PELAKOR Ter-SAVAGE

PELAKOR Ter-SAVAGE
Mengungkap


__ADS_3

Sidang perdana kali ini dianggap selesai. Besok, korban dan saksi akan diperiksa agar kasus ini bisa mendapatkan titik temu. Berapa lama Justin dan tersangka lainnya akan dihukum. Tentu, ini sesuai dengan keputusan hakim yang sudah dipertimbangkan dengan baik.


Clayton tersenyum tipis menatap Justin yang kembali dibawa ke dalam sel yang sudah dihuni sejak pria tampan itu menjadi tersangka.


Clayton meminta izin untuk bertemu dengan Justin sebentar saja. Beruntung, pihak kepolisian memberikan waktu sepuluh menit untuk berbicara.


"Untuk apa kau datang? Ingin menertawakanku? Silahkan!" ucap Justin ketus.


"Tidak, saya datang untuk membawa beberapa orang saksi tambahan yang sudah di periksa dan bisa membuat kasus ini selesai dengan cepat," ucap Clayton dingin.


Justin terdiam. Mereka sudah sangat kuat dan akan sulit untuk dikalahkan. Ia mengakui kehebatan mereka dalam urusan seperti ini.


"Besok saya akan dilantik menjadi CEO di perusahaan anda! Apa anda tidak ingin mengucapkan selamat kepada saya?" tanya Clayton tersenyum tipis.


Justin menatap pria tampan itu dengan tajam dan mendelik. "Terserah siapa yang akan menjadi pimpinan perusahaan itu. Asal kau tau, perusahaan itu akan hancur sebentar lagi!" ucapnya tersenyum tipis.


"Saya sangat menunggu hari itu terjadi. Justru akan lebih mudah untuk kami merebutnya dari tangan anda. Mengingat ada begitu banyak karyawan Magenta CORP. Memecat semua karyawan perusahaan anda tidak akan menjadi masalah," ucap Clayton juga tersenyum tipis.


Justin mengeraskan rahangnya. Ia sangat tidak menyukai laki-laki ini. Namun, ia terpaksa harus menahan diri dengan sangat agar tidak menambah masalah lagi.


"Apa anda sudah tau, jika Istri anda gila?" tanya Clayton.


Justin terdiam, ia sangat tidak tertarik dengan berita itu. "Pergilah jika kau tidak memiliki hal yang penting untuk dibahas!" ucapnya.


"Ada satu hal yang sangat penting! Tentunya, jika tidak menggunakan kata pengantar, semua ini tidak akan seru bukan?" tanya Clayton.


"Katakanlah!" ucap Justin.


"Mertua anda sudah meninggal, kedua mertua anda. Tuan Rendi meninggal gantung diri dan Nyonya Veronica jatuh dari tangga," ucap Clayton.


Justin terdiam dengan mata yang melebar. Ia sangat terkejut mendengar berita ini.


"Apa itu ulah kalian?" tanya Justin mengernyit.

__ADS_1


"Tentu bukan! Kami tidak melakukan hal bodoh dan lemah seperti itu," ucap Clayton.


Justin kembali terdiam. Ia tidak tau harus berkata apa lagi. Pikirannya buntu dan tidak bisa menemukan tindakan yang pas untuk menanggapi berita ini.


"Saya akan pergi ke rumah sakit jiwa untuk menemui istri anda," ucap Clayton sambil berjalan mendekat kearah Justin. "Tentu, kematian kalian adalah tujuan utama kami," sambungnya tegas.


Justin kembali terdiam dan menatap tajam Clayton. Ia sangat tidak suka dengan laki-laki ini, yang dari awal dia sudah membuatnya cemburu.


"Semoga, pengacara anda bisa memenangkan kasus ini. Jika tidak, kami pastikan hukuman mati sangat layak anda terima!" ucap Clayton dengan tegas.


Ia segera berlalu dari sana tanpa mendengar jawaban dari Justin. Sementara pria tampan itu mengeraskan rahang sembari menggenggam jeruji besi yang tengah mengurungnya.


Wajah Justin memerah karena menahan emosi. Sungguh, ia serasa ingin mencabik-cabik mereka semua.


Lihat saja nanti, aku tidak akan mungkin dihukum mati, sebab Vania masih hidup. Jika mereka tidak berpandai-pandai, maka laporan ini akan menjadi boomerang yang akan berbalik menyerang. Batin Justin penuh dendam.


🍃🍃


Hanya beberapa orang saja yang tau, kemana raja dan ratu pergi.


Banyak pertanyaan yang mulai memenuhi pikiran para tamu. Melihat wajah kebingungan mereka, Vazo segera mengambil inisiatif untuk mengatakan sesuatu.


Mumpung ada kesempatan, ini saatnya aku mengatakan kepada dunia, siapa Elena sebenarnya. Batin Vazo.


"Cek, mohon perhatiannya semua!" ucap Vazo menggunakan mic.


Semua tamu mengernyit ketika acara diambil alih.


"Maaf mengganggu pesta rekan-rekan semuanya. Saya yakin, sebagian besar dari rekan-rekan pasti bertanya kemana mempelai kita pada hari ini," ucap Vazo tersenyum.


Beberapa orang mulai mengangguk, mengiyakan perkataan Vazo.


"Maaf, karena kesehatan dari putri saya yang sedang tidak fit, memaksa mereka untuk beristirahat lebih cepat," ucap Vazo.

__ADS_1


Semua orang mulai paham dan kembali mengangguk. Vazo tersenyum tipis dan mengeluarkan selembar kertas yang sudah ia tulis beberapa waktu lalu.


"Izinkan saya menyampaikan beberapa patah kata untuk anak-anak kami yang selalu merasa bahagia setiap hari, ditengah berbagai macam masalah yang datang silih berganti," ucap Vazo.


Semua orang masih menatap pria paruh baya yang masih terlihat tampan itu.


"Berbicara tentang pernikahan. Pasti akan banyak halangan dan rintangan yang akan di hadapi oleh mereka yang akan menikah. Termasuk anak kami, mungkin mereka sudah di takdirkan untuk bersama, bahkan maut pun tidak bisa menghentikan hari ini untuk terjadi," ucap Vazo tersenyum.


"Saya berdiri di sini sebagai seorang ayah yang merasa begitu bahagia. Menjadi orang tua yang merasa begitu beruntung, sebab putri kandung kami mendapatkan laki-laki yang bertanggung jawab dan sangat menyayanginya," sambungnya tercekat.


Semua orang mengernyit mendengar ucapan Vazo. Bukankah ia hanya memiliki satu putri dan sudah meninggal beberapa tahun lalu.


"Ya, Elena adalah putri kandung saya. Jika rekan-rekan masih penasaran, kemana Vania selama ini. Dia ada, dia masih hidup dan dia kini sudah menemukan kebahagiaan yang begitu luar biasa bersama dengan menantu saya," ucapnya.


Semua orang terkejut mendengar ucapan Vazo. Waktu seolah berhenti sementara ketika mendapatkan kebenaran itu.


"Saya hanya ingin mengucapkan terima kasih yang begitu besar atas semua pengorbanan yang sudah dilakukan oleh menantu saya, Rexy Bramasta. Jika bukan karena dia yang menyelamatkan Vania, mungkin hari bahagia ini tidak akan pernah terjadi, dan kami, pasti masih meratapi kepergian Vania yang sengaja dibunuh oleh seorang banjingan yang masih memasang wajah manisnya dihadapan kami," sambungnya dengan air mata yang siap untuk menetes.


"Saya berharap, sebagai orang tua hanya ingin melihat Putri saya bahagia. Rexy, ayah mengucapkan terima kasih karena sudah menerima putri ayah dengan segala kekurangannya. Raihlah kebahagiaan dalam rumah tangga kalian bersama. Kami sebagai orang tua, tidak akan menuntut banyak hal, melihat kalian hidup bahagia dan tenang, itu sudah menjadi kebahagiaan bagi kami," Ucap Vazo dengan air mata yang menetes.


"Lima tahun, hilang begitu saja. Ayah dan Bunda selalu berharap kita masih bisa mengganti semua waktu yang telah hilang itu, Nak. Walaupun terasa mustahil, tapi ayah hanya ingin kamu tidak merasa kekurangan kasih sayang. Ayah dan Bunda mencintai Va kecil yang begitu lembut dan penuh kasih sayang," ucap Vazo tercekat sambil mengusap air matanya.


"Mari kita kawal bersama kasus pembunuhan putri saya, dimana hari ini sidang pertama sedang dilakukan!" Ucap Vazo.


Semua orang tersenyum dan mengangguk. Mereka tersentuh dengan apa yang diucapkan oleh Vazo.


Pasti sudah banyak hal yang mereka lalui untuk mengungkap kebenaran ini.


Tepuk tangan bergemuruh didalam ruangan itu mengiringi langkah Vazo yang turun dari panggung dan langsung memeluk sang istri.


Hingga pesta pernikahan berakhir, para tamu langsung meninggalkan Villa dan kembali pulang ke rumah masing-masing.


Sementara para orang tua juga ikut beristirahat, melepas penat karena seharian mengurus dan meladeni para tamu.

__ADS_1


__ADS_2