
Beberapa orang bergerak dengan cepat di dalam sebuah ruangan. memutuskan sementara arus listrik yang mengalir di ruangan itu, agar terbebas dari pengawasan CCTV.
Mereka memasang kamera kecil yang tidak terlihat di beberapa sudut ruangan namun memiliki jangkauan yang luas. Sehingga bisa mengawasi apapun yang terjadi di dalam ruangan itu.
Hampir setengah jam mereka memasangnya. Berbekal pin dari Elena, Rexy tidak ingin kecolongan lagi mulai mengatur siasat agar wanita cantik itu tidak berani macam-macam nantinya.
Setelah selesai, mereka segera pergi dan menyambungkan kembali aliran listrik. Sebelum pergi, mereka juga memastikan jika CCTV itu bekerja dengan baik.
"Pekerjaan selesai, Tuan!" Ucap Salah satu dari mereka kepada Ren.
"Bersihkan jejak!" Ucap Ren dengan tegas.
"Baik, Tuan!" Ucap laki-laki itu.
Tanpa hambatan yang berarti, pekerjaan itu berjalan dengan sempurna. Mereka langsung meninggalkan lokasi tanpa ada yang merasa curiga sedikitpun. Karena keadaan lorong itu sangat sepi, bahkan tidak ada tanda-tanda kehidupan di sana.
Ketika hendak memasuki lift, mereka berpapasan dengan Justin yang baru saja pulang dari rumah sakit bersama asistennya.
Terlambat sedikit, bisa mampus di tangan mereka, belum lagi di tangan tuan Rexy. Batin salah satu di antara mereka.
Bersikap seolah tidak terjadi apa-apa, mereka segera masuk kedalam lift setelah Justin keluar. Tanpa curiga sedikitpun, pria tampan itu melangkah dengan pelan dan hati-hati menuju kamarnya
"Ah, terlambat sedikit kita bisa mati!" Ucap orang suruhah Ren ketika pintu lift terbuka.
"Iya, untung CCTV-nya tidak bermasalah. Jika sampai, tamatlah kita!" Ucap yang lain.
"Sudah, lebih baik kita bahas ini di depan tuan Ren saja!" Ucap pimpinan diantara mereka.
Sementara itu, Justin memasuki
apartemennya. Ia langsung merebahkan badan di atas sofa dan memejamkan mata.
"Tuan, saya akan minta beberapa orang pelayan untuk menemani anda di sini!" Ucap Joy meletakkan semua barang Justin yang ia bawa.
"Tidak usah, Joy. Saya masih bisa melakukannya sendiri!" Ucap Justin.
Anda sungguh keras kepala tuan!. Batin Joy.
Ia hanya menggeleng melihat tingkah Justin. Joy memilih untuk duduk berhadapan dengan sang atasan. Ia tidak tau harus berbuat apa, di samping hubungan reema dan Justin yang belum menemui titik terang, ia juga memikirkan siapa Elena sebenarnya.
__ADS_1
"Jangan sampai ada yang tau keberadaanku, Joy!" Ucap Justin lirih.
"Baik, Tuan!" Ucap Joy.
"Pesankan saya makan malam untuk dua orang!" Ucap Justin.
"Baik, Tuan. Ada lagi?" Tanya Joy.
"Panggil pelayan yang biasa membersihkan apartemen ini, karena nanti malam akan ada tamu!" Ucap Justin membuka matanya.
Joy mengernyit. Bukankah tidak ada orang yang tau tempat ini? Lalu siapa yang akan datang?. Batinnya.
"Baik, Tuan!" Ucap Joy mengangguk.
Justin menghela nafas. Pikirannya melayang entah kemana, memikirkan banyak hal yang tentu sangat menguras tenaga juga menimbulkan akibat nanti.
Menemukan cara terbaik untuk menekan kerugian dan membuat hidupnya terasa lebih baik kedepannya.
"Apa pendapatmu Joy? Bagaimana kalau aku dan reema berpisah?" Tanya Justin.
.
Justin menatapnya dengan ekpresi datar. Membenarkan tetapi juga tidak setuju ucapan Joy barusan. Ia kembali terdiam dan menegak air minum yang ia bawa tadi.
"Beberapa aset penting yang sudah dimiliki Reema, tolong alihkan lagi menjadi milik saya. mewanti-wanti jika dia melakukan hal yang diluar dari dugaan kita nanti!" Ucap Justin dengan tatapan mata kosong.
"Baik, Tuan. Nanti akan saya data kembali apa yang harus dialihkan," Ucap Joy.
Ia tidak mengerti jalan pikir Justin. Ini bukan seperti pria itu, mengambil keputusan tanpa berpikir panjang terlebih dahulu.
Semoga anda tidak salah dalam mengambil keputusan kali ini, Tuan!. Batin Joy.
Mereka kembali terdiam, Justin hanya bisa termenung sambil memikirkan apakah tindakannya benar atau tidak. Namun bayangan kelicikan Reema menghantui pikirannya.
Hingga Joy memilih untuk berpamitan dan kembali ke kantor. Suasana terasa begitu hening, Justin kembali termenung ketika kata-kata Reema bergentayangan di dalam benaknya.
Ah, kenapa seolah aku yang bersalah dan menanggung semuanya sendiri?. Batin Justin mulai kesal.
Ia menatap jari yang tengah berbalutkan perban. Hanya helaan nafas yang keluar dari mulut pria tampan itu.
__ADS_1
Jika kamu masih ada di sini, mungkin hidup kita sudah bahagia, Sayang. Ada bayi-bayi kecil yang akan membuat rumah kita terasa ramai, dan juga teriakanmu yang selalu kesal dengan semua kelakuanku. Batin Justin.
Tanpa sadar air matanya menetes dan tidak bisa ditahan lagi. Bayangan semua kenangan Vania kembali berputar.
"Kalau ada masalah itu cerita, Sayang. Jangan kabur seperti ini!" Ucap Vania dengan lembut, namun wajah kesalnya tidak bisa di sembunyikan lagi.
"Walaupun kamu belum mencintaiku, tetapi kita sepakat untuk berteman bukan?" Ucap Vania duduk di samping Justin.
"Aku lapar, bisakah kamu memasak sesuatu untukku? Va, aku pusing mendengarkan omelanmu!" Ucap Justin jengah.
"Ya sudah! Kamu tunggu di sini, jangan kemana-mana!" Ucap Vania berjalan menuju dapur.
Masakan sederhana yang selalu terasa mewah dan sangat enak membuat Justin makan dengan lahap. Seolah memberikan energi baru dan ketenangan dalam dirinya.
"Mas, Ayo mandi dulu, sudah sore!" Ucap Vania ketika membangunkan Justin yang tengah terlelap.
"Mandikan aku ya! Kalau gak mau, aku gak akan mandi!" Ucap Justin mendelik.
"Ya sudah, ayo!" Ucap Vania tersenyum.
Air mata Justin mengalir dengan deras, ia sesegukan mengingat semua perlakuan Vania yang tidak akan pernah ia dapatkan lagi.
Kini hanya kenangan yang akan menghantuinya kapanpun. Menyesal dan juga merindukan sosok perempuan berhati lembut itu.
"Datanglah kedalam mimpiku, Va. Walaupun hanya sekali saja! Aku ingin meminta maaf kepadamu!" Ucap Justin menangis sesegukan.
Ia merasa menjadi orang yang sangat bodoh, mengikuti perkataan orang lain yang dulu begitu ia cintai.
Begitulah Justin, ketika serasa sesal itu datang dan rasa rindu mulai menyiksanya. Menangis dan terpuruk, lalu bangkit lagi sembari melupakan masa lalu dengan perlahan.
Ia terlelap dengan mata yang sembab. Baju yang mulai berantakan memberi bukti jika saat ini ia benar-benar frustrasi dengan keadaan.
Hingga malam menjelang, Justin mengerjabkan mata dan menatap sekeliling ruangan. Lampu menyala dan ada sebuah selimut tengah membalut tubuhnya.
Sambil mengumpulkan kesadaran, ia melihat seorang perempuan tengah berada di dapur dan memakai celemek. Justin tersentak, ketika punggung wanita itu terlihat sangat mirip dengan Vania.
Apa ini halusinasi? Apa mungkin Joy yang tengah memasak?. Batin Justin.
Ia berulang kali mengusap matanya dan menggelengkan kepala, namun bayangan itu masih saja terlihat dan semakin nyata.
__ADS_1
"Va-Vania?" Panggil Justin.