PELAKOR Ter-SAVAGE

PELAKOR Ter-SAVAGE
Pikirkan Lagi


__ADS_3

Angelin ddan Hinata tekejut melihat Rexy keluar dengan keadaan emosi.


Pria tampan itu berlalu tanpa mengucapkan sepatah katapun. Angelin segera menyusul Elena terlebih dulu memastikan jika sang putra tidak menyakiti calon istrinya.


Sementara Hinata segera pergi mengejar Rexy, takut jika ia berbuat sesuatu yang berbahaya.


Angelin terpekik ketika melihat Elena yang tergeletak lemas dengan wajah pucat sambil memegang jantungnya.


Dokter dan perawat berlarian melihat kondisi wanita cantik itu. Mereka segera memberikan penangan dengan cepat agar tidak terjadi hal yang fatal.


Angelin terdiam dengan air mata yang menetes, ia hanya bisa beharap yang terbaik untuk Rexy dan Elena.


Sementara diparkiran, Rexy segera menaiki mobil di ikuti oleh Hinata.


"Ayah kenapa mangikutiku?" Tanya Rexy dengan emosi.


"Jalan!" Ucap Hinata tegas.


Tanpa ada pilihan, Rexy segera menjalankan mobil dengan kencang namun masih hati-hati sebab membawa Hinata bersamanya.


"Kita ke Villa sekarang!" ucap Pria paruh baya itu ketika ia tau jika Rexy tidak memiliki tujuan.


Rexy hanya mengikuti apa yang dikatakan oleh sang ayah.


Hanya dengan waktu setengah jam, ia memasuki kawasan villa mewah, dimana pernikahan akan berlangsung.


"Masuklah!" ucap Hinata.


Rexy menurut, ia segera turun dari mobil dengan rasa enggan. Namun matanya menatap dekorasi mewah yang akan menjadi saksi pernikahannya bersama Elena lusa nanti.


Mereka memasuki vila itu dan langsung menuju ruang utama. Rexy terdiam dan bungkam, pikirannya berkelana mengingat bagaimana Elena terlihat begitu kecewa dan merasa menjadi beban bagi semua orang.


"Maaf, karena Ayah mendengar pertengkaran kalian!" Ucap Hinata.


Rexy masih enggan menatap sang ayah yang berdiri tak jauh darinya.


"Tindakan kamu memang sudah benar, Ayah mengapresiasi itu. Bahkan Ayah merasa bangga dengan diri kamu yang sekarang. Tapi Ayah menentang tindakan kamu membentak Elena!" Ucap Hinata tegas.


Rexy terdiam, pikirannya kembali mengingat bagaimana wanita cantik itu menolak ketika ia peluk. Sakit, bahkan terasa sangat sakit, ketika rindu berbalas penolakan.

__ADS_1


"Ayah tau jika kamu emosi, rindu, kecewa dan amarah bercampur dalam hatimu. Tapi, apa yang diinginkan oleh Elena bukan sesuatu yang begitu berat dan justru kamu harus memenuhinya," ucap Hinata.


Rexy menatap sang ayah menebak arah pembicaraan selajutnya.


"Ayah tidak akan menasehatimu, karena kamu sudah dewasa dan bahkan cara berpikir kamu lebih berkembang dibandingkan Ayah. Tapi, sebagai orang tua, ayah hanya berpesan. Elena itu ibaratkan gelas retak, yang akan pecah kapan saja, atau hanya karena kamu meletakkannya di ajas meja dengan sedikit keras tanpa kamu sadari bisa retak dan terbelah," ucap Hinata.


Rexy terdiam, ucapan Hinata mengingatkannya kepada perkataan Elena yang menganggap dirinya beban bagi orang lain.


"Tenangkan dirimu di sini. Pikirkan baik-baik, hingga kamu bisa mengambil keputusan. Yang diinginkan Elena hanya saling terbuka satu sama lain. Walaupun pahit, kamu harus mengatakannya. Karena istri lebih pandai mencari solusi dalam masalah keluarga!" ucap Hinata.


Rexy semakin bungkam, perkataan sang ayah begitu tepat mengenai hatinya. Tidak membela Elena secara terang-terangan, namun ia mengingatkan betapa rapuhnya wanita cantik itu.


"Kendalikan emosi kamu, Nak. Kalian sudah berjuang sejauh ini, jangan sampai emosi sesaat menghancurkan semuanya. Jangan bertindak gegabah, jika kamu tidak ingin menyesal!" ucap Hinata tersenyum.


Ia berjalan menaiki anak tangga satu persatu. "Ayah mau istirahat dulu. Setelah kamu tenang, pergilah ke rumah sakit, atau hancurkan semua dekorasi ini!" ucapnya.


Rexy terdiam dan memilih untuk duduk di atas sofa. Beberapa kali ia menghela napas, meredakan emosi yang tengah berperang dalam diri. Sesak dan juga kekecewaan yang tengah ia rasakan saat ini.


Bagaimana aku bisa terbuka dan mengatakan sesuatu yang akan memicu jantung Elena. Ini semua sangat berat jika harus kamu ketahui, Sayang!. Batin Rexy memijat pelipisnya.


Ia menenangkan diri sambil berusaha untuk berpikir jernih. Wajah pucat Elena terbayang, air mata yang menetes itu membuat hatinya sungguh sakit.


Ia memilih untuk pergi ke kamar tamu dan membersihkan diri, agar ia bisa sedikit lebih tenang.


Pikirannya terus menerawang mengingat penolakan Elena ketika ia memeluk wanita cantik itu.


Tidak mungkin kamu semarah itu hanya karena masalah ini. Bahkan hal yang lebih pun kamu tidak akan menolak pelukanku. Apa jangan-jangan.... Batin Rexy terkejut.


Ia segera pergi meninggalkan Villa dan kembali menuju rumah sakit dengan raut wajah yang begitu cemas.


🍃🍃


Elena mendapatkan penanganan yang intensif karena jantungnya yang tiba-tiba saja melemah. Khalia langsung datang ketika mendapatkan kabar itu.


Wajah mereka terlihat begitu cemas. Vazo merasa penasaran, sebab terakhir kali elena masih dalam keadaan bai-baik saja.


"Rexy baru saja kembali dan mereka berdebat!" Jelas Angelin.


"Berdebat karena apa?" tanya Vazo mengernyit.

__ADS_1


"Saya tidak terlalu paham tentang apa yang mereka perdebatkan. Mas Nata sudah mengejar Rexy tadi," Ucap Angelin lirih.


"Anak-anak kita masih belum bisa mengendalikan emosi satu sama lain. Ego yang masih tinggi dan keadaan yang tidak stabil seperti ini akan membuat perdebatan muncul dengan mudah," ucap Khalia menghela nafasnya.


"Biarkan ini semua mendewasakan mereka," ucap Vazo.


Hingga satu jam berlalu, perawat yang ada di dalam ruangan mulai keluar satu persatu.


"Dokter, bagaimana keadaan anak kami?" Tanya Khalia ketika melihat dokter keluar dari ruangan Elena.


"Kondisi Nona Elena sudah kembali stabil. Tetapi, hindari segala sesuatu yang bisa menyebabkan jantungnya bekerja dengan cepat. Jika hal ini sering terjadi, bisa berakibat fatal dan menyebabkan kematian," Ucap dokter itu serius.


Mereka terdiam mendengarkan keterangan dan dokter. Khalia dan Angelin langsung emas dan terduduk di atas kursi yang ada di depan ruangan.


"Terima kasih banyak, Dokter!" ucap Vazo mengulurkan tangan.


"Sama-sama, Tuan!" ucap Dokter itu tersenyum dan berpamitan.


Mereka segera masuk ke dalam ruang rawat Elena dan melihat wanita cantik itu tengah terlelap dengan beberapa alat terpasang pada tubuhnya.


Monitor menampilkan statistik detak jantung Elena dalam keadaan baik dan stabil. Mereka hanya terdiam dan pasrah menunggu Elena sadar, sembari mengharapkan kesembuhan dari wanita cantik itu.


Brak!


Pintu tiba-tiba saja terbuka dengan keras, Rexy datang dengan wajah cemas dan nafas yang menderu.


"Bagaimana keadaan Elena, Bunda?" tanya Rexy langsung menghampiri calon istrinya.


"Elena sudah stabil. Sekarang masih belum sadar," ucap Angelin.


"Sayang?" Panggil Rexy menggenggam tangan Elena dan mengecupya.


"Apapun masalah kalian, bunda harap bisa selesai dengan kepala dingin tanpa harus berdebat seperti tadi!" ucap Khalia mengusap punggung Rexy.


Pria tampan itu terdiam dan menganguk pelan. Ini yang sangat tidak ingin terjadi kepada Elena. Melihat wanita cantik itu terbaring tidak sadarkan diri. Pikirannya kembali menerawang pada lima tahun silam. Hal yang paling membuatnya merasa lelah dan lemah, menanti Elena sadar dalam watu yang sangat lama.


"Sayang bangunlah!" ucap Rexy lirih.


Elena masih betah terlelap dan bermain dengan alam bawah sadarnya, tanpa menunjukkan tanda-tanda ingin membuka mata.

__ADS_1


__ADS_2