PELAKOR Ter-SAVAGE

PELAKOR Ter-SAVAGE
Pria Tampan Yang Merona


__ADS_3

Pagi menjelang, Rexy terbangun dari tidurnya tanpa membuka mata. Memeluk Elena dengan manja dan mengendus tonjolan bulat yang menjadi tempat favoritnya.


Berbeda dengan malam-malam yang lalu, pagi ini Rexy merasa begitu segar dan bersemangat. Walaupun ada sesuatu yang terasa aneh pada bagian bawahnya. Sedikit ngilu dan juga bebas tanpa penghalang.


Mata Rexy seketika terbelalak dengan wajah yang merona hingga ke telinga. Ia mengerjab beberapa kali memastikan jika apa yang terjadi semalam itu memang benar dan bukan sebuah mimpi.


Tangan nakalnya merayap di punggung Elena. Berusaha untuk mencari tepi kain yang menjadi pembalut tubuh indah sang calon istri.


Deg!


Rexy semakin terkejut karena tidak menemukan sehelai benang pun di sana. Namun ia juga merasa senang karena sudah memiliki Elena seutuhnya. Menatap ajah cantik yang terlihat pucat itu masih terlelap dan masih tetap memeluknya.


Sayang, aku tidak tau harus mengatakan apa lagi. Terima kasih untuk semuanya!. Batin Rexy tersenyum malu dan salah tingkah.


"Sayang?" Panggil Rexy lembut.


Elena tidak bergerak, bahkan dengkuran halus semakin terdengar teratur. Rexy tersenyum dan segera bangkit dari tidurnya.


Menatap sekeliling ruangan yang terlihat berantakan karena baju mereka berceceran di atas lantai.


Astaga, itu beneran terjadi semalam? Aku dan Elena melakukannya?. Batin Rexy tersenyum malu dengan memperagakan kejadian semalam menggunakan tangannya.


Dengan wajah yang memerah dan menghangat, Rexy menatap Elena dengan rasa bahagia dan senyum yang mengembang.


Mengecup lembut pipi wanita cantik itu dan kembali menyelimuti Elena. Rexy segera turun dari kasur dan membersihkan diri.


Pagi ini ia harus pergi ke kantor lebih awal. Namun waktu masih menunjukkan pukul lima pagi, masih ada satu jam lagi sebelum ia pergi ke kantor.


Rexy memilih untuk memasak sesuatu yang tersedia di sana. Dengan bahan yang ada, sisa belanjaan Elena kemarin karena ingin mencoba dapur apartemen baru miliknya.


Tangan kekar Rexy dengan telaten mengolah beberapa bahan itu hingga matang. Tak butuh waktu lama, nasi goreng cinta yang sehat pun selesai dimasak.


Ia juga menyeduh dua gelas teh jahe dan segera membawanya menuju kamar. Wajah bahagia Rexy tidak bisa lagi ia sembunyikan. Lengkungan bibir sudah tidak bisa lagi ia kondisikan, sehingga menambah aura ketampanan yang terpancar dari wajah pria itu.


Elena masih terlelap di atas ranjang. Bahkan punggung mulusnya sudah tersibak dan membuat Rexy kembali merasakan panas dingin, mengingat kelakuannya semalam.


Ia mendekat dan menyelimuti Elena, mencegah kejadian semalam terulang kembali.


"Sayang?" Panggil Rexy dengan lembut.


Ia mengecup lembut bibir Elena sembari membangunkan wanita cantik itu. "Sayang bangun!" ucap Rexy tersenyum gemas.


"Hmm," Elena terbangun.

__ADS_1


Aroma nasi goreng mulai menyeruak dan memenuhi indra penciumannya. Dengan mata yang masih tertutup ia tersenyum.


"Morning, Sayang. Ayo bangun, kita sarapan dulu," Ucap Rexy tersenyum.


"Morning, Bee. Kamu masak apa? Wangi banget," ucap Elena mencoba untuk duduk.


Namun ia menyadari sesuatu, tubuhnya tidak lagi berbalutkan baju, hanya ada selimut yang menutupi tubuh polosnya.


"Bee?" panggil Elena terkejut.


"Ah sebentar sayang, aku ambilkan bathrobe dulu!" ucap Rexy salah tingkah.


Wajah Elena merona merah ketika mengingat kelakuannya semalam. Lagi-lagi ia luluh dan jatuh ke tangan Rexy.


"Ini sayang, pakai dulu!" ucap Rexy tersenyum sambil memberikan bathrobe untuk Elena.


"Terima kasih, Bee," ucap Elena mencoba untuk biasa-biasa saja.


Walaupun ia serasa ingin tenggelam ke dasar bumi saat ini juga. Hal yang sama juga dirasakan oleh Rexy, wajahnya merona senang dan tidak ingin melepaskan pandangannya dari Elena barang sebentar saja.


"Cuci muka dulu, Sayang. Atau mau mandi?" tanya Rexy sambil tersenyum.


"Mau mandi dulu, Bee. Tunggu sebentar yah," ucap Elena tersenyum.


"Are you okey, Sayang?" tanya Rexy khawatir.


"Hmm? Ya, I'm okey, Bee. Ini biasa kalau habis diperawani," ucap Elena terkekeh.


Rexy juga ikut tergelak mendengarkan ucapan Elena. Namun ia teringat akan suatu hal, apakah status Elena masih tercatat sebagai seorang istri di pengadilan. Bahkan ia tidak tau status Elena saat ini seperti apa.


Bukankah Elena sudah berganti identitas? Otomatis semua data Vania dulu sudah berubah sejak dia dinyatakan meninggal. Sepertinya aku harus memeriksa ini kembali. Batin Rexy.


Ia segera mengirim pesan kepada Ren untuk memeriksa data Vania yang lama dan memasukkan data Elena yang baru agar tercatat sebagai warga yang sah. Sebab jika bermasalah, itu akan berpengaruh pada proses pernikahannya nanti.


Dalam lamunannya, Rexy tanpa menyadari jika Elena sudah keluar dari kamar mandi dan mengganti pakaian.


"Bee?" panggil Elena mengecup pipi pria tampan itu.


"Eh, sudah selesai, Sayang?" tanya Rexy terkejut.


"Sudah, ayo kita sarapan!" ucap Elena tersenyum.


Ia penasaran dengan apa yang dilakukan oleh Rexy, namun ia tidak ingin terlalu lancang untuk bersikap lebih jauh tentang pekerjaan pria tampan itu.

__ADS_1


Rexy menyuapi Elena dengan telaten. Ia menatap wajah cantik wanita yang ada di hadapannya.


"Bulan depan kita nikah ya!" ucap Rexy membuat Elena tersedak.


Rexy dengan cepat mengambilkan air putih untuk Elena.


"Bulan depan?" tanya Elena.


"Iya, Sayang. Apa kamu keberatan?" tanya Rexy menatap Elena dengan lekat.


Wanita cantik itu terdiam. Sudah lama aku menggantung harapannya untuk menikahiku. Apa ini sudah waktunya untuk aku mengakhiri ini semua?. Batin Elena menatap Rexy.


"Tidak, aku tidak keberatan, Bee. Justru sekarang aku takut kalau hamil diluar nikah gara-gara kamu!" ucap Elena terkekeh.


Rexy bernafas lega mendengar jawaban Elena. Wajahnya kembali merona dan membuat Elena mengernyit.


"Aku sudah tidak sabar menjadikanmu istriku," ucap Rexy dengan mata yang berkaca-kaca.


Elena tersenyum dan merentangkan tangannya memeluk Rexy dengan perasaan penuh bersalah.


"Harusnya dari dulu kita menikah, Bee. Maafkan aku," ucap Elena merasa bersalah.


"Gak papa, Sayang. Aku paham keadaanmu bagaimana, hanya saja aku tidak bisa menahan diri lagi untuk memilikimu!" ucap Rexy mengecup kepala Elena.


"Kita menikah bulan depan, Bee. Selesai atau tidak misiku nanti!" ucap Elena.


Rexy hanya terdiam dan mengelus lembut punggung wanita cantik itu. Hingga beberapa saat mereka mengurai pelukan dan kembali menghabiskan nasi goreng cinta yang sudah mulai dingin itu.


"Seharian aku pergi, gak papa kalau aku tinggal, 'kan?" tanya Rexy menyuapi Elena.


"Gak papa, Bee. nanti habis ini aku mau pergi ke markas dulu, latihan dan mengeksekusi orang yang semalam!" ucap Elena.


"Ya sudah, Hati-hati ya. Jangan gegabah!" ucap Rexy tersenyum.


Elena tersenyum, hingga mereka selesai sarapan Rexy segera bersiap untuk pergi ke kantor dan Elena juga bersiap untuk pergi ke markas.


Mereka pergi bergantian agar tidak ada yang curiga nantinya. Rexy lebih dulu pergi dengan terburu-buru karena hampir saja terlambat untuk menghadiri meeting pagi ini.


Sementara Elena masih membereskan kamar mereka yang sangat berantakan. Ia tersenyum geli melihat Wajah Rexy yang tidak berhenti merona sedari tadi.


"Ah kamu memang laki-laki yang unik. Diluar terlihat menyeramkan, coba kalau bersamaku, manjanya melebih bocah." Ucap Elena terkekeh.


Setelah selesai ia segera pergi meninggalkan apartemen bersama Clayton yang sudah menjemputnya.

__ADS_1


__ADS_2