PELAKOR Ter-SAVAGE

PELAKOR Ter-SAVAGE
Pelarian Justin


__ADS_3

Rexy bernafas lega, kini ia harus segera kembali ke Indonesia karena mendapat kabar buruk dari Ren dan Clayton. Apalagi Elena yang sudah marah-marah karena ia tidak memberi kabar sama sekali.


"Fauzi, apa kita bisa langsung terbang ke Indonesia tanpa transit?" tanya Rexy.


"Sepertinya tidak, Tuan! Kita kan kehabisan bahan bakar nanti," ucap Fauzi.


Rexy masih terdiam, ia mencoba untuk menghubungi Elena namun tidak merespon, begitu juga dengan orang tuanya.


Semoga mereka memang berhenti untuk membantu Justin keluar dari penjara. Batinnya.


Ia merasa begitu beruntung karena Barrack tidak begitu menyulitkannya. Jika buka karena bantuan dari Koji, ia tidak akan bisa kembali secepat ini.


Walaupun memang harus memakan waktu tiga hari perjalanan.


Tak lama, pesawat segera take off dan mulai mengudara, meninggalkan negara itu dengan perasaan yang cukup lega.


Namun kini ia masih di selimuti rasa cemas, mengingat ada penyusup yang masuk ke dalam pulau itu.


Kenapa mereka bisa mengetahui keberadaan Elena? Bukankah itu pulau yang sangat terpencil dan sangat tidak mungkin ada orang yang datang ke sana. Batin Rexy.


"Fauzi, CCTV di pulau apa bisa kita jangkau dari sini?" tanya Rexy.


"Maaf, tidak bisa, Tuan. Jangkauannya terlalu jauh, dan tidak akan terhubung, apalagi kita sedang berada di dalam pesawat," ucap Fauzi.


Rexy memijat pelipisnya. Semoga rumah itu sangat aman agar mereka tidak ketahuan. Mengingat sangat banyak seluk beluk ruangan yang ada di sana. batin Rexy.


🍃🍃


Justin dengan rasa kesal menunggu kapan jemputannya akan datang. Status yang sudah naik menjadi tersangka atas kasus pembunuhan membuat ia berada di dalam sel khusus yang sangat sulit untuk di jangkau.


Syalan! Kemana mereka? Ini sudah lebih satu minggu saya berada di dalam ruangan sempit dan pengap ini!. Batinnya.


Ia tidak ingin di temui oleh siapapun. Apalagi hari ini, reka adegan akan dilangsungkan dimana mereka semua merencanakan pembunuhan ini.


Polisi dengan pengamanan yang cukup ketat sudah bersiap untuk membawa Justin, Joy dan beberapa orang lainnya untuk melakukan reka adegan di rumah mewah milik pria tampan itu.


Justin dengan pasrah dikawal oleh pihak kepolisian. Dengan wajah datar dan tidak bersuara, ia hanya pasrah mengikuti perintah dari mereka.


Iring-iringan mobil bergerak menuju rumah mewah itu. Termasuk juga beberapa wartawan yang siap meliput adegan itu.


Sekitar dua puluh menit, mereka tiba di rumah yang sudah sepi tanpa berpenghuni. Dipagar rumah juga sudah dipasangi garis polisi menandakan ada kegiatan yang tidak di buka untuk umum.


Justin memberikan keterangan berbelit-belit begitu juga dengan Joy. Sehingga membuat polisi kesulitan untuk mencari kebenaran bagaimana kejadian sebenarnya.


Untuk melengkapi kejadian, para petugas memanggil beberapa orang asisten rumah tangga untuk memberikan keterangan sebelum Vania berangkat .

__ADS_1


Walaupun berbelit, mereka berusaha untuk mencari benang merah dari adegan itu sesuai dengan keterangan yang ada.


Setelah selesai, mereka segera pergi menuju tepi jurang dimana kecelakaan itu terjadi.


Joy di paksa untuk mengaku apa yang sebenarnya terjadi dan bagaimana adegan kecelakaan itu sebenarnya. Namun Asisten Justin itu tidak mau mengungkapkan hal yang sebenarnya terjadi.


"Saya! Saya mengikuti mobil yang membawa Nona Vania hingga sampai ke sini!" ucap salah satu orang yang ada di sana.


"Siapa kamu?" tanya Joy.


"Saya orang yang ditugaskan untuk mengawasi Nona Vania. Namun malam itu, entah kenapa ada yang berusaha untuk menghalangi saya. Tepat setelah mobil jatuh kedalam jurang. Anda...," ucapnya menunjuk Joy.


"Anda memberhentikan mobil tepat di tepi jurang ini dan melihat ke bawah. Sambil meletakkan tangan di dada seolah memberikan penghormatan terakhir kepada Nona Vania," ucap pengawal yang di tugaskan oleh Rexy untuk menjaga Elena.


Joy dan Justin terkejut mendengarkan pengakuan itu. Mereka semakin terdiam dan bungkam, menatap tajam laki-laki itu penuh dengaan kebencian.


Pihak kepolisian semakin mendesak dan bahkan memberikan pertanyaan yang menjebak sehingga semua rekaman adegan bisa tergambarkan lebih jelas walaupun keterangan dari mereka sangat berbelit-belit.


Setelah selesai, mereka segera kembali ke kantor polisi. Justin yang sudah mengamati sekitar berusaha untuk kabur dari pengawalan petugas.


Ia turun ke bawah jurang dengan melompat dan berseluncur. Sepuluh orang pengawal Rexy yang berada di sana segera turun untuk mengejar Justin, dibantu oleh beberapa orang polisi lainnya.


Sebelum terjadi sesuatu, tersangka pembunuhan segera diamankan oleh petugas polisi dan dibawa menuju kantor.


Justin dengan banyak luka berusaha untuk kabur dengan berlari secepat mungkin semabari membuka kunci borgol yang melekat di tangannya.


Sialan, siapa mereka? Apa pengawal khusus dari laki-laki itu? Kurang ajar! Pantas saja mereka bisa mengungkap kasus ini! Batinnya kesal.


Ia terus berlari mengelilingi hutan belantara itu tanpa kenal lelah.


Dor!


Tembakan peringatan sudah dilepas oleh polisi. Namun Justin masih terus berlari seolah tidak mengenal takut.


"Sial! Dia tidak mendengar tembakan itu! Pasukan satu hadang dia segera!" ucap pengawal itu mengerahkan pasukan yang sudah bersiap menghadang Justin di depan, melalui earphone.


"Jangan sampai dia lolos!" ucap pengawal itu.


Mereka masih mengejar Justin tanpa rasa lelah, hingga salah satu dari pengawal itu mengeluarkan senjata api dan membidik Justin.


Dor!


Tembakan itu melesat, pihak kepolisian terkejut, mereka melarang pengawal untuk menembak Justin karena itu bukan ranah mereka.


"Persetan dengan itu pak, yang penting dia jangan sampai kabur!" ucap mereka berlari semakin cepat.

__ADS_1


Sialan aku sudah lelah! kenapa mereka tidak berhenti mengejarku!. Batin Justin terus berlari tanpa melihat sepuluh orang sudah berdiri di hadapannya dengan senjata lengkap.


Justin terkejut dan mengambil jalur kanan, namun ia sudah terkepung. Ia berusaha untuk mencari celah agar bisa kembali kabur dari kejaran petugas polisi.


"Siapa kalian?" bentak Justin.


"Kami malaikat pencabut nyawa anda, Tuan Justin!" ucap pimpinan pengawal, Kenzo.


"Hahaha, kalian tidak berhak menangkap saya! Kalian bukan polisi, dan kalian tidak akan bisa menangkap saya!" ucap Justin tertawa.


Ia berusaha untuk meraih seorang anggota yang berada dekat dengannya.


Namun sebuah todong pistol lebih dulu berada tepat di belakang kepalanya.


"Menyerahlah, Tuan Justin! Semua mafia yang anda tugaskan sudah kami hancurkan melalui tangan Tuan Barrack, penguasa Mexico!" ucap Kenzo.


Justin membelalakkan matanya. Namun ia tidak langsung percaya begitu saja mendengar cerita dari orang-orang itu.


"Jangan mengada-ngada! Mereka sangat setia dan tidak akan berpaling dari saya!" Bentak Justin.


Ia berbalik badan dengan cepat dan merampas sebuah pistol yang di pegang oleh anak buah Kenzo.


"Mundur kalian! Mundur!" teriaknya Justin menyandera pengawal itu.


Kenzo tertawa. " Menyerahlah anda, Tuan Justin! Jangan sampai anda kami bunuh di sini atau anda menjadi cacat seumur hidup!" ucapnya tertawa.


"Jangan banyak bicara atau dia akan saya tembak!" ucap Justin menggiring sandraannya mencari celah untuk kabur.


"Percuma anda berteriak, tembak saja kalau berani!" ucap pengawal itu mengejek.


Justin melihat pistol yang tidak berisi peluru sama sekali. "Syalan!" umpatnya dengan kasar.


Bugh!


Justin segera di lumpuhkan ketika ia lengah. Tangannya kembali di borgol ke belakang dan di duduki oleh pengawal tadi.


"Apa rasanya di rendahkan, Tuan Justin?" ucapnya tertawa.


"Lepaskan!" bentak Justin berusaha memberontak.


Pihak kepolisian segera mengamankan Justin dan berterima kasih kepada para pengawal karena telah menangkap laki-laki itu.


Mereka naik menggunakan helikopter yang sudah di siapkan sebelumnya.


Umpatan kasar dan juga sumpah serapah keluar dengn lancar dari mulut Justin. Ia segera dibawa menuju kantor polisi dan di masukkan ke dalam ruangan isolasi.

__ADS_1


__ADS_2