PELAKOR Ter-SAVAGE

PELAKOR Ter-SAVAGE
Tersadar


__ADS_3

"Mas?" Panggil Reema.


Karena kondisi Justin ia meruntuhkan semua ego yang tengah menantang tegas hal yang dianggap tidak benar. Ia datang dengan rasa cinta dan damai melihat kondisi sangat suami yang masih tergeletak lemah di atas brangkar rumah sakit. Walaupun ia tau akan ada penolakan nantinya.


"Bagaimana keadaanmu?" Tanya Reema berjalan mendekat.


"Baik!" Ucap Justin ketus dan berpaling.


"Syukurlah. Sepertinya kedatanganku tidak terlalu diharapkan!" Ucap Reema membuang pandangan.


Justin dan Joy hanya terdiam tanpa mengeluarkan suara sedikitpun.


"Permisi!" Ucap Reema berbalik badan dan melangkah pergi.


Justin tetap terdiam, bahkan setelah pintu tertutup pun ia masih saja bungkam tanpa mencegah kepergian Reema.


"Tuan?" Panggil Joy.


"Pergilah ke kantor, Joy!" Ucap Justin memejamkan matanya.


"Bagaimana dengan anda?" Ucap Joy.


"Saya bisa sendiri nanti. Tolong suruh orang untuk mengambil ponsel saya dan antar ke sini!" Ucap Justin memejamkan matanya.


Joy tidak mengeluarkan sepatah katapun, ia segera pergi keluar dan menyusul Reema yang masih berada di depan pintu lift.


"Nyonya, Tunggu!" Ucap Joy menghentikan langkah kaki Reema.


"Ada apa?" Ucap Reema tanpa menoleh.


"Nyonya, Tuan Justin tadi hanya...," ucap Joy yang tidak tau harus mengatakan apa.


"Saya paham! Kamu tidak perlu menjelaskannya. Saya harus melakukan medical ceck up terlebih dahulu, nanti saya kembali lagi!" Ucap Reema melangkah masuk ke dalam Lift.


"Nyonya tunggu!" Ucap Joy kembali menghentikan langkah Reema.


"Selesaikan masalah Nyonya dan Tuan segera! Masuklah kembali dan berbicara dengannya!" Ucap Joy.

__ADS_1


"Tidak Sekarang, Tuan Joy! Saya pergi dulu!" Ucap Reema melangkah pergi.


Joy hanya bisa terdiam menatap punggung Reema yang telah hilang dibalik pintu Lift. Jika mungkin ia berada di posisi orang lain, mungkin ia tidak akan peduli, namun Justin adalah atasannya. Jika pria itu sedang bermasalah, makan perusahaan juga akan merasakan dampak dari permasalahan itu.


Ah, kenapa anda selalu menyusahkan saya, Tuan?. Batin Joy.


Ingin rasanya ia mengumpat kasar kepada Justin, namun apalah daya, ia hanya seorang bawahan yang bergantung pada perusahaan.


Sementara di dalam kamar inap Justin. Pria tampan itu termenung memikirkan hal yang terjadi belakangan ini. Baru saja ia pulang dari luar Negeri, sekarang sudah dihadapkan dengan masalah rumah tangga yang cukup hebat.


Reema menyadarkannya lebih dalam jika tidak ada lagi cinta di antara mereka. Kini ia tidak tau bagaimana menjelaskan semua masalah ini kepada keluarga nanti.


Ah, semuanya semakin sulit untuk dijalani! Semakin berantakan untuk diperbaiki. Melihat sikapku kemarin, pasti Elena akan berpikir dua kali untuk bersamaku!. Batin Justin frustrasi.


Melihat tangannya yang kini berbalut perban, Justin hanya terdiam memikirkan bagaimana hubungannya dengan Reema untuk kedepan.


Bukan tidak mungkin jika akan ada perpisahan antara mereka nanti. Namun dampak yang akan timbul lebih besar, terutama pada perusahaan.


Ia menekan tombol darurat yang ada di sana untuk memanggil dokter. Meminta izin agar bisa menjalani rawat jalan, karena ia merasa sangat tidak suka berada di sini.


"Maaf, Tuan. Anda baru saja selesai operasi. Paling tidak anda harus menjalani masa observasi hingga nanti sore atau besok pagi!" Ucap Dokter.


"Tergantung bagaimana perkembangan keadaan anda nanti, Tuan!" Ucap Dokter itu dengan sabar.


Justin hanya pasrah dan kembali memejamkan matanya. Dokter pun memilih untuk keluar setelah berpamitan dan membiarkan Justin beristirahat sebentar.


Hingga seseorang datang membawakan pakaian dan ponsel milik Justin. Pria tampan itu langsung mengambilnya dan menghubungi Elena untuk memberitahukan kabar kepada wanita cantik itu.


Beberapa kali Justin menghubungi Elena, namun hanya suara operator yang terdengar di sana. Hingga ia memilih untuk mengirimkan pesan agar ia datang ke apartemen nanti malam.


Di waktu yang bersamaan, Elena yang tengah latihan pun tidak mengindahkan panggilan itu dan memilih fokus untuk latihan bela diri.


Hingga waktu makan siang datang, bertepatan dengan kepulangan Rexy dari kantor. Elena mengernyit membaca pesan Justin yang membuat ia paham apa yang tengah terjadi kepada pria tampan itu.


"Apa mereka bertengkar, Sayang?" Tanya Justin yang sempat membaca pesan tadi.


"Sepertinya iya, Bee. Justin sampai masuk rumah sakit? Apa wanita itu babak belur dipukul olehnya?" Tanya Elena mengernyit.

__ADS_1


"Kamu pernah dipukul laki-laki itu, Sayang?" Sentak Rexy dengan rahang yang mengeras.


Elena menatap Rexy dengan dahi yang mengernyit. "Dia gak pernah mukul, Bee. Membentak dan berkata kasar, sering," Ucap Elena mengedikkan bahunya.


Itu alasannya kenapa aku lebih memilih bersikap manis dan manja kepada kamu, Sayang!. Batin Rexy menatap Elena dengan penuh cinta.


"Bee, boleh aku pergi nanti malam?" Tanya Elena membalas pesan Justin.


"Ngapain? Cemburuku ada batasnya, Sayang. Jadi, berikan aku alasan untuk mengizinkan kamu datang ke sana," Ucap Rexy melipat tangannya didada.


"Aku hanya penasaran, bagaimana keadaan pelakor itu! Lagian ini juga bisa menjadi jalan untuk membuat Justin semakin jatuh cinta kepadaku bukan?" Ucap Elena tersenyum dan memeluk Rexy.


Pria tampan itu membalas pelukan Elena dengan gemas. "Jika sampai nanti aku tau kamu macam-macam seperti waktu itu, aku tidak akan bisa menahan diri lagi, Sayang!" Ucap Rexy menatap Elena dengan tegas, namun masih tersenyum.


Elena terkejut, namun ia segera menutupinya dengan tertawa. Mengecup pipi Rexy dan mengajak pria tampan itu menuju ruang makan.


"Aku gak ngapa-ngapain sayang. Kamu tenang saja, aku bisa menjaga diri. Nakal sedikit gak papa kan?" Tanya Elena terkekeh.


"Sayang, Jika bukan Justin, aku masih bisa tenang. Tapi ini dia, masa lalu kalian yang membuat aku risau, merasa tidak mampu untuk menahan diri!" Ucap Rexy lirih.


Elena terdiam, ia menatap Rexy yang baru saja duduk disampingnya. Sambil tersenyum, ia mengelus rahang tegas pria tampan itu.


"Bee, aku memang memiliki masa lalu bersama dia. Bukankah kamu sendiri yang bilang, jadikan masa lalu sebagai pembelajaran. Sekarang aku banyak belajar dari itu, Bee. Jangan risau, karena kamu lebih baik dari pada dia dari segi manapun!" Ucap Elena serius.


"Aku hanya takut, Sayang. Mendapatkan kamu sangat sulit bagiku. Aku bisa gila jika sampai kamu jatuh cinta lagi kepada laki-laki itu," ucap Rexy sendu.


Elena paham apa yang dimaksud oleh Rexy, walaupun kemarin ia sempat memikirkan penyesalan Justin, namun kali ini ia sudah teguh terhadap pendirian, pilihan dan juga hatinya. Memilih Rexy sebagai laki-laki terakhir dan menjadikan pria itu tujuan hidupnya saat ini.


"Aku mencintaimu!" Ucap Elena tersenyum.


"Aku juga mencintainu, Sayang!" Ucap Rexy.


Ingin rasanya ia mengecup bibir indah Elena, namun saat ini sangat tidak mungkin karena sedang berada di ruang makan, dan akan di saksikan oleh beberapa orang nantinya


"Ayo, makan dulu!" Ucap Elena.


"Iya, Sayang. Suapi aku ya," ucap Rexy tersenyum.

__ADS_1


Elena terkekeh, walaupun Rexy sosok pria tegas dan ditakuti oleh banyak orang, namun jika bersamanya, Rexy bertingkah tak ubah seperti seorang anak kecil yang sangat manja. Apapun itu harus melibatkan dirinya, baik suatu yang besar maupun yang kecil.


__ADS_2