bisa terseret bersama. Batin Elena.
Tanpa sadar, ia terlelap selama diperjalanan. Rexy hanya tersenyum gemas melihat tingkah Elena yang berubah-ubah dalam waktu sekejap. Tiba-tiba bisa dingin, lembut, kekanan-kanakan, dewasa, bahkan marah sekalipun bisa ia lakukan.
Rexy temenung sebentar, Elena sudah semakin intens melakukan pendekatan kepada Justin. Ia takut, jika ada sebuah rasa yang kembali tumbuh di hati Elena.
Ia takut, suatu hari Elena akan memilih laki-laki itu dan meninggalkannya dengan semua rasa hampa dan penyesalan.
Namun, ia tidak bisa egois, karena permintaan dan alasan Elena yang masih bisa diterima dengan akal sehat, walaupun itu tidak baik dalam sudut pandang mana pun.
__ADS_1
Ia segera keluar dari mobil dan menggedong Elena. Memastikan jika wanita cantik itu tidak terbangun. Berjalan menuju kamar mereka diiringi cahaya temaran yang sudah menghiasi rumah dimalam hari.
Rexy membaringkan Elena, menyelimuti wanita cantik itu dan duduk disampingnya.
"Semua cara sudah kamu persiapkan dan bukti sudah didapatkan, Sayang. Semoga setelah ini, kamu bisa mengambil keputusan dengan baik tanpa harus menunggu lebih lama. Sungguh, rasa taku kehilanganmu mengalahkan semuanya!" Ucap Rexy lirih.
Ia mengecup kening Elena dengan lembut. Ia menatap intens wajah cantik itu dengan gejolak rasa yang selalu ingin menyentuh Elena tanpa henti.
Menyelami indahnya dunia dan mengarungi luasnya samudera, menyatu satu sama lain dengan rasa cinta yang tiada batas.
Perlahan Elena mengerjab, ia menatap wajah Rexy yang berada dekat denganya. Tersenyum sambil menyentuh rahang tegas pria tampan itu.
"I love you, Bee!" Ucap Elena lirih.
"I love you to, Sayang!" Ucap Rexy dengan suara beratnya yang menggoda iman.
Cup!
Rexy mengecup bibi Elena berulang kali. Sambil tersenyum mata mereka saling menatap penuh cinta yang sudah tidak bisa terbendung lagi.
"Bolehkah aku melakukannya, Sayang?" Tanya Rexy lirih.
Ia merebahkan kepala di leher Elena dan menggesekkan hidungnya di sana.
Wanita cantik itu terdiam, ia hanya mengelus kepala Rexy dengan lembut tanpa mengeluarkan jawaban apapun.
Rexy paham, ia selalu menghargai keputusan Elena. Salahnya sendiri yang selalu berpikiran mesum dan tidak bisa mengendalikan adik kecilnya ketika bersama Elena.
"Ayo bersih-bersih dulu, Bee!" Ucap Elena lembut.
"Iya, Sayang!"
Rexy bangkit dan berdiri, berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri terlebih dahulu, sebelum beristirahat. Bagitu juga dengan Elena, ia menunggu Rexy sambil membersihkan make up tipis yang ia pakai.
"Sayang?" Panggil Rexy ketika keluar dari kamar mandi.
Kucuran air mengalir membasahi tubuh indah miliknya. Elena termagu melihat sesuatu yang selalu membuat pikirannya melalang buana, memikirkan hal yang iya-iya bersama Rexy.
"Sayang?" Panggil Rexy berjalan mendekat.
"I-iya, Bee. It-itu baju kamu di atas kasur!" Ucap Elena salah tingkah.
Rexy tersenyum, andai Elena mau untuk berhubungan, ia akan membuat wanita cantik itu terbang bersama kelangit ketujuh.
Namun saat ini, menggoda Elena adalah hal yang begitu menyenangkan, karena setelah menihak nanti, tidak ada kata menunggu dan saling menggoda.
__ADS_1
Mereka beristirahat sambil berpelukan, merasai hangatnya dekapan dan cinta yang membalut dalam keheningan malam.