PELAKOR Ter-SAVAGE

PELAKOR Ter-SAVAGE
Persiapan pernikahan


__ADS_3

Tak lama, mobil berhenti di halaman rumah keluarga Elena. Semua orang terlihat cemas menunggu kedatangan wanita cantik itu.


Rasa bersalah menyeruak begitu saja. Hari ini membuat ia terlena, dan melupakan sang ibunda yang masih merasa trauma akan kehilangan dirinya.


"Akhirnya kamu pulang, Nak!" ucap Khalia langsung memeluk Elena dengan erat.


Begitu juga dengan Vazo yang sudah bisa bernapas lega ketika melihat Elena pulang dalam keadaan baik dan masih utuh.


"El, gak papa, Bunda. Hanya lokasinya saja yang cukup jauh dari apartemen Justin," ucap Elena tersenyum dan menghapus air mata sang ibunda.


"Bunda khawatir, nak. Kamu baru saja kembali dan harus bermain dengan laki-laki itu," ucap Khalia menangis.


"Maafin aku, Bunda," ucap Elena merasa sangat bersalah.


"Ya sudah, sekarang lebih baik kita masuk. Kasihan Elena baru saja pulang!" ucap Vazo.


Elena menatap Rexy yang masih memasang wajah dingin tanpa tersenyum. Seolah mengatakan habis kamu setelah ini, Sayang!.


Glek!


Mereka segera masuk kedalam rumah menuju ruang keluarga untuk menginterogasi Elena.


Wanita cantik itu menceritakan semua yang ia alami hari ini bersama Justin tanpa ditambah dan dilebih-lebihkan.


"Setidaknya dia sudah kembali mencintaiku, Bunda. Tujuanku sudah selesai. Besok dia akan mengajakku ke suatu tempat. Aku janji itu yang terakhir kalinya," ucap Elena menunduk.


Ia berharap Rexy tidak mengerjainya malam ini dengan melakukan kegiatan yang sama seperti Justin.


"Sudah, Nak. Jangan bermain-main lagi. Pernikahan kamu hanya tinggal beberapa hari. Jangan sampai terjadi hal yang tidak diinginkan," ucap Vazo.


"Iya, Ayah," ucap Elena masih menunduk.


"Apa kamu senang?" tanya Rexy.


Elena mencium bau-bau api cemburu yang mulai membara. Ia menatap Rexy dan berkedip dengan genit.


"Justru aku bosan lama-lama bersama dia, Bee. Tadi aku telat karena lokasinya jauh dan sedikit macet. Apa lagi tadi juga ke kantor polisi hampir 3 jam," ucap Elena cemberut.


"Tapi seharian kamu sudah bersama dia!" ucap Rexy mulai kesal.


Elena cemberut dan duduk di samping Rexy. "Aku merindukanmu sepanjang hari!" ucapnya memeluk pria tampan itu.


Telinga Rexy memerah namun ia masih memasang wajah dingin tanpa ekpresi.


"Jangan mengalihkan pembicaraan, Sayang!" ucap Rexy kesal.


"Aku serius, Sayangku. Priaku yang paling tampan! Aku bahkan terfikir untuk membuat pesta yang begitu megah untuk pernikahan kita. Itu masih bisa dirubah, kan?" tanya Elena.


"Tidak tau!" ucap Rexy ketus.

__ADS_1


"Dih, ya sudah nanti aku pergi ke WO sendiri saja!" ucap Elena pura-pura kesal.


"Ayah, Bunda, El ke atas dulu ya, mau bersih-bersih!" Ucap Elena meninggalkan mereka.


Ia sengaja pergi dari sana agar terhindar dari amarah selanjutnya. Ia sudah lelah menghadapi Justin, jangan sampai ia semakin lelah menghadapi mereka.


Tanpa ia sadari jika Rexy mengikutinya hingga ke kamar.


"Astaga! Bee, kamu ngagetin tau ga!" pekik Elena ketika melihat Rexy yang berada di depan pintu.


Wajah pria tampan itu masih terlihat dingin sambil menatap Elena. Ia berjalan masuk tanpa mengatakan apapun.


"Aku mau mandi, ikut ga?" tanya Elena menggoda.


"Tidak!" Ucap Rexy jual mahal.


"Baiklah! Duduk di sini bagus-bagus. Aku mau mandi sebentar," ucap Elena menarik Rexy untuk duduk di pinggir kasur.


Ia segera melenggang menuju kamar mandi dan menghela nafas. Rexy terlihat sangat marah kali ini. Ia bingung bagaimana harus menghibur pria tampannya itu.


Ah, iya sih aku yang salah karena telat. Tapi kan kondisi jalanan juga sedang macet. Duh, gimana ya cara menghiburnya? Apa aku ajak pergi jalan-jalan saja?. Batin Elena kesal sendiri.


Ia segera membersihkan diri dari sisa-sisa sentuhan Justin yang melekat di tubuhnya. Hingga 20 menit ia menyelesaikan ritual mandi dan mengintip Rexy yang tengah memeriksa ponselnya.


"Bee?" panggil Elena membuat Rexy terkejut.


Elena mengedikkan bahu, Rexy masih dalam mode cemburu. sehingga ia hanya bisa menuruti perkataan sang calon suami.


Rexy tersenyum tipis melihat tingkah Elena yang terlihat takut jika ia sudah marah.


Ya, aku cemburu sayang! Aku tidak rela jika kamu disentuh seperti tadi. Bahkan hampir saja aku mengirim orang untuk menghancurkan tempat itu!. Batin Rexy masih kesal.


Setelah Elena selesai mengenakan baju, Rexy segera membawa wanita cantik itu keluar.


"Bunda, Ayah. Aku mau membawa El untuk melihat persiapan pernikahan kami. Nanti kalau tidak terlalu larut kami akan pulang ke sini, atau nanti akan ke rumah saja," ucap Rexy.


"Ya sudah, Hati-hati ya!" ucap Vazo menggeleng heran melihat tingkah mereka.


Elena dengan cemberut mengikuti langkah kaki Rexy. Ia sudah merasa lelah hari ini, namun bagaimana pun juga baginda raja harus dituruti agar dunia bisa aman dan tentram.


"Kita kemana, Bee?" tanya Elena bersandar di dada bidang Rexy ketika berada di dalam mobil.


"Aku juga mau mengajak kamu kesuatu tempat!" ucap Rexy masih dingin.


Namun tangannya bergerak membelai kepala Elena. Wanita cantik itu menahan tangan Rexy, karena jika diteruskan ia pasti langsung terlelap.


"Kenapa?" tanya Rexy tidak suka.


"Aku mengantuk. Nanti kamu elus, aku malah ketiduran," ucap Elena tersenyum.

__ADS_1


Rexy hanya memeluk Elena dan sesekali mengecup kepala wanita cantik itu dengan lembut.


Mobil berjalan menuju sebuah Villa, dimana pesta pernikahan mereka akan dilangsungkan. Renovasi sudah mulai di kerjakan dan ruangan juga sudah mulai di dekor.


"Bee, ini villa siapa?" tanya Elena melihat bagunan yang mewah namun terlihat minimalis.


"Ini vila keluargaku, Sayang. Besok kita akan menikah di sini," ucap Rexy tersenyum.


Elena tersenyum tipis sambil menunduk. "Udah gak marah lagi?" ucapnya menatap Rexy.


Pria tampan itu menghela napasnya dan tersenyum. "Gak kuat aku marah sama kamu, Sayang!" ucap Rexy memeluk Elena.


"Maafin aku, ya," ucap Elena mengelus punggung Rexy.


"Jangan seperti itu lagi. Kasihan ayah dan bunda," ucap Rexy lembut.


"Iya, Bee," ucap Elena menatap pria tampan itu. "Bagaimana dengan tawaranku tadi?" tanya Elena sambil menaikturunkan alisnya.


"Gak jadi privat party?" tanya Rexy.


"Aku pikir dengan dihadiri banyak orang, pasti akan lebih meriah. Aku ingin semua orang tau, jika Elena hanya milik Rexy seorang!" ucap Elena tersenyum tanpa melepaskan pelukannya.


"Itu sudah pasti! Tanpa kamu minta, aku pasti akan mengumumkan kepada seluruh dunia, jika aku memilih seorang pelakor untuk dijadikan istri," ucap Rexy mencubit hidung Elena.


"Ih, aku bukan pelakor, ya!" ucap Elena protes.


"Terus apa?" tanya Rexy polos.


"Hmm, penghancur rumah tangga seorang pembunuh!" ucap Elena terkekeh.


Rexy hanya menggeleng melihat tingkah calon istrinya. Mereka menghubungi pihak WO untuk merombak konsep awal yang sudah di tetapkan.


Rexy mengajak Elena berkeliling Vila dan menunjukkan ruangan-ruangan yang akan mereka tempati nanti.


"Bee, itu gerbang apa?" tanya Elena mengernyit.


"Ah, itu gerbang menuju ruang bawah tanah, Sayang. Kamu mau ke sana?" tanya Rexy tersenyum.


"Apa isinya?" tanya Elena mengernyit dan bergidik ngeri.


"Nanti aku ceritakan apa isinya," ucap Rexy terkekeh.


Elena mengangguk, ia penasaran dengan isi ruang bawah tanah itu. Namun jika di sana lokasi penjara bawah tanah, ia tidak ingin melihat atau mendengar tentang apapun.


Hingga Rexy mengajak Elena menuju kamar yang akan mereka tempati nanti. Terlihat rapi dan baru saja direnovasi.


Rexy mengunci pintu dan terse menatap Elena dengan tatapan mesumnya.


"Kasurnya empuk, Yang. Apa kamu gak mau coba?" tanya Rexy.

__ADS_1


__ADS_2