
Justin mengajak Elena pergi ke suatu tempat, dimana dulu ia sangat ingin membawa seseorang yang begitu spesial untuk menikmati sepanjang hari di sana.
Sayangnya Reema tidak menyukai alam, dan lebih memilih untuk berada di dalam ruangan tanpa ingin keluar.
"Kita kemana, Mas?" tanya Elena mengernyit.
"Aku punya sebuah danau buatan di pinggir kota. Sudah lama selesai, tetapi belum ada yang mau aku ajak ke sana. Dulu sebelum Reema hadir, aku ingin membuat danau itu untuk Vania jika suatu hari dia mengandung anakku. Tetapi dia sudah lebih dulu pulang ketika pembangunannya belum selesai. Sekarang, karena kamu di sini sebagai calon istriku, aku ingin mengajak kamu ke sana," ucap Justin terlihat begitu senang.
Elena terdiam, ia tidak bisa menebak Justin. Sebentar ia terlihat begitu mencintai Vania, namun ia juga tidak menerima keberadaannya.
"Kamu mau, 'kan?" tanya Justin ketika tidak mendapatkan jawaban dari Elena.
"Apa di sana ada orang? Aku tidak ingin terekspos dan menjadi bulan-bulanan media," ucap Elena lirih.
"Tentu, tempat itu sangat tertutup namun ada orang yang membersihkaannya sekali seminggu. Kebetulan, kemarin baru saja di bersihkan. Jadi, aku pikir ini waktu yang bagus untuk mengajak kamu kesana," ucap Justin tersenyum.
"Baiklah. Asal kamu tidak berbuat jahat, aku ikut saja," ucap Elena tersenyum.
"Baiklah, Tuan Putri. Aku sudah menyuruh orang untuk membuat semacam piknik kecil-kecilan agar kita bisa bersantai di sana. Sungguh aku ingin ketenangan sebentar saja," ucap Justin tersenyum manis.
Elena juga ikut tersenyum, ia tau hari-hari Justin terasa sangat berat karena permasalahan yang ada. Sebagai manusia, ia hanya ingin menghibur pria tampan ini.
Dengan masih menjunjung tinggi niatan balas dendam yang sebentar lagi akan selesai.
Tak lama mobil berhenti di sebuah bangunan yang begitu megah. Para penjaga membuka pintu agar mobil Justin bisa masuk ke dalam.
"Ayo turun, Baby!" ucap Justin membimbing Elena.
"Terima kasih," ucap wanita cantik itu tersenyum.
Ia cukup terkagum dengan arsitektur rumah mewah itu. seperti sebuah istana di negeri dongeng.
"Apa kamu suka?" tanya Justin membawa Elena masuk ke dalam rumah.
"Suka, ini sangat indah!" ucap Elena terpesona.
"Ini hasil kerja kerasku selama menjadi CEO di perusahan. Sekarang masih atas nama Vania, dan tidak termasuk ke dalam asetku, agar nanti jika terjadi sesuatu aku masih memiliki ini untuk ditinggali," ucap Justin.
"Jika Vania masih ada, mungkin dia akan menjadi perempuan yang paling beruntung di dunia," ucap Elena tersenyum.
"Tentu. Tapi sekarang karena kamu ada di sini, menemaniku untuk melewati ini semua. Aku akan mempersembahkan istana ini untuk kamu, Elena calon istriku!" ucap Justin sambil berjalan menuju pintu belakang.
__ADS_1
Elena terdiam dan tersenyum tipis menanggapi ucapan Justin. Ia tidak tau harus berbuat apa, untuk menimpalinya. Apakah harus menolak atau menerima. Apakah harus senang atau sedih.
Ceklek!
Pintu besar itu terbuka, pemandangan yang sangat asri memanjakan mata Elena. Danau buatan yang tidak terlalu besar dengan tumbuhan yang sangat subur mengelilingi tepian danau itu.
"Apa kamu suka? Udaranya yang begitu sejuk. Hah, ini sangat menenangkan!" ucap Justin memejamkan mata sembari menghirup udara sebanyak-banyaknya.
"Iya, Mas. Ini sangat terawat dan menenangkan," ucap Elena tersenyum.
"Ayo ke sana!" Ajak Justin mendekat kearah danau.
Di tepi danau terbentang tikar dengan beberapa makanan yang sudah tersedia di sana. Mereka berjalan sambil bergandengan tangan.
"Airnya jernih banget, Mas!" ucap Elena terkagum.
"Tentu, karena ekosistemnya masih terjaga dengan baik," ucap Justin tersenyum.
Elena membentangkan tangan, merasakan sapuan udara yang terasa sangat sejuk membelai kulitnya.
"Apa kamu suka?" tanya Justin sembari memeluk Elena dari belakang.
"Ya, aku suka," ucap Elena terkejut karena pelukan Justin.
"Aku akan menunggu hari itu, Mas!" ucap Elena.
Hari dimana kamu memakai baju orange dan mendekam di penjara, sembari menyaksikan pernikahanku bersama Rexy. Batin Elena tersenyum.
"Ayo kita duduk," ajak Justin.
"Mas, aku ingin makan ikan yang kamu pancing, terus langsung kita bakar di sini. Apa boleh?" tanya Elena penuh harap.
"Tentu saja, di sini ikannya sangat banyak dan mungkin sudah besar-besar. Aku akan meminta orang untuk menyiapkannya," ucap Justin bersemangat.
Ia menelfon seseorang untuk menyiapkan perlengkapan memancing dan membakar ikan.
Sejenak Elena terhanyut melihat tingkah Justin yang begitu bersemangat ketika bersamanya. Terlihat sangat natural utuk mengambil hatinya.
Ia menggeleng pelan ketika pikirannya mulai berandai-andai, membayang masa lalu yang mungkin akan terasa sangat membahagiakan jika Justin tidak bertemu dengan Reema.
Semoga kamu memang benar-benar sadar dengan apa yang telah kamu perbuat, Mas. Apapun alasannya, membunuh itu tidak dibenarkan hanya untuk kepuasan dunia. Batin Elena.
__ADS_1
Ia menatap Justin yang begitu bersemangat melempar kail pancing dengan satu tangan. Terlihat jika pria tampan itu sangat antusias untuk memenuhi keinginannya.
Tak butuh waktu lama, Justin mendapatkan seekor ikan gurame yang besar. Ia berteriak senang ketika menarik ikan itu.
Elena melihat jika Justin merasa kesulitan, dan ia berinisiatif untuk membantu. Mereka menarik ikan itu berdua sambil tertawa penuh kebahagiaan.
"Wah, besar banget, Mas," ucap Elena bertepuk tangan.
"Iya, apa ini cukup? Atau kamu mau satu lagi?" tanya Justin bersemangat.
"Satu saja cukup ini, Mas. Ayo kita bersihkan dan langsung kita bakar!" ucap Elena.
Justin meminta orang untuk membersihkannya dan meletakkan di atas panggangan.
"Aku tiba-tiba merasa lapar," ucap Elena terkekeh ketika melihat ikan itu sangat menggoda.
"Aku juga, padahal tadi sudah makan. Apa karena terlalu bahagia jadi mudah lapar?" tanya Justin tertawa.
"Bisa jadi," ucap Elena tersenyum.
Mereka menunggu ikan itu matang. Justin masih menatap Elena sambil tersenyum. Sungguh ini adalah hari yang begitu spesial di tengah banyaknya masalah yang harus ia hadapi.
Semoga kita memang berjodoh, Baby. Kamu perempuan yang aku cari. Setelah ini aku akan membenahi diri untuk menjadi laki-laki yang kamu inginkan. Batin Justin.
Hingga sore menjelang, mereka segera kembali ke apartemen, karena Elena susah mendapatkan telefon dari rumah.
Justin tersenyum dan membiarkan Elena pergi untuk sementara. Karena besok mereka sudah memiliki janji untuk kembali bermain di tempat yang memungkinkan tanpa perlu merasa takut terekspos.
Ia segera masuk ke dalam gedung dan menuju unit apartemennya untuk beristirahat.
🍃🍃
"Nona, anda membuat saya khawatir! Apa lagi tuan Rexy tidak berhenti menghubungi saya untuk meminta anda segera pulang!" ucap Clayton mengomel.
"Maaf, Clay. Aku juga tidak tau kalau Justin akan membawaku ke sana," ucap Elena merasa bersalah.
Ini sudah lewat dari waktu yang diberikan oleh Rexy. Sekarang sudah menunjukkan pukul 05.15 sore menjelang malam.
"Saya tidak bisa menjangkau rumah itu, Nona. Apa anda baik-baik saja?" tanya Clayton.
"Ya, Aku baik-baik saja. Dia tidak akan menyakitiku, Clay. Bahkan tadi kami juga ke kantor polisi dan mengganggu wanita ular itu," ucap Elena.
__ADS_1
"Ah, Nona. Anda membuat kami khawatir!" ucap Clayton masih saja mengomel.
Elena hanya tersenyum, kini ia harus menghadapi Rexy dan orang tuanya di rumah. Menjawab semua pertanyaan dan meladenin bayi besarnya yang akan menuntut banyak hal.